
“Lu Ming, cepat.” Ming Yue menutup hidungnya dan menarik Lu Ming agar berjalan lebih cepat.
Saat ini mereka sedang melewati stand makanan yang menjual stinky tofu.
Lu Ming sudah menyiapkan hatinya jika Ming Yue berhenti dan ikut mengantri pada barisan panjang di depan stand.
Setengah dari drama yang dipertontonkan di TV adalah cerminan dari kehidupan nyata. Tidak jarang teman-temannya mengeluh jika pacar mereka memaksanya untuk makan tahu busuk yang berjamur atau rempeyek serangga.
Untuk berjaga-jaga Lu Ming membawa obat sakit perut. Dia tidak mungkin menolak jika Ming Yue juga menyuruhnya untuk memakan kudapan tidak lazim itu. Anehnya makanan yang memiliki bau menyengat itu memiliki banyak peminat.
Namun sepertinya dugaanya salah, Ming Yue berjalan cepat bukan karena dia takut tidak kebagian, dia ingin cepat-cepat pergi dari sana karena tidak tahan dengan baunya.
Lu Ming mengela nafas panjang, lega dirinya selamat dari ujian maut itu.
Dirinya sungguh beruntung Ming Yue merupakan orang rumahan yang tidak jajan sembarangan. Ming Yue hanya membeli satu tusuk tanghulu dan milktea. Walaupun Lu Ming tidak suka manis, dia tidak keberatan jika Ming Yue menyuruhnya untuk mencicipi makan itu. Tapi semua itu tidak tejadi karena Ming Yue menghabiskannya sendiri.
Setelah mereka tidak mencium aroma stinky tofu lagi. Mereka kembali berjalan dengan kecepatan normal.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin, tetapi keraimaian tidak kunjung berkurang. Orang-orang berdatangan malah semakin banyak.
Lu Ming hendak memberikan jaketnya kepada Ming Yue tapi Ming Yue menghentikannya. “Aku tidak kedinginan.” Ming Yue berkata.
Lu Ming tidak percaya, hidung Ming Yue merah dan dia beberapa kali mengusap ingusnya. Dia mengambil tangan Ming Yue dan memasukannya kedalam saku jaketnya. Bukannya dia tidak senang Ming Yue memikirkannya tapi dia lebih suka saat Ming Yue bersikap egois kepadanya. Setidaknya dengan begitu dia bisa memastikan jika Ming Yue tidak kekurangan apapun.
Lu Ming menbawa Ming Yue masuk ke dalam restoran yang memiliki penghangat.
Di sana mereka bertemu kembali dengan Fu Yu dan Fu Qing.
“Yueyue, kakak Ming.” Fu Qing yang mengahadap ke pintu melambaikan tangan kepada mereka.
Saat melakukan itu, ketiga teman yang bersama mereka ikut menoleh. Mereka tidak asing dengan Lu Ming dan menyapanya.
Lu Ming berencana untuk memesan meja sendiri tapi Ming Yue sudah ditarik oleh Fu Yu untuk duduk di sampingnya. “Perkenalkan ini kakak iparku.” Fu Yu berkata.
__ADS_1
“Kakak ipar, apa kabar.” Mereka berkata hampir serempak.
Lu Ming memanggil pelayan saat itu juga dan Ming Yue tidak punya kesempatan untuk mengklarifikasi identitasnya.
Mereka makan bersama dan membicarakn banyak hal seru.
Ming Yue sangat menyukai teman barunya, mereka simple dan polos. Tidak ada niatan lain yang mereka sembunyikan. Ming Yue bisa bersantai saat mengobrol dengan mereka.
Mereka bertukar kontak dan membuat janji untuk bertemu kembali sebelum berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Masa liburan itu berakhir dengan cepat.
Tidak terasa sekarang Ming Yue sudah kembali ke rumah.
Tentu saja dia mengantongi banyak angpao. Angpao yang paling besar dia terima dari nenek Fu, satu unit villa dengan pemandian air panas yang ada diujung selatan desa, daerah itu sedang dibangun untuk menjadi kawasan wisata. Harga property di sana dipastikan akan terus naik.
“Lu Ming, aku tidak bisa menerima ini.” ketika Lu Ming mengantarnya sampai ke depan kediaman Ming, Ming Yue berkata. Dia menyerahkan amplop merah yang berisi sertifikat tanah pemberian dari nenek Fu.
“Apa kau gila.” Ming Yue berteriak horror. Dia merebut ponsel Lu Ming.
Lu Ming tersenyum melihatnya. “Dibandingkan dengan sepuluh persen saham Lu Grup yang kakek berikan tahun lalu, itu tidak ada apa-apanya. Kau terima saja, tidak usah memikirkan hal lain.”
“Apa?!” Ming Yue berteriak. Kepalanya hampir saja menyundul atap mobil jika Lu Ming tidak menahannya agar tetap duduk.
Ming Yue berkedip. Dia mulai meragukan telinganya. Sepuluh persen saham dari Lu Grup, di dalam kepalanya dia sudah bisa menghitung berapa banyak deviden yang dia terima. “Dimana aku menyimpan sertifikatnya, aku adalah wanita kaya sekarang.” Ming Yue bergumam. Dia mengingat-ingat hadiah apa lagi yang pernah dia terima.
“Kau baru sadar sekarang.” Lu Ming mengetuk dahi Ming Yue.
“Tapi Lu Ming, aku tidak ingat dimana aku menyimpannya. Jangan bilang Ming Weyan yang memegangnya.” Ming Yue berkata dengan cemas.
“Tidak usah khawatir, kau menyimpannya di bank.” Lu Ming mengelus kepala Ming Yue. Waktu itu Lu Ming juga punya kekhawatiran yang sama, saham sepuluh persen itu termasuk banyak. Kalau sampai jatuh ke tangan yang tidak benar, bisa mengancam kelangsungan perusahaan. Karena itu Lu Ming menyelidiki apa yang Ming Yue lakukan dengan saham itu. Dia merasa lega sekaligus bersalah saat tahu jika Ming Yue menyimpannya di brangkas bank dan tidak pernah mengambil deviden sejak saham itu diberikan padanya sampai dia lupa jika memilikinya.
“Syukurlah.” Ming Yue menghela nafas. “Aku akan mengembalikannya kepadamu besok.” Tidak peduli seberapa menggiurkannya saham sepuluh persen itu atau sertifikat villa yang sedang dia pegang sekarang ini, dia tetap tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
“Kau sendiri yang bilang jika hadiah tidak boleh dikembalikan.” Lu Ming berkata. Dia ingat Ming Yue menggunakan alasan itu saat memberikan bekal makan siang pertamanya.
“Itu hanya berlaku untuk hadiah biasa.” Ming Yue menyahut.
Tangan Lu Ming masih mengelus kepala Ming Yue. Dia kemudian berkta dengan santai. “Itu hadiah yang biasa untuk diberikan kepada menantu.”
“Jangan bercanda.” Ming Yue memincingkan mata dan menepis tangan Lu Ming.
Semakin cepat dia menyingkirkan benda panas itu dari tangannya akan semakin baik.
Ming Yue baru akan melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil ketika Lu Ming mengeluarkan amplop angpao dari dalam saku jaketnya. “Untukmu.” Lu Ming menyerahkannya kepada Ming Yue.
Ming Yue menatap amplop itu dan Lu Ming secara bergantian. Alisnya berkerut dan raut wajahnya bingung. “Kau memberiku angpao?” Ming Yue bertanya karena dia tidak yakin.
Lu Ming mengangguk.
“Apa yang kau berikan?” setelah menerima banyak angpao yang isinya luar biasa, Ming Yue jadi sedikit takut untuk menerima angpao lagi. Dia harus memastikannya terlebih dulu, jika isinya wajar dan normal dia akan menerimanya.
“Kau buka sendiri.” Lu Ming meletakan amplop angpao itu ke tangan Ming Yue.
Amplop itu sedikit timbul dan memiliki berat, “Kalau aku tidak suka, boleh dikembalikan kan?” Ming Yue tidak akan berpikir dua kali untuk mengembalikannya jika amplop itu berisi cek atau sertifikat tanah seperti angpao-angpao yang dia terima kemarin.
Dia sungguh heran kenapa orang-orang di keluarga Lu Ming sangat murah hati dalam memberikan hadiah.
Ming Yue membuka amplo itu.
Huft…
Di dalamnya ada segepok uang, Ming Yue merasa lega Lu Ming memberinya angpao yang normal. “Terima kasih.” Dia menerimanya.
“En.” Lu Ming mengangguk, kemudian dia keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Ming Yue.
Tanpa Ming Yue ketahui Lu Ming tersenyum licik saat dia melihat Ming Yue memasukan angpaonya ke dalam tas.
__ADS_1