MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
53.


__ADS_3

“Lu Ming, hentikan.” Ming Yue berkata.


Dia speechless.


Perubahan Lu Ming dalam dua hari ini, di luar perkiraannya.


“Hmm.” Lu Ming berguman tidak jelas, dia terus mengendus puncak kepala Ming Yue.


Ming Yue berniat untuk tidur siang sebentar, tapi Lu Ming terus mengganggunya. Setiap kali Ming Yue hampir berhasil masuk ke alam mimpi, pria itu terus menggagalkannya.


“Kalau kau terus seperti ini aku akan pulang.” Ming Yue mengancam, dia menyodok perut Lu Ming mengunakan sikunya. Dia sudah benar-benar mengantuk.


Lu Ming langsung menghentikan tangannya yang sedang memainkan rambut Ming Yue. Susah payah dia membujuk Ming Yue agar mau tinggal bersama, tentu dia tidak akan membiarkannya pergi.


Setelah Ming Yue tertidur, Lu Ming bangun.


Dia menyelimuti tubuh Ming Yue dan mengecup keningnya. Kemudian dia keluar dari kamar dan pergi ke ruang studi. Dia menyalakan computer dan membuka e-mail dari asisten Yun, sudah tiga hari dia tidak pergi ke kantor dan bekerja dari rumah.


Dia berkata kepada Ming Yue jika dia sedang tidak sibuk dan mengambil jatah cuti tahunannya. Tapi setiap kali Ming Yue tidur, dia akan pergi ke ruang studi untuk bekerja. Dan setiap jam sebelas malam asisten Yun akan datang membawa berkas-berkas yang membutuhkan tandatangannya dan dokumen-dokumen yang perlu dia periksa.


Pada awal tahun begini, tidak mungkin jika perusahaan tidak sibuk, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dan meeting yang harus dia hadiri. Sebenarnya sangat tidak efisien baginya untuk mengerjakan semua itu dari rumah dan tidak pergi ke kantor.


Asisten Yun setiap hari hampir menangis, pekerjaannya menjadi berlipat ganda. Dia harus menggantikan presiden Lu menghadiri setiap pertemuan dan rapat. Tapi dia tidak bisa protes, dia hanya bisa menahan sembelit setiap kali rapat dengan dewan direksi.


Di dalam dewan direksi terbentuk tiga fraksi, fraksi yang mendukung persiden Lu, netral dan fraksi yang ingin melengserkan presiden Lu dari jabatannya. Mentang-mentang presiden Lu tidak hadir, orang-orang yang menentang kepemimpinan presiden Lu mengunakan kesempatan ini untuk membuat masalah, mereka seperti disuntik cairan keberanian, selalu mencari celah untuk mengasut kelompok lain agar mau bergabung dengan mereka.


Ketika Asisten Yun memasuki ruang rapat, melihat presiden Lu tidak bersamanya dan absen lagi, mereka mengunakan kesempatan ini untuk menghasut dewan direksi lain agar bergabung dengan kelompoknya. Dalam tiga hari ini sudah ada dua orang yang awalnya netral berbelok dan bergabung dengan fraksi pembelot.


“Tidak datang lagi, melalaikan pekerjaan karena seorang wanita, mau jadi apa perusahaan ini.” Wen Zhao berdecak.


Asisten Yun tidak memberikan alasan dan memulai meeting begitu saja.


Lu Ming mendengar semua itu, pada setiap meeting dia terhubung melalui telpon. Selama meeting berlangsung, wajahnya semakin buruk, matanya dingin dan penuhi oleh aura membunuh yang pekat.

__ADS_1


Ketidak hadirannya rupanya membuat mereka berani mengeluarkan cakar. Lu Ming menyeringai, tatapan matanya penuh dengan janji.


Kalau ada orang yang melihatnya saat ini, orang itu akan berlutut dan meminta pengampunan.


“Lu Ming?” kepala Ming Yue menyembul di pintu.


Clientnya mengirimkan tiket premier pertunjukan drama musical. Dia berniat untuk mengajak Lu Ming menonton malam ini.


Wajah Lu Ming berganti lebih cepat dari membalik tangan, dia melemparkan senyum kepada Ming Yue.


Ming Yue mengatakan tujuannya dan menghilang lagi.


Lu Ming mendengar langkah kaki Ming Yue yang menjauh, mengulum senyum di bibirnya. Malam ini mereka akan kencan.


Mereka sampai di gedung pertunjukan lima belas menit lebih awal.


Tempat pertunjukan itu memiliki bentuk seperti colosium, dengan panggung yang berada di tengah-tengah dan memungkinkan penonton dari segala arah. Tempat itu di pisahkan menjadi dua lantai, lantai dasar adalah panggung dan kursi penonton dengan tiket biasa, dan lantai duanya, terdiri dari kubikel-kubikel mewah yang menyediakan privasi bagi para tamunya.


Begitu menunjukan tiket, mereka dibawa ke kubikel yang berada di lantai dua, tempat tamu-tamu VIP dijamu.


Beberapa saat kemudian pertunjukan drama musical itu dimulai.


Drama yang ditampilkan adalah sebuah kisah cinta yang terjadi di medan perang. Tokoh utama prianya adalah prajurit bisa dan tokoh wanitanya adalah seorang putri dijadikan sandra.


Mereka bertemu saat si prajurit bertugas sebagai pengawal para sandra yang akan di kirim ke medan perang sebagai bahan negosiasi. Diperjalan sang putri jatuh sakit, dan plotnya berjalan seperti bisa, sang prajurit merasa simpati, lalu si prajurit merawat sang putri sampai sembuh dan benih-benih cinta tumbuh diantara mereka.


Lu Ming menuangkan teh untuk Ming Yue, “Minum ini.” dia meniup sebentar teh itu sebelum memberikannya.


Ming Yue yang merasa haus setelah menghabiskan sepotong cheese cake, menerima cangkir dari Lu Ming dan meminumnya. Dia tidak tertarik dengan pertunjukan di panggung, sejak membaca ringkasan ceritanya, Ming Yue sudah merasa malas untuk menontonnya. Dia datang karena merasa suntuk di rumah.


Tentu Lu Ming juga tidak berminat dengan cerita klise itu, dia tidak melihat ke bawah sedikit pun. Dia hanya memperhatikan Ming Yue sejak tadi. Maka ketika Ming Yue bertanya pendapatnya, dia hanya bisa menjawab asal. Dia tidak tahu menahu tentang apa yang sedang dipertunjukkan.


“Mau pergi ke tempat lain?” Ming Yue tidak melihat ada manfaat untuk menonton sampai akhir, mengajak Lu Ming untuk pergi.

__ADS_1


Ketika mereka keluar dari gedung, lagi-lagi mereka bertemu dengan Mu Jena.


“Kakak Yue, kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Mu Jena dengan tidak tahu malu menghadangnya. “Kakak Ming apa kabar?” dia tersenyum manis, sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin.


Ming Yue tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan dengan cepat.


Mu Jena mengikuti mereka. Dia tidak menyerah, mencekal tangan Ming Yue dan membuatnya berhenti. “Kakak Yue, mama sangat merindukan kakak, dia ingin bertemu.” Dia berkata, suaranya lirih dan lembut, wajahnya sendu dan air mata menganting pada ujung matanya.


“Kakak Yue, Jena mohon temui mama. Dia benar-benar ingin merindukan kakak sampai tidak punya selera makan beberpa hari ini. Mama terus mengigau memanggil nama kakak. Jena mohon temui mama.” Air mata Mu Jena jatuh, dia tersendu. Matanya yang sembab dan kesedihan yang dia perlihatkan, membuat orang ingin melindunginya.


Mu Jena mengusap air matanya dengan sapu tangan. “Kakak Yue, Jena mohon, temui mama.” dia melirik ke arah Lu Ming. “Kakak Ming tolong bujuk kakak Yue.” dia tersendu.


“Apa kau sakit jiwa?” Lu Ming berkata.


Pft… Ming Yue tertawa. Mulut Lu Ming sangat pedas.


“Kakak Ming…” Mu Jena tercekat, dia tidak menyangka Lu Ming akan mengatainya gila. Bukankan seharusnya sekarang dia sadar dengan kelakuan Ming Yue yang tidak berperasaan dan tidak berbakti kepada orang tua, ibunya sakit tapi dia tidak mau menemuinya. Harusnya itu sudah cukup untuk Lu Ming memutuskan Ming Yue.


Ming Yue bisa melihat arah pikiran Mu Jena, dia berjinjit dan menarik kerah mantel Lu Ming lalu mencium bibir pria itu. “Sangat dingin, aku ingin pulang…” Suara Ming Yue leyap, Lu Ming meraih belakang leher Ming Yue dan menperdalam cuiman mereka.


Mu Jena membeku, dia menyaksikan dua orang itu bercuiman dengan panas di depannya.


Pertunjukan di dalam gedung sudah berakhir, orang-orang mulai keluar.


Ming Yue masih memiliki rasa malu dan ingin mendorong Lu Ming ebelum mereka menjadi tontonan. Tapi Lu Ming tidak melepaskannya.


“Wow!” seseorang memekik.


Ming Yue sudah tidak bisa menyelamatkan diri, dia akhirnya pasrah dan berharap tidak ada yang mengenalinya.


“Itukan Ming Yue…”


Tapi Lu Ming mempunyai pikiran lain, dia ingin menunjukan kepada dunia, Ming Yue adalah miliknya.

__ADS_1


“Dan… presiden Lu.”


Dan dia adalah milik Ming Yue.


__ADS_2