MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
Extra 3


__ADS_3

Enam tahun berlalu dengan cepat. Lu Ming sekarang sudah kelas satu SMP, tapi dia tidak pernah melupakan bulan terangnya satu hari saja. Lu Ming tahu dimana Ming Yue selama ini tapi setiap kali dia ingin menemuinya, dia takut Ming Yue akan kabur lagi. Selama enam tahun ini dia hanya bisa mengawasinya dari kejauhan secara diam-diam seperti seorang penguntit.


"Paman Bo berhenti di tempat biasa." Lu Ming berkata begitu dia masuk kedalam mobil. Tempat biasa yang dia maksud tentu itu adalah sekolah Ming Yue yang berjarak lima kilo meter dari sekolahnya, tapi bagi bagi Lu Ming jarak bukan masalah selama dia bisa melihat bulan terangnya, walaupun hanya sebentar.


Selama enam tahu lamanya dia berpikir sebenarnya apa yang membuatnya tidak bisa melupakan gadis itu. Kenapa setiap kali dia mencoba untuk melupakannya, ingatannya justru semakin jelas. Lu Ming sudah melakukan berbagai cara dan membuat-buat alasan untuk berhenti menemuinya tapi seperti buang air besar, mau tidak mau dia tetap harus mengeluarkannya juga.


Akhirnya Lu Ming hanya bisa menyerah dan mengikuti kemauan hatinya, setiap hari sepulang sekolah dia akan mampir ke tempat dimana dia bisa melihat Ming Yue. Hari senin, selasa dan kamis Lu Ming pulang lebih awal, dia akan menunggu gadis itu di sebrang jalan depan sekolah gadis itu. Setiap rabu dan jumat giliran sekolah Ming Yue yang pulangnya lebih awal, Lu Ming akan pergi ke taman yang ada di komplek perumahan gadis itu dimana Ming Yue selalu menghabiskan waktunya setelah pulang sekolah.


Sabtu dan minggu dia harus menahan diri untuk tidak menggedor pintu rumah gadis itu dan menyeretnya keluar agar dia bisa melihatnya.


Lalu setiap liburan sekolah tiba itu adalah hari-hari yang tidak pernah dia harapkan.


"Tuan kecil, kita sudah berhenti terlalu lama." Paman Bo berkata sambil menoleh ke belakang dan menatap Lu Ming yang sedang menatap ke luar jendela. Paman Bo mengikuti arah pandangannya yang selalu sama yaitu pintu gerbang gedung sekolah di sebrang jalan.

__ADS_1


"Sebentar lagi." Lu Ming berkata lirih. Dia mengamati setiap orang yang keluar dari pintu gerbang tapi dia tidak juga melihat apa yang ingin dilihatnya. Hatinya semakin khawatir dan berubah menjadi panik. Dia masih ingat dengan hari itu, dia juga menunggu seperti ini dan bulan terangnya tidak pernah datang.


"Ayolah." Lu Ming bergumam. Tapi hingga pintu gerbang tertutup dan tidak ada lagi anak-anak dengan seragam sekolah terlihat di sekitarnya. Lu Ming mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya menancap pada kulit telapak tangannya.


Hari yang dia takutkan terjadi lagi.


"Tuan kecil, mungkin dia sudah pulang. Bagaimana kalau kita pergi ke taman," paman Bo berkata dengan hati-hati. Mungkin dia tidak mengerti pemikiran anak kecil, tapi dia bisa memahaminya setelah enam tahun dia menyaksikannya.


Lu Ming mengangguk dan mengikuti saran paman Bo.


Lu Ming segera melompat turun dari mobil begitu paman Bo menginjak rem dan berlari masuk ke dalam taman. Dia mengedarkan pandangannya pada setiap sudut yang dia lewati hingga akhirnya dia sampai di bawah pohon besar tidak jauh dari kolam teratai akhirnya Lu Ming melihat sosok yang ingin dia lihat.


"Hahh..." Akhirnya dia bisa bernafas lega. Ingin sekali dia menghampirinya dan bertanya kenapa dia pulang lebih awal hari ini. Apakah dia sakit?

__ADS_1


Saat pemikiran itu melintas di kepalanya, Lu Ming kembali panik dan kakinya melangkah dengan sendirinya mendekat ke tepian kolam. Tapi dia berhenti ketika mereka hanya berjarak beberapa langkah karena pada saat itu Ming Yue menoleh dan mata mereka saling bertemu.


Itu adalah pertama kalinya setelah enam tahun.


Jantung Lu Ming berdebar antara panik, senang dan takut. Untuk beberapa saat mereka saling menatap hingga Ming Yue mengalihkan pandangannya lebih dulu kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun kepadanya.


Lu Ming masih terpaku di tempatnya sampai punggung Ming Yue tidak lagi terlihat. Barulah dia sadar, gadis itu tidak mengenalinya.


Tapi yang membuat dada Lu Ming sesak bukan itu. Dia melihat ada cairan bening yang menggenang pada sudut mata gadis itu, apakah dia baru menangis? Kenapa? Siapa yang membuatnya tidak bahagia?


Berbagai macam pertanyaan: apa, siapa, kenapa dan bagaimana terus bermunculan di kepalanya hingga lamunannya lagi-lagi dibuyarkan oleh suara pan Bo yang memanggilnya untuk memberitahukan jika sudah sore dan mereka harus pulang.


Lu Ming melangkah dengan gontai seperti jiwanya sudah hilang.

__ADS_1


"Paman Bo, kenapa sakit sekali?" Lu Ming menekuk lututnya di kursi belakang dan menangis sejadi-jadinya dengan kepala yang dibenamkan diantara lututnya.


__ADS_2