MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
40.


__ADS_3

“Arahkan senternya yang benar.” Lu Ming berkata. Saat ini mereka sedang dalam perjalan kembali ke rumah, Lu Ming menggendong Ming Yue di punggunya. Dia memberikan senternya kepada Ming Yue dan menyerahkan tugas untuk menerangi jalan kepadanya, tapi yang Ming Yue terangi bukan jalan yang akan mereka lewati melainkan semak-semak belukar dipinggir jalan.


Ming Yue tudak menjawab, tangan yang melingkar di lehernya mengendur dan senter yang Ming Yue pegang hampir jatuh, Lu Ming dengan sigap menangkapnya. Dia melirik kepala Ming Yue yang disandarkan pada bahunya, gadis itu sudah tertidur.


Lu Ming memperlambat langkahnya. Dia tersenyum kecil. Lu Ming tidak menyangka jika dirinya dan Ming Yue bisa sampai pada tahap ini dalam hubungan mereka. Dia kira mereka akan membutuhkan waktu seratus tahun untuk bisa seperti ini.


Banyak alasan kenapa dia bersikap seperti itu kepada Ming Yue. Saat tahu jika gadis yang dipilih oleh kakeknya untuk menjadi tunagannya adalah Ming Yue, dia tidak tahu bagaimana perasaanya waktu itu. Dia bisa saja menolaknya saat itu, tapi Lu Ming tidak melakukannya. Tentu Lu Ming tahu Ming Yue orang yang seperti apa. Tapi semua itu tidak bisa menghentikannya untuk menuruti keinginan hatinya. Lu Ming pikir dengan mengahadapi gadis itu secara langsung, hatinya akan menyerah dan perasannya akan hilang. Tapi dia salah, semakin lama mereka bersama semakin dia menginginkan Ming Yue untuk menjadi miliknya. Asal Ming Yue tetap bersamanya, cinta atau tidak cinta, Lu Ming tidak peduli. Kalau harta yang Ming Yue inginkan dia akan berikan itu, dia punya banyak uang yang tidak akan habis mau bagaimanapun Ming Yue menggunakannya. Lu Ming mempinyai pikiran seperti itu. Tapi dengan semua yang berjalan saat ini, dia jadi menginginkan lebih. Dia jadi serakah. Dia menginginkan tubuh dan juga hati Ming Yue.


Tapi dari dulu sampai sekarang, dia seperti kerbau yang dicucuk hudungnya dan mengikuti Ming Yue seperti orang bodoh. Lu Ming kadang bertanya, orang-orang yang menyebutnya sebagai jenius apakah mereka memakai kacamata kuda saat melihatnya. “Kau sangat tidak adil, kau tahu.” Lu Ming menghela nafas.


“Karena itu aku tidak menjadi Hakim.” Ming Yue bekata. Entah apa maksud perkataan Lu Ming, yang jelas dia tidak suka mendengarnya. Apa Lu Ming selama ini menghinanya di belakang. Ming Yue tambah tidak senang dan mengeratkan pegangannya hingga Lu Ming merasa tercekik.


“Apa kau ingin membunuh suamimu dan menjadi janda?” Lu Ming berseru.


“Kau tenang saja. Aku akan menjadi janda kaya raya. Dengan uang warisanmu, aku akan berfoya-foya setiap hari dan aku juga akan menikah lagi dengan berondong tampan.” Ming Yue berkata dengan santai.


Wajah Lu Ming menghitam, rahangnya mengeras dan urat lehernya keluar. “Coba saja kalau kau berani.” Dia memdesis, menggertakan giginya.


“Ha!” Ming Yue berseru. Lu Ming pikir dia tidak berani, memang siapa Lu Ming berani mengancamnya. Tapi… “Siapa yang suami? Siapa yang janda? Memang kita pernah menikah. Tidak! Tidak sekarang dan tidak dikemudian hari.” Ming Yue berkata. Lu Ming seenaknya saja mengganti status mereka tanpa mendiskusikannya terlebih dulu.

__ADS_1


“Katakan satu kali lagi, kau tidak mau menikah denganku?” Lu Ming menurunkan Ming Yue. Dia menangkup wajah Ming Yue dan menatapnya dengan seksama.


“Kau.. apaan sih.” Ming Yue menepis tangan Lu Ming dari wajahnya dan ingin pergi duluan.


Lu Ming mecekal bahu Ming Yue dan menahannya di tempat. “Ming Yue jawab aku. Berikan alasan kenapa kau tidak mau.” Dia berkata. Lu Ming sudah tahu jika Ming Yue tidak serius dengannya. Tapi mendengarnya secara langsung membuat hatinya berdenyut sakit.


Ming Yue menggerak-gerak matanya. Lu Ming lagi-lagi menatapnya dengan mata itu, itu membuatnya salah tinggakah dan tidak tahu harus menjawab apa. Jantunggnya berdetak sedikit lebih cepat dan Ming Yue ingin menghindar. Dia akan terkena serangan jantung kalau ini berlanjut lebih lama lagi. “Lu Ming ayo pulang, sebentar lagi pagi.” Ming Yue berkata.


“Jawab dulu.” Lu Ming bersikeras, pokonya dia harus mendapatkan jawabannya sekarang juga. Kalau dia tahu alasannya dia akan segera memperbaikinya dan Ming Yue tidak akan lagi punya alasan untuk menolaknya.


Ming Yue mengunyah pipi bagian dalamnya. Apa sih yang tadi Lu Ming tanyakan. Karena jantungganya berdebar-debar, yang dia pikirkan hanyalah untuk segera keluar dari situasi ini. “Aku akan berikan jawabannya besok pagi.” Ming Yue mencoba mengulur waktu. Nanti kalau dia sudah ingat baru dia bisa memberikan jawaban. Tapi kalau Lu Ming bisa melupakannya itu akan menjadi lebih baik lagi.


Ming Yue menatap Lu Ming dengan terperanggah. Dia menggaruk kepalanya dengan bingung. “Percaya tidak ada Unicorn di dunia ini.” Ming Yue berkata asal-asalan.


“Jangan mengalihkan topik pembicaraan.” Lu Ming berkata dengan tegas.


Ming Yue menjadi semakin frustasi, kenapa Lu Ming keras kepala sekali. “Bagaimana kalau kau jawab sendiri.” Akhirnya dia menjawab dengan diplomatis. Yang membuat pertanyaan pasti tahu jawabannya, sepeti saat ujian kenaikan kelas. Soal yang diberikan oleh gurunya pasti gurunya bisa menjawab.


Lu Ming menghela nafas. Kesabarannya sudah hilang, dia berbalik badan dan melangkah cepat meninggalkan Ming Yue di belakang.

__ADS_1


Ming Yue menghembuskan nafas. Dia menepuk-nepuk dadanya, dia selamat untuk sekarang. Lu Ming sudah pergi dan jantungnya mulai berdetak dengan normal kembali. Sebaiknya dia menghindari Lu Ming agar tidak terjadi lagi hal seperti ini.


Setelah memastikan jika Ming Yue sudah kembali baru Lu Ming merebahkan diri. Dia memejamkan matanya. Merenungkan apa saja yang sudah dia lakukan selama lima tahun ini. Sebenarnya semua ini salahnya sendiri. Kalau dia tidak memperlakukan Ming Yue seperti itu, sekarang tidak akan menjadi begini. Benar perkataan ibunya, dia terkena karma.


Lu Ming tidak bisa tidur malam itu.


Saat pagi datang, Lu Ming keluar dengna wajah zombie. Lingkaran hitam di bawah matanya jelas sekali menandakan jika dia begadang semalam.


“Son, apa kau habis meronda semalam?” Fu Yao yang melihat wajah tampan putra menjadi mirip beruang hampir saja menjatuhkan cangkir teh yang dia pegang.


Lu Ming tidak menjawab. Dia ikut duduk bersama ibunya dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Di rumah keluarga Fu jarang ada sarapan bersama karena orang-orangnya sudah sibuk bekerja di kebun sejak subuh.


“Itu teh buah persik.” Fu Yao berkata.


Lu Ming melirik ibunya dan meletakkan cangkirnya ke atas meja dengan sedikit kesal. Kalau diingat sekarang semua orang sudah tidak perhatian lagi kepadanya. Dulu, ketika mereka tahu dirinya alergi buah persik, buah itu menjadi benda keramat. Tapi sekarang buah itu ada dimana-mana!


Lu Ming kembali masuk ke kamar, dia sedikit membanting pintu saat menutupnya.


Fu Yao mengedikkan bahunya, tidak tahu kenapa Lu Ming sudah mengambek pagi-pagi.

__ADS_1


__ADS_2