
Ming Yue memutar tubuhnya.
Lu Ming memang pantas disebut sebagai Male God. Lu Ming sempurna, baik itu fisik ataupun harta yang dia miliki. Semuanya membuat iri para pria lain dan para kaum hawa rela menjadi kumbang yang berebut untuk mendekatinya.
Ming Yue mengambil langkah besar-besar mendekati Lu Ming. Tangannya sudah diarahkan ke telinga pria itu.
Lu Ming mengerti apa yang ingin Ming Yue lakukan. Dia menangkap tangan Ming Yue dan menyeretnya ke dalam pelukannya. “Aku tahu kau pasti merindukanku.” dia mengelus rambut Ming Yue. Mau di taruh dimana wajahnya kalau Ming Yue sampai menjewernya di sini sekarang, di depan karyawannya. Bisa hilang imej yang dia bangun selama ini.
Hal gila apa lagi yang sedang Lu Ming mainkan. Ming Yue menberontak.
Lu Ming mempererat pelukannya. “Apapun yang ingin kau lakukan, tolong jangan lakukan disini.” Lu Ming berbisik pada telinga Ming Yue. Kemudian dia berkata “Aku juga merindukanmu.” Dia setengah mengangkat dan setengah memeluk Ming Yue lalu membawanya masuk ke dalam lift.
Rupanya pria ini masih menginginkan wajah!
Ming Yue mendengus. Karena Lu Ming memohon, dia akan mengasihaninya.
Sesuai dengan janjinya, Lu Ming melepaskan Ming Yue setelah mereka berada di dalam lift. Supaya amarah Ming Yue cepat reda dia bahkan rela membungkukan badan agar Ming yue bisa lebih mudah meraih telinganya.
Melihat Lu Ming yang pasrah, Ming Yue sudah tidak menginginkannya lagi.
Ming Yue memalingkan wajahnya. “Kau tahu kenapa aku marah?” dia bertanya.
Lu Ming tidak menjawab. Dia tahu Ming Yue marah karena apa, tapi jika dia mengatakannya dia yakin hanya akan menambah kemarahan Ming Yue. Jadi dia memilih untuk diam dan mengamati Ming Yue dari pantulan dinding lift.
“Lu Ming, kau tahu…” Ming Yue menjeda perkataannya, menatap pantulan Lu Ming, “Aku tidak akan mengejarmu lagi, dan aku harap kau bisa bekerjasama.” Dia melanjutkan.
__ADS_1
Sekarang Gu Anran sudah muncul diantara mereka. Ming Yue tidak tahu kapan plot asli di dalam novel ini kan mengambil alih. Saat itu terjadi sudah sangat terlambat baginya untuk menyelamatkan diri.
Benar, rencana awalnya dia ingin menjadi makcomblang untuk dua orang itu, tapi setelah melihat warna asli dari Gu Anran dia sedikit tidak rela jika harus memberikan Lu Ming kepadanya. Tapi itu juga tidak berarti bahwa dia ingin memiliki pria itu untuk dirinya sendiri. Ming Yue hanya merasa, jika Lu Ming memanglah berjodoh dengan Gu Anran, setidaknya bukan dia orang menghantarkan pria itu kepadanya.
Ming Yue akan merasa berdosa jika itu sampai terjadi. Dia tahu jika Lu Ming adalah pri yang baik, dan mendorongnya kepada wanita seperti Gu Anran, dia tidak sampai hati.
“Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjelaskannya kepada kakek Lu.” karena Lu Ming tidak menjawab, dia kira itu masalahnya.
Walau dia akui dia juga tidak tahu bagaimana harus memberitahu kakek Lu. Ming Yue bukan orang yang penuh dengan kasih sayang dan bisa dibilang sedikit tidak punya hati, karena dia tidak pernah benar-benar menyayangi seseorang. Dia memperlakukan seseorang tergantung seberapa banyak orang tersebut bisa membawa keuntungan untuknya.
Dia hidup selama 24 tahun dengan cara seperti itu dan tidak berniat untuk merubahnya. Dia tidak mau apa yang menimpa ayahnya terjadi kepadanya, mencintai seseorang dengan sepenuh hati dan hancur ketika orang itu menghianatinya. Perasaanya terlalu mahal untuk diberikan kepada orang lain secara cuma-cuma. Karena itu dia memutuskan untuk segera mengakhiri keterlibatannya dengan Lu Ming.
Lu Ming mengepalkan tangannya. Ketika Ming Yue mengatakan ingin putus, jantungnya seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Sedih dan amarah berkecamuk menjadi satu. Lu Ming ingin menutup telinganya dan tidak mau mendengarkan Ming Yue. Tapi kemampuan membaca bibir yang selama ini dia bersyukur karena menguasainya, menjadi satu-satunya hal yang tidak ingin dia miliki saat ini. Dia ingin menutup matanya tapi takut jika Ming Yue menghilang saat dia melakukannya.
Semua itu diperjelas dengan kebun buah yang ada di puncak gunung antah-berantah yang Ming Yue beli. Hati Lu Ming semakin gusar. Dia tidak memiliki pilihan lain, jika Ming Yue ingin kabur, Lu Ming tidak akan mengizinkannya. Dia akan membuat Ming Yue terus berada di sisinya.
“Lu…” maka begitu Ming Yue membuka mulutnya, dia menciumnya dan menelan kalimat yang ingin Ming Yue katakan.
“Mptt,” Ming Yue memberontak, mendorongnya menjauh. Tapi Lu Ming mencekal tangan Ming Yue dan meletakkanya di atas kepalanya lalu memepet tubuh Ming Yue ke dinding.
Ming Yue merasa jika ciuman kali ini berbeda dari ciuman pertama mereka. Tidak ada kelembutan yang dia rasakan, Lu Ming menciumnya dengan terburu-buru dan mendesak. Seakan dia ingin menelan Ming Yue ke dalam perutnya.
Dia jadi panik dan secara reflek Mign Yue mengangkat kakinya untuk menendang Lu Ming. Pria itu merespon dengan singgap dan menelusupkan kedua kakinya ditengah kaki Ming Yue. Ming Yue tidak bisa bergerak dan dia merasa marah. “Humph!” dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mengigit Bibir Lu Ming.
Lu Ming merasakan rasa darah dan membuatnya sadar. Dia membuka matanya dan menatap Ming Yue. Gadis itu juga sedang menatapnya, matanya bergetar dan sebutir air mata jatuh lalu mengalir melalui pipinya dan mengenai tangan Lu Ming.
__ADS_1
Saat itu dia baru melihat ada noda darah pada bibir Ming Yue.
Tubuh Lu Ming lemas. Apa yang sudah dia lakukan! Tangan Lu Ming gemetar, dia tidak berani tidak berani menyentuh bibir Ming Yue. Dia melukainya.
“Lu Ming you bastard!” Ming Yue mendorongnya. Tapi karena kakinya lemah dia terhuyun ke depan dan ikut terjatuh dengan Lu Ming.
Ketika pintu lift terbuka, pemandangan yang dilihat oleh Linda dan Kong Mubai aladah presiden Lu dan tunangannya sedang bergulat di lantai.
“Coba saja kalau berani melakukannya lagi!” Ming Yue duduk di atas perut Lu Ming dan kedua tangannya menjambak rambutnya.
Dua orang itu tercengang dan tidak tahu apakah harus berbalik badan dan pura-pura tidak melihat. Yang jelas kaki mereka tidak bisa diajak bergerak saking kagetnya.
Presiden Lu yang terhormat. Kenapa anda menjadi suami yang takut istri.
“Apa yang kalian lihat!” Lu Ming berkata dengan sewot.
Kong Mubai dan Linda tersadar, mereka berbalik arah dan cepat-cepat berjalan menjauh.
“Kita tidak salah lihat, kan?” Linda bertukar pandang dengan Kong Mubai.
Kong Mubai mengeleng, dia antara dengar dan tidak dengar dengan apa yang Linda ucapkan. Dia terlalu nervous dengan kenyataan jika mereka berdua saling berpegang tangan. Dia tidak tahu siap yang memulainya duluan, tapi tangn Linda yang berada di atas tangannya.
Linda yang menyadari kenehan pada expresi Kong Mubai segera sadar jika dia menggenggam tangan pria itu. Dia buru-buru melepaskan tangannya. “Jangan salah paham. Aku melakukannya tanpa sadar karena panik.” Dia berkata dengan ketus dan berjalan mendahului Kong Mubai.
Kong Mubai memandangi tangannya dan tersenyum.
__ADS_1