
Setelah mereka selesai makan Ming Yue menawarkan untuk mencuci piring dan Lu Ming membiarkannya. Dia sudah membeli mesin pencuci piring sehingga tidak takut Ming Yue akan memecahkan peralatan makan mereka.
Karena tidak itu dia memutuskan untuk naik ke ruang studi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Hanya saja dia terlalu percaya diri.
Baru saja dia menaiki lima anak tangga, dari dapur terdengar suara piring pecah.
Prang.
Lalu disusul oleh suara Ming Yue. "Tenang saja aku bisa menanganinya." Dia berkata dengan meyakinkan.
Lu Ming menggeleng pelan. Kemudian menghitung sampai tiga menggunakan jarinya. Satu... Dua... Tiga.
Prang.
Prang.
Prang.
Lu Ming tersenyum kecut. Dia melihat Ming Yue berlari keruangan utility dan mengambil sapu serta pen-catok. Dia tebak Ming Yue lagi-lagi telah berhasil memecahkan semua piring yang hendak dia cuci.
"Hanya piring, gelasnya masih aman, besok kita beli lagi." Ming Yue menoleh ke arahnya lalu kembali berlari ke dapur.
Dia heran, apakah gadis itu sebenarnya sedang memberinya sebuah kode jika dia tidak mau menyentuh
pekerjaan dapur?
Apapun itu....
Sudahlah, kecerobohan Ming Yue di dapur memang tidak ada batasnya. Besok jangan biarkan gadis itu memiliki kesempatan untuk menginjakan kaki di dapurnya atau semua perabotan di sana akan rusak.
Dengan berlapang dada Lu Ming melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Tapi dia tidak jadi pergi ke ruang studi.
Setelah selesai membereskan TKP—Tempat Kejadian Perkara—Ming Yue mencuci tangan lalu naik ke lantai dua.
Begitu dia masuk ke kamar, matanya melihat Lu Ming duduk di tepi tempat tidur dengan kotak P3K di sampingnya. Ming Yue ber-hehe kemudian menghampirinya lalu mengulurkan jari telunjuknya yang terluka karena tergores oleh pecahan beling.
"Sudah kubilang, pakai sarung tangan." Lu Ming mengingatkan untuk yang kesekian kalinya. Dia meraih telunjuk Ming Yue lalu mengusapnya menggunakan kapas yang dia basahi dengan alkohol. Setelah mengoleskan obat merah dia menutup luka itu dengan plaster berwarna pink bermotif kepala babi.
"Apakah tidak ada yang lain, ini terlihat bodoh." Dia menatap salah satu gambar kepala babi dengan hidung yang berkerut kemudian berkomentar.
__ADS_1
"Sengaja memilih motif itu agar kau ingat untuk memakai sarung tangan." Lu Ming berpikir jika Ming Yue tidak menyukai motif plaster itu dia akan lebih berhati-hati agar tidak terluka.
Mendengarkan alasan Lu Ming, Ming Yue mendengus lalu merebahkan tubuhnya ke kasur. "Kau bilang besok kita akan pergi, kemana?"
Lu Ming ikut rebahan dan menjawab. "Setelah makan siang dengan Jin Yichen, Fu Yunhai dan Mu Qing, aku akan membawamu ke suatu tempat."
...
"Siapa yang saja yang sudah datang?" Fu Yunhai bertanya kepada pelayan di sampingnya. Dia mengeluarkan kotak rokok dari saku dalam jasnya lalu mengambil satu batang dan mengapitnya dengan bibir kemudian menyalakannya.
"Tuan muda Mu dan tuan muda Jin datang bersama lima belas menit yang lalu." Pelayan itu menjawab dengan sopan. Ketika mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan VIP di mengetuknya lalu mengumumkan kedatangan Fu Yunhai kepada dua orang di dalam.
"Kupikir aku akan menjadi yang paling pertama seperti biasanya." Fu Yunhai menyeletuk ketika dia melihat dua sahabatnya sudah datang lebih dulu. Biasanya dua orang itu akan datang setelah dirinya.
Jin Yichen dan Mu Qing dengan kompak memutar bola matanya. Mereka tidak se-lenggang tuan Fu yang pengangguran dan punya waktu luang sehingga bisa datang kapan saja dan menjadi yang paling awal setiap kali berkumpul.
"Itu karena kau pengangguran." Jin Yichen berkata sedikit tidak terima dengan klaim Fu Yunhai, orang itu seperti sudah lupa saja jika dirinya merupakan murid kesayangan guru ketertiban semasa sekolah dulu. Tentu saja bukan karena Fu Yunhai adalah siswa teladan, dia itu siswa langganan BK yang selalu datang telambat setiap hari dan mendapatkan hukuman lari mengelilingi lapangan saat murid lain belajar di kelas.
Fu Yunhai yang disindir tidak merasa tersindir. Dia tersenyum kepada kedua temannya lalu duduk. Dia menyandarkan badannya pada sandaran kursi dan tangannya bersidekap di depan dada. "Kalau kalian iri dan ingin seperti diriku, bisa kok kubuatkan panduan tata cara jadi pengangguran dan kalian berdua bisa mempelajarinya." Dia menghisap rokoknya dan mengeluarkan kepulan asap putih berbentuk lima telur kura-kura. Posturnya sangat santai.
"Eits! Tunggu dulu..." Dia tiba-tiba duduk dengan tegak dan wajahnya penuh dengan keseriusan.
"Kalau kalian ikut menganggur siapa yang akan menghasilkan uang untukku." Dia melanjutkan. Dia ingat jika dia menginvestasikan uangnya kepada teman-temannya, kalau mereka ikut menganggur dari mana dia akan mendapatkan uangnya.
Tapi di sisi lain dia memang sedikit iri dengan gaya hidup Fu Yunhai yang super santai dan pengangguran.
Andai saja kakaknya tidak menjadi dokter dan mau mewarisi bisnis keluarga. Dia sekarang pasti juga seorang pengangguran yang menerima uang saku setiap bulan. Namun jika harapannya itu dikabulkan, mungkin dia juga tidak akan terlalu senang.
Bagi orang sepertinya, dia yang sudah tahu dan merasakan bagaimana nikmat dan mudahnya hidup sebagai seseorang yang memegang kekuasaan akan sulit untuk melepaskannya.
Sebisa mungkin dia akan berusaha mempertahankan kekuasaan yang sekarang dia miliki dan menjadi seorang pengendali yang berdiri pada puncak rantai perintah.
Fu Yunhai tidak ambil pusing, dia mengalihkan perhatiannya pada Mu Qing yang di depannya. "Qingqing, ada apa denganmu. Wajahmu kusut sekali?"
Mu Qing tidak menjawab dia hanya menghela nafas panjang.
Melihat Mu Qing yang tetap diam padahal bisanya jika dia memanggilnya menggunakan nama panggilan itu, biasanya jika dipanggil seperti itu Mu Qing akan bereaksi berlebihan dan mengancamkan akan mengulitinya. Dia yang diam saja tentu membuatnya
heran.
"Kenapa dia?" Fu Yunhai bertanya kepada Jin Yichen, yang dibalas oleh pria itu dengan mengedikkan bahunya, dia juga tidak tahu.
__ADS_1
"Palingan dia masih belum bisa menerima kenyataan." Jin Yichen menebak seadanya.
Fu Yunhai mengangguk. Paling-paling juga begitu. Diantara mereka bertiga pasti Mu Qing yang paling shock.
Siapa sangka jika orang selama ini dia remehkan dan rendahkan ternyata adalah seseorang yang dia kagumi.
"Siapa yang menyangka, she hide too deep." Fu Yunhai menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya. Kali ini dia tidak membuat bentuk-bentuk. "V.Chongming, jenius investasi..."
Dia juga kaget ketika tahu identitas lain Ming Yue, tapi tidak sekaget Mu Qing. Dia memang sudah menaruh kecurigaan, orang yang di sukai oleh Lu Ming tidak mungkin orang normal biasa.
Mendengar itu telinga Mu Qing berkedut. Dia menegakkan bahunya dan ingin mengutarakan sesuatu tapi didahului oleh suara ketukan dari luar. "Matikan rokoknya." Dia berkata kepada Fu Yunhai.
"Lihat dia, siapa yang dua hari lalu bersumpah akan memutilasi mulut orang?" Fu Yunhai berkata dengan nada meledek. Masih ingat dengan curhatan Mu Qing tentang pertempuran terbarunya dengan Ming Yue.
Walaupun berkata begitu Fu Yunhai tetap mematikan rokoknya.
"Terserah." Mu Qing tidak peduli lagi. Dia masih bingung harus bersikap bagaimana. Haruskah dia tetap seperti biasa dan pura-pura tidak tahu atau... Tidak! Dia tidak bisa membayangkannya.
Dia masih belum percaya, lebih tepatnya tidak terima jika Ming Yue adalah V.Congming si investasi jenius.
Kalau hal itu benar itu berarti selama ini dirinya tidak lebih adalah seekor badut menari di depan Ming Yue. Terlihat bodoh dan sangat bodoh.
Sebelum Mu Qing memutuskan harus mengambil sikap mana, Lu Ming dan Ming Yue masuk.
"Kakak ipar." Mu Qing berdiri dan mengucapkan salam.
Kelakuannya itu tentu langsung ditertawakan oleh Fu Yunhai dan Jin Yichen.
"Tuan muda Mu, aku masih ingat memanggilku good-for-nothing. Apakah hari ini kau lupa memakai kontak lensa dan tidak melihatku dengan jelas." Ming Yue mendekati Mu Qing, kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Ini Ming Yue." Dia menunjuk wajahnya. Seolah dia sedang membantu seorang kakek-kakek rabun senja penderita alzheimer untuk mengingat wajah cucunya.
Mu Qing mendadak keki. Dia mengusap belakang kepanya dengan kikuk. "Kakak ipar aku tahu selama ini aku sudah kurang ajar. Mohon maafkanlah idiot ini." Dia berkata. Matanya menatap Ming Yue dengan memelas.
Dibelakang Fu Yunhai dan Jin Yichen semakin tidak bisa mengendalikan tawa. Bahkan Fu Yunhai sampai memukul-mukul meja sakin tidak tahannya.
Mereka tidak menyangka jika hari ini telah tiba waktunya dimana Mu Qing berubah menjadi anjing penurut di depan Ming Yue.
"Haha... Mu Qing kau seperti anak anjing." Fu Yunhai berkata dan langsung diteruskan oleh Jin Yichen, "Akhirnya kau terkena karma."
Mu Qing tidak mempedulikan ejekan-ejekan itu, dia lanjut menjilat Ming Yue. "Kakak ipar duduklah." Dia menarik kursi disampingnya lalu mempersilahkan Ming Yue untuk duduk. Semua gerakan itu dia lakukan seperti ketika dia sedang berhadapan dengan kakeknya. Sangat sopan dan penuh dengan hormat.
Melihat itu, tawa Fu Yunhai dan Jin Yichen semakin menjadi hingga akhirnya Lu Ming menyuruh mereka untuk diam.
__ADS_1
Setelah itu makan siang lima orang itu berjalan dengan normal dengan Mu Qing beberapa kali melontarkan pujian kepada Ming Yue, yang tentunya tidak mendapat tanggapan.