MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
67.


__ADS_3

“Lu Ming,” suara Ming Yue muncul dari balkon.


Lu Ming berlari ke arah Ming Yue lalu memeluknya dengan erat.


Ming Yue bisa merasakan jika tangan yang memeluknya itu bergetar. Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Lu Ming dan membalas pelukannya. Dia baru tahu jika Lu Ming ternyata separanoid ini padahal dia hanya pergi ke sebentar. Bagaimana jika dia benar-benar pergi. Apakah pria ini akan mencarinya seperti orang gila?


Sebenarnya Ming Yue memang mempunyai niatan untuk kabur. Dia sengaja bangun pagi dan berencana akan meninggalkan Lu Ming saat pria itu masih masih tidur, tapi niatnya itu gagal ketika dia tidak sengaja menabrak sebuah koper dan membuat koper itu terbuka sehingga memperlihatkan isinya.


Isi di dalam koper itulah yang menahannya untuk tidak pergi.


Setelah dua jam berdiri di balkon sambil merenung dan memandangi matahari terbit, Ming Yue merasa jika hidup ini pendek dan dia tidak mau menyia-nyiakan waktu. Dia tidak tahu kapan akan mati atau mungkin bisa saja besok pagi dia terbangun di dunia lain. Dia tidak ingin menyesal, jadi sekarang dia tidak lagi mempedulikan tentang siapa yang dicintai Lu Ming, selama dia masih berada di dalam tubuh ini maka dialah orang yang dicintai oleh Lu Ming.


Lu Ming memeluknya sangat erat, Dia mulai merasa sesak karenanya.


Pria itu seperti ingin mencangkok tubuh mereka menjadi satu. Tapi Ming Yue tidak peduli karena itu berarti pria ini tidak akan melepaskan dirinya. Hal itu sejalan dengan keinginanya, dia juga tidak akan melepaskan pria ini. “Lu Ming, ayo menikah.”


Lu Ming tertegun, dia membeku.


Dia tidak salah dengar bukan? Barusan Ming Yue mengajaknya menikah. Tapi… tunggu, sepertinya ada yang salah dengan situasi ini.


“Ming Yue…” Lu Ming melepaskan pelukannya dan menatap mata Ming Yue.


“Iya.” Ming Yue mengagguk. Dia melirik jam di dinding lalu berkata. “Ayo pergi sekarang, kantor catatan sipil akan buka sebentar lagi.” hari ini adalah hari yang cerah, pasti banyak orang yang ingin menikah hari ini. Kalau tidak pergi sekarang antriannya akan panjang dan mereka harus menunggu lama. Ming Yue menarik tangan Lu Ming mengajaknya untuk segera bersiap.


“Tunggu… tunggu sebentar…” Lu Ming menahan tangan Ming Yue. Dia merasa ada yang janggal, tapi dia tidak tahu pada bagian mananya yang janggal. Dia mengernyitkan dahinya dan berpikir keras untuk mencari di mana letak permasalahannya.


Ming Yue melihat dahi Lu Ming berkerut, dia yang tadi bersemangat menjadi sedikit sedikit meredup. Apakah dia salah menilai, apakah Lu Ming tidak mau menikah dengannya?

__ADS_1


Apa dia ditolak?


“Kau menolakku? Tidak mau menikah denganku?” Ming Yue mencerca, kali ini dia memilih untuk berterus terang. Dia sudah belajar dari pengalaman , memendamnya hanya akan membuatnya frustasi sendiri.


Lebih baik mengalakannya secara langsung, mengenai jawabannya memuaskan atau tidak, itu urusan nanti.


“Mana mungkin!” Lu Ming berseru. Wajahnya serius. Sudah lama sekali dia menyusun strategi untuk membujuk Ming Yue agar mau menikahinya. Mana mungkin dia menolak! Dia belum gila dan menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang kepadanya.


“Lalu?” Ming Yue mengangkat sebelah alisnya, dia tidak mengerti, kalau Lu Ming tidak menolaknya kenapa dia tidak terlihat senang dan malah berdiri dengan ekpresi idiot seperti itu. Sekarang dia jadi mempertimbangkan ulang keputusannya.


Melihat alis Ming Yue yang bertaut dan bibirnya yang mengkerucut, Lu Ming merasa bersalah. Ming Yue sudah berbaik hari mengajukan diri untuk menikahinya dan tanggapannya yang tidak terlihat antusias itu tentu membuatnya kecewa. Kalau Ming Yue sampai berubah pikiran maka itu adalah salahnya.


Ming Yue menarik tangannya dari genggaman Lu Ming, tapi pria itu tidak melepaskannya. Ming Yue menjadi kesal, dia menatap Lu Ming dan menyampaikan kekesalannya itu lewat matanya.


“Iya atau tidak?”


“Iya.”


“Menikah.”


“Ayo.”


“Tunggu.”


“Apa sih? Kau ini labil seperti perempuan.”


“Ha! Itu dia.” Lu Ming mentap Ming Yue dengan sumpringah seperti dia baru saja menyelesaikan ujian masuk universitas dan mendapatkan nilai sempurna. “Melamar itu adalah bagianku.” Lu Ming melanjutkan kalimatnya. “Bunga, candlelight dinner, cincin… di mana tempat yang paling bagus… restoran dengan pemandangan 350 derajat itu atau restoran bawah laut…” dia mulai mencercau. Mengatakan semua skenario lamaran romantis yang terpikirkan oleh kepalanya.

__ADS_1


Ming Yue yang mendengarkan menjadi bertambah kesal. Dia memutar bola matanya dengan jengah. Dia sekarang tahu jika Lu Ming yang disanjung-sanjung sebagai genius oleh banyak orang itu ternyata tidaklah lebih dari seorang pria bodoh nan idiot.


Tapi dia sedikit senang karenanya. “Lu Ming kau tidak harus melakukan itu.” Ming Yue berkata. Sekarang ini sudah bukan zaman megalitikum, tidak harus pria yang melamar duluan.


“Tidak bisa Ming Yue, kau berhak mendapatkannya.” Lu Ming menimpali dengan sungguh-sungguh. Dia sudah berjanji, apa yang bisa didapatkan oleh wanita lain, Ming Yue harus mendapatkan yang lebih baik. Hal itu tidak bisa ditawar. Momen sekali seumur hidup itu harus istimewa dan menjadi sesuatu yang mereka berdua tidak akan lupakan.


Pembicaraan tentang pernikahan itu harus dijeda saat perut mereka berdua berbunyi secara bergantian.


Lu Ming pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Ming Yue memilih untuk melanjutkan tidur sebentar.


Setelah sarapan mereka berdua menonton TV di ruang tamu, Ming Yue yang perutnya kenyang tidak bisa menahan kantuk. Ditambah dengan Lu Ming yang mengelus rambutnya, Ming Yue tertidur.


Lu Ming sibuk memikirkan bagaimana dia akan melamar Ming Yue. Tapi karena saking banyaknya ide yang melintas dikepalanya, dia menjadi semakin pusing. Semua idenya terdengar bagus tapi dia merasa jika semua itu belum maksimal. “Sepertinya aku harus minta saran dari Mom.” Lu Ming bergumam, dia segera mengambil ponselnya dan menelpon ibunya.


Fu Yao sedang merawat bonsai ketika mendapat telpon dari Lu Ming.


Saat mendengar Lu Ming akan melamar Ming Yue, hampir saja dia salah memangkas dahan. Tapi sekalipun bonsainya rusak sepertinya dia tidak akan marah. “Akhirnya nak.” Fu Yao memanjatkan piji syukur. Selama ini mengeluh di dalam hati kenapa putranya tidak gercep dan membuatnya harus menunggu lama untuk menimang cucu.


Pembicaran ibu dan anak itu berakhir selama satu jam, Lu Ming memang mendapat banyak masukan dari ibunya. Tapi telinganya terasa pedas karena setengah jam dari pembicaraan mereka berisi ceramah ibunya.


Lu Ming meletakan ponselnya. Ketika menunduk dia melihat kepala Ming Yue yang berada di pangkuannya. Gadis itu tidur dengan pulas dengan bibir yang sedikit terbuka dan memperlihatkan giginya yang putih.


Gadis ini berhasil memporak-porandakan hatinya, emosinya dibuat naik turun. Dia merasa marah saat gadis itu ingin mengakhiri hubungan, dia arah kepada dirinya yang kurang berusaha sehingga gagal memberikan rasa aman. Dia sangat takut akan kehilangan gadis ini. Tapi di balik semua itu dia juga merasa bersalah, karena ingin memilikinya dia menjadi egois.


Lu Ming mengusap alis Ming Yue dengan penuh rasa sayang. “Aku akan bekerja keras.” Dia berjanji untuk membuatnya bahagia dan tidak menyesal memilihnya.


Seolah mendengar janji itu, Ming Yue tersenyum dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2