
Setelah Lu Ming memastikan jika Ming Yue benar-benar sudah tidur, dia menyibakan selimut dan dengan hati-hati dia turun dari tempat tidur. Dia menatap Ming Yue sebentar, lalu beranjak keluar dari kamar, turun ke lantai satu, memakai sepatu dan menyambar mantel lalu membuka pintu keluar rumah.
“Ron akau percayakan dia kepadamu.” Dia berkata kepada pria berpakaian serba hitam yang berjaga di depan pintu.
Ron mengangguk, dia mengantarkan Lu Ming sampai lift dan setelah pintu lift menutup dan melaju turun ke bawah, dia kembali pada posisi awal. Dia membuka alat komunikasinya dan mulai melaporkan status kepada rekannya yang lain. Dia dan lima orang lain yang betugas bersamanya harus memastikan tidak terjadi kesalahan sedikitpun. Mereka sedang menjaga orang yang paling penting, jika terjadi sesuatu entah apa yang harus mereka bayar untuk mempertanggungjawabkan.
Mereka tahu jika bos tidak akan bermurah hati.
Sesampainya di lantai dasar, sebuah mobil sudah menunggu. Lu Ming segera naik dan mobil melaju meninggalkan pelantaran gedung. Setelah sepuluh menit berkendara, mobil berhenti di depan gedung yang berada pusat kota.
Lu Ming langsung turun begitu mobil berhenti di parkiran bawah tanah. Melalui lift khusus dia naik ke lantai sembilan. Di sana A Tai menunggunya di luar lift.
“Presiden Lu,” A Tai menyerahkan tablet kepada Lu Ming.
A Tai membukakan pintu dengan nomor 14.
Di dalam ada dua orang berpakaian sama seperti A Tai langsung memberikan salam kepadanya. Lu Ming mengangguk singkat, lalu dia duduk pada sofa singgel di ruangan itu, satu-satunya furniture di sana.
“Apakah dia orangnya?” Lu Ming memperlihatkan layar tabletnya kepada Zhou Yinan yang duduk dengan pasrah di lantai.
“Dia…benar dia.” Zhou Yinan mengerutkan dahinya, foto yang ditampilakan pada layar tablet itu seorang wanita cantik berpakaian **** menatap kearah kamera dengan sangat mengoda. Di dalam ingatannya, wanita itu adalah nona Yi, tapi kenapa Lu Ming menyebutnya dengan kata ‘dia’ yang digunakan untuk laki-laki?
Saat Zhou Yinan bertemu dengan client-nya, dia yakin seratus persen jika orang yang menyewanya itu dalah seorang wanita, dia tidak melihat ada jakun di leher nona Yi, di antara selangkangannya juga tidak ada benjolan… mana mungkin nona Yi yang logat bicaranya, caranya berjalan dan tindak tunduknya, dia sepenuhnya seperti wanita tulen. Masa sih dia seorang laki-laki?
Kalau benar jika nona Yi merupakan wanita jadi-jadian…
__ADS_1
Zhou Yinan bergidik ngeri.
“Jadi kau tidak datang untuk balas dendam melainkan kau disewa untuk mengacaukan hubungan kami?” Lu Ming bertanya, dia menyilangkan kakinya.
Setelah jeda yang agak lama, dia berkata. “Sepertinya client-mu tidak berpikir begitu.” Lu Ming melirik gedung sebrang dengan sinis.
Zhou Yinan saat ini dia menunduk mengamati lantai marbel di bawah kalinya, dia tidak berani menatap Lu Ming secara langsung, meliriknya dari ujung mata. Berada dalam satu ruangan dengan pria itu dia merasakan aura menekan yang begitu kuat. Punggung
Zhou Yinan sekarang sudah basah dengan keringat dingin dan bulu kuduknya berdiri.
“Lihat baik-baik.” Lu Ming sudah berada di luar balkon dan dengan santai menerima pistol dari A Tai.
Zhou Yinan mendelik. Berbagai pikiran negatif berkecamuk di dalam kepalanya. Apakah dia akan mati sekarang? Andai dia tidak memilih untuk menyerahkan diri, apakah dia bisa selamat? Apakah dia mengambil keputusan yang salah? Zhou Yinan menelan ludah, dia mengamati senjata api yang dipegang oleh Lu Ming dengan ngeri, wajahnya seketika kehilangan warna, keringat dingin membasahi dahinya hingga menetes turun dan masuk ke mata. Dia mengerjap, mencoba ngengurangi rasa perih pada matanya. Dia tidak bisa bergerak. Syaraf-syaraf tidak berfungsi, dia tidak bisa berpikir. Seandainya dia lari sekarang apa dia bisa lebih cepat dari peluru atau lebih baik dia pasrah saja?
Ketika Zhou Yinan masih berpikir bagaimana caranya menjelaskan kepada Lu Ming jika dia tidak tahu-menahu dan tidak ada hubungannya tujuan lain yang dimiliki oleh client-nya, Lu Ming sudah mengarahkan pintolnya ke udara, dia membidik lalu menarik pelatuknya.
“Ah…” Zhou Yinan melongo, Lu Ming tidak menggunakan pistol itu untuk melubangi kepalanya, melainkan menembak ke gedung sebrang.
Kamar suite hotel bintang lima. Seorang wanita dengan jari-jari yang lentik dan ramping memegang segelas wine pada tangan kirinya, tangan kanannya sibuk menekan-nekan sesuatu pada ponselnya. Dia berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan indah langit malam perkotaan. Sepasang headset Bluetooth terpasang pada telinganya yang memakai anting hoop silver berdiameter dua inchi. Dia memandang keluar, focus matanya tertuju pada sebuah unit apartemen di gedung sebelah yang kebetulan menjadi satu-satunya unit yang lampunya menyala pada lantai sembilan gedung itu, sejajar dengan tinggi kamar suite yang dia tinggali.
Wanita itu tersenyum licik kemudian dia berbalik, tapi belum satu meter dia bergerak menjauh, tembok kaca di belakangnya tiba-tiba pecah dan serpihannya berserakan di sekitar kakinya. Sebuah peluru melesat melalui tekinga kirinya kemudian menghantam tembok dan jatuh menggelinding di lantai.
Tidak lama kemudian peluru kedua di tembakkan, kali ini peluru itu menyerempet pipi kanannya, dia meraba wajahnya dan cairan merah yang beraroma metallic mengotori ujung jari telunjuknya. Untuk beberapa saat wanita itu membeku, kemudian dia… “Mike jangan menjerit, pita suaramu baru saja jadi.” Pria kekar dan bertato yang duduk di sofa memotong sebelum wanita itu membuka mulutnya. Yang tentu saja langsung mendapatkan lirikan tajam dari Huo An. Namun temannya itu hanya mengedikan bahu dengan tidak acuh.
Huo An menggertakan giginya, dia menahan diri untuk tidak mencakar wajah temannya. ”Jangan panggil aku dengan nama itu.” dia mendesis.
__ADS_1
Pria kekar itu memutar bola matanya. “Pemimpin Lu grup bukan orang biasa.” Dia menuangkan wine dari botol ke gelasnya yang kosong, kemudian menyesapnya. “Sebagai seorang teman kuperingatkan satu kali lagi, kembalilah. Lupalan Anna, masih banyak wanita lain di luar sana Huo An.” Usai berbicara pria itu meletakan gelasnya ke meja dan beranjak dari duduknya, meninggalkan Huo An yang masih berdiri dengan tangan yang terkepal.
“Pulanglah.” Dia berkata untuk yang terakhir kalinya sebelum menutup pintu dari luar.
Huo An menunggu untuk beberapa saat, pecahnya kacaitu pasti memimbulkan kegaduhan, tapi tidak ada petugas hotel yang datang kepadanya. Padahal di bawah sana adalah jalan raya, tidak mungkin orang tidak melihatnya.
Huo An berjalan ke tepi jendela dan melongok ke bawah.
Jalanan dibawah sana sepi tanpa ada kendaraan yang lewat. Tidak ada satu orang pun yang berkeliaran di bawah sana. Suasananya sunyi untuk sebuah hotel bintang lima di tengah kota, juga semua kamar hotel selain kamar yang dia huni lampunya mati. Seperti tidak ada tamu lain selain dirinya.
Huo An segera menelpon temannya tadi, panggilannya tidak terjawab.
Dia mencoba menghubungi nomor lain, tapi tiba-tiba ponselnya kehilangan signal. Satu detik kemudian layar ponselnya tidak bisa dioperasikan dan muncul satu baris tulisan.
‘GOT YOU!’
Tulisan itu terus bergerak pada layar ponselnya hinga membentuk sebuah potret. Huo An medelik dan melemparkan ponselnya seakan benda itu adalah bara api.
Selain temannya tadi, tidak ada orang yang tahu tentang masa lalunya. Dia sudah lama berganti identitas, orang-orang hanya tahu jika dia adalah Huo An. Siapa orang yang menerornya? Bagaimana dia bisa mendapatkan foto dirinya sebelum operasi plastic?
“Mike kau sudah tamat.” Suara robotic keluar dari ponselnya.
Kalimat itu terus diulang-ulang. Huo An mengambil ponselnya, lalu membantingnya. Untuk sementara ruangan menjadi sunyi.
Tiba-tiba TV menyala. Memampilkan foto-foto jadul dirinya.
__ADS_1
‘KAU TIDAK BISA LARI.’
Setelah tulisan itu layar televisi padam. Pintu kamarnya diketuk dan suara manager hotel terdengar. “Nona Huo, apakah anda baik-baik saja?”