
“Yang mulia Ming.”
Ming Yue melempar tatapan tajam kepada Lu Ming.
Gara-gara kejadian malam itu, sekarang Lu Ming akan meledeknya setiap kali ada kesempatan.
Malam itu…
Setelah Ming Yue dengan rakus menghabiskan kue bagiannya sekaligus milik Lu Ming, dia merasa perutnya sesak dan pergi ke toilet untuk melonggarkan gaun.
Sesampainya di toilet, dia merasa ada aneh. Toilet yang dia kunjungi adalah toilet yang paling dekat dengan ballroom, tapi di sana tidak ada seorangpun. Bukankah mencurigakan. Paling tidak di saat seperti ini ada satu atau dua Wanita yang pergi ke toilet untuk retouch make up mereka.
Keadaan yang tidak biasanya itu semakin mencurigakan ketika terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat. Langkah kaki itu jelas milik seorang pria. Yang membuat Ming Yue curiga, toilet pria berada di lorong yang berlawanan dengan toilet wanita.
Tidak lazim jika seorang pria datang ke tempat yang salah, penanda jalan yang pasang di persimpangan cukup jelas dan mudah dimengerti. Tanda itu juga di pasang permanen sehinga tidak mungkin orang iseng membaliknya. Kalaupun itu petugas kebersian, manager hotel tidak mungkin menugaskan laki-laki untuk ditempatkan pada area wanita.
Instingnya menyuruh Ming Yue segera pergi dari sana.
Ming Yue pun tidak jadi mengunakan toilet.
Mungkin dirinya yang paranoid atau pemilik Langkah kaki misterius itu mengetahui niatnya dan bersembunyi lebih dulu, Ming Yue tidak berpapasan dengan siapapun saat kembali ke aula pesta.
Di dalam ballroom suara music mengalun merdu dan banyak pasangan yang berdansa. Dia melihat kakek Lu dan Fu Yao ada di antara mereka.
Karena merasa haus dan Ming Yue juga tidak melihat Gu Anran kembali lagi setelah dia merusak gaunnya. Ming Yue memberanikan diri untuk mengambil jus lemon dan meminumnya.
Ming Yue melihat Lu Ming berjalan ke arahnya.dia ingin berbalik badan dan menghindar tapi pria itu lebih cepat satu langkah dan menghalangi jalannya. “Ming Yue, mau berdansa denganku?” Lu Ming membuat gestur dengan tangannya.
“Lu Ming aku terlalu kenyang.” Ming Yue mengelus perutnya yang timbul.
__ADS_1
Lu Ming tidak tersinggung dengan penolakannya. Dia melirik perut Ming Yue dan tersenyum kemudian memberikan alasan yang tidak bisa ditolak. “Berdansa akan membantu pencernaanmu lebih cepat.” Katanya.
"Baiklah.” Ming Yue pikir ada benarnya, dari pada rencananya untuk jalan-jalan ke taman yang belum tentu aman, berdansa dengan Lu Ming boleh juga. Dia menerima uluran tangan Lu Ming dan membiarkan pria itu menuntunnya ke tengah lantai dansa.
Lu Ming memimpim dansa itu dan Ming Yue mengikutinya.
Ketika lagu sampai pada irama dimana pria melepaskan tangan pasangannya untuk melakukan putaran dan menangkapnya kembali. Ming Yue berkata sebelum Lu Ming melepaskan tangannya, “Katanya pria yang tidak bisa menangkap pasangannya, mereka tidak berjodoh.”
Meskipun Lu Ming tahu jika tidak ada makna serius dari perkatan Ming Yue, dia menganggapnya serius. Saat waktunya untuk menangkap Ming Yue, Lu Ming menggunakan tenaga lebih banyak. Ming Yue tersentak dan jatuh ke dalam pelukannya. “See, we are destinied for each other.” Dia berbisik pada telinga Ming Yue.
“Tentu saja kita berjodoh.” Ming Yue memiringkan kepalanya. Kemudian tersenyum. “Di dunia ini ada banyak sekali macam jodoh, jodoh untuk menjadi kawan, jodoh untuk menjadi keluarga, jodoh untuk menjadi musuh dan jodoh untuk menjadi orang asing. Yang mana untuk kita?” Ming Yue terkekeh.
Lu Ming tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Dia pikir dirinya sudah menang tapi ternyata tingkat ke-absurd-tan Ming Yue sudah naik level. Dia hanya bisa menatap Ming Yue yang menertawainya.
“Ah! Ngomong-ngomong aku penasan dengan sesuatu.” Dia tiba-tiba berubah menjadi serius.
Lu Ming mengangkat alisnya. Sekarang waktunya untuk melakukan putaran lagi.
Mata Lu Ming berkilat ketika mendengar nama itu disebutkan. Dia mencoba untuk tidak menunjukkan expresi yang berlebih, “Dua bulan lebih.” Jawabnya sedatar mungkin.
Tapi Ming Yue merasakan tangan Lu Ming menggenggam tangannya sedikit mengerat. Sudut bibir Ming Yue berkedut, ternyata tanpa sepengetahuannya dua orang itu terlibat lebih dalam dari yang dia kira sampai Lu Ming bereaksi hanya dengna mengengar namanya disebut. “Dia terlihat pintar. Dan sangat cantik.” Ming Yue menatap ke lantai saat mengatakannya. Entah kenapa Ming Yue merasa kesal sendiri. Dia jadi ingin dansanya segera berakhir.
Saat Ming Yue tidak melihatnya, wajah Lu Ming berubah menjadi serius dan matanya menatap tajam ke satu arah “Kau pasti lelah, aku akan mengantarmu ke tempat istirahat.” Dia berkata, kemudian Lu Ming membawa Ming Yue keluar dari lantai dansa.
Ming Yue melepaskan diri dari Lu Ming. “Aku bisa pergi sendiri.” Diaberkata dengan ketus dan meninggalkan Lu Ming begitu saja.
Lu Ming tidak mengikuti Ming Yue tapi dia tidak pergi sampai Ming Yue menghilang dari pandangannya. “Umpan sudah dilepas.” Lu Ming berkata.
Dia memberikan tatapan terakhir pada lorong yang sudah kosong itu sebelum kembali ke aula pesta dan melanjutkan bersosialisasi dengan para tamu.
__ADS_1
Di ujung ruangan, dimana tidak seorang pun memperhatikan, seseorang tersenyum sinis kemudian menghilang.
Ming Yue sudah samapi di kamar suite yang direserfasi untuknya. Ming Yue melepas sepatunya dengan sembarangan dan melemparnya. Dia juga melepas sanggul di kepalanya dan mengacak rambutnya. Apa yang terjadi kepadanya, kenapa tiba-tiba mengalami mood swing.
Dua jam kemudian pesta berakhir.
Setelah memastikan kakek dan ibunya beristirahat dengan aman, dia segera pergi untuk menyusul Ming Yue. Selama dua jam gadis itu tidak berada pada jangkuannya, Lu Ming tidak bisa berhenti khawatir. Walaupun dia sudah menugaskan pengawal terus bersamanya, perasaan Lu Ming tetap tidak tenang jika tidak memastikannya sendiri.
Dia mengetuk pintu. Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dan dia sudah mengeluarkan kunci untuk membukanya, pintu terbuka dari dalam. Ming Yue muncul dengan memakai bathrobe, rambutnya basah dan air masih menetes dari ujung-ujungnya. Lu Ming menelan ludah, dia segera masuk dan menutup pintu.
“Kau sungguh tidak sopan.” Ming Yue berkata.
Lu Ming tidak bisa mengelak, dia akui dirnya sedikit tidak sopan dengan menerobos masuk sebelum dipersilahkan. Tapi di banding itu, penampilan Ming Yue yang sekarang tidak boleh dilihat orang lain. “Aku minta maaf untuk itu. Tapi kau juga jangan asal membuka pintu dengan pemampilan seperti itu, bagaimana jika bukan aku yang ada di luar.” Lu Ming berkata dengan stress. Bagaimana jika memang bukan dirinya yang mengetuk pintu. Kenapa Ming Yue ini tidak memiliki sedikit pun kewaspadaan. Terus saja membuatnya khawatir.
“Apa katamu?!” Ming Yue menatap Lu Ming dengan marah. Dia memincingkan matanya. “Kau pikir kau siapa berani menasehatiku. Berlutut!” Ming Yue membentak.
Lu Ming menyadari ada yang tidak benar dengan Ming Yue. “Ming Yue.”
“Yang mulia Ming! Beraninya ajundan sepertimu memanggil nama langsung.” Ming Yue menekan pundak Lu Ming, hingga dia berada pada posisi berlutut. “Ming Yue yang agung akan memberikan kesempatan satu kali. Sekarang berlututlah samapai matahari terbit.” Ming Yue berkata, dia metenteng seperti seorang raja yang sedang menghukum hambanya.
Lu Ming mematap Ming Yue dengan speechless. Apa yang sedang merasuki Ming Yue. Tapi kemudian dia tahu ketika melihat botol wine yang kosong menggelinding di lantai. Ming Yue saat ini sedang mabuk.
“Tidak menjawab. Apa hukumannya kurang berat?” Ming Yue menaikkan alisnya. Matanya berkilat keji.
“Tidak yang mulia. Hamba menerimanya.” Lu Ming terpaksa berkolaborasi. Melihat mata Ming Yue yang persis seperti mata seorang tiran, dia tidak ingin tahu hukuman lainnya.
“Bagus.” Ming Yue memalingkan muka, puas dengan jawaban Lu Ming.
Ming Yue berjalan dengan sempoyongan dan Lu Ming menjaganya dibelakang.
__ADS_1
“Lu Ming sialan.” Dia bergumam. Kemudian menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
Lu Ming mengelengkan kepalanya, dia tersenyum. Yang mulia Ming-nya.