
"Bagaimana perkembangan cicitku?" Kakek Lu bertanya sebelum menjalankan pion terdepannya maju satu langkahnya ke kanan untuk memakan pion milik Lu Ming. Mereka sedang bermain catur.
Lu Ming menatap wajah kakeknya sejenak kemudian kembali menatap papan catur di depannya. Sebenarnya ada banyak kesempatan untuk mengalahkan kakeknya di dalam permainan ini. Dia melihat ada dua kesempatan untuk membuat permainan menjadi checkmate, tapi tidak mengeksekusinya. "Dua puluh persen." Lu Ming menjawab sembarangan.
Sejak kunjungan tidak terduga malam itu, baik kakek maupun ibunya yang akan mereka tanyakan jika bertemu dengannya tidak lain adalah pertanyaan perihal seputar cicit dan cucu mereka. Li Ming ingin berkata jujur jika tidak ada cicit dan cucu untuk mereka, tapi dia tidak tega bila harus menghancurkan mimpi mereka.
"Kau juga bilang begitu tiga hari lalu!" Kakek Lu memincingkan matanya menatap Lu Ming dengan geram."Sebenarnya kau ini bisa atau tidak, hah?" Kakek Lu menutup mulutnya dengan shock menyadari apa yang baru saja dia katakan. Selama ini pikiran jika 'Lu Ming tidak bisa' tidak pernah melintas di dalam benaknya. Kakek Lu menatap Lu Ming dengan kasihan lalu berdehem dan mengalihkan tatapannya.
Oh, cucuku yang malang!
Lu Ming menautkan alisnya, perubahan wajah kakeknya dari marah menjadi kasihan terlalu mencurigakan. Lu Ming memincingkan matanya menganalisis kira-kira skenario apa yang ada di dalam kepala kakeknya sehingga dia bisa memberikan tatapan kasihan yang sangat jarang itu.
Kakek Lu melirik Lu Ming sebelum berkata dengan hati-hati. "Kalau kau mau adopsi, kakek tidak masalah." Ucapnya sebelum berdiri lalau keluar dari ruang belajar dengan wajah pedih.
Ah, dari berbagai macam kekurangan kenapa cucunya harus memiliki yang satu itu. Dia menggeleng, mendesah dan membuat wajah ingin menangis hingga dia sampai di dapur dan menepuk pundak anak menantunya yang sedang memasak. "Yaoyao, tahun ini aku akan ikut berlayar denganmu." Ucap kakek Lu. Dia harus mengalihkan kesedihannya dengan bersenang-senang.
"Ayah kau yakin akan ikut denganku?" Fu Yao menyerahkan spatula kepada asisten dan berbalik badan untuk menatap ayah mertuanya.
"Kau tidak ingin aku ikut?" Kakek Lu berseru sedikit karas. Dia mendengus lalu pergi dari dapur dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakan, merajuk.
"Bukan begitu ayah, hanya saja kemarin ayah bilang tidak mau ikut pergi. Kenapa mendadak berubah pikiran, apa ada sesuatu yang terjadi?" Fu Yao menyusul kakek Lu menuju teras.
"Huft!" Kakek Lu duduk di kursi goyangnya dengan kesal. Matanya memerah ketika memikirkan jika cicitnya tidak akan terlahir.
Ini salah Lu Ming!
__ADS_1
Fu Yao mendekati kakek Lu, "Apa Lu Ming membuat ayah marah lagi?" Dia bertanya, menebak. Ayah mertuanya itu tadi pergi ke ruang studi dan mengajak Lu Ming untuk main catur, kemungkinan Lu Ming tidak mau mengalah dan membuatnya marah. Tapi jika itu yang terjadi biasanya mereka berdua akan ribut-ribut dulu sebelum kakek Lu ngambek. Kali ini sedikit berbeda, Fu Yao tidak mendengar keributan apapun dari ruang belajar. Dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Hahh..." Kakek Lu menatap Fu Yao sejenak kemudian memandang ke arah langit lalu memejamkan matanya dengan sangat dramatis. Walaupun dia sangat menginginkan Ming Yue menjadi cucunya tapi sepertinya dia tidak bisa menggunakan cara yang merugikan. "Lu Ming dia... Sepertinya aku harus memikirkan kembali pernikahannya." Katanya dengan berat hati.
"Apa maksud ayah?" Fu Yao mendadak panik, dia bertanya dengan penuh kekhawatiran. "Apa yang sudah bocah itu lakukan, apa dia jadi bodoh lagi, tidak, dimana Ming Yue." Dia berdiri lalu masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
Ketika dia melihat Lu Ming turun dari tangga, rahangnya mengeras dan matanya menyipit lalu berjalan mendekati putranya dengan geram.
Lu Ming tidak tahu kenapa ibunya tiba-tiba menjadi seperti ayam betina yang sedang mengeram, ganas dan akan mencakar kapan saja.
"Lu Ming kau bocah brengsek! Apa yang sudah kau lakukan kepada Ming Yue, hah!" Fu Yao melepaskan sandal di kakinya lalu melemparkannya ke arah Lu Ming.
Lu Ming yang melihat bahaya dari sandal terbang menghindar sehingga sandal itu jatuh di belakangnya. Hal itu membuat Ibunya semakin marah. Fu Yao tanpa aba-aba sudah berada di depannya dengan tatapan marah, dia mencengkeram baju Lu Ming dan memaksanya untuk membungkuk sebelum melayangkan pukulan demi pukulan bertubi-tubi ke kepala bagian belakang putranya. "Apa kau mau jadi bujang lapuk, hah? Kau harusnya bersyukur! Kalau bukan Ming Yue siapa yang mau denganmu!" Fu Yao dengan berapi-api memukul sambil berteriak marah-marah. Lupa dengan seratus orang lebih yang mengantri untuk menjadi menantunya dan menyumpahi anaknya menjadi bujang lapuk.
"Ma..." Lu Ming berusaha melindungi kepalanya dari pukulan ibunya. Dengan kekuatan yang digunakan oleh ibunya, dia takut akan gegar otak.
Lu Ming merasa akan benar-benar dipukul hingga bodoh kalau dia tidak segera menghentikan ibunya. "Ma, apa yang terjadi?" Lu Ming berteriak setelah melepaskan diri dari cengkraman ibunya.
Fu Yao menatap wajah Lu Ming dengan tidak percaya lalu matanya perlahan-lahan memerah sebelum dia menangis. "Kau membentak ibumu?" Fu Yao berkata dengan suara penuh kepedihan.
Lu Ming mengusap dahinya kasar, melihat perubahan ibunya yang begitu cepat langsung paham jika ibunya sedang PMS. Dia menghela nafas panjang sambil menutup matanya mencoba untuk bersabar. Ini bukan yang pertama kalinya, kau sudah kebal! Lu Ming merapal mantra di dalam hati sebanyak tiga kali sebelum dia kembali membuka matanya.
Tapi semuanya menjadi bertambah runyam ketika kakek Lu ikut bergabung. "Huh, kau bocah tidak tahu diuntung. Selama Lu Huang masih berada di dunia ini, tidak akan kubiarkan kau menyakiti Ming Yue!" Kakek Lu berteriak dengan lantang membuat Lu Ming bertambah bingung.
Ada apa dengan orang-orang di rumah ini? Apa mereka salah minum obat atau dia berteleportasi ke dunia lain?
__ADS_1
Lu Ming menatap ibu dan kakeknya dengan lekat, mencoba mencari tahu situasi apa yang sedang terjadi. Dia ingat sudah mengalah tiga kali saat bermain catur tadi, tidak ada alasan bagi kakeknya untuk tiba-tiba marah. Dia juga sudah membelikan tas incaran ibunya minggu lalu sebagai upeti untuk PMS bulan ini. Apa yang dia lewatkan sehingga membuat dua orang itu marah?
"Kita tidak boleh berbuat salah kepada Ming Yue, pernikahan mereka harus segera di batalkan!" Fu Yao berkata sembari memberikan tatapan geram kepada Lu Ming.
Nafas Lu Ming tercekat ketika mendengarnya. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, dia terkejut bukan main. "Apa maksud kalian, jelaskan padaku apa yang kalian inginkan? Jangan sembarang membatalkan pernikahanku dengan Ming Yue." Lu Ming berteriak dengan panik.
Dua orang itu sudah berdiskusi sendiri-sendiri tanpa menghiraukan Lu Ming teriakan Lu Ming yang kebakaran jenggot.
"Benar, aku akan menyuruh Xiao Ahn untuk mengumumkannya segera." Kakek berkata sebelum berteriak memanggil Butler Ahn.
Ketika Ming Yue memasuki ruang studi dan melihat tiga orang di dalam sedang berbicara dengan serius dan ekspresi wajah Lu Ming yang terlihat sangat melas serta putus asa, dia ingin tersenyum geli.
"Yueyue, kemari nak." Fu Yao yang melihatnya menyuruhnya untuk mendekat. Setelah Ming Yue duduk di sebelahnya, Fu Yao menggenggam tangannya dengan sayang.
"Kau tidak perlu khawatir, kakek tidak akan membiarkanmu dirugikan." Kakek Lu berkata dengan lembut kepadanya sebelum kembali menatap Lu Ming dengan sengit. "Kau mau menyeret Yueyue untuk hidup seperti Buddha bersamamu, tidak akan kubiarkan!"
"Paman Ahn segera umumkan pembatalan pernikahannya." Fu Yao menyahut dengan benci dan sayang. Dia pikir Lu Ming sudah sehat, ternyata sakitnya matanya semakin parah. Bagaimana dia tidak bisa melihat kelebihan Ming Yue yang begitu banyak!
Dua orang dengan pemikiran berbeda tapi memiliki tujuan akhir yang sama itu memberikan tatapan memusuhi kepada Lu Ming.
"Ming Yue, katakan kepada mereka jika kau menginginkan kita menikah." Lu Ming berkata kepada Ming Yue, dia menatapnya dengan penuh harap. Jika kakek dan ibunya tidak mau mendengarkan dirinya mereka pasti akan mendengarkan Ming Yue.
"Tidak usah takut kepadanya, Yueyue. Kakek dan ibumu akan melindungi mu." Kakek Lu menyela. Di dalam kepalanya sudah memainkan berbagai skenario Lu Ming memaksa Ming Yue untuk menikah dengannya lalu mengancamnya saat Ming Yue tidak setuju.
Di kepala Fu Yao juga sedang memainkan hal yang sama hanya berbeda sedikit. Bedanya jika kakek Lu berpikir Lu Ming memaksa Ming Yue untuk menikah dengannya dan menjalani kehidupan Buddha yang hampa. Di dalam bayangan Fu Yao, Lu Ming pasti menikahi Ming Yue hanya untuk bersandiwara di depan mereka seperti drama yang ditayangkan di TV. Mereka hanya menikah tapi tidak hidup sebagi pasangan suami-istri yang sebenarnya.
__ADS_1
Fu Yao melemparkan tatapan sengit kepada Lu Ming. "Apa aku pernah mengajarkanmu untuk berbuat seperti itu?" Dia bertanya dengan geram dan alis yang terangkat tinggi.
"Jangan menunda kehidupan orang lain!" Kakek Lu menyahut tidak kalah geramnya.