
Hari pernikahan Lu Ming dan Ming Yue sudah ditentukan. Pesta pernikahan mereka akan diselenggarakan pada tanggal dua puluh delapan bulan depan. Hari ini hari minus tujuh minggu dari hari H.
Ming Yue melirik Lu Ming di sampingnya. Setelah selesai menghempaskan gaun di butik Madame Sarah, Lu Ming membawanya ke toko perhiasan.
Sekarang mereka sedang duduk di ruangan khusus untuk pelanggan VVIP dan dilayani langsung oleh manajer toko.
Ketika Ming Yue melihat tiga pasang wedding ring didepannya, di kembali melirik Lu Ming—Pria ini sejak kapan melakukan persiapan? Saat fitting baju di butik Madame Sarah, Ming Yue sudah tahu jika Lu Ming tidak menyiapkan semua ini dalam dua atau tiga hari. Pasti pria itu sudah menyiapkannya sejak lama. Tapi kapan? Satu bulan lalu saat pria itu melamarnya atau... tidak, sepertinya jauh lebih lama dari itu. Madame Sarah bilang dia menghabiskan waktu enam bulan untuk membuat gaun itu.
Setengah tahun yang lalu bukankah itu sebelum ulang tahun kakek Lu? Ketika itu dia baru saja bertransmigrasi ke dunia ini dan hubungannya dengan Lu Ming masih belum membaik dan pria itu malah sudah merencanakan hari pernikahan mereka, bukankah itu sedikit aneh?
Kalau Ming Yue mengurutkannya dengan plot cerita novel aslinya, pada hari ulang tahun kakek Lu dia dijebak oleh Gu Anran dan tidur dengan gigolo lalu dia dan Lu Ming akan memutuskan pertunangan mereka... bukan! Di dalam buku tidak dituliskan Lu Ming memutuskan pertunangan mereka. Waktu itu hanya tertulis jika setelah skandalnya menjadi viral, semua orang berspekulasi jika keluarga Lu memutuskan pertunangan itu tapi tidak dituliskan jika Lu Ming yang memutuskan pertunangan itu. Lalu waktu itu dia juga mengalmi kecelakaan yang membuatnya wajahnya rusak, karena wajahnya rusak dan dia menjadi buruk rupa dia mengalami stress berat dan menolak semua orang yang datang mengunjunginya.
Kalau Lu Ming benar sudah menyiapkan pernikahan mereka saat itu bukankah itu artinya Lu Ming tidak ada niat untuk menjalin kasih dengan Gu Anran, bukankah begitu?
Lalu, Lu Ming yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Gu Anran, hal itu juga perlu dipertanyakan!
Yang Ming Yue tahu Lu Ming adalah seseorang yang keras kepala dan berpegang teguh pada pendiriannya. Dan Lu Ming juga bukan orang yang akan berbuat salah pada diri sendiri. Jika dia sudah memutuskan sesuatu maka dia akan memperjuangkannya hingga tercapai, saat itu bahkan sepuluh ekor sapi sekalipun tidak akan mampu menariknya untuk menyerah.
"Ming Yue," Suara Lu Ming menariknya kembali ke alam nyata. Perhatiannya kembali terarah pada tiga pasang cincin di depannya.
Seperti wedding dress yang baru dia coba, tiga cincin didepannya, ketiga-tiganya memiliki desain yang bagus dan terlihat jika orang yang memesannya menaruh banyak perhatian di sana. Ming Yue melirik Lu Ming lalu mengambil cincin cincin itu untuk melihatnya lebih dekat. "Kapan kau menyiapkan semua ini?" Dia berkata dengan lirih tidak bermaksud agar didengar oleh Lu Ming. Tapi pria itu memiliki pendengaran yang bagus sehingga dia bisa mendengar kalimat yang Ming Yue ucapkan.
Dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Ming Yue. "Dari ketiganya mana yang paling kau suka?" Dia bertanya.
__ADS_1
Ming Yue memilih cincin dengan desain yang paling simpel dari ketiga pilihan itu. Cincin itu terbuat dari emas putih dengan berlian kecil. Simpel dan elegan.
Dia mengambilnya lalu menarik tangan Lu Ming dan memakaikan satu cincin pada jari pria itu. Saat dia hendak memakai cincin yang satunya, Lu Ming menghentikannya. Pria itu mengambil cincin itu dari tangan Ming Yue lalu dengan tangannya sendirinya dia menyematkan cincin itu pada jari Ming Yue.
Ming Yue mengamati semua itu dengan hidung yang sedikit berkerut. Dia tidak tahu kalau Lu Ming adalah orang yang romantis.
Setelah cincin itu berhasil melingkar pada jari Ming Yue, Lu Ming melihatnya dengan perasaan puas. "Sangat cantik." Dia bergumam. Dari ketiga cincin yang dia pesan dia juga paling menyukai cincin ini.
Mereka berdua saling memandangi jari satu sama lain. Hampir secara bersamaan mereka berkata. "Kalau begitu yang ini saja." Mendengar kalimat yang keluar dari mulut masing-masing, mereka menoleh dan saling menatap. Untuk beberapa saat mereka tidak berkata apapun kemudian mereka tertawa.
"Tapi cincin ini terlalu sederhana untuk gaun yang akan dipakai." Ming Yue berkata. Cincin pilihan mereka cocok untuk pemakaian sehari-hari tapi tidak cukup pantas untuk dipakai saat ritual pernikahan, apalagi mengingat gaun yang akan Ming Yue pakai pada hari itu, dua cincin dengan berlian besar yang tidak mereka pilih akan lebih tepat untuk dipakai pada hari besar itu.
"Kau benar. Bagaimana kalau kita pilih dua, satu untuk kita gunakan saat resepsi dan satu yang akan kita pakai untuk setiap hari." Lu Ming setuju dengan pendapat Ming Yue. Di hari pernikahan mereka nanti dia memiliki sedikit keinginan egois, pada hari itu dia menginginkan semua orang tahu jika dia—Lu Ming—sangat mencintai Ming Yue.
Lu Ming bersenandung ringan di sepanjang jalan menuju tempat mobil mereka diparkir. Bibir pria itu melengkung keatas dengan mood yang bagus, wajahnya tampak berseri-seri seperti baru saja memenangkan lotre satu miliar.
Ming Yue berkata, "Jangan terlalu senang, biasanya kau akan kena sial setelahnya."
Belum ada satu menit Ming Yue berbicara, perkataannya menjadi kenyataan.
Mereka berdua melihat Mu Jena berdiri di samping mobil Lu Ming.
"Crow mouth!" Ming Yue menepuk mulutnya. (Crow mouth: apa yang dia ucapkan langsung jadi kenyataan.)
__ADS_1
Ketika hendak berputar arah dan menghindar. Mu Jena sudah lebih dulu meneriakkan nama mereka. "Kakak Yue." Dia berseru.
Ming Yue dan Lu Ming tetap berbalik arah lalu masuk kembali kedalam toko, pura-pura tidak mendengar namanya dipanggil.
Sayangnya usaha mereka untuk menghindar gagal. Entah ap yang dikonsumsi oleh Mu Jena saat makan siang, gadis itu berlari sangat cepat dan menghentikan mereka tepat di depan pintu.
"Kakak Yue, kakak Ming." Mu Jena memasang senyum manisnya. Seolah bukan dia yang baru saja berlari dengan tenaga kuda.
Ming Yue sedikit terkejut ketika melihat Mu Jena dari dekat. Seingatnya belum lama terlalu dia bertemu dengan bocah itu, kenapa dia merasa jika lima tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka.
Hal itu membuat Ming Yue bertanya-tanya, apakah Mu Jena yang berdiri di depannya ini datang dari masa depan. Atau... dia mengalami penuaan dini?
Pasalnya Mu Jena yang dia ingat dan yang berdiri di depannya sekarang ini terlihat berbeda. Gadis itu terlalu kurus dan pucat. Pipinya cekung dan lingkaran hitam di sekitar matanya tetap terlihat meskipun gadis itu sudah memakai riasan yang tebal.
Ming Yue jadi sedikit takut kalau-kalau Mu Jena datang kepadanya untuk minta sumbangan.
Baru saja Ming Yue ingin mengatakan sesuatu Lu Ming sudah mendahuluinya. "Apa kau tidak punya uang untuk membeli skincare?" Dia berkata.
Spontan Ming Yue menutup mulutnya menggunakan tangan untuk menyembunyikan tawanya. Dia melirik Lu Ming dengan mata bulat besarnya, ada sedikit kaget dan kagum namun juga heran.
Kapan Lu Ming belajar berbicara seperti itu?
Siapa yang mengajarinya? Pria berwajah patung batu dan tidak punya ekspresi seperti Lu Ming tidak cocok dengan gaya seperti itu. Lain kali, kalau dia punya waktu Ming Yue akan mengajari Lu Ming 100 ekspresi wajah congkak agar saat melontarkan penghinaan dia bisa sedikit lebih luwes.
__ADS_1
Ketika Ming Yue masih memikirkan kalimat yang tepat untuk mendukung kalimat Lu Ming, dia kembali dikejutkan oleh pria itu. "Kau terlihat seperti penderita busung lapar." Lu Ming mengatakan kalimat itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, tapi justru karena itulah kalimatnya terdengar lebih mengena. Ming Yue sampai harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa lepas.