
“Benar, siapa yang bisa menolak pesona Ming Yue yang agung, yang mulia Ming.” Lu Ming gemas ingin mengngacak rambut Ming Yue, tapi gadis itu tidak mengizinkannya untuk melakukan hal itu.
Lu Ming, ketika mendengar Ming Yue mengatakan orang lain menjadi tunangannya, dia tidak senang. Dia ingin membinasakan orang itu. Karena, jika bukan Ming Yue, tidak ada wanita lain yang bisa menempati posisi di sampingnya.
Dan… memang benar jika tidak ada yang bisa menolak pesona Ming Yue, gadis itu seperti mempunya spot light yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi dan membuatnya bercahaya. Secara alami orang-orang akan melihatnya dua kali, lalu, jatuh hati.
Lu Ming harus bekerja sangat keras untuk menghalau para suitor yang ingin mendekatinya.
Mereka masih berada pada section buah dan sayur, Ming Yue terus memasukkan apa saja yang menarik matanya sambil berceloteh mengenai bagaimana bahan-bahan itu akan diolah nantinya.
“Apa kau pernah pergi ke India, Lu Ming?” Ming Yue bertanya. Dia sedang memillih rempah-rempah untuk membuat kari.
“Belum.” Lu Ming menjawab. Dia sidikit heran, Ming Yue bisa membedakan jenis-jenis rempah dan tahu kegunaanya. Pengetahuan kulinernya juga sangat luas, hampir semua makanan dari berbagai mengara di benua barat dan timur, dia mengetahuinya. Tapi, kemampuan memasak gadis itu, nol besar. Zero.
Ming Yue hanya tahu makan dan berkomentar.
“Kau harus pergi ke sana, kari di negara itu sangat enak.” Ming Yue tidak akan merekomendasikan Taj Mahal untuk di kunjungi, melainkan kuliner apa yang ada di tempat itu.
“Kau mau pergi ke sana lagi?” Lu Ming mengambil kayu manis, dia ingin membuat cinnamon roll yang Ming Yue sukai.
Lu Ming tahu jika Ming Yue pernah pergi ke India, dulu saat masih kuliah, Ming Yue tergabung dalam sebuah komunitas traveler yang menamai kelompok mereka dengan sebutan Hippie. Kelompok itu isinya adalah orang-orang yang fanatic dengan kisah perjalanan Paulo Coelho, sebuah kisah perjalan mencari jati diri yang dia tulis oleh penulis best seller itu ke dalam bukunya yang berjudul Hippie. Komunitas Hippie itu mereka ulang petualangan sang penulis, menjelajahi dunia, dengan menaiki bus mereka berpetualang melalui jalur Hippie yang terbentang dari Amsterdam ke Kathmandu.
“Mungkin, suatu hari nanti.” Ming Yue menjawab. Dia tidak menolak untuk pergi ke India lagi. Dia tahu jika Ming Yue pernah melakukan penjelajahan Hippie, dan kebetulan dia juga melakukan penjelajahan itu di dunianya dulu. Bedanya dia tidak mengikuti komunitas traveler dan berpetualang mengunakan bus, Ming Yue pergi mengunakan jet pribadi.
Sampai pada section daging, Lu Ming memilih dengan cepat dan segera pindah ke tempat lain. Ming Yue tidak menyukai bau daging mentah, bahkan dia menyukai steak yang dimasak sampai well-done. Sampai benar-benar matang.
__ADS_1
Orang tampan atau cantik selalu menyita perhatian jika keluar ke tempat umum, apalagi sepasang kekasih yang berwajah rupawan. Si pria, tinggi dan berwajah tampan, wanitanya cantik dan langsing. Ketika dua orang seperti itu keluar bersama, orang-orang yang melihat akan menengok dua kali.
“Itukan Ming Yue.”
“Pantas seperti tidak asing.”
“Apa dia sedan berbelanja?”
“Siapa pria yang bersamanya?”
“Dia presiden Lu, tunangannya.”
“Bukannya mereka diberitakan tidak harmonis?”
“Siapa bilang, mereka pasangan paling romantis, tahu.”
“Aku akan langsung sukses kalau debut.” Ming Yue menyeletuk.
Dia pernah berpikir untuk debut, kalau dia terjun ke dalam industry entertainment, dia pasti akan langsung tenar. Tapi, Ming Yue menolak semua tawaran agensi yang menghubunginya dan ingin menjadikannya bintang. Tapi kalau suatu hari dia kehabisan cara menghasilkan uang, mungkin dia akan mempertimbangkan itu.
Lu Ming mendorong troli ke kasir untuk membayar.
Dia tidak setuju Ming Yue menjadi artis. Industry hiburan tidak sesimpel seperti yang terlihat dari luar, di balik keglamoran cahaya lampu di atas panggung, di dalammya tersembunyi banyak hal yang kotor dan gelap. Orang-orang yang terlibat di dalam industry itu bersembunyi sangat dalam, menyembunyikan taring dan cakar mereka, orang yang tidak mempunyai background dan tanpa backing-an yang kuat, mereka akan di telan hidup-hidup.
Walaupun Lu Ming yakin dia bisa melindungi Ming Yue kalau dia terjun ke dunia hiburan, dia tetap tidak setuju. Lu Ming tidak mau orang lain melihat Ming Yue, katakan dirinya selfish, tapi beitulah dirinya, Lu Ming ingin memonopoli Ming Yue untuk dirinya sendiri. Kalau bisa dia ingin menyembunyikan Ming Yue dari dunia, menyimpannya di rumah dan hanya dia yang bisa melihatnya.
__ADS_1
Tapi dia tahu, kalau dia melakukan itu, berarti dirinya tidak sehat. Dia harus segera pergi ke psikolog, atau menghubungi polisi untuk menangkapanya.
Lagi pula Lu Ming juga tidak akan bisa melakukannya. Ming Yue bukan barang yang bisa diperlakukan semaunya, dia memiliki pikiran dan perasaannya sendiri. Orang lain tidak berhak mengaturnya, termasuk Lu Ming.
Dahi Ming Yue berkerut. Wanita muda penjaga kasir yang sedang menghitung belanjaan mereka, sejak tadi melihat ke arah Lu Ming. Dia sama sekali tidak memperdulikan Ming Yue, memperlakukannya seperti udara dan terus mengoda Lu Ming, dengan genit mengedip-ngedipkan matanya.
Ming Yue berhasrat untuk mencolok mata itu. Tidakkah dia melihat jika pria ini sudah taken. Sudah ada yang punya. Ming Yue semakin geram ketika Lu Ming tidak tidak melakukan apa-apa dan hanya diam, membiarkan kasir itu mengodanya.
Ming Yue melepaskan syal yang melingkar pada lehernya, berjinjit lalu mengerudingi wajah Lu Ming sampai tidak terlihat.
“Ming Yue?” Lu Ming yang tidak tahu kenapa Ming Yue membungkus kepalanya, mencoba untuk menyingkirkan syal itu dari wajahnya.
Saat terbuka, dia melihat Ming Yue yang sedang perang mata dengan kasir di depannya. Tangan Ming Yue mengapit lengannya dengan posesif, seakan dia sedang menunjukan kepemilikannya. Sudut bibir Lu Ming terangkat.
Jadi, Ming Yue bisa cemburu juga.
Kasir itu kalah dan mundur, melihat bagaimana pria tampan itu menatap gadis di sebelahnya, dia tahu jika tidak ada harapan. Dia kemudian melakukan pekejaanya dengan benar dan segera menyelesaikan tugasnya.
Setelah pasangan itu pergi dia menatap lesu pada bayangan mereka yang semakin jauh, di dalam lini pekerjaannya, tidak jarang pegawai rendahan seperti dirinya bisa hook-up dengan customer. Teman seangkatannya bahkan berhasil menikah dengan konglomerat, walaupun awalnya hanya menjadi selingkuhan, temannya itu berhasil mendepak istri resmi si konglomerat dan sekarang menjadi nyonya.
Tidak hanya satu atau dua temannya yang berhasil mengubah nasib, tapi banyak. Sebenarnya dia tidak mau melakukan itu, bagaimanapun dia tahu jika merebut milik orang lain, cepat atau lambat karma akan datang kepadanya. Dengan memegang prinsip itu, dia hidup jujur dan tidak jelalatan. Tapi, hidup dengan jujur tidak membuatnya mendapatkan karma baik, pacar yang dia biayai kuliahnya, selingkuh. Saat kepergok pacarnya itu malah mengatainya jika dia tidak selevel lagi dengannya.
Dia sudah lulus sarjana dan mendapatkan pekerjaan bagus yang bergaji besar, dia malu kalau memilki pacar yang hanya seorang kasir supermarket dan menjadikan itu sebagai alasan untuk mencari pacar baru, dia lupa siapa yang membayar uang semesternya. Saat si kasir meminta ganti uangnya, pacarnya itu dengan tidak tahu malu mengatakan jika dia tidak pernah minta di biayai kuliah dan tidak mau mengembalikan uangnya.
Si kasir jadi kehilangan keyakinan. Dia lalu mengikuti jejak taman-temannya. Untuk apa hidup jujur kalau ujung-ujungnya malah menjadi korban pelakor, lebih baik menjadi pelakor sekalian.
__ADS_1
Tapi setelah usaha pertamanya gagal, dia tidak mau melanjutkannya lagi. Kalau mata harus dibalas dengan mata, kapan siklus busuk itu akan berakhir. Misalnya dia berhasil menjadi pelakor pasangan tadi, bukankah dia menciptakan dirinya yang lain. Gadis yang tidak berdosa itu akan tersakiti dan mungkin dia juga akan menjadi sepertinya.