MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
24.


__ADS_3

“Apa? Ming Yue ingin membeli kebun buah?” Lu Ming mengerutkan dahinya.


“Iya, presiden Lu.” Asisten Yun menjawab.


Lu Ming tidak tahu jika Ming Yue memiliki ketertarikan dengan berkebun. Kemudian dia ingat bagaimana Ming Yue menyukai taman di rumah utama. Dia suka menghabiskan waktunya disana, Ming Yue terlihat senang saat melihat bunga-bunga itu bemekaran atau pohon buah yang ditanam di pot berbuah.


Kakek Lu selalu mengundangnya saat itu terjadi. Jika dipikir lagi kakek Lu tahu lebih banyak tentang Ming Yue dari pada dirinya.


Lu Ming merenung.


“Berapapun harganya asal Ming Yue menyukainya biarkan dia membelinya.” Lu Ming berkata. Untuk saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan. Setelah itu perlahan-lahan dia kan mencari tahu semua hal yang membuat Ming Yue senang.


“Tapi presiden Lu, ada yang aneh dengan lokasi yang nona Ming pilih. Semuanya ada ditempat terpencil dan susah dijangkau.” Asisten Yun merasa jika nona Ming Yue tidak sekedar ingin membeli perkebunan, tapi menyiapkan markas rahasia.


“Apa?” bolpen yang Lu Ming pegang terjatuh. Dia segera membuka berkas yang asisten Yun bawa. Alisnya semakin bertaut ketika matanya melihat isi dokumen itu. “Apa Ming Yue sudah membelinya?” dia merasakan firasat buruk. Seakan jika dia membiarkan Ming Yue membeli kebun itu hal buruk akan terjadi.


“Nona Ming sudah menandatangani kontrak siang ini.” asisten Yun menjawab.


“Sudah dibeli, kenapa tidak ada notifikasi.” Lu Ming mengecek e-mail. Tidak ada notifikasi dari bank tentang konsumsi kartu kreditnya. Jika diteliti lagi dia tidak mendapatkan notifikasi sejak sebulan lalu.


Lu Ming mengepalkan tangannya. “Dimana Ming Yue sekarang.” Dia harus menemui Ming Yue sekarang juga.


“Nona Ming ada di plaza Wonder Island.” Asisten Yun menjawab dengan sigap. Sejak nona Ming terluka malam itu, presiden Lu menempatkan bodyguard untuk menjaga nona Ming Yue.

__ADS_1


Plaza Wonder Island, food court.


Ming Yue sedang menunggu makanan yang dia pesan di siapkan. Sambil menunggu dia membuka e-mail yang dia terima. CV yang dia pasang di web freelancer mendapatkan respon yang baik, ada dua perusahaan yang menawarkan kerjasama dengannya. Ming Yue segera mencari tahu tentang dua perusahaan itu. Jika keduanya tidak bertentangan dia berencana untuk mengambil dua job sekaligus.


Semakin banyak job yang dia terima semakin cepat uangnya terkumpul.


Di dunianya dulu ayahnya adalah pemilik perusahaan broker investasi dan Ming Yue merupakan salah satu pegawai ayahnya. Walaupun dia tidak datang ke kantor hampir semua proyek yang diterima dia ikut terlibat, bisa dikatakan dia adalah otak kedua perusahaan setelah ayahnya. Kemampuan Ming Yue tidak kalah dari ayahnya, dia bahkan lebih baik dari ayahnya, hanya saja Ming Yue tidak mau menjadi pekerja full time dan hanya bisa menempati posisi kedua.


Untuk itu mencari uang bagi Ming Yue sangatlah mudah. Dia tidak akan takut kekurangan uang. Kalau mau dia bisa menjadi sultan kaya raya, tapi Ming Yue memiliki satu kelemahan, dia terlalu malas. Bekerja menurutnya adalah sebuah hobi dan hanyadilakukan jika dia sedang ingin saja. Asal dia bisa hidup dengan nyaman dan makan enak dia tidak akan serakah.


Tidak lama kemudian pelayan datang dengan pesanannya.


Ming Yue baru akan menyendok cheesecake bluberrynya saat Namanya dipanggil.


“Melly.” Seseorang memanggilnya dengan nama baratnya.


Ming Yue mengamati pria itu, dari ciri-cirinya Ming Yue mengenalinya sebagai Thomas Eden. Mahasiswa pertukaran pelajar di fakultasnya dulu. Hubungan Ming Yue dengannya tidak dekat dan mereka tidak berteman.


“Kau juga masih dingin.” Thomas berkomentar. Dia selalu ingin menjadi teman Ming Yue tapi gadis itu selalu menolaknya. Dia tidak seperti mahasiswa lain yang berbondong-bondong ingin berteman dengannya karena dia bule dan keturunan kerajaan. Ming Yue acuh dan tidak acuh terhadap dirinya. dan itu yang membuat Thomas semakin ingin menaklukkannya.


“Thomas Eden, kudengar kau membangun bisnis.” Ming Yue tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencari uang. “Kalau butuh bantuan hubungi aku.” Dia menyodorkan kartu nama yang baru dia ambil dari percetakkan pagi ini.


Thomas Eden melongo, rencananya untuk bonding malah berubah menjadi urusan bisnis. Ming Yue memang tidak pernah gagal untuk membuatnya kagum. Gadis itu memiliki cara yang unik untuk menolak. Dan itu menjadi daya tariknya.

__ADS_1


Lu Ming sudah samapai di plaza Wonder Island, dia juga sudah menemukan Ming Yue.


Dia dan Ming Yue hanya terpisahkan oleh kaca tipis tapi Lu Ming merasa jika jarak diantara mereka sangatlah jauh. Ketika melihat pria lain menghampiri Ming Yue, dia tidak bisa menahan diri untuk mengampiri mereka. Tapi langkahnya terhenti, bagaimana kalau Ming Yue terganggu dengan kedatangannya? Bagaimana jika mereka sedang bersenang-senang dan Lu Ming hanya akan menghancurkan suasana kalau dia datang.


Lu Ming mengepalkan tangannya.


Ming Yue melihat Lu Ming berdiri dibalik kaca, sedang melamun. Dia mengetuk kaca itu dan tersenyum kepadanya.


Lu Ming tersadar dan membalas senyuman Ming Yue. Kenapa dia harus ragu, selama Ming Yue dan dirinya masih bertunangan, bukankah mereka milik satu sama lain. Tidak ada yang salah jika dia ingin tahu urusan Ming Yue.


Dengan langkah lebar-lebar dia datang kepadanya.


Thomas yang melihat Lu Ming, tambah tidak bisa berkata-kata. Dia rasa dirinya sedang bermimpi, kalau tidak mana mungkin dia bisa bertemu dengan idolanya. Presiden Lu yang dia kagumi.


“Sedang melakukan inspeksi?” Ming Yue tahu jika semua gedung di plaza Wonder Island adalah milik Lu Ming. Dia tidak merasa heran bertemu dengannya di sini.


“Iya, sedang inspeksi. Kau sendiri?” Lu Ming mengambil posisi duduk di sebelah Ming Yue. Tujuannya jelas dia ingin memberitahu lawannya jika dia dan Ming Yue memiliki hubungan yang dekat.


“Datang untuk makan.” Ming Yue menyendok cheesecakenya. Dia memang datang ke toko ini untuk makan, karena itulah dia memilih tempat di dekat sini untuk bertemu dengan agennya


“Bersama dia?” Lu Ming bertanya. Walaupun terdengar bersahabat Lu Ming memberikan tatapan tidak bersahabat kepada Thomas.


Thomas yang langsung mengerti arti tatapan Lu Ming langsung menggeleng. “Tidak, tidak kami hanya kebetulan bertemu.” Dia sudah tahu jika Ming Yue bertunangan dengan idolanya, tapi dia baru percaya sekarang setelah melihat secara langsung bagaimana dua orang itu berinteraksi. Rupanya idolanya bukan orang yang dingin seperti es melainkan orang yang sangat passionate dan pencemburu.

__ADS_1


“Oh!” Lu Ming menyahut singkat lalu mengabaikannya dan hanya focus kepada Ming Yue.


Thomas diam-diam mambuat catatan di kepalanya. Dia akan memamerkan pertemuan dengan idilanya hari ini kepada teman-temannya dan membungkam mereka yang suka mengatai presiden Lu sebagai womanizer. Dia melakukan hal yang benar dengan tidak mempercayai mereka. Dari cara presiden Lu menatap Ming Yue, dia tahu jika tidak ada kesempatan bagi pria lain untuk merebutnya. Thomas seperti melihat induk ayam yang sedang menjaga anaknya. Galak dan akan melabrak siapapun yang berani mendekat.


__ADS_2