
Lu Ming menunduk, mengamati wajah Ming Yue yang tidur bersandar pada bahunya.
Geraham Lu Ming gemeletuk. Bagaimana kalau hari ini dia tidak lewat jalan ini, berapa lama Ming Yue akan jongkok di halte itu. Ketika matanya melihat Ming Yue,
Lu Ming memiliki berbagai macam prasangka, semuanya pikiran itu mengarah pada dugaan jika Ming Yue akan meninggalkannya.
Pada saat Lu Ming tidak bisa berpikiran jernih, dia bisa mendengar suara hatinya yang patah. Kalau Ming Yue benar ingin kabur darinya, Lu Ming tidak tahu apakah dia bisa menghentikannya tanpa meluakai gadis itu. Lu Ming sangat memahami dirinya, untuk menghentikan Ming Yue mungkin dia akan bertindak sampai sejauh mematahkan kaki Ming Yue hanya demi untuk menjaganya agar tetap berada disisinya.
Dan begitu dia tahu,
Selain marah, Lu Ming juga merasakan sebuah penyesalan.
Dia sudah berjanji untuk mengurus semuanya, tapi orang-orang itu masih bisa mengganggu Ming Yue.
Paman Bo dan asisten Yun saling menatap.
Lewat kaca spion mereka menyaksikan apa yang terjadi di jok belakang.
Lu Ming membiarkan tangan Ming Yue mememlintir telinganya, dia hanya menatap Ming Yue dengan expresi memanjakan. Anggap saja itu sebagai kompensasi karena dia telah berperasangka buruk kepadanya.
Dalam tidurnya, Ming Yue bermimpi dirinya berada di padang rumput yang luas. Ada sebuah pohon wisteria yang berbunga rimbun, Ming Yue melangkahkan kakinya ke sana dan duduk di atas rumput, bersandar pada batang pohon itu.
Tidak jauh dari sana ada sebuah danau kecil dengan air yang jernih, segerombolah burung flamingo putih sedang menangkap ikan di sana. Seekor kelinci tiba-tiba melompat di depannya, Ming Yue mencabut rumput di sebelahnya dan menggoda kelinci itu agar mendekat.
“Kelinci yang imut kemarilah.” Ming Yue membujuknya, mungkin kelinci itu merasa jika Ming Yue tidak memiliki niat jahat kepadanya, kelinci itu dengan berani mendekat kepadanya.
Ming Yue mengelus kepala kelinci itu, sang kelinci menjadi semakin jinak dan bahkan dia berani mendekat lebih dekat lagi. Hingga, Ming Yue tiba-tiba meraih kedua telinga kelinci itu dan mengangkatnya ke udara.
“Kau sangat gemuk, dagingmu pasti banyak.” Ming Yue menyeringai.
Kelinci kecil itu memberontak, manusia yang dia kira baik itu ternyata berhati iblis. Manusia itu inggin menjadikannya makan siang, kelinci itu berusaha untuk kabur dengan mencakar dan mengingit. Tapi Ming Yue mengeluarkan tali dari sakunya dan mengikat ke empat kaki kelinci itu. “Kelinci guling atau satai kelinci,” Ming Yue berkata, dia sudah tidak melihat kelinci itu sebagai makhluk hidup melainkan sebuah hidangan matang yang telah dibumbui.
__ADS_1
Kabar itu sampai ke telinga Ming Weyan.
Dia kalang kabut, kalau sampai pertunangan Lu Ming dan Ming Yue dibatalkan, maka dia lah yang akan terkena imbas paling besar, perjanjian bisnis yang terjalin antara dua keluarga itu juga akan berakhir.
Walaupun sekarang sepertinya hubungan Ming Yue dan Lu Ming sudah membaik, tapi kalau hanya menghandalkan itu saja, tidak akan cukup.
Putri yang dibawa pulang oleh mantan istrinya tidak kalah cantik dari Ming Yue, selain itu, dia mendengar jika gadis itu adalah seorang pelukis terkenal. Lulusan dari universitas seni ternama dan memiliki galerinya sendiri. Ming Weyan tentu tahu, asalkan keluarga Lu tidak buta, mereka tidak akan keberatan untuk mengganti pengantinnya. Andaikan Ming Yue bisa sedikit lebih seperti Ming Yi dan Ming Ran, tidak perlu menjadi pelukis terkenal, cukup dengan Ming Yue bersikap patuh dan mengurangi keangkuhannya, mungkin dia madih ada harapan. Tapi Ming Yue...gadis itu, sungguh tidak mempunyai nilai lebih selain wajah cantik yang dia miliki.
Ming Weyan sudah bertekat, bagaimanapun caranya, dia harus segera membuat dua orang itu meresmikan hubungan mereka.
Dia mengambil telpon genggamnya dan menghubungi Ming Yue.
Melihat jam di layar ponsel, expresinya menggelap. Sudah jam berapa ini, gadis itu belum pulang juga.
“Ming Yue jam berapa ini? Cepat pulang!” Dia langsung memberikan perintahnya begitu panggilan tersambungkan.
“Paman Ming,”
“Hmm.”
“Ah, ah, kalau begitu paman tidak akan mengganggu. Sampaikan kepada Ming Yue untuk menelpon paman jika ada waktu.” Ming Weyang mengakhiri panggilan itu. Ming Yue sedang bersama Lu Ming, itu merupakan kabar baik.
Ming Weyan menghembuskan nafas, dia sedikit merasa lega. Dia sedikit berharap, akan lebih baik lagi kalau Ming Yue sampai hamil, dengan begitu keluarga Lu tidak bisa mundur dari perjanjian pernikahan mereka.
Ming Yue yang baru selesai mandi berniat untuk meminjan pakaian Lu Ming, dia masuk ke ruang ganti pria itu.
Ketika Ming Yue membuka almari, dia tercengang, setengah dari ruang almari isinya adalah pakaian wanita.
Ming Yue berkeliling ruangan itu, bukan hanya baju, dia juga menemukan sepatu, tas dan perhiasan. Ming Yue mengerutkan dahinya, di kamar mandi dia juga melihat ada banyak produk-produk yang digunakan oleh wanita, tadi dia tidak terlalu memikirkannya tapi sampai isi ruang ganti Lu Ming juga di penuhi barang-barang milik wanita.
Apa mungkin Lu Ming memiliki wanita simpanan?
__ADS_1
Tidak mungkin, itu mustahil.
Tapi semua bukti ini mengarah ke sana. Kalau bukan itu lalu apa? Apa mungkin Lu Ming… Lu Ming memiliki hobi mengoleksi barang-barang wanita?
Itu lebih mustahil lagi.
Dahi Ming Yue semakin berkerut. Dia memincingkan matanya, tapi kok benda-benda terlihat tidak asing di matanya. Ming Yue menelitinya sekali lagi.
Ini kan, miliknya. Barang-barang yang dia titipkan di rumah Lu Ming saat mau pindah rumah waktu itu. Kenapa ada di sini. Apa Lu Ming yang memindahkannya? Tapi kenapa?
“Ming Yue.”
Sudah satu jam Ming Yue mandi tapi dia tidak kelur-keluar juga, Lu Ming sudah selesai masak, kalau Ming Yue tidak segera turun dia takut makananya keburu dingin. Ming Yue tidak suka makanan yang dingin. “Ming Yue.” dia memanggilnya.
Lu Ming kembali ke dapur dan menunggu Ming Yue di ruang makan.
“Lu Ming apa kau ingin membuatku gemuk?” Ming Yue berkata, dia menatap Lu Ming dengan menuduh. Apa-apan nasi yang mengunung itu. Dia tidak memiliki porsi makan kuli. “Kau pikir perutku itu karet yang kan melar setelah penuh?” dia mencebik. Menyinkirkan mangkuk itu dari hadapannya.
Nasi itu akhirnya tidak dimakan. Ming Yue hanya memakan beberapa potong daging saja dan tidak menyentuh makanan lainnya. Setelah minum segelas air putih dia meninggalkan ruang makan.
Lu Ming yang ditinggal sendirian jadi tidak berselera. Dia menatap piring-piring yang masih penuh mangkuk nasi Ming Yue yang tidak tersentuh, apa masakannya tidak enak? Tidak kok. Tadi dia sudah mencicipinya, rasanya seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Dia juga sudah menyesuaikan dengan selera Ming Yue.
Kalau tidak ada yang salah dengan makanannya, berarti ada yang salah dengan Ming Yue.
Kalau dirasa sejak turun tadi, Ming Yue sudah berwajah cemberut. Apa Ming Weyan menelpon lagi dan mengatakan sesuatu yang membuat Ming Yue sebal.
Lu Ming menarik nafas, harusnya tadi dia matikan saja ponsel Ming Yue.
Lu Ming menyimpan sisa makanan itu ke dalam lemari pendingin. Nanti kalau Ming Yue lapar dan ingin makan, dia hanya perlu memanaskannya saja.
Dia kemudian menyusul Ming Yue.
__ADS_1