
"Minumlah." Lu Ming berkata, dia menyodorkan segelas berisi susu hangat kehadapan Ming Yue.
Ming Yue melirik susu di tangan Lu Ming sekilas. Kemudian kemudian kembali memperhatikan TV di depan, tangannya masih memeluk lutut dan tidak bergerak untuk menerima gelas itu.
Melihat Ming Yue yang menolak kebaikannya, Lu Ming tidak tersinggung. Dia meletakan susu itu di atas meja lalu ikut duduk di sebelah Ming Yue.
Televisi di depan mereka menayangkan sebuah show komedi. Suara tawa penonton undangan di dalam show itu tidak pernah berhenti, entah karena sang komedian memang lucu atau karena tawa mereka menghasilkan uang.
Ming Yue menjulurkan tangannya ingin meraih remote di atas meja. Saat itulah bel rumah mereka berbunyi.
Ketika mereka melihat ke layar interkom dan mendapati kurir pengantar makanan berdiri di depan pintu. "Tidak usah dibuka biar tahu rasa. Memangnya rumah kita cangkang keong yang bisa berpindah hingga susah ditemukan!" Ming Yue menggerutu, mengomel dengan ketus.
Benar—dia marah karena food delivery yang dia pesan tidak datang-datang padahal dia sudah memesan di restoran terdekat. Di aplikasi juga sudah diperkirakan jika delivery mereka akan sampai dalam lima belas menit. Tapi hingga tiga puluh menit berlalu makan mereka tidak kunjung sampai. Dia sudah menghubungi si kurir dan bertanya ada kendala apa hingga menyebabkan pengiriman tertunda, tapi si kurir hanya menjawab jika dia sudah di jalan.
Ming Yue pikir si kurir terjebak macet dan dia bersedia untuk menunggu lebih lama lagi. Dan lagi kurir itu adalh wanita—tidak mudah bagi seorang wanita untuk bekerja, Ming Yue bersimpati dan mau mengerti.
Tapi hingga dua jam berlalu kurir itu tidak kunjung sampai. Dia kemudian menelpon lagi dan ingin membatalkan pesanan tapi ditolak, kurir itu berkata jika pesanan tidak dapat dibatalkan dan bersikukuh untuk tetap mengantarkannya.
Penantian yang panjang itu sudah membuatnya kehilangan selera untuk makan. Dia sudah kenyang oleh amarah.
Tentu Lu Ming menurut kepada Ming Yue. Saat ini bukan hanya dia tidak ingin membukakan pintu, kalau diizinkan dia ingin menyiramnya dengan air rendaman kaki yang baru selesai digunakan oleh Ming Yue dan belum sempat dia buang.
Gara-gara kurir itu Ming Yue jadi marah dan dia yang terkena imbasnya.
Bel berbunyi tiga kali dan dua orang itu pura-pura tidak dengar. Mereka berdua menonton dari layar interkom, memperhatikan si kurir yang mulai emosi dan mereka merasa sedikit senang. Rasakan itu!
Ada untungnya dia memilih untuk menggunakan sistem pembayaran COD, jika si kurir ingin mendapatkan uangnya dia harus menunggu pelanggannya membuka pintu dan membayar pesanannya.
__ADS_1
Sang kurir mulai menggedor pintu dan berteriak, "Delivery!"
Tidak lama kemudian kurir itu menelpon ponselnya. "Pelanggan, saya sudah sampai di rumah anda. Tolong buka pintunya." Si kurir berkata. Walaupun bicaranya terdengar sopan, wajah kurir itu kelihatan sekali jika dia sudah sangat emosi dan ingin memukul sesuatu.
"Apa, anda sudah sampai di rumah saya? Tapi saya sudah tidak lapar, makan itu saya berikan untuk anda saja." Ming Yue menjawab.
"Pelanggan tidak bisa begitu, anda belum membayar." Si kurir mulai tidak bisa mengendalikan suaranya, nada bicaranya naik satu oktaf.
Tapi Ming Yue tidak mau kalah. Pokoknya dia harus melampiaskan emosi yang dia rasakan selama dua jam ini. "Kenapa tidak satu setengah jam lalu saya sudah datang ke renstoran anda dan makan disana. Saya berjalan kaki pulang dan pergi, tapi sampai pulang lagi anda belum juga datang. Apakah anda melakukan delivery dengan menaiki kura-kura?"
"Pelanggan, itu karena saya terjebak macet."
"Benarkah? Tapi saya sudah mengecek CCTV disepanjang jalan dari rumah saya sampai ke restoran anda dan tidak melihat adanya kemacetan dalam dua jam ini. Atau jangan-jangan kita berada di dimensi yang berbeda?"
"Pelanggan, tolonglah mengerti... Jangan mentang-mentang orang kaya lalu berbuat seenaknya dan meindas kami orang bawah!"
Ming Yue mematikan telpon. Bukannya amarahnya mereda dia malah semakin meradang. Ada ya orang yang tidak mau mengakui kesalahannya! Malah playing victim lagi!
Kalau saja kurir itu memberikan penjelasan yang jelas dan logis, dan bukannya malah menggunakan status sosialnya untuk mengintimidasi, Ming Yue bersedia untuk memaafkannya. Tapi nyatanya kurir itu tidak tahu diri. Dia yang salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya.
"Lu Ming kau berikan uangnya dan usir dia!" Ming Yue berkata. Dia akan meledak jika melihat kurir itu lebih lama lagi.
Lu Ming mengambil tiga lembar uang ratusan yang sudah disiapkan oleh Ming Yue di atas meja.
Ketika pintu dibuka. Kurir itu langsung mengeluarkan sumpah serapah. "Kau pikir dengan punya uang lalu bisa seenaknya, paling-paling juga wanita simpanan. Apa sih hebatnya..." Dia langsung terdiam saat melihat orang yang membukakan pintu bukanlah pelanggan wanita di telpon. "Pelanggan ini pesanannya." Dia berkata dengan lirih. Menyodorkan kantong makannya dengan kedua tangan.
Walaupun dia sedikit takut oleh aura dingin dari pelanggannya, dia masih sempat untuk mengedipkan bulu mata palsunya dan tersenyum semanis mungkin. Pelanggan di depannya itu adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat.
__ADS_1
Melihat itu Lu Ming mengurangi uangnya satu lembar—dia tahu jika Ming Yue hanya memesan makanan seharga dua ratus yuan, uang yang seratus yuan itu dia berikan sebagai tips. Tapi sepertinya mereka tidak perlu memberikannya.
"Ambil ini dan segera pergi." Lu Ming memberikan uangnya lalu segera menutup pintu.
"Sudah pergi?" Ming Yue bertanya ketika Lu Ming kembali. Dia masih duduk ditempatnya dan sedang meminum susu sambil memegangi perutnya.
Lu Ming mengangguk. "Jangan memesan makan lagi. Suruh saja asisten Yun atau Ron untuk membelinya." Dia berkata kepada Ming Yue. Kemudian berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Karena Ming Yue tidak ada dirumah, Lu Ming tidak mengisi kulkasnya. Sebenarnya ada orang yang bertugas untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari untuknya, tapi sejak Ming Yue tinggal dengannya, orang itu tidak lagi dia pekerjakan. "Di dalam lemari es masih ada mie dan tomat, mau makan mie dan telur?"
Ming Yue berpikir sejenak, kemudian dengan terpaksa mengiyakan.
Lu Ming hanya menggeleng melihatnya.
Mau seenak apapun mie telur yang dia masak, makan itu tetap tidak akan menyukainya. Kalau saja Ming Yue bukan tipe orang yang tidak bisa tidur dengan perut kosong, dia yakin gadis itu akan menolak tawarannya.
Dia juga tidak tahu kenapa Ming Yue sangat tidak menyukai mie dan telur.
Lima belas menit kemudian Lu Ming memanggilnya untuk makan.
Ming Yue sudah membayangkan semangkuk berisi mie kuah dengan potongan tomat dan telur ceplok diatasnya, dia benar-benar tidak berselera tapi perutnya terus berbunyi dan tidak mau berkompromi. Akhirnya dia hanya bisa menerima nasib dan berjalan ke meja makan dengan lunglai.
Tapi melihat hidangan di atas meja dia terdiam sejenak.
Dia tidak melihat mie telur seperti di dalam bayangannya. Lu Ming memasak mie, telur dan tomat yang tersisa di dalam kulkas menjadi omelette.
Awalnya Lu Ming ingin memasak mie telur biasa, akan tetapi dia tidak tega memaksa Ming Yue untuk memakan makan yang tidak dia suka. Kemudian dia mencari resep di internet—makanan apa yang bisa dibuat dengan tiga bahan itu selain mie telur.
Beruntungnya lagi dia menemukan sepotong keju, dia menggunakannya sebagai topping agar tampilannya lebih menggugah selera. Dengan begitu jadilah pizza yang sebenarnya hanyalah omelette telur yang digoreng terlalu krispi dan diberi toping keju dan potongan tomat.
__ADS_1
"Cepat makan." Lu Ming memberinya sumpit dan menuangkan jus jeruk untuknya.