MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
83.


__ADS_3

Ming Yue masih melihat kearah Lu Ming dengan tatapan mematikan.


Kau harus bersyukur aku tidak mencekikmu sekarang! —Lu Ming bisa mengartikan arti dari tatapan Ming Yue. Kira-kira seperti itulah bunyinya.


Menerima tatapan mematikan itu, Lu Ming bukanya takut. Justru pada saat-saat ditatap oleh Ming Yue seperti inilah dia merasa bahagia. Mata Ming Yue yang bulat dan besar itu berkilau dan bercahaya.


Membuatnya teringat pada bintang-bintang di langit. Ketika mata itu menatapnya, Lu Ming bisa melihat bayangan dirinya yang tepantul pada sepasang manik hitam milik Ming Yue. Pada saat itu dia merasa seperti hanya dirinya yang dilihat oleh Ming Yue.


Klise memang, tapi hatinya berdesir saat ini!


Lu Ming berusaha menahan otot-otot pada bibirnya yang terus ingin melengkung naik. Meskipun dia senang, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menunjukan kesenangannya.


Dia yakin kalau dia masih tetap bersikeras untuk tersenyum, Ming Yue benar-benar akan mencekiknya saat ini juga. Atau konsekuensi yang lebih parah dari kehilangan nyawa bisa juga terjadi.


Bisa saja gadis itu menarik kembali persetujuannya untuk menikah dengannya. Dan hal itu tentu akan menjadi masalah besar dan bencana untuknya jika sampai terjadi.


Lu Ming tidak ingin mati membujang!


Dalam kehidupan nya saat ini, cita-cita dan impiannya adalah menjadi suami satu-satunya bagi Ming Yue dan ayah bagi Lu Mingyue.Jr—Junior, calon putri mereka.


Yah, meskipun dia tidak tahu apakah impian keduanya itu bisa terwujud.


Dia masih ingat Ming Yue menginginkan pernikahan tanpa anak. Childless. Katanya dia tidak ingin menambah pupulasi manusia yang sudah sangat banyak. Walaupun dia tahu alasan itu hanyalah akal-akalan Ming Yue yang takut merasakan sakit saat melahirkan.


Tapi meskipun di masa depan nanti mereka tidak berjodoh dengan Lu Mingyue.**, Lu Ming yakin jika dia dan Ming Yue akan memiliki kehidupan pernikahan yang paling bahagia.


Untuk itulah Lu Ming segera mengkondisikan ekspresi wajahnya, memperlihatkan tampang sedikit melas dan membalas tatapan Ming Yue dengan pesan tersirat: Aku bersalah dan pantas dihukum.


Mu Jena mendadak menjadi penonton drama roman picisan yang diperankan oleh Ming Yue dan Lu Ming. Dia speechless dan kesal dan juga iri.

__ADS_1


Hari ini meskipun sudah sore dan matahari hampir tenggelam tapi sinar jahat dari UVA dan UVB terus menyerang kulitnya yang tidak terlindungi oleh Sunscreen.


Dia menghadang mereka ditengah jalan bukan untuk hal ini. Dia ingin meminta uang untuk membeli skincare!


Melihat dua orang di depannya yang sibuk bertelepati dan dirinya yang terabaikan bagai anak tiri yang tidak diinginkan, Mu Jena berusaha untuk menyela pertunjukan drama mereka dan berseru, "Kakak Yue," dia menghentakkan kakinya untuk menarik perhatian mereka kalau-kalau mereka tidak mendengar suaranya.


Secara bersamaan Lu Ming dan Ming Yue menoleh ke arah sumber suara. Ming Yue masih dengan tatapan super ganasnya dan Lu Ming dengan tatapan dingin karena kesal komunikasi dari hati ke hati-nya dengan Ming Yue harus terputus.


Mu Jena mendadak gagu dan dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia menelan ludah dan tangannya mengepal.


Sejak kapan dia takut kepada Ming Yue! Gadis itu hanyalah gadis kurang kasih sayang yang tidak punya otak. Kenapa dia takut? Dia adalah seorang Mu Jena, seorang pelukis prodigy yang seratus kali lipat lebih baik darinya. Dia tidak perlu takut.


Dengan keberanian baru yang dia dapatkan entah dari mana, Mu Jena menegakkan punggungnya dan membusungkan dadanya. Dia menatap Ming Yue mata ke mata dan berkata, "Tugas seorang anak adalah mengabdi kepada orang tuanya. Tiga ratus miliar bukan jumlah yang banyak, kalau sampai harus menjual diri sekalipun kau harus melakukan dengan senang hati."


Kalimat itu berhasil memancing emosi terdalam dari diri Ming Yue. Kewajiban? Mengabdi? Tugas anak kepada orangtuanya?


Persetan!


Tapi Ming Yue bukan orang barbar yang akan memaki dan mengumpat ketika emosi. Dia adalah orang yang lebih suka menyerang dengan halus. "Kalau begitu kenapa kau tidak menjual diri... ah, aku lupa kau sedang menderita bungsu lapar... Apa ada konsumen yang mau beli?" Dia berkata dengan wajah innocent tanpa dosa seolah dia tidak sedang membicarakan soal per-prostitusi-an yang di masa berkemungkinan akan sepi pelanggan, tapi sedang menawarkan kentang goreng disebelah gerai MCD atau KFC.


Sama-sama berpotensi suram, tapi perbedaannya 180°. Yang satu bisnis haram yang satunya bisnis halal dan tidak dilarang oleh pemerintah. Paling resikonya cuma diusir oleh pegawai gerai ayam goreng itu karena mengancam penjualan produk french fries mereka.


"Kau!" Mu Jena berteriak. Cukup. Dia sudah merasa cukup dipermainkan.


"Kau apa?" Ming Yue menaikan alisnya. "Kau yang ditimang seperti bayi dari lahir sampai sekarang saja tidak memberikan contoh. Sebagai bayi yang dicampakkan umur satu minggu, tentu mustahil jika aku tidak durhaka." Dia melanjutkan, melihat Mu Jena seperti sedang melihat lelucon. Lucu sekali dia memintanya untuk berbakti.


Ming Weyan yang membiayai selama dua puluh lima tahun—meskipun uang jajannya sangat kurang atau mungkin karena uang jajan yang kurang itu Ming Yue tidak ikhlas jika harus menyumbangkan tiga ratus miliar.


Uang sebanyak itu lebih baik dia gunakan untuk tamasya berkeliling Eropa dari pada untuk membeli sertifikasi Berbakti.

__ADS_1


Puih! Dia lebih memilih dilabeli sebagai anak durhaka.


Ming Yue melangkah maju, dia menjulurkan tangannya dan menepuk pundak Mu Jena dua kali. "Kalau kau sungguh ngebet ingin berbakti, aku bisa merekomendasikan mu ke beberapa brotel." Dia berbisik. Lalu menyeringai mengejek. "Kusarankan kau untuk pulang dan minum sirup biar otakmu sedikit encer. Kau masih terlalu muda seratus tahun untuk berhadapan denganku." Setelah berkata begitu Ming Yue menarik Lu Ming dan pergi.


Mu Jena berdiri ditempat dan tidak bergerak. Jika awalnya dia hanya membenci Ming Yue sebesar lima puluh persen, kini semua kebencian yang dia miliki—360° tanpa titik buta, semua perasaan benci di dalam dirinya dia berikan kepada Ming Yue.


Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya lalu menghubungi nomor telepon yang tertera disana.


Sepertinya orang di sebrang memang sedang menantikan telpon darinya. Pada nada dering pertama panggilan itu langsung tersambung.


"Kapan kau akan melakukannya." Mu Jena berkata. Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang sebrang dia menutup telponnya.


Dia menatap bagian belakang mobil yang membawa Lu Ming dan Ming Yue pergi hingga mobil itu menghilang dari pandangan. Baru setelah itu dia beranjak pergi.


Di dalam mobil, Ming Yue melirik Lu Ming yang duduk di belakang setir. Pria itu mengemudi dengan kalem dan matanya terfokus pada jalan di depannya.


"Apa yang terjadi pada Mu Jena? Kenapa dia jadi tua begitu? Apa benar dia sampai menderita busung lapar?" Ming Yue mengajukan pertanyaan beruntun sampai Lu Ming bingung mau menjawab yang mana dulu.


"Hm?" Ming Yue menuntut jawaban. Dia sampai mencondongkan tubuhnya mendekat kepada Lu Ming saking penasarannya.


Lu Ming tertawa dia tahu jika tidak sopan untuk menertawakan penderitaan orang lain. Tapi ketika mendengar pertanyaan antusias dari Ming Yue. Dia sudah menduga jika Ming Yue akan lebih penasaran pada masalah penuaan yang terjadi kepada Mu Jena dan kebenaran apakah Mu Jena benar-benar mengidap busung lapar atau tidak ketimbang bagaimana bangkrutnya keluarga Mu.


"Mereka bangkrut." Lu Ming menjawab dengan singkat dan Ming Yue sudah puas dengan jawaban itu.


Setelah bangkrut sudah jelas mereka tidak akan punya uang, masalah selanjutnya tinggal mengikuti saja. Dia tidak penasaran.


"Apa kita perlu mengungsi untuk beberapa waktu? Aku takut mereka menggedor pintu malam-malam untuk pinjam uang." Ming Yue berkata. Dia mempertimbangkan kemungkinan itu dengan sungguh-sungguh. Kalau mereka mendapatkan tamu ditengah malam hal itu akan mengganggu tidur cantiknya. Jika itu terjadi jam tidurnya akan berkurang dan itu bisa membuatnya menyusul Mu Jena lebih cepat.


Lu Ming menggeleng dan menolak usulan untuk mengungsi. "Sekuriti tidak akan mengizinkan mereka masuk tanpa kartu residen." Lu Ming menjelaskan.

__ADS_1


"Oh," Ming Yue mengangguk kemudian dia kembali ke posisi duduk awal.


Ketika dia hendak memejamkan matanya tiba-tiba dia teringat dengan sesuatu. "Aku juga tidak punya kartu residen." Dia berseru.


__ADS_2