MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
38.


__ADS_3

Ketika mereka sampai di tempat tujuan, hari sudah sore.


Lu Ming menghentikan mobilnya di depan ruang panggung dari kayu. Mereka disambut oleh seluruh anggota keluarga yang sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah.


Ming Yue pikir jika dirinya akan merasa canggung karena ini adalh pertama kalinya dia bertemu dengan mereka, tapi ternyata semua orang sudah mengenalinya dan menyambutnya dengan hangat. Mereka satu persatu memperkenalkan diri.


Keluarga Fu bukanlah keluarga besar seperti keluarga Lu yang kerabatnya berjumlah puluhan. Mereka hanya terdiri dari eman orang, yaitu: nenek Fu, paman Fu dan istrinya dan dua orang anak mereka. Saat ini baru tiga orang yang menyambut mereka, kedua anak paman Fu masih bermain di luar dan akan pulang saat makan malam nanti.


“Yueyue, ke sini biar nenek lihat.” Nenek Fu berkata. dia lebih tua dari kakek Lu kondisi kesehatannya sedang tidak baik sehingga dia harus duduk di kursi roda.


Ming Yue mendekat dan berjongkok di hadapan nenek Fu. “Apa kabar nek ini Ming Yue.”


Nenek Fu mengangguk, puas dengan Ming Yue. Dia mengusap kepala Ming Yue dan memberikan kotak kecil yang sudah dia siapkan. “Hadiah pertemuan dari nenek, buka dan lihat apakah kau suka atau tidak.”


Ming Yue menurut dan membukanya. Di dalam kotak itu, sepasang gelang batu giok berwarna hijau tua terlihat transparan dan berkilau. Ming Yue berkedip, tangannya gatal ingin menyentuhnya, barang ini langka dan kualitasnya sangat bagus. Satu gelang saja harganya mungkin setara dengan rumah mewah di kawasan elit, dan dia dihadapkan dengan dua sekaligus. Bagaimana Ming Yue bisa menolak. “Terimakasih nek, Ming Yue menyukainya.” Ming Yue berkata.


Nenek Fu tidak menyukai dengna orang tidak terus terang, banyak orang yang akan pura-pura menolak saat diberi hadiah hanya agar terlihat tidak rakus, tapi mata mereka mengatakan hal yang sebaliknya. Maka saat Ming Yue menerimanya dan tidak menyembunyikan jika dia menyukai hadiah pemberiannya, Nenek Fu semakin suka dengan Ming Yue. “Kalau kau menyukainya, biarkan Lu Ming memakaikannya untukmu.”


Mendengar itu Ming Yue langsung mengambil gelang itu dan memakainya tanpa menunggu Lu Ming. Dia mengamati giok yang sudah melingkar di pergelangan tangannya itu penuh kekaguman. “Barang yang cantik memang selalu membuat hati para gadis bahagia.” Ming Yue membatin. Tapi setelah mendengar semua orang tertawa, ternyata dia mengatakannya dengan bersuara.

__ADS_1


“Nenek setuju.” Nenek Fu berkata, membuat Ming Yue merasa lega, imejnya tidak hancur.


Kamar tamu yang disiapkan untuk Ming Yue, letaknya di ujung paling belakang dan menghadap sungai alami yang mengalir dari bukit di belakang rumah. Ming Yue menatap ke luar jendela. Udara yang dingin dan pemandangan indah sangat cocok untuk melamun.


Tidak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk. Lu Ming masuk membawa mug berisi coklat panas.


“Minumlah.” Dia memberikannya kepada Ming Yue. Dia tidak tinggal lama dan pergi setelah Ming Yue menerimanya.


Ming Yue menatap kepergian Lu Ming. Sudah banyak hal yang berubah, hubungannya dengan Lu Ming yang awalnya seperti air dan minyak sekarang sudah jauh lebih baik. Sekarang mereka adalah teman, tinggal sedikit lagi mereka akan menjadi sahabat. Tapi setelah Lu Ming menciumnya, hubungan mereka stuck. Ming Yue tidak bisa mundur ataupun maju.


Dia sudah mencoba untuk mundur dan hampir berhasil, tapi alam tidak mengizinkannya. Saat dia sedikit lagi akan berhasil memutus tali yang menghubungkannya dengan Lu Ming, sesuatu terjadi dan dia harus mengikat kembali tali itu. Dan alasan Ming Yue tidak ingin maju, simple, Lu Ming adalah orang yang diikuti lampu sorot kemanapun dia pergi, dengan kata lain Lu Ming adalah orang yang menyita perhatian. Kondisi itu bertentangan dengan tujuan hidupnya yang mengingikan kehidupan yang sederhana.


Lagi-lagi pintunya diketuk.


Ming Yue tahu jika itu bukan Lu Ming, nada ketukannya berbeda. Irama ketukan Lu Ming adalah satu, satu dua. Sedangkan ketukan kali ini tidak bernada dan terdengar tidak sabar. Ming Yue melatakan mugnya yang tinggal setengnah dan beranjaka untuk membuka pintu.


Seorang gadis yang terlihat seperti pelajar SMA, berwajah bulat dan sedikit gempal berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Dagunya di angkat dan berkata dengan angkuh. “Kau Ming Yue?” alisnya naik ke atas dengan songong.


Dia pasti anak paman Fu, wajahnya mirip dengan ibunya. Ming Yue tersenyum miring, lalu menirukan gayanya. “Iya. Kau?” tentunya Ming Yue berpose lebih sempurna.

__ADS_1


“Shit. Kau melakukannya lebih baik.” Gadis itu menurunkan tangannya. Di depan ada orang yang lebih songong darinya, dia memutuskan untuk mengakhiri aktingnya. “Fu Yu.” Dia mengulurkan tangannya kepada Ming Yue. “Dia, Fu Qing.” Fu Yu menunjuk ke arah rumpun bambu kuning yang ditanam di taman dalam pot.


Bocah laki-laki yang memiliki wajah mirip dengan Fu Yu, mereka kembar, bedanya Fu Qing lebih tinggi dan kurusan sedikit dari Fu Yu. “Helo, kakak Yue.” dia keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah mereka.


Ming Yue menyukai dua saudara kembar ini. Dia masuk ke dalam dan mengambil sesuatu dari dalam tas. Dua keping video game yang dia beli di tempat pemberhentian saat makan siang tadi, rencananya akan dia jadikan pengisi waktu luang jika dia bosan.


“Buat kalian.” Ming Yue memberikan kepingan game itu kepada mereka.


Sepertinya hadiah tepat sasaran, mata dua orang remaja itu berkilau. Mereka yang tadu hanya tersenyum sedikit menjadi sumpringah. Mereka menatap Mign Yue dengan tidak percaya, itu adalah game yang sudah lama mereka inginkan. Mereka ingin membelinya tapi tidak diizinkan oleh ibu mereka.


Dua kembar itu saling bertukar pandang. Saat mereka mendengar jika sepupu kesayangan mereka akan bertunangan dengan Ming Yue, mereka tidak senang. Mereka tahu siapa Ming Yue, gadis sosialita yang matre dan manja. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata benar kata ibunya, gossip di internet itu tidak benar.


Mereka mengangguk setuju dan menoleh kepada Ming Yue. “Aku menyukaimu” Fu Yu menerima hadiah itu dan segera memasukkannya ke dalam kaos yang dia pakai. Jangan sampai ketahun oleh ibu mereka dan disita.


Karena hadiah kecilnya itu, mereka bertiga langsung akrab.


Lu Ming sudah merencanakan semua kegiatan yang ingin dia lakukan bersama Ming Yue selama liburan ini. Dia tahu Ming Yue menyukai bintang, di bukit belakang ada tempat yang sangat cocok untuk melihat bintang. Setelah makan malam bersama, Lu Ming ingin mengajak Ming Yue ke sana, tapi rencananya itu gagal.


Lu Ming baru akan membuka mulutnya dan Ming Yue sudah diapit oleh Fu Yu dan Fu Qing lalu diculik oleh mereka. Lu Ming tidak bisa menghentikannya karena Ming Yue sepertinya mau-mau saja, malah dia terlihat senang bersama mereka. Akhirnya Lu Ming pasrah dan menemani paman Fu bermain Go.

__ADS_1


__ADS_2