MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
72.


__ADS_3

Sang biksu hanya tersenyum, kemudian dia berdiri dan mengambil sesuatu dari rak buku dibelakangnya lalu memberikannya kepada Ming Yue.


Ming Yue mengerutkan keningnya.


Sebuah novel?


Apakah seorang biksu juga membaca bacaan semacam itu? Sekarang ini di dalam novel-novel roman picisan banyak yang mengandung hal-hal berbau pornografi. Bukankan itu bertentangan dengan ajaran yang tertulis di dalam sutra? Dan masuk ke dalam tiga larangan terbesar?


Dia tidak mengerti. Tapi melihat gambar yang dicetak pada hard cover buku itu, dia merasa tidak asing–dua orang pria dam wanita tengah berciuman di bawah pohon ginkgo–tentu saja dia tidak asing. Bagaimana dia bisa melupakan buku sialan yang membuatnya bertransmigrasi.


Dia dengan bibir yang mengerucut, hendak melempar buku itu dari tangannya. Buku pembawa sial itu, tentu saja dia tidak mau menyentuhnya.


Tapi ketika dia melihat dia melihat judul buku itu yang dicetak menggunakan tulisan timbul dan diberi efek mengkilap itu, dahinya berkerut.


Rada penasarannya timbul.


Dia membalik buku itu Dan membaca sinopsis yang dicetak pada sampul belakangnya. Saat itu juga dahinya berkerut. Apa-apaan ini? Kerutan pada dahinya semakin dalam. Rasa penasarannya sudah hilang dan telah tergantikan oleh kejengkelan.


Membuka halaman pertama buku itu, tangannya mencengkram dengan keras hingga menimbulkan bekas kuku pada sampul buku.


Plot twist macam apa ini? Sungguh membagongkan!


Setelah masuk ke dalam Dunia novel, dia membaca sebuah novel yang menceritakan tentang dirinya.


Dugaanmu tidak Salah! Buku yang Ming Yue baca saat ini isinya adalah narasi hidupnya sebelum masuk ke Dunia ini. Semua yang dia alami ditulis di dalam buku ini. Dengan detail dan terperinci. Termasuk hal yang hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.


Yang lebih mencengankan lagi, di dalam buku itu diceritakan jika dimasa depan nanti dia juga akan bertemu dengan seorang pria yang bernama Lu Ming.


Penggambaran Lu Ming di dalam novel itu, baik visual maupun karakter, Ming Yue dapat menemukan 100% kesamaan dengan Lu Ming di Dunia ini.


Mereka akan bertemu pada sebuah kencan buta, lalu saling jatuh cinta dan... Cerita berakhir sampai disitu saja.

__ADS_1


Pada halaman terakhir penulis mengatakan jika dia akan membuat seri ke dua dari buku itu.


"Mana lanjutannya?" Ming Yue bertanya kepada sang biksu, penasaran apakah dia dan Lu Ming akan berakhir bahagia.


"Tidak ada." Sang biksu menjawab.


"Hmm..." Ming Yue menutup buku itu dan meraih cangkir tehnya yang sudah diisi ulang oleh sang biksu. Dia menegaknya sambil berpikir, apakah teori tentang dunia paralle–di dalam alam semesta ini tidak hanya ada satu dunia tapi ada dunia-dunia lain yang sama tapi dengan variable dan time lapse yang berbeda–itu benar adanya.


Apakah Tuhan menciptakan dunia ini seperti dia sedang bereksperimen, membuat banyak sample dari satu bahan penelitian.


Ming Yue bergidik. That's creepy!


Dia tidak percaya dengan dunia parallel. Tapi tidak ada penjelasan lain yang bisa menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. "Jadi dunia parallel itu benar?" Dia bertanya kepada sang biksu.


Mendengar pertanyaan dari Ming Yue sang biksu kembali tersenyum. “Dunia ini terlalu luas untuk diteliti, ada atau tidak, benar atau salah, semua itu tergantung pada masing-masing individu." Sang biksu berkata.


"Ada banyak hal yang terjadi diluar nalar dan melawan ketetapan dalam Alkitab. Contohnya takdir. Manusia tidak dapat mengubah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan, tetapi jika ada seorang manusia berusaha dengan sangat keras untuk mengubah takdirnya, Tuhan mungkinakan tersentuh dan memberinya pengecualian." Sang biksu mengambil buku itu dari tangan Ming Yue, lalu mengenbalikannya ke rak buku.


"Law of attraction?" Ming Yue bertanya.


Misalnya jika seseorang sangat menginginkan sesuatu, dia menuliskan keinginannya itu di dalam sebuah buku, memikirkannya setiap saat, mengatakannya kepada diri sendiri dan membanyangkannya dirinya kaya setiap hendak akan tidur, niscaya alam akan merespo dan mengirimkan energi yang dapat membatu mewujudkan keinginan itu–Tentu saja semua itu harus dibarengi dengan usaha keras dan pantang menyerah.


"Tidak salah, tapi lebih besar dari itu" Sang biksu menjawab.


"Reinkarnasi?" Ming Yue menebak lagi, dia ingat bahwa penganut ajaran Budha percaya dengan adanya sistem reinkarnasi. Tapi orang yang berreinkarnasi tidak akan ingat dengan kehidupannya yang di masa lalu. Tentunya mereka tidak berreinkarnasi menjadi diri sendiri, mereka terlahir kembali menjadi orang yang berbeda atau makhluk hidup yang lain–mungkin menjadi binatang, seperti sapi atau babi– pada waku yang berbeda.


“Yang terjadi kepada benefactor, saya tidak bisa menjelaskannya. Tapi saya bisa berkata jika Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada benefactor.”


Sang biksu mengembalikan buku itu pada tempatnya semula lalu kembali duduk. “Tapi, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kesempatan kedua itu.” dia melanjutkan.


"Membayar?" Ming Yue berpikir, Tuhan memberinya kesempatan kedua tapi kau disuruh membayar. Bukankah itu sama saja dengan melakukan transaksi jual beli?

__ADS_1


Ck, dia tahu Tuhan memang tidak sebaik seperti yang penggambaran dalam syair-syair pujian. Jika Tuhan tidak perhitungan bukankah tidak akan ada makhluknya yang perlu menderita?


"Tapi aku tidak pernah memintanya." Ming Yue berkata. Jari telunjukanya bergerak mengikuti arah jarum jam meraba bibir cangkir. Dia tidak pernah meminta untuk diberi kesempatan kedua. Tentu dia tidak bersedia untuk membayar.


Sang biksu sepertinya bisa menebak jalan pikiran Ming Yue, senyum dangkal yang menggantung di wajahnya. "Mungkin saja bukan benefactor yang meminta, tapi orang lain."


Ming Yue menaikan alisnya. "Kalau orang lain yang meminta tentu itu bukan urusanku." Dia tidak mau membayar belanjaan orang lain walaupun dia yang menerima manfaatnya.


Sang biksu hanya tersenyum tipis. Logikanya memang seperti itu, yang membeli harus membayarnya sendiri. Tapi apakah benefactor di depannya ini tahu jika Tuhan tidak mengikuti logika manusia. Dari awal jika melakukan transaksi dengan Tuhan, tidak akan ada yang mananya bertransaksi dengan adil.


Harga yang dibayarkan selalu lebih tinggi dari barang yang didapatkan.


"Tapi bagaimana bisa kita bertemu di dua kehidupan?" Ming Yue merasa sedikit bingung dengan bagian itu. Dia hidup di dua dunia yang berbeda tapi bertemu dengan orang yang sama. Apakah sang biksu sama dengannya? Seorang transmigrator?


"Ah, Itu..." Sang biksu menulis sesuatu diatas meja menggunakan telunjuknya


Sementara itu Ron yang menunggu di luar pintu mulai merasa tidak tenang, sudah hampir lebih dari dua jam nona Ming berada di dalam. Dia berusaha menguping tapi dia tidak bisa mendengar suara apapun. Dia menghisap udara melalu sela-sela giginya dan jika nona Ming tidak juga keluar dalam lima belas menit, dia terpaksa akan memanggilnya.


Benar ini adalah tempat ibadah yang dipenuhi oleh orang-orang baik. Tapi belakangan ini banyak sekali tokoh agama yang tersandung skandal miring. Isu yang paling baru, diberitakan jika seorang ulama tertangkap dan terbukti melakukan pelecehan seksual.


Ron adalah penganut atheist dan sangat skeptis dengan orang-orang yang agamis. Menurutnya mereka menggunakan agama sebagai kedok untuk melakukan kejahatan.


Saat lima belas menit sudah berlalu, Ron bersiap untuk memanggil nona Ming tapi pintu di depannya lebih dulu terbuka. Nona Ming keluar dengan didampingi dengan sang biksu yang sepertinya senyumnya tidak lagi secerah tadi.


“Apa yang terjadi kepadamu?” Ming Yue bertanya begitu dia melihat rambut dan baju Ron yang basah. Apakah turun hujan?


Ron tersenyum kecut dan menceritakan apa yang terjadi dengan singkat bagaimana dia bisa basah kuyub.


Semua itu diawali dengan perasaan bosan karena menunggu terlalu lama, Ron memutuskan untuk berkeliling dan mencari udara segar. Dia berjalan mengitari area kuil hingga akhirnya dia menemukan sebuah batu prasasti yang letaknya tersembunyi di bawah gerbang pintu masuk ke kuil.


Dia kira prasasti itu berisi petunjuk atau sebuah wejangan pencerah jiwa. Tapi setelah membaca baris pertama, Ron menjadi jengkel kembali karena teringat dengan jebakan Betmen di kaki bukit tadi. Dia menggerutu dan mengatakan jika dirinya butuh air es agar kepalanya tidak meledak.

__ADS_1


Siapa tahu ternyata gerutuannya didengar oleh seorang biksu kecil. Biksu kecil itu adalah bocah lima tahu yang masih polos, ketika mendengar jika kepala seseorang akan meladak, tanpa pikir panjang dia mengambil seember air es dan mengiramkannya ke kepala Ron.


“Hahaha..” Ming Yue tertawa.


__ADS_2