
Di dalam ruang privat sebuah klub VIP empat orang paling berpengaruh di ibu kota berkumpul.
“Apa yang sedang tuan muda Lu pikirkan?” Mu Qing bertanya-tanya apa yang membuat Lu Ming memasang wajah frustasi.
Fu Yunhai yang sudah terbang ke dunianya sendiri setelah menegak dua gelas wine. Dari empat orang yang ada di ruangan itu dialah yang kuota minumnya paling sedikit. Dua gelas wine sudah bisa membuatnya tepar dan tidak sadarkan diri. Tapi walaupun begitu Fu Yunhai tetap tidak mau mengakuinya. Dia akan berkoar jika tolerasi alkoholnya sudah meningkat lalu meminum dua gelas sekaligus untuk membuktikannya dan ujung-ujungnya hasilnya tetap sama. Dia akan langsung tepar.
Mereka menduga jika itu adalah trik yang digunakan Fu Yunhai untuk menghindar dari mereka.
Tapi ketika mendengar Mu Qing berbicara dia menjadi sedikit sadar. “Sudah pasti itu nona Ming.” Fu Yunhai bergumam.
“Haha.. tuan muda Fu leluconmu sangat lucu.” Mu Qing berkata. “Tapi apa kalian tidak penasaran siapa yang berani melukai wajah adonis tuan muda Lu?” Mu Qing melirik Lu Ming dan mengerak-gerakkan alisnya dengan konyol.
Jin Yichen yang sejak tadi sibuk bermain dengan dua courtesan yang mengapitnya dari kanan dan kiri akhirnya menunjukanwajah tertarik. Dan mencondongkan wajahnya ke depan agar bisa melihat Lu Ming dengan lebih jelas. Sejak melihat pipi Lu Ming yang diplaster dia sudah gatal ingin tahu.
Fu Yunhai entah sejak kapan sudah sadar dan ikut memberikan tatapan ingin tahu kepada Lu Ming.
Lu Ming menyentuh pipinya yang dibalut plaster. Sudah satu minggu plaster itu menghiasi wajahnya dan selama itu pula dia merasa frustasi. Sejak dia pulang dari rumah Ming Yue sore itu sampai sekarang, Ming Yue belum bisa dia hubungi.
Setiap malam Lu Ming tidak bisa tidur dan menunggu Ming Yue menelponnya. Tapi telpon tengah malam mereka juga berhenti, saat dia menghubungi Ming Yue duluan, telpon gadis itu selalu di luar jangkauan dan panggilannya di tolak.
Lu Ming sudah menelpon rumah Ming Yue dan pelayan yang menjawab telponnya selalu mengatakan jika Ming Yue tidak ada di rumah.
“Apa orangnya juga sama?” Fu Yunhai memiringkan kepalanya dan berpikir.
Selain Ming Yue dia tidak kepikiran dengan orang lain. Lu Ming master beladiri yang menguasai tiga aliran sekaligus. Jika bukan Lu Ming sendiri yang memberi izin bagi lawannya untuk memukul, tidak ada kesempatan bagi lawan untuk menyentuhnya.
Lu Ming memutar gelas winenya lalu menegaknya dalam satu kali tegukan.
Dia meletakkan gelasnya kemudian berdiri dan dan pergi.
Mu Qing, Jin Yichen dan Fu Yunhai secara bersamaan membuka mulut mereka lalu dengan kompak mengeleng-gelengkan kepala menatap kepergian Lu Ming. Mereka bertiga sudah berteman dengan Lu Ming sejak masih bermain lumpur dan memakai popok. Meskipun mereka sering kesulitan untuk mengikuti jalan pikran Lu Ming, mereka bertiga tetaplah orang yang paling memahami Lu Ming.
“Beneran karena Ming Yue?” Mu Qing bertanya. Dia masih belum percaya.
Diantara mereka berempat Lu Ming lah yang paling berhati batu. Hal yang bisa membuat Lu Ming merasa tergerak tidak banyak. Dan tentunya masalah wanita tidak termasuk di dalamnya.
__ADS_1
Terlebih lagi jika itu Ming Yue.
“Apakah tuan muda Lu sudah jatuh hati kepada nona Ming?” Jin Yichen berkata.
Mu Qing dan Fu Yichen mengangguk. “Mungkin.”
Di dalam kamar Ming Yue sedang sibuk memeriksa berkas dari agen property yang dia sewa.
Dari lima tempat yang direkomendasikan ada tiga tempat yang Ming Yue minati. Ketiga tempat itu sama-sama jauh dari ibu kota dan memakan waktu lima hari perjalanan untuk sampai ke sana. Ming Yue masih bimbang untuk menetukan mana yang akan dia beli. Ada pikiran untuk ke luar negeri tapi Ming Yue rasa itu berlebihan. Rencananya dia akan kembali setelah sepuluh atau limabelas tahun kemudian. Pada saat itu plot di dalam novel pasti sudah selesai dan orang-orang pasti sudah lupa kepadanya.
“Tempat ini sepertinya yang paling sulit di temukan.” Ming Yue memberi tanda pada berkas yang paling terakhir. Tempat itu cukup strategis. Tidak tidak terlalu jauh tapi tidak banyak orang tahu, turis juga belum mejamah kesana. Mereka juga masih menggunakan Bahasa mandarin. Ming Yue rasa tempat ini yang paling cocok.
Ming Yue mengambil ponselnya dan menekan nomor agen.
Setelah mendiskusikan beberapa, mereka setuju untuk bertemu besok siang.
Lu Ming tidak kembali ke rumah melainkan ke kantor.
Di dalam kantor yang gelap Lu Ming terus memandangi layar ponselnya.
Lu Ming mengacak rambutnya. Selama ini Ming Yue yang selalu lebih dulu mengulurkan tangan kepadanya dan dia dengan tidak berperasaan selalu menepisnya. Karena Ming Yue tidak pernah berhenti walau seperti apapun Lu Ming mendorongnya menjauh, dia menganggapnya dengan enteng.
Pikiran bahwa suatu hari Ming Yue akan berhenti memberi, tidak pernah terlintas di benaknya.
Bam!
Lu Ming menendang meja di depannya hingga terbalik.
“Presiden Lu?” Gu Anran menempelkan telinganya pada pintu ruangan Lu Ming dan mengetuknya dengan pelan.
Sebenarnya dia sudah akan pulang sejak tadi tapi saat di parkiran dia melihat Lu Ming kembali ke kantor. Pria itu sendirian tidak bersama sopir atau pun asisten Yun yang selalu bersamanya.
Gu Anran menganggap itu adalah kesempatan untuknya dan tanpa ragu dia segera kembali masuk dan pura-pura bekerja lembur. Dia berharap akan ada adegan after office.
Gu Anran memulas ulang bibirnya dengan lipstick merah dan membuka tiga kancing kemejanya. Tidak puas sampai di situ, dia menggulung roknya lebih tinggi dan menggerai rambutnya. Dia memberikan senyum puas pada pantulannya di cermin. Dia yakin setelah melihat pemampilannya Lu Ming akan jatuh kepadanya.
__ADS_1
Tapi harapan selalu tidak sesuai dengan kenyataan.
Ketika Gu Anran mendorong pintu ruangan Lu Ming, yang dia dapati adalah kekacauan. Ruangan itu seperti kapal pecah, meja yang terbalik, rak buku yang tumbang dan banyak pecahan beling berserakan di lantai.
Gu Anran mencari-cari keberadaan Lu Ming tapi pria itu tidak tampak batang hidungnya. Seperti Lu Ming yang dia lihat tadi hanyalah halusinasinya saja.
Jangan-jangan presiden Lu terluka!
Gu Aran menyebrangi ruangan, kalau benar pria itu terluka, bukankan ini kesempatannya?
“Presiden Lu?” Gu Anran untuk memanggilnya.
Dan benar presiden Lu keluar dari kamar mandi dengan tangan yang berdarah.
“Presiden Lu…” Gu Anran menggigit bibir bawahnya dan matanya berkaca-kaca.
Dia mendekat dan dengan tangan yang gemetar ingin menyentuh Lu Ming.
Lu Ming mengerutkan dahinya. Moodnya yang baru saja sedikit membaik kembali menghitam. Sejak kapan kantornya berubah menjadi bar! Dan apa-apaan expresi wajahnya itu, apa dia sedang menggodanya!
Yang benar saja! dengan wajah seperti itu ingin menggodanya. Coba saja menghapus make up-nya, orang yang melihat akan menjerit ketakutan.
Gu Anran melihat mata Lu Ming yang berhenti pada dadanya, dia bersorak. Gu Anran menarik kemajanya hingga memperlihatkan belahan dadanya, inilah saatnya. Lu Ming jatuh cintalah kepadaku.
“Sekretaris Gu,” Lu Ming menatap seketaris itu dengan tajam.
Benar panggil namaku. Gu Anran tersenyum. Sebentar lagi dia dan Lu Ming akan menjadi satu.
“Apa kau tidak membaca surat kontrak dengan benar?” Lu Ming menincingkan matanya.
Gu Anran bagaikan tersambar petir. Senyumnya mengilang dan dia menjadi kaku. Bagaimana dia bisa lupa dengan satu hal itu, aturan berpakaian di perusahaan adalah sopan dan tertutup. “Presiden Lu… itu..” Gu Anran tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu. Kalau sampai dia dipecat sekarang, hilang sudah kesempatannya.
Wajah Lu Ming semakin menghitam. Dia ingat wanita ini adalah orang yang direkomendasikan gurunya. Gurunya itu bahkan sampai memohon untuk memberinya kesemapatan. Tapi kualitas yang dia dapatkan hanya segini saja. Lalu kalau bukan karena dia Ming Yue tidak akan ngambek hari itu.
“Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.” Dia akan memecatnya setelah Ming Yue melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1