
Ming Yue baru sadar jika selama ini dirinya tidak mempunyai kartu akses untuk masuk ke komunitas apartemen Lu Ming—jadi selama ini dia adalah pengunjung ilegal.
No way!
Dia adalah warga sipil yang taat hukum.
Tapi kenyataannya dia memang tidak punya kartu residen dan menerobos masuk tanpa izin. Apa itu termasuk melanggar hukum?
Tentu iya!
Tapi itu... Itu salah paman sekuriti! Paman sekuriti lah yang tidak menghentikannya!
Lu Ming melirik Ming Yue dari ujung matanya. Tanpa bisa dia kontrol bibirnya sedikit tertarik ke atas. Dia bisa menebak apa yang sedang gadis itu pikirkan—kadang Ming Yue itu seperti buku yang terbuka dan mudah dibaca.
Mengetahui apa yang menjadi kekhawatiran Ming Yue, Lu Ming tidak bisa menahan diri untuk menggodanya. "Jangan khawatir, kalau suatu hari nanti kau ketahuan dan di bawa ke kantor polisi, aku akan menyewa pengacara untuk membantumu mengurangi hukuman menjadi setengahnya." Dia berkata dengan nada serius.
Ming Yue menyipitkan matanya, perkataan Lu Ming yang bersedia untuk membantunya mengurangi hukuman membuatnya menyadari sesuatu. "Lu Ming kau juga ikut andil dalam hal ini. Silent witness juga termasuk komplotan." Dia berkata.
Lu Ming ingin mengatakan pembelaan tapi perkataan Ming Yue selanjutnya membuatnya terdiam. "Tapi dalam hal ini kaulah yang paling bersalah. Kau yang tidak memberiku kartu residen itu." Ming Yue mencebik. Dia telah memutuskan untuk melimpahkan semua kesalahan kepada Lu Ming.
Meskipun kelalaikan paman sekuriti dalam menjalankan tugasnya lah yang menimbulkan masalah ini. Ming Yue awalnya hendak menetapkan paman sekuriti sebagai tersangka utamanya, tapi karena dia dan paman sekuriti adalah teman—meski hanya sebatas teman bergosip, dia tidak ingin mengkhianatinya.
Alasan lain selain dia tidak ingin menghianati temannya, Lu Ming punya banyak uang dan pengacara. Ming Yue yakin jika Lu Ming terlibat dalam masalah bisa membebaskan diri dari hukuman.
Karena itulah keputusan ini Ming Yue anggap sebagai win-win-solutions.
Lu Ming sebenarnya belum ingin mengalahkan, dia hendak mengajukan banding dan mendebat tapi ucapannya lagi-lagi terpotong oleh suara dering telpon.
Ketika dia melihat jika itu adalah panggilan dari kakak Lu, dia tidak ingin mengangkatnya. Lu Ming membiarkan telpon terus berdering hingga akhirnya hang-up dengan sendirinya.
"Kenapa tidak diangkat? Kau tidak boleh begitu kepada kakek." Ming Yue menegur. Dia sedikit merindukan kakek Lu. Walaupun dia lebih merindukan pastry buah persik dan teh buah persik buatan paman Ahn.
Lu Ming yang bisa membaca pikiran Ming Yue dan dia mendengus.
__ADS_1
Saat itu ponselnya kembali berdering. Masih dengan nama kakek Lu yang muncul pada layar. Lu Ming akan mengabaikannya lagi tapi kemudian berubah pikiran. Dia menaikan alisnya kepada Ming Yue dan menantang gadis itu untuk mengangkat telponnya.
Yang tentu saja tantangan itu tidak diterima oleh Ming Yue. Mekipun dia menyayangi kakek Lu tapi juka bisa menghindar dia akan menghindari telpon darinya. Pasalnya pada suatu hari dia pernah dibuat trauma oleh telpon dari kakek Lu.
Jika berhadapan langsung, Ming Yue masih bisa mengalihkan perhatian dan mengubah topik pembicaraan, tapi jika ditelpon dia tidak bisa melakukannya. Saat berbicara lewat telepon fokus kakek Lu cenderung bagus. Dan jika diberi kesempatan, topik pembicaraan kakek Lu akan mengarah pada rencana keluarga. Membahas berapa banyak cucu yang dia ingin akan lalu dia lanjut memilih nama-nama yang cocok untuk cucunya.
Ming Yue mengerti saat seseorang sudah mencapai usia sepantaran dengan kakek Lu, mereka akan merindukan generasi selanjutnya.
Mereka walaupun tidak hidup sendirian, orang tua seperti mereka tetap merasa kesepian dan butuh hiburan dan suara tangisan bayi adalah hal yang paling mereka dambakan.
Ming Yue yang sudah memutuskan untuk childless merasa sedikit bersalah kepada kakek Lu. Tapi ada yang lebih besar daripada rasa bersalahnya, Ming Yue takut jika kakek Lu bisa membuatnya berubah pikiran mengingat bagaimana orang tua itu sangat lincah mengambil simpati darinya.
Lu Ming juga memiliki pikiran yang sama dengan Ming Yue. Sejak dia lulus kuliah, setiap kali dua mendapatkan telpon dari kakeknya, hal yang dibahas selalu saja sama. Yaitu: memaksanya untuk cepat menikah, memaksanya untuk cepat punya anak agar kakek Lu punya teman untuk memancing.
Lu Ming sudah kenyang mendengarnya. Kakak Lu sudah sudah memulai terornya sejak dia memasuki usia legal untuk menikah sampai sekarang.
"Bagaimana kalau itu adalah telpon darurat." Walaupun berkata begitu, Ming Yue tetap tidak mau mengambil resiko dan mengangkat telpon dari kakek Lu.
Lu Ming menggeleng, memberikan jawaban negatif. Jika kakek Lu sedang berada dalam bahaya, orang tua akan mengaktifkan sinyal pelacak yang dipasang pada jam tangannya sebelum menelpon. Tapi Lu Ming masih harus memastikannya lebih dulu karena kakek Lu sudah berkali-kali mengerjainya dengan cara itu.
Mereka berdua akhirnya bisa bernafas lega. Namun yang tidak mereka ketahui saat ini tiga penyusup didalam rumahnya.
"Dasar bocah tengik!" Kakek Lu berteriak geram dan melempar telpon genggamnya ke meja kopi.
"Ayah tidak perlu khawatir. Lihat isi rumah ini, yang orang itu katakan tidak mungkin benar." Fu Yao yang duduk disebelah ayah mertuanya menunjuk bandana berwarna pink dengan telinga kucing berbulu yang dia temukan di sela-sela sofa. Setelah melihat isi rumah ini
Fu Yao sudah tidak percaya dengan perkataan orang itu.
Terlebih lagi dia juga sudah membuka semua kosmetik yang ada di meja rias dan melihat isi kosmetik yang berkurang, dia sudah yakin jika Lu Ming dan Ming Yue tinggal bersama dan bukan akal-akalan Lu Ming yang ingin mengelabuhi mereka.
"Heh." Kakek Lu mendengus. Meskipun dia sudah menginspeksi semua sudut ruangan dengan mata kepalanya sendiri, dia masih sedikit curiga. Apa yang dia lihat di dalam rumah ini bisa saja hanya settingan agar mereka berpikir seolah-olah dua orang itu tinggal bersama. Bocah tengik itu bisa melakukan apa saja untuk menipu mereka.
"Ayah juga sudah dengar kesaksian dari paman Bo. Lu Ming, bocah itu..." Fu Yao menggeleng, dia tidak tahu kalimat apa yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan putranya. Dia tidak menyangka jika ada cerita seperti itu, putranya yang sudah berwajah jutek dan datar seperti papan itu sejak lahir itu memiliki sisi seperti dalam cerita paman Bo.
__ADS_1
Sulit dipercaya. Dan sepertinya mustahil.
Tapi kalau itu benar... Fu Yao sampai hampir tersedak ketika Membayangkannya lagi. "Huft..." Dia menghela nafas penuh penyesalan karena tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung.
Walaupun sekarang Lu Ming sudah menunjukkan perasaannya kepada Ming Yue, Fu Yao masih belum puas. Dia ingin melihat bagaimana putranya yang selalu sempurna itu bertingkah seperti anak anjing di depan seorang gadis, dia sangat ingin melihatnya.
Ketika sepasang ayah mertua dan putri menantu itu sibuk dengan pikiran masing-masing, terdengar suara pintu dibuka dari luar.
Dua orang itu langsung menoleh.
Lu Ming masuk dengan menggendong Ming Yue yang menempel kepadanya seperti anak koala dengan kaki dan tangan melingkar pada pinggang dan lehernya.
Ketika Lu Ming masuk dia dia dihadapkan dengan dua pasang mata yang menatapnya dengan panas.
Lu Ming menaikan alisnya dengan tanda tanya. Apa yang sedang terjadi di sini?
Bukan,
Apa yang dua orang itu lakukan disini?
Ketika dia hendak bertanya, kelapa Ming Yue yang bersandar pada bahunya bergerak. Gadis itu sepertinya belum tahu jika ada orang lain di dalam rumah mereka.
Tangan Lu Ming yang menopang bokong Ming Yue membeku ketika bibir Ming Yue mendarat pada jakunnya dan menyesapnya.
Tidak kalah dengan Lu Ming, ekspresi dua penyusup yang duduk di sofa ruang tamunya sambil menyantap sale pisang yang dia dapatkan dengan susah payah —kakek dan ibunya mendelik kemudian merona tapi tidak menghindarkan pandangan mereka.
Mereka ingin menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Mereka sudah percaya seratus persen dengan hubungan dua orang itu.
Ketika tangan Ming Yue membuka kancing kemejanya, Butler Ahn yang keluar dari dapur berbalik badan dan kembali masuk ke dapur tapi karena terburu-buru nampan yang dia bawa membentur tembok.
Klang.
Nampan itu jatuh ke lantai, sebuah cangkir menggelinding dan berhenti setelah menabrak kaki Lu Ming.
__ADS_1
Reaksi Ming Yue yang berada di bawah pengaruh alkohol sedikit lambat. Setelah memasukan tangannya ke dalam baju Lu Ming dan meremas otot dadanya barulah dia sadar dengan keadaan sekitar, dia menoleh dan matanya terbelalak.
"Kalian lanjutkan. Tidak ada siapa-siapa disini." Tiga orang itu melengos dan berkata dengan serempak.