
Masih ingat dengan sekuriti penjaga komplek apartement tempat tinggal Lu Ming? Sekarang setiap kali dia berjumpa dengan Ming Yue, dia akan menghentikannya dan mengajaknya mengajaknya mengobrol di pos satpam.
Ming Yue yang tidak punya hiburan lain selain menonton televisi, mau-mau saja dan tidak keberatan diajak menggosipkan para tetangga. Berkat paman sekuriti itu juga Ming Yue menjadi tahu jika penghuni apartement nomor 1227 yang bersebelahan dengan rumah Lu Ming sedang mengandung bayi kembar tiga.
Satu minggu yang lalu saat Ming Yue bertemu dengan nyonya penghuni apartement nomor 1227, dia kira jika hari perkiraan lahirnya sudah dekat melihat perutnya yang menggelembung besar seperti wanita yang sedang hamil sembilan bulan. Tapi ternyata usia kandungannya baru beranjak lima bulan, perutnya menggelembung besar begitu karena ada tiga bayi yang hidup di dalamnya.
Lu Ming yang berdiri di samping Ming Yue, melihat bagaimana mata gadis itu terus tertuju pada baby bump tetangga sebelahnya, berbisik kepadanya. “Kalau kau mau, kita juga bisa memilikinya.” Awalnya dia hanya ingin menggoda Ming Yue, tapi ketika mengatakannya Lu Ming pikir itu bukan ide yang buruk. Bahkan sekarang dia sudah mulai membayangkan akan seperti apa rupa anak mereka nanti. Kalau bisa dia ingin anak perempuan yang mirip dengan Ming Yue.
“Hmm.” Ming Yue asal mengangguk, tidak benar-benar mendengar apa yang Lu Ming katakan. Dia sedang berpikir, kira-kira wanita yang sedang mengandung kembar tiga itu menghabiskan berapa banyak mangkuk nasi untuk memenuhi asupan gizi tiga bayi yang sedang dia kandung di dalam perutnya, berapa kali dia makan dalam satu hari, sepengetahuannya, ibu hamil dengan satu bayi saja dalam satu hari bisa makan sampai delapan kali, jika mengandung triplet apakah dia makan setiap dua jam sekali?
Entahlah… Ming Yue tidak bisa membayangkannya jika itu benar.
Lu Ming yang tidak mengira jika Ming Yue akan setuju dengan mudah, dia sekarang tengah memutar otaknya mencari nama yang bagus untuk anak perempuan mereka. “Bagaimana kalau kita gabungkan nama kita berdua… Lu Mingyue, dari Lu Ming dan Ming Yue...” Enak didengar, tapi terkesan tidak kreatif. Atau kira tambahkan Junior saja dibelakangnya, pemberian nama seperti itu sedang ngetren di barat. Banyak bintang Holiwood yang menamai anak mereka seperti itu. Lu Mingyue **. Dengan begitu yang mendengar akan langsung tahu jika itu adalah anak mereka tanpa perlu mengumumkannya. Praktis dan efisien.
“Terserah kau saja…” Ming Yue menjawab dengan asal. Pikirannya masih berkelana, jika tadi dia sedang menerka jumlah makanan yang dikonsumsi, maka sekarang dia sedang bertanya-tanya apakah tiga bayi itu akan dilahirkan secara normal atau cesar. Kalau tiga bayi itu dilahirkan secara normal, maka wanita itu akan melahirkan tiga kali berturut-turut dalam satu hari, apakah prestasinya itu nanti akan dimasukan ke dalam rekor muri? Tapi, berdasarkan kabar yang dia dengar melahirkan itu sangat sakit, saking sakitnya sampai ada yang membuat perumpamaan jika sakit yang dialami wanita saat melahirkan itu sama dengan menapakkan satu kaki ke pintu kematian.
Dia harap dokter yang membantunya bersalin nanti adalah orang yang memiliki peri kemanusiaan terhadap sesama dan tidak menyarankan kepada tetangganya itu untuk melahirkan secara normal. Semoga saja begitu.
Tiba-tiba dia ingat jika ibu yang sedang mengandung triplet itu sebelumnya juga sudah melahirkan dua bayi kembar secara normal. Kata paman sekuriti di bawah, keluarga suami tetangganya itu masih kolot dan berpikir jika dengan melahirkan secara normal barulah seorang wanita bisa menjadi ibu sejati.
Your head! Kepalamu!
__ADS_1
Ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah, Ming Yue membanting tas jinjingnya dan dengan geram dia memaki. “Brengsek kau sebut itu cinta? setelah membuatnya menderita selama sembilan bulan, dia masih mau mendorongnya ke gerbang kematian.” Ming Yue mengertakan giginya penuh emosi.
“Lu Ming kalau kau membiarkanku mengalami penderitaan itu, kita putus!” dia memberikan ultimatum.
Lu Ming yang tadi sangat antusias merencanakan acara berkembangbiak, mendadak merasa seperti diguyur seember air es ketika mendengar perkataan Ming Yue. Gerakan tangannya yang hendak membuka almari sepatu terhenti di udara… Lu Mingyue **, ayah tidak tahu kapan kita akan bertemu.
****! bahkan Lu Ming tidak yakin jika Lu Mingyue ** akan terlahir.
Dia merasa ingin menangis tapi tidak ada air mata yang bisa dikeluarkan. Tuhan, kenapa Engkau lambungkan hamba ke atas awan jika hanya untuk dihempaskan ke tanah pada detik berikutnya.
Sakit.
…
Preal Sand, begitu developer menamai Kawasan pesisir yang awalnya hanya berupa tanah sedikit berbukit yang gersang dan menjadi tempat pembuangan samapah secara illegal oleh warga setempat itu telah disulap menjadi lahan hijau yang asri, vila-vila mewah didirikan dan harga tanahnya naik menjadi lima kali lipat. Tempat itu sekarang hanya dihuni oleh orang-orang kaya dan berpengaruh.
Di dalam sebuah villa lantai dua bergaya Eropa dengan taman yang luas, air mancur dan patung-patung yang dipahat oleh ahli pahat.
“Bocah goblok!” seorang pria paruh baya yang rambutnya sudah memutih dan dipotong cepak itu membanting cerutu yang baru saja dia nyalakan. Dia bangkit dari kursi singgah sananya, berjalan dengan sedikit tertatih dengan bantuan tongkat jalan menuju jendela besar yang menyuguhkan pemandangan laut.
Suara ombak yang menghambtam karang terdengar seperti nyanyian siren yang tengah memanggil pelaut untuk mereka makan jiwanya. Pria paruh baya itu memejamkan matanya dan mengeraskan rahangnya. “Jangan sampai Maria tahu.”
__ADS_1
“Baik bos.” Dong Chan mengangguk. “Apakah kita akan mengirimkan bantuan untuk tuan muda?” dia dengan hati-hati bertanya. Semenjak tuan muda melarikan diri sepuluh tahun yang lalu, Bos besar selalu marah-marah setiap kali ada yang membahas tuan muda. Kali ini Dong Chan benar-benar mempertaruhkan nyawanya untuk memberanikan diri melapor kepada bos besar, karena meskipun bos besar terlihat acuh dan tidak peduli, di dalam lubuk hatinya dia pasti masih menyayangi tuan muda, bagaimanapun tuan muda adalah satu-satunya darah daging yang dia miliki.
Dong Chan juga tahu jika selama ini bos besar diam-diam memantau tuan muda. Tapi karena harga diri dan ego yang terlalu besar, bos besar tidak akan menjadi orang yang pertama kali mengajak berdamai.
“Siapa yang kau panggil tuan muda? Dia sudah bukan lagi putraku!” Bos besar berdecih, seolah memang sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan tuan muda. Tapi, jari telunjuknnya yang menggambar lingkaran pada ukiran kepala macan pada tongkatnya membocorkan perasaanya yang sebenarnya.
Bos besar adalah tipe tsundare yang tidak akan berterus terang memperlihatkan perasaanya kepada orang lain. Dia selalu menggunakan cara yang berbelit- belit sampai-sampai membuat tuan muda salah paham kepadanya dan akhirnya memutuskan hubungan ayah-anak, lalu kabur dari rumah.
“Benar juga, lagi pula masalah kali ini cukup besar.” Dong Chan mengagguk-angguk. “Rumor yang beredar, orang-orang yang punya masah dengan orang itu mati dengan kondisi yang mengerikan, atau paling tidak mereka kehilangan salah satu organ tubuhnya. Kudengar seorang Don dari keluarga besar mafia Italia dikebiri olehnya.”
Bos besar menelan ludahnya dengan serat, dia tentu juga mendengar tentang rumor mengenai orang itu.
Empat tahun lalu dunia bawah digegerkan oleh kemunculan orang itu. Ketenarannya menyebar luas setelah orang itu membantai habis kelompok besar mafia terkuat di dunia bawah. Organisasi mafia paling tua yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun itu musnah dalam waktu kurang dari satu tahun, organisasi yang awalnya ditakuti dan menjadi momok untuk orang-orang baik di dunia bawah ataupun di dunia atas itu, hancur tak bersisa di tangan orang itu.
Semenjak tragedy itu, tidak ada orang yang berani menyebutnya secara terang-terangan. Orang itu menjadi seperti kutukan si jahat M-jangan disebut atau dia akan datang dan menghabisimu.
Seperti sebuah legenda, Tidak ada yang tahu apakah orang itu nyata atau hanya tokoh fiktif, orang itu hanya muncul satu kali dan tidak pernah muncul lagi. Sampai saat ini belum diketahui sosoknya seperti apa, apakah dia pria atau wanita, tidak ada yang tahu. Selama ini hanya terdengar desas-desus yang entah benar atau tidak.
Tapi mengenai seorang Don yang kehilangan alat kelaminnya itu benar adanya.
“Dia bukan putraku…” Bos besar menggertakan gerahammnya. Dia ingin bertanya kepada langit, kenapa dirinya dikaruniai seorang anak yang sangat bodoh? dia masih bisa menerima putranya yang menyimpang dari kodrat, tapi kebodohannya itu sungguh tidak bisa ditoleransi. “Dia sekarang adalah putriku!” bos memukulkan tongkatnya ke lantai sebanyak tiga kali.
__ADS_1