MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
28.


__ADS_3

Sampai pada malam harinya ketika Ming Yue akan tidur. Dia masih memikirkan kejadian tadi siang.


Mau dianalisis berapa kali pun, respon Lu Ming terhadap permintaan putusnya tidak masuk akal. Pria itu seharusnya senang Ming Yue bersedia membawa topik itu duluan. Bukankan itu yang selama ini pria itu tunggu-tunggu.


Tapi kenapa dia malah menciumnya!


Ming Yue menyentuh bibirnya. Wajah Lu Ming seketika kembali melintas di kepalanya.


Ah! Sangat mengganggu.


Kenapa juga Ming Yue malah memikirkan pria itu. Sekarang bukan saatnya untuk terpesona. Dia harus mencari tempat persembunyian baru. Walaupun Lu Ming memberikan setifikat tanah itu kepadanya, tempat itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Dia ingin kabur dari Lu Ming, apa gunanya kalau Lu Ming tahu kemana dia pergi.


Ming Yue menatap langit-langit kamarnya. Lagi-lagi wajah Lu Ming muncul.


Ming Yue mendesah. Kenapa dia muncul lagi? Dia sedikit kesal jadinya. Dia tadi sudah sedikit mengantuk tapi karena wajah Lu Ming muncul lagi kantuknya menjadi menghilang.


Ming Yue curiga, jangan-jangan Lu Ming mengiriminya guna-guna. Kalau tidak kenapa pria itu terus muncul dan menghantuinya setiap kali dia memjamkan mata.


Oh God. Dia hanya ingin tidur, ini sudah larut malam. Kulitnya bisa kusam kalau dia bergadang. Ming Yue berguling-guling hingga akhirnya dia terjatuh dari tempat tidur.


“Ouch!” untung dia menaruh karpet tebal di lantai, jadi tidak telalu sakit saat bokongnya menghantam lantai.


Eh, apa itu? sesuatu berwarna emas menyembul di bawah pot kaktus sintetis.


Ming Yue menghampirinya. “Argh.” Dia menarik keluar benda itu.

__ADS_1


Dahi Ming Yue berkerut. Terlihat seperti jurnal harian. Ming Yue membukanya, kosong. Tidak ada tulisan di dalamnya. Tapi dari kondisi kertasnya jelas buku ini sering dibuka, Ming Yue menerawangnya, juga masih kosong. Tidak terlihat tulisan apapun.


Dia mencoba menetesinya dengan air. Tidak muncul juga. Dia tidak kehabisan akal dia mengambil alat make up-nya dan mencampurkan bubuk blush ke dalam air lalu mengololesi kertas itu menggunakan kuas. Dan kali ini muncul tulisan pada kertas itu.


Hump! Detektif Ming dilawan.


Halaman demi halaman dia baca. Semakin banyak halaman yang dia baca Ming Yue tidak bisa menahan tangisnya. “Hua… kenapa sedih sekali… hiks… Ming Yue kenapa semua itu terjadi kepadamu… hiks… hiks… srott...” Ming Yue mengusap ingusnya dengan tisu. Buku itu adalah sebuah dairy. Dan semua yang ditulis di dalam buku itu, semuanya akan membuat pembacanya menangis.


Catatan pertama menceritakan bagaimana ibunya mencampakan Ming Yue dan mengatainya sebagai pembawa sial, di situ di tuliskan jika Ming Yue baru berumur lima tahun saat itu. Bagaimana bisa seseorang tega berbuat sejahat itu kepada seorang balita, parahnya lagi balita itu mengingatnya sampai dewasa. Tapi Ming Weyan lebih menjijikan, pria dewasa yang merupakan seorang ayah mengurung putrinya yang baru di katai oleh ibunya sebagai pembawa sial di dalam loteng yang gelap dan tidak memberinya makan selama dua hari. Apa yang salah dengan mereka, hingga tega memperlakukan darah daging mereka sendiri dengna begitu kejam. Kemana perginya rasa peri kemanusian yang mereka miliki.


Lalu apa-apaan kejadian saat SMA itu. Kenapa Ming Yue dicap sebagai wanita jahat hanya karena dia menolak pernyataan cinta seseorang. Bukankan itu adalah haknya untuk menerimanya atau tidak. Mereka tidak boleh menghakiminya hanya kerena bocah yang menembaknya itu adalah seorang pangaran sekolah yang menenangkan rangking tiga siswa popular. Mign Yue pasti punya alasan kenapa tidak menerima.


Ming Yue membuka halaman selanjutnya. Dia menjadi tambah murka. Bocah yang menembaknya di halaman sebelumnya ternyata serigala berbulu domba. Luarnya saja yang baik. Pangeran sekolah, siswa berprestasi. Bullshit!


Siswa itu hanyalah seorang preman pasar yang menjambret tas ibu-ibu setelah pulang dari sekolah dan menggunakan uang hasilnya untuk mabuk-mabukan. Yang lebih menjijikan lagi dia juga tidak menembak Ming Yue karena menyukainya, dia hanya ingin menjadikan Ming Yue sebagai pacarnya kerena ingin menutup mulut Ming Yue yang tidak sengaja memergokinya sedang beraksi.


Hanya sepertiga dari buku itu yang digunakan, selebihnya kosong.


Dia pikir akan mendapatkan jawaban mengapa Ming Yue mengejar Lu Ming seperti idiot. Tapi di dalam buku itu tidak satu kalipun nama Lu Ming disebutkan.


Itu terasa janggal. Apa mungkin ditulis dengan cara yang berbeda.


Ming Yue menerapkan metode lain pada halaman yang kosong, menerawangnya, menggunakan sinar UV, merendamnya kedalam air dan membakarnya. Tapi kertas itu tetap kosong.


“Apa ada buku lain?” Ming Yue bergumam, dia mengobrak-abrik semua sudut ruangan. Tapi hasilnya nihil.

__ADS_1


Ketika dia sudah menyerah dan bersiap untuk tidur ponselnya berbunyi.


Ming Yue mengernyitkan dahi. Panggilan dari luar negeri dan nomor yang tidak terdaftar.


Dari kode zonasinya, orang yang memanggilnya berada di Amerika.


“Halo.” Ming Yue menyambungkannya.


“Halo..” suara seorang wanita yang menjawabnya.


Ming Yue mencibir, dia bisa mendengar suara klakson dari sebrang. Nona penelpon itu sungguh tidak sopan. Setidaknya menelponlah dari tempat yang sunyi. Apa dia tidak tahu jika sekarang sedang tengah malam di sini. Apa dia tidak punya rasa segan telah menganggu istirahat orang lain.


“Ming Yue ini mama.” Orang itu berkata.


Sontak telinga Ming Yue berdiri. “Maaf anda salah sambung.” Ming Yue memutuskan panggilan. Dia punya firasat buruk, wanita itu tiba-tiba menghubunginya. Tidak mungkin karena dia merindukannya. Ming Yue segera memblokir nomor itu.


Satu jam kemudian Ming Yue terbangun karena mimpi buruk. Nafasnya memburu dan tubuhnya berkeringat dingin. Dengan tangan yang bergetar dia mencari ponselnya dan menekan panggilan darurat.


Lu Ming berbaring di tempat tidur dengan mata yang terbuka lebar tersentak ketika ponsel didadanya bergetar. Tanpa perlu melihatnya, dia langsung menjawab. “Lu Ming.” suara dari sebrang berbisik di telinganya.


“Lu Ming, katakan sesuatu!”


Lu Ming tertawa kecil. Setelah Ming Yue berhenti menelponya, gadis itu pasti tidak tahu bagaimana itu membuatnya hampir gila. Setiap malam dia menderita insomnia karena menuggu telpon darinya yang tak kunjung datang. Dia bersumpah tidak menjawab jika dia menelponya lagi. Lu Ming tahu jika gadis itu hanya datang kepadanya saat butuh saja, tapi apa yang bisa dia lakukan jika dia sudah berada di dalam genggamannya. “Mau aku melanjutkan membaca buku yang kemarin?”


Lu Ming meraih buku yang di taruh di atas nakas. Dia membuka halaman yang dia tandai mengunakan pembatas buku lalu mulai membaca.

__ADS_1


Setelah dia mendengar nafas yang teratur dari sebrang, dia berhenti. Dengan ponsel yang dia tempelkan di dekat telinga dan pangilan yang masih berjalan dia memjamkan matanya.


__ADS_2