MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
62.


__ADS_3

A Tai memberikan teropong binocular kepada Lu Ming. “Bos, apakah tikusnya akan ditangkap hari ini juga?” Dia bertanya.


Lu Ming mendekatkan binocular itu ke matanya, mengatur fokusnya dan menjawab perkataan A Tai, “Let’s play with it for a while.” Lu Ming sekilas tersenyum. Dia berpikir Ming Yue pasti akan senang bila diajak untuk mengerjai orang, mengingat bagaimana gadis itu bermain dengan Mu Jena.


“Baik bos.” A Tai bisa menebak apa yang tengah bosnya pikirkan saat ini, walaupun dia tidak setiap hari berada di sisi Lu Ming, dia mendapatkan banyak cerita dari Ron. Lady bos suka mempermaikan orang dan bos juga ikut tertular.


Setelah beberapa saat, Lu Ming mengembalikan teropong itu kepada A Tai.


“Nona Huo, apakah anda baik-baik saja?”


Mendengar suara familiar manager hotel, Hou An tidak merasa tenang dia malah menjadi semakin panik. Bagaimana kalau itu juga jebakan.


Di luar manager Qing menunggu selama lima menit sebelum menyuruh asisten house keeping untuk membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Dia takut di dalam terjadi apa-apa kepada tamu VIP mereka.


Pada jam satu pagi tadi, ketika dia tengah tidur di kantornya, dia mendapatkan telpon dari tuan Fu. Telpon tiba-tiba dari tuan Fu itu hampir saja membuatnya jantungan, bos besarnya Fu tidak mempedulikan bagaimana hotelnya dijalankan, alsalkan dia mendapatkan keuntungan dan tidak mengalami BEP bos sudah cukup senang dengan itu. Maka ketika nama bos besar muncul pada layar ponselnya, manager Qing sedikit terkejut. Saat tuan Fu menguruhnya untuk menutup akses jalan di sekirat hotel dan memutus suplai listrik ke semua kamar hotel kecuali kamar suite di lantai sembilan selama satu jam, manager Qing mengira jika dia sedang bermimpi. Dia sampai mencubit pahanya, hingga ketika merasakan sakit barulah dia percaya jika bos besar memang sedang berbicara dengannya. Dari semua intruksi aneh itu, masih ada satu hal lagi yang membuat manager Qing bertambah bingung dan bertanya-tanya. Tuan Fu memberitahu jika kaca di kamar suite lantai sembilan akan pecah dan dia tidak boleh langsung melakukan evakuasi pada tamu di kamar tersebut sebelum setengah jam berlalu.


Manager Qing awalnya mau menolak permintaan konyol bosnya itu, tapi bos besar menjanjikan jika bonus akhir tahunnya akan digandakan dua kali lipat. Dia langsung menganggukan kepalanya dengan antusias, meskipun dia tidak tahu apa maksud bos besar melakukan hal itu, manager Qing tidak berani bertanya, dia menurut saja dan melaksanakan perintah sambil merencanakan akan menghabiskan bonus akhir bulannya untuk membelikan tempat tidur baru dan kursi pijat yang sudah lama dia idam-idamkan.

__ADS_1


Manager Qing meminta dua personel keamanan yang pergi bersamanya untuk masuk lebih dulu. Tuan Fu tadi secara khusus berpesan kepadanya untuk berhati-hati dan mengajak petugas keamanan saat mengurus tamu penghuni kamar suite di lantai sembilan.


Sebenarnya dia merasa tidak perlu membawa dua petugas keamanan, nona Huo yang menghuni kamar tersebut bukanlah orang yang berbahaya seperti yang dikatakan tuan Fu, dia hanyalah seorang gadis muda yang lemah dan rapuh, yang mungkin bisa diterbangkan oleh angin karena saking kurusnya. Tapi manager Qing tetap membawa dua orang terkuat di team keamanan bersamanya, sekedar untuk berjaga-jaga jika perkataan tuan Fu benar adanya…


“Nona Huo apakah anda terluka?” manager Qing berkata begitu dia melihat nona Huo yang berdiri jongkok di lantai dengan air mata yang berlinang. Luka di pipinya masih mengeluarkan darah, karena kulit nona Huo yang seputih salju noda darah yang ada di pipinya terlihat sangat mencolok. Pemandangan itu membuatnya sedikit panik, bagaimana jika nona Huo terluka serius. Misalnya… pecahan kaca itu tidak sengaja menyayat nadinya dan dia mati kehabisan darah. Kalau sampai hal itu terjadi nama baik hotel mereka akan tercoreng, dan dia lagi yang harus membereskannya nanti. Itu akan menjadi sangat merepotkan, manager Qing jadi menyesal menuruti permintaan absurd tuan Fu.


Nona Huo pasti sangat ketakutan saat ini, manager Qing bisa merasakannya dari tubuh nona Huo yang gemetaran. Dia segera membantu nona Huo berdiri, menuntunnya untuk duduk di sofa dan menyuruh asisten house keeping untuk mengobati luka di pipi nona Huo. Apa coba tujuan tuan Fu menge-prank wanita cantik ini?


“Apakah anda terluka di tempat lain?” manager Qing bertanya. “Apa perlu ke rumah sakit?” walapun dia tidak melihat ada luka lain, membawanya ke rumah sakit akan membuatnya lebih tenang. Lagi pula setelah mengalami kejadian seperti tadi biasanya keadaan mentalnya bisa saja mengalami trauma.


Nona Huo menggeleng. “Tidak perlu ke rumah sakit, saya hanya terluka di pipi saja.” dia menjawab. Terlihat jelas sekali jika dia berusaha keras untuk terlihat tegar. Itu membuat manager Qing mencibir di dalam hati, kalau yang ada di hadapannya sekarang itu adalah wanita yang bermarga Ming itu, pasti tidak akan setenang ini.


Huo An yang masih curiga, setelah mendengarkan permintaan maaf dari sang manager akhirnya melepas kewaspadaanya. Mungkin pihak hotel tidak berkaitan dengan apa yang baru saja terjadi. Lagi pula hotel ini buka milik grup Lu.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tapi dia harus memastikan jika hotel ini benar tidak bersekongkol dengan Lu Ming.


“Polisi sedang mengejar bandar narkoba dan terjadi salah tembak.” Manager Qing mengatakan alasan yang tadi diajarkan oleh bos besar.

__ADS_1


“Apa mereka berhasil ditangkap?” Huo An bertanya lebih lanjut. Walaupun dia tahu jika bukan itu yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau Lu Ming bekerja sama dengan polisi dan menutupi masalah penembakan tadi dengan begitu, maka itu mungkin saja. Dia bukan orang baru di dunia hitam, hal seperti itu sering terjadi. Banyak orang kepolisian yang berkomplot dengan gangster.


Berdasarkan peringatan yang diberikan oleh Wei Liang mengenai pemimpin Lu grup. Pasti Lu Ming juga bukan orang yang bersih. Buktinya, Anna bisa dijebloskan ke penjara neraka itu, padahal kejahatan yang Anna perbuat tidak cukup untuk membuatnya dikirim ke sana.


Pada jam dua pagi Lu Ming kembali. Ketika lampu di ruang tamu menyala karena sensor otomatis mendeteksi adanya gerakan, dia dikejutkan oleh Ming Yue yang duduk bersila di atas sofa. Tangannya dilipat di depan dada dan matanya menatap ke arahnya dengan datar.


Entah kenapa Lu Ming merasa sedikit gugup.


Dengan cepat Lu Ming berganti sandal dan mendekat kepada Ming Yue.


“Dari mana,” Ming Yue berakata. “Jangan bilang kau keluar sebentar untuk cari angin, aku tidak percaya.” Dia melanjutkan, masih menatap Lu Ming dengan tatapan datar.


Lu Ming tahu saat ini Ming Yue sedang merajuk. Dia menahan senyum yang sudah di ujung bibirnya, dia kemudian mengambil posisi berlutut di depan Ming Yue. “Yang mulia Ming, hamba…”


“Jangan bercanda.” Ming Yue memotong dengan ketus, memberikan tatapan memperingatkan kepada Lu Ming.


Lu Ming munutup mulutnya, menghalangi senyum di bibirnya dari pandangan Ming Yue menggunakan telapak tangannya lalu berdehem. Dia tidak berdiri dari posisi berlututnya. “Menangkap tikus.”

__ADS_1


Ming Yue mengernyit, kemudian dia tersenyum. “Apakah tikusnya tertangkap?” ketika menanyakan itu kelopak matanya melengkung membentuk bulan sabit.


__ADS_2