
“Jangan dilepas.” Lu Ming berkata.
Ming Yue melirik tangannya yang berada di dalam genggaman tangan Lu Ming. Setelah hujan berhenti hari kembali cerah sehingga mereka memutuskan untuk melanjutkan tujuan awal mereka. Dia mengerti jika lu Ming bertujuan baik, Lu Ming menggandengnya agar dia tidak terpeleset. Tapi Lu Ming keterlaluan, dia menuntun Ming Yue seperti menuntun nenek-nenek. Terlalu hati-hati dan lambat seperti kura-kura. Fu Yu dan Fu Qing sudah jauh meninggalkan mereka di depan, dua kembar itu sesekali menoleh dan memberinya tatapan meledek.
“Lu Ming, cepat sedikit lah.” Ming Yue berkata dengan tidak sabar. Selain dia ingin cepat-cepat sampai, Ming Yue merasa malu menjadi tontonan para ibu-ibu pekerja perkebunan yang mulai berdatangan. Setiap kali mereka melewatinya, mereka kan menoleh dua kali lalu membisikkan sesuatu kepada rekannya. Bahkan ada empat orang rombongan ibu-ibu yang sengaja berjalan di belakang mereka. Ming Yue bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
“Lihat mereka…hihihi… romantisnya…”
“Sepertinya mereka sedang bulan madu....”
“Pasangan muda manisnya…”
“Jadi rindu dengan suami…”
Lu Ming juga mendengarnya. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum kepada rombongan ibu-ibu itu. Dia senang, sangat senang mendengarnya.
“Anak muda, istrimu cantik sekali.” Salah satu dari mereka berkata.
Lu Ming tersenyum. Dia menoleh kepada Ming Yue dan senyumnya semakin lebar. Telinga Ming Yue memerah. Membuat Lu Ming ingin mengodanya. “Saya sangat beruntung memiliki istri yang cantik.” Lu Ming berkata, membuat ibu-ibu itu terkikik.
Ming Yue merasa pipinya memanas, tidak usah melihat ke kaca pun dia tahu jika pipinya merona. Dia meremat tangan Lu Ming dan menancapkan kuku-kukunya.
__ADS_1
“Auww.” Lu Ming memekik.
Ming Yue menoleh dan tersenyum. “Kakak ipar jangan bercanda.” Dia menghempaskan tangan Lu Ming dan berjalan duluan
Di depan Ming Yue jalannya bercabang tiga, dia tidak tahu harus ke arah yang mana, Fu Yu dan Fu Qing sudah tidak terlihat. Ming Yue berhenti dan menunggu Lu Ming. “Lu Ming, cepat.” Dia berteriak kepada Lu Ming yang malah asik berjalan sambil ngobrol dengan rombongan ibu-ibu tadi. Dia sebenarnya bisa saja mengambil jalan yang paling banyak ada bekas jejak kakinya, tapi belum tentu itu adalah arah yang benar. Lu Ming juga sedang tidak memperhatikannya, bisa-bisa nanti mereka malah terpisah dan Ming Yue tersesat. Dia tidak takut sih, tapi akan repot kalau sampai itu terjadi.
“Benarkan? Tadi dia itu hanya malu.” Lu Ming berkata, dan empat ibu-ibu itu terkikik.
“Anak muda, istrimu itu sepertinya tidak bisa hidup tanpamu.” Ibu-ibu yang paling langsing dan memakai baju ungu berkata.
Lu Ming melihat ke arah Ming Yue dan berkata sambil menerawang. “Aku yang membuatnya begitu.”
Ming Yue merasakan tatapan Lu Ming, hatinya sedikit melompat. Dia merasa jika Lu Ming seperti serigala yang sedang menatap little red, mata kelaparan yang ingin menelannya bulat-bulat. Ming Yue mengalihkan pandangannya, bukannya dia tidak tahu atau tidak peka, dia hanya ingin menghindar. Ming Yue belum pernah jatuh cinta dan dia tidak tahu bagaimana rasanya, tapi yang dia rasakan ketika Lu Ming menatapnya seperti itu, Ming Yue tahu jika dirinya mulai terbawa perasaan.
“Apa yang kau lamunkan?” Lu Ming sudah berada di depan Ming Yue dan rombongan ibu-ibu itu sudah jauh di depan mereka.
Ming Yue menghela nafas. “Ayo.” Dia tidak mau memberitahu Lu Ming apa yang baru saja dia pikirkan.
Lu Ming mengandeng tangan Ming Yue dan mengambil jalan yang tidak ada bekas jejak kakinya.
“Kenapa kita ke sini?” Ming Yue menunjuk rombongna ibu-ibu tadi. Tidak ada yang lewat jalan ini, dia jadi curiga jangan-jangan Lu Ming beneran kerasukan roh serigala dan ingin memangsanya.
__ADS_1
“Jalan pintas.” Lu Ming menjawab pendek.
Ming Yue tidak percaya bergitu saja. “Kalau begitu kenapa mereka tidak lewat sini juga?” Lu Ming pikir dia bodoh. Kalau ingin berbohong setidaknya pakai sedikit logika.
“Tujuan kita berbeda.” Lu Ming tahu jika Ming Yue tidak percaya kepadanya. “Aku tidak mungkin mengikatmu di hutan.” Dia menambahkan. Seberapa buruk dia di mata Ming Yue, sampai hal sekecil ini saja dia tidak mempercayainya.
“Oh.” Ming Yue ber-oh dan melangkah maju.
Mereka berjalan selama kira-kira sepuluh menit dan Ming Yue bisa mendengar suara Fu Yu dan Fu Qing dari kejauhan. Ming Yue melihat ke depan dan barisan pohon buah persik dengan buah yang mengantung pada setiap rantingnya mulai terlihat, dia melepaskan tangan Lu Ming dan berlari ke sana.
“Uwah…” dia berjinjit dan menetik buah persik, dia menggosok permukaan buah dengan bajunya dan langsung mengigitnya. Air dalam buah itu keluar bersama dengan gigitannya dan membasahi bibir, Ming Yue menjulurkan lidahnya, sangat manis dan danging buahnya krispi, Ming Yue memetik satu lagi dan melemparkannya kepada Lu Ming. “Cobalah, ini sangat manis.” Dia berkata.
Lu Ming menatap buah persik di tangannya dengan perasaan tidak menentu. Sungguh ironis sekali, makanan pertama yang Ming Yue berikan kepadanya adalah sesuatu yang tidak bisa dia makan, dia menadangi buah itu sejenak lalu memasukaannya ke dalam kantong baju.
Fu Yu yang melihat semua itu menepuk bahu Lu Ming dengan prihatin. “Kakak berjuanglah.” Dia memberikan semangat.
Mereka makan siang di kebun dan baru pulang sore harinya.
“Berhenti makan, perutmu akan sakit nanti.” Lu Ming merebut buah persik dari tangan Ming Yue. Gadis itu sudah memakan terlalu banyak, buah persik bersifat asam dan dia takut Ming Yue sakit perut kalau terus memakannya
“Ini yang terakhir.” Ming Yue mencoba merebutnya kembali tapi Lu Ming mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ming Yue melompat dan sepontan Lu Ming menangkapnya. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, jantung Ming Yue berpacu, dia bisa merasakan telapak tangan Lu Ming yang panas berada di pinggangnya. Tiba-tiba dia merasa bibirnya kering dan kemudian menjilatnya. “Lu Ming, turunkan aku.”
__ADS_1
Lu Ming menatap bibir Ming Yue, dia menundukkan kepalanya dan… dia menurunkan Ming Yue. melemparkan buah persik kepada Ming Yue, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat-cepat. Dia hampir saja mencelakakan diri, Ming Yue baru saja memakan buah persik, air buah itu pasti masih ada di dalam mulutnya. Dia pikir dia sudah gila, otaknya selalu menyuruhnya untuk melakukan hal yang tidak-tidak.
Ming Yue yang mengira jika Lu Ming akan menciumnya, berdiri seperti patung di halaman rumah. “Gila, aku sudah gila.” Dia mengigit buah persiknya. Dari mana datangnya pikiran seperti itu. Dia mengunyah dengan cepat dan menelan sekaligus.