
“Good night, baby.”
Tadi, ketika Lu Ming membuka pintu, Ming Yue masih sedikit terjaga. Dia berpura-pura tidur karena tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Lu Ming. Saat Lu Ming mengecup dahinya, kesadaran Ming Yue kembali pada tubuhnya, dia berusaha untuk tidak bereaksi, mengatur detak jantungnya agar tidak berdebar.
Kalau sampai ketahuan, suasananya akan semakin canggung.
Setelah tangan Lu Ming yang melingkari tubuhnya mengendur dan nafas pria itu menjadi teratur, barulah Ming Yue merasa lega.
Dia membuka matanya, dan…
“Belum tidur?” Lu Ming berkata.
Ming Yue mendelik, ternyata Lu Ming menipunya. Pria itu tidak tidur, mata pria it masih terbuka lebar, tidak ada tanda-tanda mengantuk sama sekali.
Lu Ming menyeringai, sejak awal dia sudah tahu jika Ming Yue hanya pura-pura tidur. Dia sengaja berpura-pura tertidur untuk menggodanya, Lu Ming ingin melihat bagaimana reaksi Ming Yue saat tertangkap basah.
“Aku lapar.” Ming Yue masih bisa berkelit. Dia tidak mau mengaku begitu saja, melepaskan tangan Lu Ming yang memeluknya.
Lu Ming terkekeh, Ming Yue masihlah Ming Yue, dalam situasi apapun dia masih bisa mencari alasan. Tapi Lu Ming juga tidak mau kalah. Dia tidak akan membiarkan Ming Yue lepas begitu saja. Dia mengunci tubuh Ming Yue dengan tangan dan kakinya. “Aku juga lapar.” Dia berkata. Suaranya serak dan berat, sarat dengan keambiguan.
Pupil mata Lu Ming menggelap. Pipi Ming Yue yang merona dan mata besar yang jernih itu mentapnya tanpa berkedip. Lu Ming yang awalnya hanya ingin menggoda jadi tergoda.
Dia menelan ludah. Mencoba untuk tetap berpikiran jenih, tapi instingnya melakukan hal yang lain. Menyelesaikan apa yang tadi belum selesai, tanpa dia sadari Ming Yue sudah berada di bawahnya, kedua tangannya menahan tangan Ming Yue.
Lu Ming menatap Ming Yue lekat. “Ming Yue, kalau kamu tidak menolak, aku anggap kamu setuju.” Nafas Lu Ming mulai kasar dan memburu. Kesadarnnya hanya tinggal seutas, kalau Ming Yue tidak berkata tidak sekarang juga, dia tidak akan berhenti walaupun nanti Ming Yue memohon kepadanya untuk berhenti.
“Lu Ming…” Ming Yue tidak menyelesaikan perkataannya, Lu Ming membungkamnya mengunakan bibinya. Ming Yue tertegun, dia menatap Lu Ming dengan bingung. Dua detik kemudian di tersadar dan mendorong Lu Ming.
__ADS_1
Sekarang gantian Lu Ming yang berada di bawah. Ming Yue duduk pada perut pria itu dan menatapnya dengan mata yang berkobar, “Kau mau langsung makan makanan penutup tanpa cuci tangan.” Ming Yue berkata diantara giginya yang bergemeletuk. Dia emosi, Lu Ming sungguh tidak mempunyai etika, hanya karena dia menunjukan sedikit ketertarikan, dia ingin langsung melompat ke atas ranjang!
Ming Yue menggertakan giginya, Lu Ming belum menyatakan cinta kepadanya!
Lu Ming tersentak, perkataan Ming Yue membawanya kembali sadar. Dia mengutuk dirinya yang mudah tebakar hawa nafsu, Ming Yue pasti menganggapnya sebagai pria mesum. Dia menyesal karena tidak berpikir lebih dulu sebelum berbuat. “Maaf,”
Pagi harinya,
Saat cahaya matahari menerobos masuk melalui gorden yang tidak tertutup rapat, Ming Yue membuka matanya.
Dari kamar mandi terdengar suara gemericik air, Ming Yue sudah tidak heran jika Lu Ming masih berada di rumah padahal hari sudah siang. Pria itu sekarang sudah sering terlambat, bahkan dia juga tidak jarang membolos kerja.
Lu Ming bilang, dia bosnya, jadi bebas mau melakukan apa saja.
Ming Yue setuju, perusahaan tidak mungkin tiba-tiba bangkrut karena bosnya mengambil cuti satu atau dua hari. Saat sebuah system sudah terbangun, mereka bisa berjalan sendiri tanpa harus didorong.
Ming Yue berkedip, memproses apa saja yang terjadi semalam.
Benar, semalam Lu Ming menyatakan cinta kepadanya.
Lu Ming menyukainya,
Pria itu bilang dia menyukainya.
Ming Yue tersenyum, baginya ini adalah pertama kalinya dia merasakan sesuatau yang seperti ini, saat Lu Ming mengatakan jika dia menyukainya, Ming Yue merasa seperti terbang ke awan. Semua keraguan dan kebimbangannya menghilang.
Sekarang dia yakin jika ceritanya memang sudah berubah dari cerita aslinya.
__ADS_1
Lu Ming tidak jatuh cinta kepada Gu Anra, tapi jatuh cinta kepadanya.
Bibir Ming Yue semakin mengembang,
Lu Ming yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Ming Yue berguling di tempat tidur sambil tersenyum-senyum, ikut tersenyum. Semalam, mereka berdua telah setuju untuk menjadi pasangan yang sesungguhnya. Sekarang mereka bukan lagi tunangan di atas kertas. Hubungan mereka telah resmi berpacara.
Walaupun Ming Yue mengatakan dia ingin mencobanya, Lu Ming tetap bahagia. Meskipun status hubungan mereka baru simulasi pacaran, hal itu tidak mengurangi rasa kebahagiannya. Dia yakin, asalkan diberi kesempatan, dia bisa melewati masa training tiga bulan yang Ming Yue ajukan dan membuat gadis itu jatuh cinta kepadanya.
Yang lebih penting lagi, hari ini adalah kencan pertama mereka.
“Ming Yue, segera bangun. Banyak yang harus kita lakukan hari ini.” dia berkata. Semalam dia tidak bisa tidur saking senangnya, begitu matahari terbit, dia langsung bersiap.
Ming Yue menolah ke arah suara, “Ahh!” dia memekik, menutup matanya dengan telapak tangan. Lu Ming keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi bagian terpentingnya saja. “Kenapa tidak memakai baju.” Ming Yue menggerutu, tidak tahu kenapa dia merasa malu melihat Lu Ming bertelanjang dada, padahal sebelumnya dia biasa saja, mau pria itu berpakaian atau tidak, di mata Ming Yue itu sama saja.
Tapi ada yang berbeda pagi ini, saat dia melihat perut berotot dan dada bidang serta kaki kokoh Lu Ming, Ming Yue merasa pipinya panas.
Lu Ming tertawa kecil, reaksi Ming Yue benar-benar fresh. Dia kira selama ini tubuhnya kurang menarik karena setiap kali dia memperlihatkannya, gadis itu tidak bereaksi. Ternyata bukan tubuhnya yang kurang bagus, tapi selama ini Ming Yue yang tidak peduli.
Melihat telinga Ming Yue yang memerah dan matanya yang mengintip dari sela-sela jarinya, Lu Ming jadi ingin menggodanya. Dia menyebrangi ruangan dan berhenti di samping tempat tidur. “Atau mungkin kita tidak usah jadi pergi saja,” dia mengupas tangan Ming Yue yang menutupi matanya. Lalu dia membawa tangan Ming Yue untuk menyentuh dadanya.
Mata Ming Yue membesar, dia mencoba menarik tangannya, tapi Lu Ming tidak melepaskannya. Dia menggeser tangan Ming Yue kebawah dan meraba perutnya. “Hmm?” Dia menaikan alisnya.
Lu Ming menyeringai. Expresi di wajah Ming Yue dan pipinya yang memerah membuatnya tidak mau berhenti, dia mencondongkan tubuhnya.
Aroma afters have dan shower gel dari tubuh Lu Ming menginvansi indra penciuman Ming Yue. Dia membeku, otot prut Lu Ming di bawah telapak tangannya terasa sangat kencang. “Lu Ming…” dia terbata. Ming Yue tidak bisa berkonsentrasi, dia menatap Lu Ming dengan mata yang berkabut. Pikirannya blank.
Di saat situasi semakin memanas, ponsel Ming Yue berbunyi.
__ADS_1
Mereka berdua tersentak.
Ming Yue mencari ponselnya dan Lu Ming kabur ke ruang ganti.