MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
90.


__ADS_3

Ming Yue melihat semua itu dengan bingung. Dia menatap Lu Ming dan bertanya kesalahan apa yang sudah dia perbuat. Tapi pria itu tidak menangkap isyarat matanya karena sedang sibuk menghentikan paman Ahn yang sedang menelpon seseorang dan merencanakan konferensi pers besok pagi untuk mengumumkan pembatalan pernikahan.


Ming Yue mendesah di dalam hati, jika situasi ini berlanjut maka pernikahannya bisa benar-benar dibatalkan. Lu Ming kemana perginya otak cemerlang mu itu?


Ming Yue menurunkan pandangannya dan berkata dengan lirih. "Aku hamil."


Sontak semua orang di ruangan itu berhenti berbicara dan menatapnya dengan mata melotot saking kagetnya.


"Apa?"


"Bagaimana bisa?"


"Lu Ming, kau brengsek!"


Dimulai dari kakek Lu, Lu Ming lalu Fu Yao, mereka saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.


Fu Yao berdiri dengan bersungut-sungut sambil mengangkat bantal ke udara lalu memukulkannya ke kepala Lu Ming sekuat tenaga. "Pria brengsek! Siapa yang mengajarimu untuk merusak anak gadis orang lain!" Pekiknya marah. Setelah memukul beberapa kali barulah dia merasa puas dan kembali duduk.


Fu Yao memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan menatap Ming Yue lembut. "Yueyue kau tidak perlu takut. Mama akan buat dia bertanggungjawab." Dia melirik Lu Ming geram kemudian kembali menatap Ming Yue dengan penuh kasih sayang. "Kalau dia membuatmu sakit hati atau membuatmu kesal, kau harus bilang kepada mama. Mama akan memberinya pelajaran." Lanjutnya kemudian melemparkan tatapan penuh ancaman kepada Lu Ming.


"Lu Ming bukankah kau..." Kakek Lu berhenti di tengah-tengah kalimat dengan kikuk dan menatap Lu Ming dengan tatapan bersalah.


Lu Ming tidak menghiraukan ucapan kakeknya dan menatap Ming Yue dengan linglung. Dia tidak ingat pernah melakukannya. Oh Tuhan, Ming Yue pasti akan marah jika dia berkata dia melupakannya. Dia mengusap wajahnya kasar sebelum menatap Ming Yue lekat.


Dia harus ingat. Harus ingat!


Bagaimana dia bisa melupakan bagaimana Lu Mingyue. ** dibuat! Dia adalah pendosa!


Ming Yue menangkap kalimat menggantung yang diucapkan oleh kakek Lu, dia mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. Dia kemudian menarik tangan Lu Ming agar pria itu mendekat kepadanya sebelum berbisik di telinganya menanyakan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Lu Ming yang mendengarkan bisikan pertanyaan dari Ming Yue seolah dicambuk kesadarannya dan kembali menjadi Presiden Direktur yang dengan pikiran rasional.


Lu Ming berdehem kemudian berkata dengan nada tinggi untuk menarik perhatian semua orang kepadanya.


"Dengarkan aku."


Setelah semua orang diam dan fokus kepadanya barulah dia bertanya apa titik permasalahan yang mendasari keputusan ibu dan kakeknya untuk membatalkan pernikahannya dengan Ming Yue.


Baru satu jam kemudian kesalahpahaman itu bisa diurai dan pernikahannya terselamatkan. Lu Ming menggandeng Ming Yue keluar dari ruang studi dengan hati cemas dan gugup.


Dia masih belum mengingat kapan dia dan Ming Yue membuat Lu Mingyue. **.


Ming Yue duduk di atas kasur sedangkan Lu Ming berdiri di hadapannya. Mereka saling menatap tanpa ada yang berbicara lebih dulu. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah kesalahpahaman yang terjadi barusan Ming Yue menyadari sesuatu jika dirinya telah egois dalam mengambil keputusan. "Lu Ming, selama ini kau selalu mengikuti keinginanku tanpa protes. Apa kau tidak merasa keberatan?" Ming Yue membuka suara. Belajar dari pengalaman tadi dia tidak ingin menyimpan pikirannya sendiri dan menjadikannya duri di dalam hati.


Bagi Ming Yue yang selama hidup dia jalani tanpa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, wajar jika dia memiliki trauma dan rasa takut jika dirinya akan melakukan hal sama dengan apa yang ayah dan ibunya lakukan kepadanya. Walaupun Ming Yue terlihat baik-baik saja dari luar sebenarnya gadis itu memiliki hati yang rapuh kalau tidak Ming Yue mengakhiri....


Lu Ming mengepalkan tangannya dan menahan keinginannya untuk memukul sesuatu setiap kali dia mengingatnya, dia memejamkan matanya kasar untuk mengenyahkan pikiran buruknya. Semua itu tidak terjadi dan dia tidak akan membiarkannya terjadi lagi.


Ketika Lu Ming membuka matanya kembali, emosinya sudah kembali stabil dan dia menatap Ming Yue dengan senyum kecil di sudut bibirnya. "Yueyue, jangan khawatir kakek dan mama bukan orang yang kolot. Mereka tidak akan memaksamu untuk punya anak." Tuturnya dengan menyakinkan.


Ming Yue menghela nafas sedikit berat lalu menatap Lu Ming lekat. "Bagaimana denganmu?"


Lu Ming terdiam sejenak. Bohong jika dia berkata tidak masalah, tapi kuga bukan berarti jika dia tidak setuju dengan keinginan Ming Yue untuk childless.


Dan Lu Ming tentunya tidak akan menempatkan Ming Yue pada posisi yang akan membuatnya tidak bahagia. Baginya kebahagiaan Ming Yue adalah nomor satu, mau punya anak atau tidak, Lu Ming tidak peduli akan hal itu. Memang benar jika dia sangat menginginkan kehadiran Lu Mingyue. **, tetapi dia tidak akan menuntut Ming Yue untuk melahirkan.


Dia bisa memahami kenapa Ming Yue memiliki ketakutan yang begitu mendalam soal melahirkan, tentunya itu bukan semata karena rasa sakit ketika melahirkan ataupun efek samping yang diberikan oleh kehamilan kepada tubuhnya. Bukan juga ketakutan akan trauma yang kan terjadi setelah melahirkan. Ketakutan Ming Yue lebih besar dari semua itu.

__ADS_1


Ming Yue, gadis itu walaupun kelihatannya dia masa bodoh dengan apapun yang terjadi, Lu Ming tahu jika sebenarnya apa yang dikatakan oleh Mu Jena tentang Ming Yue adalah benar. Ming Yue adalah gadis kurang kasih sayang yang mendambakan kehangatan keluarga.


Bagi seorang anak kasih sayang dan kehangatan dari orang tuanya merupakan elemen yang sangat penting dalam masa pertumbuhannya dan mempengaruhi masa depan anak itu. Jangan mengira jika anak kecil tidak akan mengerti dengan perkataan atau perbuatan menyakitkan yang kita berikan kepadanya saat mereka masih kecil. Justru mereka akan mengingat dan membawa semua kenangan buruk itu sepanjang hidupnya.


Ming Yue adalah salah satunya, yang dia ketahui tentang dirinya adalah anak yang tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan. Kehadirannya dianggap sebagai pengganggu seperti gulma bagi kedua orangtuanya. Hal itu tertanam di dalam dirinya sejak dia kecil sampai sekarang, meskipun Ming Yue terlihat sudah berdamai dengan hal itu tapi hal itu tidak akan pernah bisa dia lupakan dan mejadi bayangan di dalam hatinya.


Bayang-bayang itu menjadi sebuah trauma yang membuatnya takut dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Ming Yue takut jika dia akan melakukan apa yang kedua orangtuanya lakukan kepadanya kepada anaknya nanti.


Trauma Ming Yue memang bisa disembuhkan. Lu Ming sudah berkonsultasi dengan psikiater, traumanya bisa sembuhkan dengan cara menggantikan kekurangan kasih sayang yang selama ini tidak Ming Yue dapatkan dari orang tuanya.


Lu Ming bisa memberikan semua kasih sayang yang Ming Yue butuhkan. Tapi dia tidak mau jika cintanya kepada Ming Yue dikotori oleh keinginan untuk menyembuhkan trauma Ming Yue karena dia menginginkan seorang anak. Dia tidak mau seperti itu.


Oleh karena itu terlepas trauma Ming Yue bisa sembuh atau tidak, Lu Ming tidak peduli karena dia akan memberikan semua cintanya kepada Ming Yue tanpa harus diminta. Punya anak ataupun tidak, tidak akan mempengaruhi apa yang akan dia berikan kepada Ming


Yue apalagi rasa cinta yang dia miliki untuknya. Dia akan mencintai Ming Yue-nya beserta dengan semua ketidak sempurnaan yang dia miliki.


Ming Yue bisa merasakan cinta yang begitu besar dari mata pria itu menatapnya. Hal itu membuatnya sedikit grogi sehingga dia menurunkan pandangan matanya agar tidak bertatapan dengan mata Lu Ming.


Dia memang senang melihat Lu Ming begitu mencintainya, namun di sisi lain dia merasa telah membohongi pria itu.


Walaupun biksu itu mengatakan jika dia adalah Ming Yue yang sama dengan Ming Yue di dunia ini, dia belum bisa menempatkan dirinya sebagai Ming Yue tanpa mengingat kehidupannya sebagai Ming Yue yang lain.


"Lu Ming, bagaimana kalau... ah, lupakan." Dia menggelengkan kepalanya kasar. Ming Yue ingin memberitahu Lu Ming tentang transmigrasi jiwa yang dia lalui tapi kemudian dia menjadi takut dengan reaksi Lu Ming, bagaimana jika dia tidak bisa menerimanya lalu meninggalkannya. Lebih parah lagi bagaimana kalau bukan hanya itu yang terjadi tapi Lu Ming jadi membencinya dan menuduhnya telah merebut tubuh orang yang dia sayang.


Ming Yue tidak berani menatap Lu Ming dan terus menunduk. Inilah yang dia takutkan dari jatuh cinta, ketika seseorang sudah jatuh cinta mereka akan memikirkan semua untung-rugi, gain and loss dalam semua hal yang dia lakukan. Masalah yang sebenarnya mudah akan terlihat rumit dan semut akan berubah menjadi gajah


Lu Ming menatap puncak kepala Ming Yue sebelum tangannya terulur untuk mengangkat dagunya dengan lembut. Dia tidak tahu persis apa yang sedang Ming Yue pikirkan, mungkin dia sudah bisa menebaknya sedikit.


"I love you."

__ADS_1


__ADS_2