MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
68.


__ADS_3

Pada setarus tahun yang lalu tempat itu merupakan sebuah tambang emas. Setelah emasnya dikeruk habis, tempat itu ditinggalkan dan menjadi terbengkalai. Tambang itu kemudian di ambil alih oleh militer negara dan dijadikan sebagai penjara militer.


Di dalamnya terdapat kurungan dari jeruji yang ditanam pada dinding-dinding, yang mungkin penghuninya adalah seorang penjahat berbahaya yang mengancam kedaulatan negara, penghianat bangsa, mata-mata rahasia yang tertangkap saat hendak mencuri informasi, pembunuh bayaran atau malah seorang psikopat.


Drip, drip, drip…


Suara air yang bocor dari langit-langit itu jatuh ke lantai dibawahnya. Lantai tanah liat itu sudah lama berubah menjadi kubangan lumpur yang akan membuat orang tergelincir jika tidak memakai alas kaki dengan sol anti slip.


Tidak adanya cahanya matahari yang masuk membuat udara di dalam gua lembab dan berbau spora jamur. Satu-satunya cahanya bersumber dari lampu bolam kuning berwatt kecil yang terinstal dengan jarak interval tujuh meter, di pasang menggantung dari langit-langit.


“Mati! Mati! Mati kau!” lamat-lamat terdengar suara orang mengutuk. Kalimat itu diucapkan dengan penuh kebencian dan dendam. Seumpama orang yang dikutuk itu mendengarnya, mungkin dia akan bergidik.


Para tahanan yang mendengarnya hanya bisa berharap orang itu segera menyelesaikan kutukannya. Mereka sudah bosan mendengarkan setelah setengah tahun lamanya orang itu hanya bisa mengutuk dengan kalimat yang sama.


Tapi dikarenakan jarak dari sel ke sel cukup jauh mereka jadi sulit untuk menyuruhnya diam. Sebenarnya mereka bisa saja menegurnya dengan bertetiak, hanya saja orang itu tidak pernah menggubris teguran mereka.


“Mati! Mati! Mati kau!” orang itu berteriak semakin menjadi. Penghuni sel yang paling dekat dengannya bisa melihat jika tahanan di dalam sel di sampingnya itu, entah dari mana, dia bisa mendapatkan sebuah boneka voodoo dari Jerami. Dengan menggunakan garpu yang berhasil dia disembunyikan, orang itu berkali-kali menusuk pada bagian jantung dan kepala boneka voodoo di tangannya.


Penghuni sel paling dalam itu adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Pada saat wanita itu dibawa masuk ke gua ini, mereka bertanya-tanya kejahatan apa yang telah wanita itu lakukan sampai membuatnya masuk ke tempat ini. Tapi sekarang mereka sudah tidak heran lagi, penyebab wanita muda itu masuk penjara adalah karena dia gila. Mungkin dia tertangkap saat sedang mencoba menyantet presiden atau mentri.


Setelah satu jam lamanya kutukan orang itu mulai tidak terdengar dan gua itu kembali hening.


Tap, tap,tap…


Seketika semua orang menjadi waspada.

__ADS_1


Mantan pimpinan mafia sedang memotong berewoknya, dia menggunakan sebuah batu yang susah payah dia asah dan baru setelah satu setengah bulan dia berhasil membuat batu itu sedikit tajam. Brewok yang sudah dua tahun tidak di cukur itu sekarang panjang dan gimbal, karena sering gatal dia tidak tahan lagi sehingga membuat pisau dari batu. Beruntung rambutnya botak sehingga dia tidak perlu mencemaskannya dan bisa focus dengan brewoknya saja.


Ketika mendengar langkah kaki itu dia spontan menyembunyikan pisau batunya. Duduk bersila lalu memjamkan matanya, pura-pura tidur.


Para napi lainnya juga melakukan hal yang serupa, pura-pura tidur tapi kuping mereka menegang, mempertajam pendengaran mereka. Beberapa dari mereka yang memiliki rambut panjang, menggerainya ke depan untuk menutupi mata mereka yang sedang mengintip.


Penjara gua ini memiliki jadwal yang tetap. Penjaga akan melakukan keliling tiga kali, yaitu: pada saat sarapan pada pagi hari, siang hari dan pada tengah malam. Di luar itu tidak akan ada yang datang, kecuali ada tahanan baru, ada tahanan yang mati dan petugas datang untuk mengambil mayatnya atau… masa exsekusi seseorang sudah tiba.


Ketika langkah kaki itu semakin mendekat, napi-napi itu tanpa sadar menelan ludah. Mereka mengingat hari keberapa sekarang, apakah sekarang giliranya atau sel mana yang bau bangkai.


Entah disengaja atau tidak terdeteksi, ketika ada yang mati, jasad orang yang mati itu baru diamabil setelah membusuk sekitar satu minggu.


Hanya penghuni sel paling dalam yang masih sibuk menusuk boneka voodoo. Dia tidak lagi berteriak mengutuk. Kutukan itu dia ucapkan di dalam batin.


Seseorang dengan mantel hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, berjalan dengan ditemani oleh dua sipir. Wajahnya tidak terlihat karena dia menggunakan topeng, tapi dari perawakan tubuhnya orang itu kemungkinan adalah seorang wanita. Entah itu wanita jadi-jadian atau pria yang bertubuh cebol sehingga mereka salah paham.


“Dia tidak akan mati kalau kau tidak mencekiknya secara langsung.” Orang itu berhenti di depan sebuah sel. Walaupun nada bicaranya kasar, suaranya sangat enak didengar. Seperti nyanyian siren yang menghipnotis nelayan-nelayan yang akan mereka jadikan santapan. Dua orang sipir di sampingnya sampai bersemu mendengarnya. Beruntung pencahayan di tempat ini remang-remang sehingga tidak ada yang menyadarinya.


Napi di dalam sel itu menoleh. Boneka voodoo jerami di tangannya jatuh ke lantai. “Mike.” Nama itu meluncur dari bibirnya yang pucat dan terkelupas karena kurang gizi. Saat mendengar suara itu, dia tidak percaya, bisa-bisa itu hanyalah imajinasinya lagi.


“Mike.” Dia mengulang perkataanya. Masih belum percaya jika yang berdiri di hadapannya itu nyata.


Setelah masuk ke tempat ini, berapa kali dia berharap ada yang datang menjemputnya dan mengeluarkannya dari tempat seperti neraka ini. Ribuan kali dia memohon untuk di bebaskan, berapa kali dia mengatakan jika dirinya tidak bersalah, dia fitnah. Tapi tidak ada yang percaya hingga… dia tidak tahu sudah berapa hari dia di dalam sini, saat ini siang atau malam… dia sudah tidak tahu lagi.


Tapi demi dendamnya, hingga saat ini dia masih bertahan. Suatu hari nanti jika dia sudah bebas, dia akan membunuhnya.

__ADS_1


Orang bermantel hitam itu menatap orang didepannya. Dia tidak tahan dengan pemandangan didepannya, seragam penjara berwarna oranye itu telah memudar dan berlubang, dekil serta mengeluarkan bau menjijikan. Seperti tumpukan sampah. Dia mengeratkan masker yang dia pakai.


“Keluarkan dia.” Dia berkata kepada sipir di sampingnya.


Lu Ming benar memenuhi janjinya.


“Sekarang buka matamu.” Lu Ming menepaskan tangannya yang menutup mata Ming Yue.


Begitu tangan Lu Ming tidak lagi menghalanginya untuk membuka mata, Ming Yue segera membuka matanya. “Well,” dia mengerjap. Yang pertama kali dia lihat adalah warna pink. Begitu banyak warna pink.


Mereka berada di sebuah kabin di tengah sebuah danau pink yang dipenuhi oleh sekawanan flamingo pink.


Lu Ming masih berdiri di belakang Ming Yue, dia mengulurkan kedua tangannya ke depan kemudian melingkarkannya pada pinggang ramping wanita di depannya. “You said, you want a pink word.” Dia berbisik.


Ming Yue bisa merasakan hembusan nafas Lu Ming yang menerpa daun telinganya. Hangat dan menggelitik. Dia menoleh dan mendapati pria itu menatapnya dengan lembut.


Untuk beberapa saat jantungnya berpacu sedikit lebih cepat. Ming Yue akui dia sedikit menyesali keputusannya kemarin. Seperti gurun pasir yang dilanda badai, setelah badai itu berlalu, gurun itu kembali tenang. Begitu juga dengan dirinya. Dia baru ingat jika dirinya adalah tokoh antagonis yang akan mati dengan tragis. Kemarin hatinya memang menggebu-gebu dan terbawa suasana, dia tanpa berpikir mengajak Lu Ming menikah.


Salahkan pada dirinya yang kurang pengalaman, dia menyalah pahami perasaanya. Yang dia rasakan kepada pria itu selama ini hanyalah sebuah ketergantungan, jauh dari kata cinta.


Dia hanya kecanduan dengan keberadaan Lu Ming yang selalu ada untuknya. dia menjadi tidak berpikir jernih dan menjadi bodoh. Apa bedanya dia dengan Ming Yue yang tergila-gila dengan Lu Ming?


Dia harus segera meluruskan masalah ini.


“Ada sebuah rahasia yang selama ini aku sembunyikan.” Dia berkata.

__ADS_1


__ADS_2