MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
82.


__ADS_3

Wajah Mu Jena langsung kecut. Dia tidak lagi bisa mempertahankan senyumnya. Apa yang dikatakan Lu Ming adalah setengah benar. Kenyataanya memang benar dia tidak punya uang untuk membeli skincare.


Bah! jangankan untuk membeli skincare! Untuk bisa tetap makan tiga kali dalam satu hari saja dia kesulitan.


Tapi dia belum sampai pada tahap menderita busung lapar.


Namun busung lapar akan segera menyerangnya jika keadaan terus begini.


Selama dua bulan ini dia bagaikan hidup di neraka.


Perusahaan ayahnya bangkrut.


Semua berawal seorang investor yang tiba-tiba menarik uangnya, tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya tapi tindakannya itu membuat para investor lain mulai mengikuti jejaknya. Satu persatu menarik dana mereka sampai akhirnya perusahaan tidak punya cukup likuiditas dan menyebabkan satu-satunya proyek yang menjadi harapan terakhir untuk membalikan keadaan tidak bisa dilanjutkan karena kekurangan dana.


Kemudian semuanya menjadi semakin buruk ketika bank menolak hutang yang diajukan sehingga membuat mereka terpaksa meminjam uang dari lintah darah yang bunganya tiga kali lipat lebih tinggi daripada bunga bank.


Dan semua itu belum selesai, keadaan semakin bertambah parah ketika bos lintah darat tiba-tiba menagih uangnya satu bulan lebih awal dari kontrak. Dan mereka yang tidak bisa membayar kembali uang itu sekarang harus bersembunyi seperti tikus untuk menghindari para debt colector.


Mu Jena yang sudah terbiasa hidup mewah tentu saja tidak bisa beradaptasi dengan keadaan itu. Dia tidak bisa hidup susah.


Hanya perlu waktu satu bulan baginya untuk kehilangan sepertiga berat badannya. Kulitnya yang selalu dirawat dengan perawatan mahal mengalami breakout ketika skincare-nya habis. Dia yang tadinya glowing berubah menjadi kusam, kuning dan berjerawat.


Semua kenalannya tiba-tiba menghilangkan secara serentak. Ketika mereka menghubungi saudara dan relasi, selalu saja mereka punya alasan untuk menutup telpon sebelum dia sempat mengatakan ingin meminjam uang. Ada yang tiba-tiba anaknya menangis, sinyal buruk dan ada juga yang pura-pura kebelet buang air. Pokonya semua orang menghindarinya seperti menghindari virus.


Satu-satunya harapan mereka adalah keluarga Lu. Berharap dengan hubungan yang miliki di masa lalu, keluarga Lu bersedia untuk memberikan bantuan. Tapi beberapa kali Mu Yan membawanya berkunjung ke kediaman Lu mereka selalu saja pengurus rumah tangga Ahn mengatakan jika tetua Lu tidak ada di rumah. Mereka tahu itu bohong, tapi apa yang bisa di perbuat? Mereka tidak bisa berbuat apapun.


Hal yang sama juga terjadi ketika mereka ingin menemui Lu Ming. Mereka bahkan tidak bisa melewati sekuriti di pintu masuk.


Hingga pagi tadi ketika dia keluar dari penginap untuk membeli makanan, seseorang memberikan informasi jika Lu Ming dan Ming Yue akan muncul ditempat ini. Dia tidak buang-buang waktu dan segera pergi ke lokasi. Begitu melihat dua orang itu dia langsung menghampirinya.


Tapi kali ini sasarannya bukan Lu Ming melainkan Ming Yue.

__ADS_1


Karena itulah dia mengabaikan kalimat menyakitkan dari Lu Ming. "Kakak Yue pasti sudah tahu apa yang terjadi di rumah Jena. Untuk kali ini saja, Jena mohon bantuan kakak..." Mu Jena memulai pertunjukannya, dia sengaja berbicara agak keras sehingga orang yang sedang lewat bisa mendengarnya. Ketika dia melihat beberapa orang menoleh kearah mereka dengan penasaran, dia melanjutkan, "Jena tahu kakak Yue belum bisa memaafkan mama...tapi mama tetaplah mama kakak... Jena... Kakak Yue..." Air mata mulai berjatuhan di pipinya dan dia sengaja berbicara dengan tersenggal-senggal.


Alis Ming Yue berkedut. Dia menatap Mu Jena dengan masam. Mau menggunakan simpati publik, huh? Pergilah ke kuil dan mintalah berkah kepada Buddha sebelum menantangnya!


Ming Yue mencubit pahanya dan seketika itu matanya memerah dan berkaca-kaca. Dia kemudian mendongkak lalu menyerot ingus—yang sebenarnya tidak ada, dari hidungnya.


Seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk tidak menangis. Lalu Ming Yue menoleh dan menatap Lu Ming dengan mata yang memerah dengan air mata yang menggenang, kemudian dia berkata dengan suara yang sedikit parau, "Lu Ming, kamu juga dengar bukan mama sedang membutuhkan bantuan dariku. Satu kali ini saja biarkan aku membantu mereka." Setelah kalimat itu diucapkan, dengan dramatis sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. "Aku tidak bisa diam saja dan melihat mama kesulitan, aku harus membantu mereka. Jena, katakan bantuan apa yang kalian perlukan, kakak akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu." Dia melanjutkan. Mengusap air mata di pipinya menggunakan punggung tangannya kemudian menoleh menghadap Mu Jena.


Mu Jena sedikit kaget, tidak menyangka jika akan semudah ini meminta bantuan kepada Ming Yue. Dia tidak menyiakan kesempatan dan langsung menjawab.


Takut jika Ming Yue akan berubah pikiran. "Kakak Yue, kami hanya membutuhkan tiga ratus miliar." Dia menyebutkan nominal yang dibutuhkan untuk membayar hutang dan membeli skincare.


"Tiga ratus miliar... banyak sekali. Aku tidak punya uang sebanyak itu..." Di dalam hati dia memekik, Kenapa kau tidak jadi lintah darat saja. Kau punya bakat alami!


Ming Yue menarik lengan kemeja Lu Ming dan menatapnya dengan tatapan memohon. Namun Lu Ming tetap diam. "Lu Ming..." Ming Yue merengek. "Mereka keluargaku. Sudah kewajibanku untuk membantu disaat mereka mengalami kesulitan. Dan juga... "


"Dan juga apa?" Tangan Lu Ming berimprovisasi dengan script Ming Yue, dia mengepalkan tangannya dan mengerutkan dahinya seperti sedang menahan diri untuk tidak membentak Ming Yue. "Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Mereka sudah bukan lagi keluargamu. Orang yang kau sebut ibu itu sudah meninggalkamu sejak kau masih bayi. Lalu adik tirimu itu ingin merebut calon suamimu. Apa kau tidak ingat?!" Lu Ming berkata panjang kali lebar. Semakin banyak kalimat yang dia ucapkan semakin hitam pula wajahnya.


"Astaga... Kasihan sekali dia. Ibu dan adik tirinya tega sekali."


"Ah, aku ingat sekarang. Dia putri pertama dari keluarga Ming itukan, saat itu kejadiannya sampai disiarkan di TV nasional, ibunya kabur dengan pria lain satu minggu setelah dia lahir. Kasihan sekali dia."


"Tidak kusangka Ming Yue mrngalami semua itu. Aku menyesal membencinya selama ini."


"Kenapa juga membencinya? Salah apa dia selain terlalu cantik."


"Benar, tidak ada alasan untuk membencinya. Terimakasih Tuhan telah mengirimkan presiden Lu untuknya."


"Ibunya mencampakkannya dan adik tirinya ingin merebut suaminya. Sungguh biadab. Miris sekali hidup Ming Yue."


"Kalau begitu pantas saja kalau dia tidak mau membantu."

__ADS_1


"Siapa yang durhaka? Ibunya. Ibunya yang durhaka!"


"CEO Lu jangan biarkan Ming Yue dimanfaatkan. Lingdungi istrimu."


Ketika keadaan tidak lagi berpihak kepadanya, Mu Jena menjadi panik. Dia berusaha keras untuk mengendalikan keadaan, dia tersenyum lemah dan berkata, "Kakak Yue, waktu itu mama tidak punya pilihan. Selama ini mama tidak pernah melupakan kakak, pada setiap hari ulang tahun kakak mama selalu menangis sepanjang malam. Menyalahkan diri dan menyesal karena tidak membawa kakak pergi bersamanya. Mama juga selalu berusaha untuk mengubungi kakak, tapi dia takut dan merasa tidak pantas untuk berhadapan dengan kakak." Kepalanya menunduk dan dia sesenggukan. "Kakak juga jangan salah paham. Jena tidak ada niat untuk merebut kakak Ming dari kakak. Itu semu karena mama melihat kakak tidak bahagia dengan pertunangan kakak, jadi mama berpikir untuk membebaskan kakak dari perjodohan yang kakak tidak suka." Mu Jena mengangkat kepalanya dan menatap Ming Yue dengan sayu.


Selama Ming Yue mendengarkan ocehan omong kosong yang keluar dari mulut Mu Jena, dia sudah selesai menyusun lima puluh paragraf kalimat pujian yang akan dia sampaikan saat memberikan penghargaan Oscar kepada Mu Jena.


Dia menghela nafas dengan sedikit berat. Kelenjar air matanya sudah lama berhenti mengalir, air matanya sudah kering. Dia kagum dengan kemampuan Mu Jena, selain aktingnya yang bagus, dia juga pintar menyusun script. Sangat disesalkan Mu Jena tidak terjun ke industri perfilman.


Aktingnya itu berhasil membuat setengah lebih dari para penonton untuk kembali berpihak kepadanya.


"Benarkah begitu? Kalau benar begitu seharusnya kalian datang lima tahun lalu ketika aku belum bertunangan." Ming Yue sedikit kehilangan kesabarannya. Permainan ini sudah tidak lagi terasa menyenangkan, dia sudah bosan dan ingin segera mengakhirinya.


"Kakak, itu..." Mu Jena ingin mengelak tapi Ming Yue tidak memberinya kesempatan.


"Darimana kalian tahu aku tidak bahagia dijodohkan dengan Lu Ming?" Ming Yue memotong. "Bukankah semua orang sudah tahu bagaimana tidak tahu malunya seorang Ming Yue mengejar Lu Ming." Dia menambahkan. Mendeklarasikan pencapaiannya.


Lu Ming yang mendengar pengakuan percaya diri dari Ming Yue hampir tersedak, dia menyembunyikan batuknya dengan ber-dehem.


Hal itu membuatnya mendapatkan lirikan tajam dari Ming Yue. Kalau bukan karena pria itu yang jual mahal, tidak mungkin dirinya mendapat julukan wanita tidak tahu malu yang tidak tahu diri terus mengejar pria setelah cintanya bertepuk sebelah tangan dan ditolak!


Ketika Ming Yue ingat dengan komentar-komentar menyakitkan hati pada akun media sosialnya, ingin sekali dia memelintir leher seseorang!


Lu Ming yang menangkap keberingasan pada mata Ming Yue merasakan punggungnya sedikit basah. Matanya sedikit merah dan dia menggerutu di dalam hati.


Salahkan dirinya yang sudah bucin dari orok. Betapa bahagianya dia ketika ditunangkan dengan Ming Yue. Dia pikir semuanya akan berjalan mulus dan sesuai keinginannya dan dia bisa lovey-dovey bersama dengan Ming Yue setiap hari.


Tapi kenyataan memukulnya dengan keras sehingga dia tidak tahu harus berbuat apa. Ketika dia tahu jika dirinya hanya diperlakukan seperti tiket menuju kebebasan, Ming Yue tidak memiliki perasaan kepadanya, Lu Ming merasa langit runtuh dan dunianya kiamat.


Cintanya kepada Ming Yue melekat terlalu erat sehingga dia tidak bisa melepaskannya dan hanya bisa dengan bodohnya cari-cari perhatian dan berharap Ming Yue akan melihatnya.

__ADS_1


Lu Ming tidak ingin merasakan lagi hari-hari itu, dia segera memutar otak mencari cara untuk memenangkan hati yang mulia Ming agar dia bisa selamat ketika sampai di rumah nanti.


__ADS_2