MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
56.


__ADS_3

“Kau pulang awal sekali,” cahaya matahari masih terasa hangat, tidak mugkin ini sudah jam lima. Tapi ketika Ming Yue melihat jam tangannya, sekarang memang sudah jam lima.


“Aku mem-booking tempat di Paradise Hotel, ayo makan malam di luar.” Lu Ming mengajak Ming Yue masuk, sebentar lagi, udara akan menjadi dingin. Dia tidak mau Ming Yue terkena flu atau demam.


“Baiklah.” Ming Yue menerima uluran tangan Lu Ming, mensetujui ajakannya untuk dinner di luar. Waktu itu dia tidak jadi makan di Paradise Hotel, walaupun Lu Ming sudah memberikan kartu member kepadanya, Ming Yue belum sempat ke sana.


Ketika Ming Yue bersiap-siap, Lu Ming menunggunya sambil mengutak atik ponselnya, ponsel Ming Yue yang sudah bertukar dengan miliknya.


Dia mengirimkan pesan kepada asisten Yun untuk memberitahunya jika untuk sementara waktu dia akan mengunakan nomor ini.


Asisten Yun yang menerima pesan tersebut, dia tahu itu adalah nomor ponsel nona Ming, dia punya seribu pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada presiden Lu, kenapa mereka bertukar nomor ponsel. Apakah presiden Lu menyukai gaya pacaran tahun 2000-an, di mana saat itu sedang tren-trennya gaya pacaran seperti itu, bertukar ponsel dengan pasangan.


Kalau benar seperti itu, selera presiden Lu sangatlah unik. Tapi belajar dari kesialan Kong Mubai, asisten Yun tidak berani menanyakannya dan hanya menebak-nebak di dalam hati saja.


Bisa-bisa dia juga gagal naik gaji.


Dia sudah berjanji untuk membeli rumah baru, rencananya dia kan membayar down payment-nya setelah mendapatkan gaji bulan ini. Anaknya dua tahun lagi akan masuk SMP, rumah itu akan dia jadikan sebagai mahar saat anaknya menikah nanti. Walaupun masih sangat lama, dia harus mempersiapkannya sejak dini.


Jadi, asisten Yun hanya menjawab pesan presiden Lu dengan seperlunya saja, tidak banyak tanya.


Lu Ming memasukan ponselnya ke dalam saku saat dia mendengar langkah kali Ming Yue menuruni tangga.


Ming Yue yang tidak berdandan sudah sangat cantik, namun ketika dia merias diri dan mengapplikasikan make-up ke wajahnya, dia menjadi semakin bersinar. Ketika Lu Ming melihat Ming Yue, dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak terpesona, dia tidak berkedip sampai Ming Yue berdiri di depannya.


Ming Yue memakai dress spaghetti hitam yang panjang roknya sampai ke mata kaki, dipandukan dengan syal bulu senada yang dia lilitkan pada bahunya, sekilas pemampilan Ming Yue terlihat sopan, tapi ketika dia melangkahkan kakinya, belahan yang yang tingginya melebihi setengah dari panjang kakainya, lima belas senti dari lutut. Dengan stiletto hitam tujuh inch, kaki Ming Yue semakin jenjang, **** dan berbahanya. Lu Ming jadi berpikir untuk membatalkan rencana dinner mereka, tidak usah pergi dan makan malam di rumah saja.

__ADS_1


“Ayo.” Ming Yue mengandeng tangan Lu Ming. Melihat betapa antusiasnya Ming Yue, Lu Ming menelan gagasannya. Dia tidak sampai hati membuat Ming Yue kecewa.


Dia sudah terlambat jika ingin memesan seisi restoran.


Malam itu Lu Ming membawa Ming Yue ke Paradise Hotel dengan hati ketar-ketir.


Tiba di Paradise Hotel, Lu Ming menjaga Ming Yue seperti suami yang paranod istrinya dibawa kabur pria lain.


Dia memberikan tatapan tajam kepada setiap orang yang melirik Ming Yue, termasuk waiter yang melayani mereka.


Waiter itu tidak berani berbasa-basi, setelah menanyakan pesanan mereka dia segera pergi. Sesampainya di belakang, dia meminta manager untuk bertukar customer dengan temannya.


“Manager Song, kasihanilah aku. Presiden Lu seperti akan membunuhku.” Qing Fang memohon, tangannya bergetar ketika dia menyerahkan notes pesanan ke pihak dapur.


Rumor yang mengatakan jika presiden Lu tidak berhubungan baik dengan tunangannya, jelas salah total.


Manager Song akhirnya mengemban tugas itu sendiri.


Ming Yue yang tidak peduli dengan sekitar, tidak tahu kalau Lu Ming bersikap seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya.


Meskipun Lu Ming terus menyebarkan aura membunuh, mereka berdua sangat menikmati malam itu, suasana di dalam restoran yang sangat nyaman dan tenang, pencahayaan yang redup membuat mereka ingin berlama-lama di sana, alunan biola yang dimainkan sang maestro di setting untuk menambah nafsu makan para pengunjungnya sehingga mereka makan lebih banyak dari semestinya.


“Lu Ming coba ini.” Ming Yue meletakan potongan jamur naratake ke atas piring Lu Ming.


Lu Ming tidak makan banyak, dia sejak tadi terus menerus meletakan makanan ke piring Ming Yue.

__ADS_1


Melihat Lu Ming memakan jamur pemberiannya, Ming Yue menambahkan makanan lain. “Ini juga.” Dia terus menambahkan hingga piring Lu Ming penuh.


Setelah piring Lu Ming penuh dan dia sibuk makan dengan makanannya sendiri, barulah Ming Yue bisa menikmati makanan sesuka hatinya. Tidak melulu mengunyah daging yang Lu Ming ambilkan untuknya. Kalau dia tidak menghentikan Lu Ming, besok pagi berat badannya akan naik.


Ming Yue tahu jika Lu Ming memberinya daging bukan untuk membuatnya gemuk, daging yang dimasak asam manis dan ditambah dengan saus Sinchuan itu adalah kesukaannya. Dia tidak masalah jika berat badannya bertambah satu sampai tiga kilo, dia juga merasa jika dirinya terlalu kurus, hanya saja kalau dia tidak makan sayur dan hanya makan daging, takutnya dia akan sembelit. Karena dia tidak mau memiliki masalah perut, apalagi yang membuatnya menghabiskan waktu lama di toilet, Ming Yue selalu berusaha makan seimbang dan tepat waktu.


Tapi Ming Yue meremehkan kemampuan Lu Ming, pria itu pernah bertugas di militer selama tiga tahun, tentu dia terlatih untuk makan dengan cepat. segunung makanan yang ada di piringnya itu segera habis, dia kembali melayani Ming Yue. Tapi kali ini dia tidak hanya menyumpit daging, dia juga memberikan sayuran untuk Ming Yue.


Tidak mungkin dia tidak tahu maksud dan tujuan Ming Yue mengisi piringnya dengan setumpuk makanan. Dia lalu sadar jika dirinya hanya memberikan daging dan melupakan sayur.


Makan maltan itu berakhir setelah dessert disajikan.


Ketika mereka keluar dari Hotel dan menunggu supir valet mengambil mobil mereka dari tempat parkir, Ming Yue merasa mereka sedang diamati. Feeling-nya mengatakan, orang yang sedang memata-matai mereka itu bukan paparazzi yang memang selalu membuntutinya, Ming Yue merasa ada aura yang tidak bersahabat.


Dia mencubit lengan Lu Ming, “Something fishy.” Dia menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


Lu Ming mengelus tangan Ming Yue yang melingkar pada lengannya. Dia sudah tahu, sejak di dalam restoran, dia sudah merasakannya.


Dia sengaja mengalihkan perhatian agar Ming Yue tidak menyadarinya. Dia pikir, dia bisa membereskan masalah itu tanpa harus diketahuinya. Biarkan Lu Ming yang akan mengurus semuanya, Ming Yue hanya perlu hidup dengan santai dan bersenang-senang setiap harinya, dia tidak perlu terlibat dalam hal-hal yang kotor.


Tidak lama kemudian mobil mereka datang.


“Ayo pulang.” Lu Ming membukakan pintu mobil untuk Ming Yue. Ponsel pribadinya, yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja, bergetar di dalam sakunya.


Untuk sepersekian detik, ada kilatan keji yang melintasi matanya.

__ADS_1


__ADS_2