MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
70.


__ADS_3

Ming Yue benar pergi berlibur seperti yang dia katakan kepada Lu Ming. Pesawat yang dia tumpangi membawanya ke kota J. Turun dari pesawat Ming Yue mengganti pakaiannya dan merubah penampilannya. Kemudian Ming Yue melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta menuju perbatasan.


Sampai di perbatasan Ming Yue memesan dua tiket bus yang akan berangkat besok pagi.


Setelah transportasi untuk perjalan selanjutnya beres, dia segera mencari penginapan untuk bermalam mengingat hari sudah mulai gelap.


Ming Yue berjalan dengan diikuti oleh Ron di belakangnya.


Sekitar seratus meter dari stasiun, setelah jalan yang sedikit menanjak, terdapat sebuah gapura dengan tulisan dalam ejaan Kanton.


Berhentilah Untuk Minum.


Itu adalah bunyi kalimat tersebut. Ming Yue masuk ke dalam sebuah bangunan yang pintunya terbuka, dan seperti namanya, aroma susu dan madu yang pekat langsung menyapa hidung. Di dalamnya adalah sebuah kedai, pada setiap mejanya terdapat sebuah kuali tanah liat yang dibawahnya ada tunggu arang yang menyala.


Bara itu yang membuat susu di dalam kuali terjaga kehangatannya, Ming Yue mengambil salah satu cangkir yang diletakan di samping kendi lalu mengisinya dengan susu hangat itu dan meminumnya. Setelah satu cangkir susu itu habis, dia merasa hangat dan perutnya agak kenyang. Kemudian dia menghampiri meja counter.


Seorang pria paruh baya bertubuh gempal dan rambut yang dipotong cepak seperti tentara duduk di belakang counter sibuk menulis pembukuan keuangan. Ming Yue mengetuk permukaan meja untuk menarik perhatiannya. “Dua kamar, berdekatan dan dekat dengan pintu keluar.” Ming Yue berkata.


Pria penjaga konter itu kembali menunduk. Dia membuka sebuah buku yang sepertinya itu adalah buku tamu, lalu kembali mengangkat kepalanya kemudian mengangguk kepada Ming Yue. Meminta kartu identitasnya lalu memberikan dua kunci kepadanya.


Ming Yue melemparkan satu dari kunci itu kepada Ron. Setelah Ron menerima kuncinya, dia menyusul Ming Yue yang sudah keluar lebih dulu.


“Bosmu sungguh mengerikan.” Seseorang menepuk bahunya dan berkat.


Spontan Ron menoleh, kapan bos penginapan itu bergerak? Dia sama sekali tidak menyadarinya.


Ron menjadi waspada. Di dalam perjalan ini, dia dan nona Ming sedang menyamar. Tidak ada yang tahu jika mereka adalah majikan dan pelayan. Setiap kali mereka bertemu dengan orang, jika ada yang bertanya mereka akan menjawab jika mereka akan pergi ke kampung halaman nenek mereka dan mencari kerabat yang sudah lama hilang.

__ADS_1


Sejauh ini banyak orang percaya dengan cerita karangan mereka. Bagaimana seorang bos penginapan di tempat terpencil seperti ini bisa membaca keadaan yang sesungguhnya.


Hal ini membuat kecurigaannya semakin kuat, sejak turun dari kereta dia sudah merasakannya. Ada yang tengah mengawasi mereka. Tapi setiap kali dia mengusutnya dia tidak menemukan apapun dan membuatnya berpikir jika itu mungkin hanya sebuah ilusi.


Sampai dia bertatapan langsung dengan mata bos penginapan. Dari luar pria paruh baya ini terlihat seperti bapak-bapak biasa, tapi matanya memberitahu Ron jika dia bukan orang biasa. Ada perasaan seperti dia sedang berhadapan dengan harimau yang tengah tidur, dan jika dia salah langkah dan tanpa sengaja membangunkan binatang buas yang sedang beristirahat itu. Dia akan menjadi makan malamnya.


Ron tidak bisa diam saja. Tugasnya adalah menjamin keselamatan dan keamanan nona Ming. Bahaya sekecil apapun, benar atau tidak atau bahkan jika itu adalah sebuah false alarm, dia tidak akan membiarkannya mendekat.


Maka Ron harus bertindak. Tapi belum selesai dia menganalisis keadaan, nona Ming sudah memanggilnya lebih dulu. “Ron.” dia hanya bisa berhenti dan segera menyusul majikannya.


Untuk sementara waktu dia akan menundanya.


Sebelum pergi dia memberikan tatapan memperingatkan kepada bos penginapan. yang ditanggapi oleh bos penginapan dengan mengedikkan bahu acuh tak acuh.


Melihat dua orang itu berjalan menjauh, dia menggeleng-geleng. “Ramalan pak tua itu ternyata benar.” Dia bergumam. Kemudian dia melepaskan merpati yang dia kurung di dalam sangkar lalu kembali duduk di kursinya di belakang meja konter di dalam kedai.


Di sisi lain..


Setelah Lu Ming membaca pesan masuk itu, wajahnya berubah menjadi tegang, rahangnya mengeras dan dan alis bertaut. Dia segera mengantongi ponselnya dan bergegas keluar.


“Presiden Lu.”


“Bos.”


Asisten Yun dan A Tai berseru bersama. Tapi Lu Ming sama sekali tidak menyahut. Dia segera masuk ke dalam lift dan menutupnya. Tidak memberikan kesempatan kepada dua bawahannya untuk menyusul.


A Tai yang paling pertama bereaksi. Dia segera menekan lift yang satunya, beruntungnya lift itu langsung datang. Dia dan asisten Yun segera masuk. Beruntungnya saat ini tengah malam sehingga tidak ada yang menghentikan lift di tengah jalan.

__ADS_1


Lift yang Lu Ming tumpangi berhenti di tempat parkir khusus untuknya. dia segera masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.


Ketika A Tai dan asisten Yun sampai, yang tersisa untuk mereka hanyalah kepulan asap dari knalpot.


“Sial! Sial! Sial!” Lu Ming memukul kemudi dengan tangannya. Menginjak pedal gas sampai maksimal. Menerobos lampu lalu lintas dan mengabaikan peringatan pelanggaran berlalulintas yang dikirim melalui ponselnya.


Untuk pertama kalinya Lu Ming merasa tidak kompeten, kacau dan bodoh.


Tidak! Ini bukan yang pertama! Tapi dia memang tidak pernah kompeten, kacau dan sangat bodoh.


Dia pernah jatuh ke dalam sebuah lubang dan kenapa dia mengulanginya kembali. Kalau bukan bodoh apa mananya!


Genggamannya kepada roda kemudi mengerat. Rahangnya mengeras, dan gigi-giginya bergemeletuk. Dia marah. Marah pada dirinya dan marah kepada Tuhan.


Kenapa? Kenapa tidak adil sekali. Dia hanya ingin bersama dengan orang yang dia cintai. Dia tidak meminta lebih. Dia hanya ingin bersama dengan Ming Yue.


“Sial!” Lu Ming mengerang. Matanya merah dan berkaca-kaca. Dadanya sesak dan nyeri setiap kali dia menghirup udara.


Dia sudah hidup dua kali. Dia tidak percaya jika dia akan gagal lagi.


Lu Ming mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor. “Paman pinjamkan aku satu kompi pasukan.” Dia berkata begitu panggilan terhubung. Matanya berkilat dengan sadis dan kejam.


Silahkan kabur dan bersembunyi. Dia akan menangkapnya dan saat itu akan dia buat orang-orang itu menyesal telah lahir di dunia.


Dendam yang bertumpuk dari dua kehidupan ini akan dia balaskan sampai tuntas.


Keesokan paginya, matahari di atas perbatasan bersinar degan cerah. Langit yang biru dan tidak berawan.

__ADS_1


Sepasang burung yang bertengger di atas dahang pohon pinus berkicau dengan riang. Seolah mereka sedang mengucapkan selamat pagi kepada semua orang. Bus yang Ming Yue dan Ron tunggu akhirnya datang juga. Mereka segera naik lalu bus itu berangkat.


__ADS_2