
Sudah beberapa hari ini Ming Yue ditinggal Lu Ming dinas ke luar negeri, selama hari-hari itu juga dia menjadi ikan asin yang kerjaannya hanya berbaring di atas tempat tidur.
Ming Yue berguling ke sebelah kiri, menatap langit-langit dan berpikir.
Masa percobaan pacaran dengan Lu Ming akan berakhir minggu depan tapi dia masih belum juga membuat keputusan, apakah dia akan meloloskan Lu Ming atau tidak.
Performa Lu Ming selama dua bulan tiga minggu ini sebenarnya cukup memuaskan. Pria itu, Lu Ming memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian dan memanjakannya. Perlakuan pria itu kepadanya bisa dikatakan memenuhi standar kategori pacar idaman berdasarkan artikel yang dia baca di internet.
Ming Yue juga merasa seperti itu. Lu Ming adalah pria ideal yang tidak mungkin dia temui dua kali di kehidupan ini, tapi entah kenapa Ming Yue tidak bisa meyakinkan hatinya.
Semakin lama dia menghabiskan waktu bersama dengan Lu Ming, semakin dalam dia mengenal pria itu, semakin banyak pula jumlah keraguan yang dia miliki.
Dia selalu merasa jika Lu Ming sudah mencintai Ming Yue sejak lama, lama sebelum dia bertransmigrasi ke dalam dunia ini. Walaupun mereka berdua memiliki wajah yang sama, jiwa mereka tetaplah dua orang yang berbeda. Bagaimana kalau yang Lu Ming cintai dan sukai adalah Ming Yue yang asli?
Tentu Ming Yue tidak bisa menerima hal itu.
“Huh…” dia menghela nafas.
Lu Ming yang sudah lima belas menit dia berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya pada frame pintu. Melihat Ming Yue dengan senyum kecil pada bibirnya. Apa gerangan yang tengah dipikirkan di dalam kepala kecilnya itu sampai tidak menyadari keberadaan orang lain.
Dia terus mengamati, tapi tidak berniat untuk mengumumkan kehadirannya, dia ingin melihat reaksi apa yang ada di wajahnya ketika dia sadar nanti. Apakah dia akan melompat dari tempat tidur lalu memeluknya seperti yang sering dia bayangkan, ataukah berpura-pura tidak tahu seperti biasanya.
Ming Yue yang tidak menyadari jika dirinya tengah dia amati kembali menggulingkan lalu kakinya menendang ke udara, dia mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya dia sampai pada tepi tempat tidur dan hampir jatuh.
Lu Ming menangkapnya sebelum dia benar-benar jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Lu Ming…” Ming Yue mengalungkan ke dua tangannya pada leher Lu ming, takut dirinya akan terjatuh, dia berkata dengan sedikit linglung. Bukankah Lu Ming berkata dirinya akan pergi selama satu minggu, dia baru pergi lima hari dan sekarang sudah pulang.
“Pekerjaanya selesai lebih cepat.” Lu Ming menjawab dengan singkat.
Asisten Yun yang sedang dikatai oleh istri dan anaknya mirip seperti panda mendadak bersin tiga kali. Dia hanya tidur empat jam dalam lima hari ini, yang dia inginkan sekarang hanyalah tidur agar tidak berubah menjadi zombie. Tanpa menghiraukan ejekan istri dan anaknya, dia melanjutkan tidurnya.
Lu Ming tidak berniat untuk menurunkan Ming Yue, dia membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya. Memeluknya dengan erat dan melepaskan perasaan rindu yang beberapa hari ini dia tahan. Mencium aroma lavender yang begitu familiar rasa lelah dari kerja lembur selama lima hari berturut-turut tanpa tidur yang cukup itu akhirnya terbayarkan.
Berada di tempat yang yaman dan bersama dengan orang yang dia sayang, rasa kantuk yang Lu Ming abaikan akhirnya menghantam syaraf-syaraf kantuk pada otaknya. Dia merebahkan tubuhnya pada kasur empuk di belakangnya. Masih dengan Ming Yue yang berada di dalam pelukannya Lu Ming lalu memejamkan matanya.
“Lu Ming aku punya pertanyaan.” Ming Yue berkata, dia sedikit menjauhkan kepalanya dari dada bidang Lu Ming. Mendongak dan menatapnya.
“Hmm.” Lu Ming tidak membuka matanya tapi dia mempersilahkan Ming Yue untuk melanjutkan.
Ming Yue menatap Lu Ming sejenak, menarik nafasnya lalu mengucapkan pertanyaan yang dia sudah tidak tahan untuk mendapatkan jawabannya. “Sejak kapan kau jatuh cinta kepadaku?” Ming Yue sedikit nervous menunggu jawaban dari Lu Ming. Tanpa dia sadari tangannya menggenggam kemeja Lu Ming hingga menimbulkan lipatan lusuh pada kain yang tadinya lurus.
“Saat liburan musim panas.” Ming Yue ingat saat dia kelas lima SD, waktu itu liburan musim panas, dia baru akan pulang dari perpustakaan dia tidak sengaja menemukan Lu Ming yang hampir pingsan karena terkena serangan heatstroke di jalan pulang, dia berbaik hati mengantarnya ke rumah sakit.
“Jauh sebelum itu. Coba ingat baik-baik kapan pertama kali kita bertemu.” Lu Ming berkata. Dia menatap Ming Yue dengan penuh harap gadis itu mengingatnya.
Dari kalimat yang Lu Ming ucapkan, Ming Yue sudah tahu jawabannya. “Maksudmu kau jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku dan hal itu terjadi saat kau masih bocah.” Ming Yue menyimpulkan, mendadak dia menjadi sebal. Walaupun dia sudah menduga jawabannya akan seperti itu, hal itu tidak dapat menghentikan rasa kecewa di dalam hatinya.
“Lu Ming sepertinya kita tidak perlu meneruskan training pacaran itu. Kita putus saja.” Ming Yue memalingkan wajahnya, menghindari menatap mata Lu Ming. Dia tahu keputusannya ini tidak adil, Ming Yue juga merasa berat tapi yang Lu Ming suka bukan dirinya, Ming Yue tidak mau mengambil tempat orang lain ataupun menjadi orang lain. “Kita tidak cocok.”
“Kau dan aku, aku adalah benalu yang akan selalu merugikan pohon inangnya. Kau juga tahu itu.” awalnya Ming Yue pikir asal bahagia, dia tidak akan mempermasalahkan hal lain. Tapi semakin lama menjalaninya, semakin banyak pro dan kontra yang dia pikirkan. Dia juga merasa omongan Mu Qing tentang dia yang menjadi penghambat bagi Lu Ming itu benar, hubungan mereka tidaklah setara. Seperti symbiosis prasitisme. “Cepat atau lambat kau akan merasa lelah, dari pada membuang waktu lebih baik kita akhiri sampai di sini saja.”
__ADS_1
“Ming Yue!”
Tangan Lu Ming yang menggenggam pergelangan tangan Ming Yue mengerat, dia ingin berterik tapi dia tidak bisa berteriak kepada Ming Yue jadi hanya erangan tertahan yang keluar dari mulutnya.
“Ming Yue.” Lu Ming menangkup ke dua sisi kepala Ming Yue, memaksa Ming Yue untuk menatapnya. Dia menyatukan dahi mereka. Menatap mata Ming Yue dengan lekat. Dia merasa hatinya tercabik saat melihat ada luka pada sorot mata Ming Yue. “Jangan mengatakan apa yang tidak ingin kamu katakan.”
Ketika Ming Yue membuka mulutnya ingin menyangkal sepasang bibir dingin menyentuh bibirnya, merebut udara yang dia hirup. Dia mengepalkan jari-jarinya, memukul dada Lu Ming untuk melepaskan diri.
Awalnya ciuman Lu Ming seperti capung menyentuh air, sangat lembut dan sakral. Hingga Lu Ming mengigit bibir Ming Yue dan memaksakan lidahnya untuk masuk. Lu Ming menciumnya dengan mendominasi tapi juga lembut, perlahan membuat Ming Yue lemas dan menyerah sepenuhnya ke dalam ciuman itu.
Lu Ming tidak merasa puas hanya dengan ciuman itu, tangannya yang tadinya memegangi kepala Ming Yue mulai bergerak naik turun menggerayangi tubuh Ming Yue.
Ketika salah satu tangannya menelusup masuk ke dalam pakaian tidur Ming Yue dan bersentuhan langsung dengan kulit lembut wanita itu, akal sehatnya menariknya kembali kepermukaan. Dia dengan sekuat tenaga menahan hewan buas di dalam perutnya yang sudah terbakar oleh nafsu untuk berhenti “Tidurlah, kita bicara lagi besok.” Lu Ming mengecup dahi Ming Yue, kemudian dia menarik kepala Ming Yue dan membenamkannya pada dadanya.
Meskipun matanya terpejam, dua orang itu tidak bisa tidur. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga langit di luar bersinar terang barulah mereka jatuh tertidur setelah lelah berpikir semalaman.
Ketika Lu Ming bangun pada hari berikutnya, Ming Yue tidak berada di sampingnya. dia meraba sisi yang ditiduri oleh Ming Yue dan merasakan permukaan kasur yang dingin, menandakan jika orangnya sudah lama pergi. Dia melirik jam pada nakas, waktu menunjukan pukul enam lebih dua puluh menit. Matanya masih merasa ngantuk, dia berniat untuk memejamkan mata lagi tapi kemudian dia terlonjak, menyingkap selimut dan bangkit dari tempat tidur.
Subuh tadi dia baru tidur setelah memastikan Ming Yue sudah tertidur, gadis itu memiliki jam tidur yang tetap. Jika belum mencapai delapan jam, Ming Yue belum akan bangun.
Lu Ming mengetuk pintu kamar mandi, mungkin Ming Yue bangun karena ingin buang air. “Ming Yue.” saat dia tidak mendengar jawaban dari dalam, pikiran buruk mulai menghampiri kepalanya. Lu Ming berlari keluar kamar.
“Ming Yue.” Lu Ming menuruni tangga, dia tidak menemukan Ming Yue di ruang kerjanya.
__ADS_1
Dia tidak juga melihat keberadaan Ming Yue di lantai bawah, Lu Ming menjadi sangat panik.
“Ming Yue.” dia berteriak dengan putus asa.