MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
86.


__ADS_3

"Hei, kembali. Jangan kabur." Ming Yue bergumam. Dia mengetik dengan cepat dan mengirim pesan ke grup chatt, tapi sia-sia. Dia tidak bisa menghentikan orang-orang itu yang keluar dari grup satu persatu hingga grupnya bubar.


"Mereka bubar." Ming Yue berkata, dia mengembalikan ponsel itu kepada Lu Ming.


Lu Ming menatap Ming Yue selama satu menit penuh kemudian dia berkedip. Bagaimana tidak kabur. Para karyawan itu sekarang pasti sedang terkena serangan jantung. Saat mereka sedang bergosip dan tiba-tiba orang yang digosipkan muncul—terlebih lagi mereka sedang digosipkan adalah atasan mereka. Kalau mereka bubar itu wajar.


Tapi ketika Lu Ming melihat Ming Yue memasang raut wajah kecewa dan gadis itu mengernyitkan hidungnya beberapa kali. Lu Ming menghela nafas kemudian berdiri dan menghampiri Ming Yue.


Sambil berjalan dia membuka grup chatt lain dan melihat jika semua anggota grup yang tadi pindah kemari.


"Bagaimana ini apa kita akan dipecat?"


"Bagaimana ini apa bos marah."


"Cicilan mobilku belum lunas."


"Ohh... Aku sudah curiga dengan akun itu. Sejak masuk tidak pernah berkata apa-apa. Ternyata itu bos!!"


"Berarti selama ini bos tahu dong kalau kita sering mejadikannya sebagai bahan gosip."


"Tidak menyangka bos bertindak sejauh ini. Dia sampai menyusup ke grup chatt kita. Pantas dia selalu tahu siapa saja yang menjelek-jelekkan Nona Ming. Uhh.. romantisnya."


"Hei, hei, hei, jangan-jangan bos juga ada di grup ini."


"What"


"Tidak mungkin, Xiao Xun dari departemen IT bilang sudah memasang keamanan ganda."


"Syukurlah, kita aman."


Setelah para karyawan tenang dan merasa yakin jika bos tidak tergabung ke dalam grup chatt. Mereka membahas foto selfie yang Ming Yue kirimkan.


Beberapa orang yang sempat menyimpan foto tersebut mengunggahnya ke grup.


Saat mereka sedang asik, tiba-tiba sebuah akun dengan ID lima bilangan ganjil berkomentar.

__ADS_1


Seketika itu semua anggota grup mematung. Anehnya walapun komentar itu seirama dengan mereka, mereka merasakan adanya firasat yang tidak bagus.


Firasat mereka terbukti ketika ID lima bilangan ganjil itu mengganti foto profilnya dari yang semula merupakan avatar settingan pabrik yang berupa background biru tua menjadi foto punggung seorang pria.


Walaupun pria di dalam foto memebelakangi kamera dan wajahnya tidak terlihat. Mereka langsung tahu jika pria di dalam foto itu adalah presiden Lu.


Awalnya ada beberapa yang tidak percaya, tapi setelah dilihat ulang, baju yang dipakai oleh orang itu dan baju yang dipakai oleh presiden Lu pagi ini adalah baju yang sama. Serta berdasarkan testimoni dari orang-orang yang pernah masuk ke kantor presiden Lu, background foto itu adalah interior kantor presiden Lu.


Mereka membeku untuk beberapa saat lalu pada detik selanjutnya, mereka dengan secepat kilat keluar dari grup.


Lu Ming yang memperhatikan cara Ming Yue beroperasi dan grup chat yang lagi-lagi bubar karenanya, dia sudah tidak kaget.


"Ada grup chatt yang lain lagi?" Ming Yue mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menoleh kepada Lu Ming yang duduk disebelahnya.


Kali ini dia tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba bubar. Padahal dia tidak lagi memberi kejutan. Dia hanya berkomentar memuji dirinya sendiri dan mengganti foto profilnya saja.


"Tunggu beberapa hari mereka akan membuat grup chatt baru." Lu Ming berkata. Dia tahu jika Ming Yue tidak berniat membubarkan grup chatt itu. Dia murni ingin berpartisipasi.


Beberapa kali Lu Ming sering memergoki Ming Yue nongkrong di pos sekuriti komplek apartemen hanya untuk bergosip. Tapi Lu Ming tidak merasa risih atau pun jijik dengan hobi baru Ming Yue.


Dia tahu jika telah terjadi sesuatu pada saat Ming Yue berlibur satu bulan lalu. Setelah gadis itu pulang, kepribadiannya sedikit berubah. Ming Yue menjadi lebih menempel kepadanya dan dia yang awalnya tidak suka berinteraksi dengan orang lain mulai membuka diri untuk menerima orang lain masuk ke dalam hidupnya.


Dia yakin permasalahannya terletak pada pembicaraan yang Ming Yue lakukan dengan sang biksu.


Lu Ming mengulurkan tangannya dan membawa Ming Yue ke dalam pangkuannya. "Mau bergabung dengan proyek perusahaan?" Dia berkata. Kedua tangannya memegang pinggang Ming Yue untuk menjaganya agar tidak jatuh terjungkal ke belakang. "Kau bisa datang kapan saja dan tidak terikat dengan jam kerja." Lu Ming menambahkan.


Penawarannya itu dia buat dengan lima puluh persen untuk kepentingan pribadi. Jika Ming Yue bergabung dengan perusahaan, waktu yang dia habiskan dengannya akan lebih banyak. Ditambah lagi mereka akan bekerja bersama, Lu Ming akui dia menantikan saat-saat itu.


Ming Yue menautkan alisnya, mempertimbangkan penawaran Lu Ming. Dia sebenarnya juga tidak menganggur, tapi pekerjaan yang dia punya itu tidak melibatkan bertatap muka dengan client-nya. Dan hal itu tidak bisa dikatakan sebagai interaksi antar manusia, yang Ming Yue inginkan adalah rasa kepemilikan di dunia ini. Dia ingin menyatu dengan kehidupan di dunia ini.


Melihat Ming Yue yang tampaknya tertarik. Lu Ming segera melancarkan serangan susulan. "Dengan gaji yang sama dengan asisten Yun."


Ming Yue mendongak dan menatap Lu Ming. "Deal."


Efisiensi Lu Ming dalam melakukan sesuatu sangat tinggi, setelah mereka menandatangani surat kontrak kerja. Asisten Yun masuk dan memberitahu jika ruangan yang akan digunakan sebagai kantor Ming Yue sudah siap.

__ADS_1


Saat itulah Ming Yue curiga jika Lu Ming sengaja memasang perangkap untuk menjebaknya. Tapi setelah Ming Yue melihat tempat yang akan menjadi ruangannya dia sudah lupa dengan kecurigaannya.


Pria itu tidak membuat kubikel di dalam ruangannya seperti yang Ming Yue lihat pada drama-drama di TV. Kantor Ming Yue berada dilantai yang berbeda dari kantor Lu Ming. Dia menempati ruang kepala tim yang kosong di departemen perencanaan.


"Bagaimana, suka?" Lu Ming menarik kursi dan memepersilahkan Ming Yue untuk duduk. Dia berdiri di belakang Ming Yue dan membungkukan badannya dan memunpukan tangannya pada tangan kursi, memerangkap Ming Yue diantara dua tangannya.


Beberapa saat kemudian dia menekan sebuah tombol pada remot dimeja dan tirai yang menutup kaca pembatas ruangan itu terbuka. Ming Yue bisa melihat karyawan grup Lu sedang bekerja di luar ruangannya.


Ming Yue mendongak dan mengecup dagu Lu Ming. Dia berterimakasih karena pria itu selalu tahu apa yang dia butuhkan.


Lu Ming tertawa kecil dengan reaksi Ming Yue. Dia beridiri tegak lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Apakah kepala tim Ming siap untuk mengikuti meeting satu jam lagi." dia berkata kepada Ming Yue seperti seorang atasan kepada bawahannya.


Ming Yue menjawab bersedia.


"Kalau begitu sampai jumpa satu jam lagi di ruang meeting." Lu Ming berkata kemudian dia pergi untuk memberikan waktu kepada Ming Yue sehingga dia bisa menyesuaikan diri dengan suasana baru.


Tidak lama setelah Lu Ming pergi, Asisten Yun datang dari luar membawa beberapa dokumen di dalam map biru tua sesuai dengan diintruksikan oleh presiden Lu.


Dia lalu keluar setelah menjelaskan dengan singkat mengenai bahan yang akan dibahas dalam meeting siang ini.


Begitu asisten Yun keluar dari ruangan Ming Yue, dia digadang oleh beberapa oranga dan dipaksa untuk ikut ke pantry.


Di dapur, perwakilan dari masing-masing departemen sudah berkumpul. Ketika dia masuk, mereka langsung berdiri dan mengelilinginya.


Selama lima belas menit dia merangkum cerita untuk para kolega yang haus akan gosip.


"Apa nona Ming dikirim untuk mengawasi kita," seseorang bertanya dan membuat semua orang ingat dengan kejadian berturut-turut di grup chatt.


"Sepertinya tidak." Asisten Yun menjawab. Meskipun dia tidak tahu dengan detail, dia tahu jika baik presiden Lu maupun nona Ming tidak ada yang marah dengan insiden grup chatt itu.


"Baiklah, mari kita berikan pengalaman terbaik kepada nona Ming." Seseorang berkata dan disetujui oleh yang lainnya. Mungkin kalau mereka bisa membuat nona Ming senang mereka akan mendapatkan bonus.


Asisten Yun geleng-geleng kepala. Dia lebih berpengalaman dan tidak memiliki pemikiran naif seperti para koleganya. Tadi ketika dia berbicara dengan nona Ming mengenai proyek baru yang akan menjadi bahan meeting siang ini, dia sama sekali tidak merasakan jika nona Ming sedang main-main. Dia mendengarkan dengan sangat serius dan penuh ketertarikan. Bahkan dia memberikan beberapa masukan yang hampir sama dengan yang pernah disinggung oleh presiden Lu.


Dari situ saja dia sudah menyimpulkan jika nona Ming tidak jauh-jauh dari sifat ketiranian presiden Lu yang akan memeras para karyawan sampai kering tanpa diketahui oleh orang yang dia peras.

__ADS_1


Asisten Yun merinding.


Dia berharap sifat malas nona Ming segera kembali. Satu boss saja sudah cukup, tidak perlu ditambah lagi.


__ADS_2