MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
26.


__ADS_3

“Tuan muda, nona Ming sepertinya akan kabur.” Bibi Bo berkata.


Ketika Lu Ming mendengarnya, udara di sekitarnya menjadi stagnan.


Suasana yang tegang menjadi mencekam. Tidak seorang pun berani mengeluarkan suara, bahkan ada dari mereka yang menahan nafas saking takutnya. Ruang meeting itu telah berubah menjadi lading ranjau.


“Apa hanya sampai segini saja kemampuan kalian? Apa resume yang kalian banggakan ketika melamar kerja itu omongkosong belaka!” presiden Lu melempar map dokumen didepannya. Kertas berterbanga di udara dan jatuh tanpa bunyi ke lantai.


Semua orang menelan ludah.


“Apa bonus kuberikan kurang besar?” presiden Lu menggebrak meja.


Semua orang tidak berkutik. Seperti kura-kura yang bertemu dengan pemangsa, bersembunyi kedalam cangkangnya.


“Ku beri kalian waktu tiga hari. Kalau sampai kalian tidak bisa menyelesaikannya dalam tiga hari, serahkan surat pengunduran diri kalian ke HR.” Presiden Lu berkata sebelum dia meninggalkan ruang meeting.


Baru setelah asisten Yun menutup pintu mereka bisa bernafas.


Presiden Lu sudah memasang wajah tidak senang sejak dia masuk ke ruang meeting. Setiap lima menit dia akan mengecek ponselnya, dan setiap kali selesai mengeceknya wajahnya semakin tidak senang. Wakil CEO Xi menyesal melibatkan presiden Lu dalam meeting darurat ini. Seharusnya dia menuruti saran dari asisten Yun. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan dia hanya bisa menelan peluru yang datang kepadanya.


“Wakil CEO Xi apa yang harus kita lakukan? Tiga hari telalu singkat...” Direktur Li berkata, dia panik, dia mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan gusar.


Tanpa arahan dari presiden Lu, mustahil unutuk menyelesaikan masalah ini dalam jangka waktu tiga hari. Tapi presiden Lu sudah memberikan ultimatum. Walau harus jungkir balik sekalipun mereka harus menyelesaikannya.


“Ide apapun yang terlintas di kepala kalian cepat katakan sekarang.” Wakil CEO Xi berkata. Mereka tidak bisa terus membuang waktu. Daripada mengeluh lebih baik segera mencari solusi. Waktu yang mereka miliki terus berkurang.


Malam itu lampu gedung head quarter Lu Grup tidak mati sampai hari berikutnya.


Kabar mengamuknya presiden Lu sampai ke telinga seluruh karyawan. Semua orang datang ke kantor dengan nervous dan bekerja dengan was-was. Seakan jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja, presiden Lu akan tahu dan langsung menyuruh mereka menyerahkan surat pengunduran diri. Mereka seperti sedang melangkah di atas lantai es yang tipis.


Maka dari itu ketika Ming Yue memasuki gedung, sekuriti yang bertugas merasa sedang dikunjungi malaikat maut. Pasalnya nona Ming datang dengan wajah ditekuk.


“Minggir!” Ming Yue berkata dengan dingin.


“Maaf nona anda tidak diizinkan untuk masuk.” Sekuriti itu menghalangi Ming Yue dengan melangkah ke depannya dan menggunakan tubuhnya untuk memblok jalan.

__ADS_1


Ming Yue saat ini ingin meladak. Dia sangat marah. Sumbu dynamite di dalam tubuhnya sudah terbakar setengah.


Ketika dia terbangun pagi ini. Dia menerima e-mail dari agennya yang isinya adalah pembatalan kontrak. Ya, benar, kontrak jual beli tanah yang kemarin dia tandatangani dibatalkan secara sepihak dan tampa alasan yang jelas. Yang membuatnya lebih marah lagi agen itu tidak bisa dihubungi, dia seolah menghilang ditelan lubang hitam.


Ming Yue pikir dirinya terkena tipu, tapi notifikasi dari bank yang memberitahukan uang masuk kedalam rekeningnya, dengan jumlah yang sama dengan harga beli tanah ditambah uang denda pembatalan kontrak, sudah cukup jelas baginya untuk mengetahui apa yang terjadi.


Kalau bukan Lu Ming, apakah setan yang melakukan itu?


Ha!


Dia pikir dia bisa menghindarinya hanya dengan mematikan telpon? Walau sampai ke ujung dunia sekalipun Ming Yue akan mengejarnya. Pria seperti Lu Ming yang mentang-mentang punya uang lalu bertindak semaunya harus diberi pelajaran. Kalau Ming Yue tidak menarik telinganya, jangan panggil dia Ming Yue!


“Cepat minggir!” Ming Yue mendesak.


Sekuriti itu seperti kelinci yang dihadapkan dengan serigala. Gemetaran dan berkeringat dingin. Dia mendapatkan interuksi dari asisten Yun untuk tidak membiarka nona Ming masuk.


Dia pikir tugas itu sepele dan dia bisa melaksanakannya dengan mudah. Nona Ming yang selama ini dia tahu sangat untuk dihadapi karena nona Ming juga tidak pernah mempersulit mereka. Dia pernah beberapa kali iseng melarangnya masuk dan nona Ming menurut begitu saja tanpa perlawanan. Sejak saat itu dia menganggap nona Ming sebagai orang yang gampang.


Tapi kaliini pandangan sebelah matanya kepada nona Ming lenyap. Dia baru tahu jika ternyata di balik penampilan nona ming yang terlihat harmless bisa menjadi sangat menakutkan jika sedang marah. Aura yang dia keluarka bisa sebanding dengan aura yang dimiliki presiden Lu.


“Ada apa ya ribut-ribut?” datang sebuah suara dari belakang mereka.


Sekuriti itu matanya berbinar. “Sekretaris Gu.” Dia berkata.


Sekuriti itu tahu jika sekeretaris Gu adalah sekretaris presiden Lu, dia pasti bisa membantunya menyelaesaikan masalah ini. “Nona Ming memaksa masuk.” Dia mengadu.


Ming Yue memincingkan matanya. Musuh memang sering bertemu di jalan yang sempit!


Dia mengabaikan kedatangan Gu Anran dan ingin mendorong sekuriti itu supaya menyingkir.


“Maaf nona Ming, atas perintah dari presiden Lu anda tidak diperbolehkan masuk.” Gu Anran berkata dengan angkuh. Dia mencekal bahu Ming Yue.


Gu Anran sangat senang ketika pagi ini mendapat pengumuman untuk tidak memberikan akses masuk kepada Ming Yue. Akhirnya setelah sekian lama Lu Ming akan mengakhiri hubungannya dengan wanita itu.


Dia tambah bersemangat memergoki Ming Yue yang sedang ditahan sekuriti. Gu Anran sengaja menunggu sampai suasana memanas baru kemudian dia akan ikut campur. Di dalam hati dia sudah tidak sabar untuk mempermalukan Ming Yue.

__ADS_1


Ming Yue menyingkirkan tangan Gu Anran dari bahunya dan mengusap bekas sentuhannya seperti mengusap kotoran yang menempel di bajunya.


Gu Anran menggertakan giginya, merasa terhina.


“Nona Ming saya


sarankan anda untuk segera pergi dan tidak mengganggu pekerjaan kami.” Gu Anran


berkata. Terdapat hinaan dalam nada bicaranya. Dia melipat tangannya di depan


dada dan tersenyum sinis.


Ming Yue, peranmu sudah habis. Kau sudah tidak dibutuhkan lagi. Menyingkirlah sekarang!


Gu Anran membuat gestur mengusir dengan matanya. “Nona Ming.”


Ming Yue menggunakan sepatu hak tinggi yang bertumit lancip dengan tujuan untuk digunakan sebagai senjata jika pembicarannya dengan Lu Ming tidak berjalan dengan lancar. Dia tidak terbiasa dengan sepatu itu dan kakinya terasa pegal karena berdiri cukup lama. Sumbu kesabarannya tinggal satu senti.


Dia menincingkan matanya. Bibirnya berkedut sebelah, menyeringai.


Sebuah samsak hidup datang menawarkan diri untuk ditonjok. Ming Yue tidak akan membiarkan kegunaannya menjadi sia-sia.


Plak!


Tangan Ming Yue mendarat pada pipi Gu Anran, menimbulkan bunyi nyaring.


“Kau!” Gu Anran mendesis. Tangannya terangkat ingin membalas serangan Ming Yue.


“Aku?” Ming Yue berkata tanpa dosa. Memasang wajah polos.


Gu Anran memegang pipinya yang berdenyut dan memaksa air matanya untuk keluar. “Nona Ming saya hanya menjalankan perintah, kenapa anda memukul saya…” isaknya.


Ming Yue menaikkan alisnya. Apakah ada tombol on off pada kelanjar air mata Gu Anran sehingga dia bisa mengeluarkannya dengan cepat jika dibutuhkan. Jelas wajah bengisnya tadi tidak memperlihatkan tanda-tanda dia akan mewek.


“Presiden Lu.”

__ADS_1


Bah! Ternyata pangeran berkuda putih datang.


__ADS_2