MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
30


__ADS_3

Setelah drama dengan Gu Anran selesai, Ming Yue bisa sedikit lebih santai. Tapi dia tidak menurunkan tingkat kewaspadaanya. Siapa tahu jika Gu Anran memiliki rencana cadangan.


Sebenarnya dia sangat menyesal. Tadi dia melewatkan makan siang demi bisa tampil sempurna dan muat dengan gaunnya, tapi sekarang dia merasa lapar. Ming Yue mentap gelas-gelas berisi wine yang disusun bertingkat. Khusus untuk acara ini keluarga Lu mengeluarkan koleksi wine dari cellar pribadi mereka. Setiap gelas itu berisi Romanee Conti 1990 yang harganya hampir tiga puluh ribu dollar per botolnya.


Ming Yue hanya bisa menelan ludah sambil meratapi nasib. Banyak hidangan lezat yang tersedia di depannya, tapi dia tidak berani menyentuhnya.


Dari kejauhan Lu Ming melihat Ming Yue yang duduk di pojokan. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan napa yang yang dikatakan oleh lawan bicaranya.


“Permisi sebentar.” Lu Ming sudah tidak tahan lagi, dia membebaskan dirinya dari kepungan orang-orang berusaha untuk menjalin hubungan dengannya. Ketika dia sudah berhasil keluar, dia dihalangi oleh salah satu teman kakeknya dan terpaksa berhenti untuk berbicara dengannya sebentar.


Tentu saja pembicaraan itu ujung-ujungnya merujuk kepada permintaan untuk bekerja sama. Lu Ming menanggapi dengan seadanya dan mengakhiri pembicaraan itu tanpa memberikan jawaban yang jelas.


Dia melirik ke tempat Mign Yue tapi gadis itu sudah tidak ada di sana.


Lu Ming mengitarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan dan menemukan Ming Yue berjalan menuju balakon.


Tanpa membuang waktu lagi dia segera menyusulnya.


Ming Yue mengigil begitu dirinya keluar dari ruangan. Tadi sempat turun salju sejenak sehingga suhunya lebih dingin beberapa derajat dari perkiraan BMKG. Ming Yue merapatkan tubuhnya, dia menggosok lengannya untuk menjaga dirinya agar tetap hangat.


Dia mendongkak dan memandangi langit malam yang gelap tanpa satupun bintang yang terlihat. Langit di atas perkotaan sekarang sudah kehilangan keindahan alaminya. Dimana-mana yang terlihat oleh mata hanyalah cahaya lampu yang dipancarkan oleh gedung-gedung pencakar langit dan baliho papan iklan yang beroperasi dua puluh empat jam dalam seminggu penuh.


Ming Yue merasakan kehadiran orang lain dan menoleh kebelakang. Lu Ming berjalan ke arahnya, pria itu melepaskan jasnya dan menyampirkannya pada bahu Ming Yue yang terbuka.


“Terima kasih.” Ming Yue berkata singkat. Dia tidak menolak kebaikan pria itu.

__ADS_1


Dua orang itu berdiri berdampingan tanpa ada kata-kata yang terucap diantara mereka. Tapi jika orang lain melihat, mereka bisa merasakan keharmonisan menyelimuti dua orang itu.


Tidak lama kemudiam terdengat suara mc yang mengumumkan acara pemotongan kue akan dimulai.


“Ayo.” Lu Ming menawarkan lengannya untuk Ming Yue pegang. Ming Yue tidak menghindarinya dan menyelipkan tangannya ke dalam siku Lu Ming. Lalu mereka berdua Kembali masuk ke dalam ruangan.


Kerabat terdekat keluarga Lu berkumpul mengelilingi kakek Lu.


“Yueyue bantu kakek memotongnya.” Kakek Lu mengisyaratkan kepada Ming Yue untuk mendekat. Tindakannya itu membuat banyak orang tidak puas. Tapi mereka tidak berani protes karena Lu Ming memberikan tatapan tajam kepada siapapun yang ingin membuka mulut.


Ming Yue mengabaikan tatapan tidak bersahabat yang ditujukan kepadanya dan segera bertukar posisi dengan Fu Yao. Pada tahun-tahun sebelumnya dia yang selalu mendapatkan posisi kehormatan untuk memotong kua bersama dengan kakek Lu. Tapi saat posisinya itu diberikan kepada orang lain, Fu Yao tidak merasa keberatan dan malah menarik Ming Yue dengan antusias.


“Yueyue jangan takut.” Dia mencium pipi Ming Yue dan menyemangatinya. Dia kemudian balas menatap orang yang memberikan tatapan tidak senang kepada Ming Yue.


“Kakek, bagaimana bisa kakek membiarkan Ming Yue yang membuat permohonan.” Lu Zehan menentang, dia melotot kepada Ming Yue.


Dia adalah satu-satunya cucu perempuan di kelaurga Lu, dia biasa di manja oleh orang tuanya dan selalu dibela walaupun dia salah, sehingga sikapnya menjadi sombong dan terkadang sedikit keterlaluan. Karena dia perempuan kakek Lu juga tidak terlalu keras kepadanya, itu membuatnya berpikir jika dia adalah cucu kesayangan kakek Lu. Tapi setelah Ming Yue datang, kakek Lu tidak lagi memperhatikannya.


Ming Yue kali ini setuju dengan sepupu Lu Ming itu. Dia juga tidak ingin mencuri hak special orang yang berulang tahun. Walaupun dia tidak percaya jika permohonan yang dibuat pada hari ulang tahunakan terkabulkan. Memohon pada lilin yang menyala membuatnya teringat dengan kebudayaan mistis yang ada di negara Indonesia. Kalau tidak salah ingat namanya Babi Ngepet, mengenai penjelasannya Ming Yue juga tidak paham. Katanya seseorang bisa menjadi kaya kalau melakukan ritual itu.


“Kenapa tidak bisa? Kakek adalah rajanya hari ini.” tidak ada yang menyangka jika kakek Lu akan mengunakan cara kekanak-kanakan untuk menanggapinya.


“Setidaknya berikan kesempatan itu kepada kakak Ming.” Lu Zehan merajuk.


“Yueyue juga kakak Ming.” Kakek Lu menyahut.

__ADS_1


“Ayah Zehan benar, memberikannya kepada Ming Yue sedikit berlebihan.” Lu Yiming menengahi. Dia khawatir kalau sampai Ming Yue melakukannya, posisi putrinya di keluarga Lu akan semakin tidak menguntungkan. “Iya kan Ah Ming?” dia menatap Lu Ming, mencari bantuan. (Orang Cina memambahkan Ah, A, Xiao di depan nama orang yang disayangi atau yang lebih muda)


“Kakek memberikannya kepada Yueyue dengan iklas, kalau Yueyue mau menerimanaya, kenapa kalian keberatan.” Lu Ming menjawab dengan diplomatis. Tapi dengan menyebut nama Ming Yue mengunakan nama panggilannya, jelas sekali maksudnya.


Sasana menjadi tegang, dan perang dingin dimulai.


“Haa…” Ming Yue menepuk tangannya untuk menarik perhatian. “Permohonan Yueyue sama dengan permohonan kakek, jadi tidak masalah siapapun yang membuat permohonan itu.” dia mencoba untuk mencairkan suasana. Orang-orang bergembira saat merayakan ulang tahun, kenapa mereka malah menjadikannya sebagai arena bertarung.


“Siapa bilang sama.” Kakek Lu menyahut, dia menatap Ming Yue dengan tatapan kesal.


“Oh, bagaimana bisa tidak sama?  Yueyue dan kakek sama-sama ingin tahun ini menjadi lebih Makmur dan bisa bertemu lagi tahun depan?” Ming Yue tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya kepada kakek Lu.


“Hah! Sudahlah kakek sendiri yang akan membuat permohonan.” Kakek Lu nafas panjang. Dia menatap Ming Yue dengan cemberut. Ming Yue pura-pura tidak mengerti dan tetap mempartahankan expresi sok imutnya.


Akhirnya kue ulang tahun itu berhasil dipotong sebelum lilinnya habis.


Karena kakek Lu ngambek tugas membagi-bagi kue jatuh kepada Ming Yue.


Dia mendistribusikan kue pertama kepada kakek Lu, yang kedua kepada Fu Yao dan ketika dia memberikan potongan ketiganya kepada Lu Ming, orang-orang menatapnya dengan aneh. Itu dikarenakan dia memberikan kue yang besarnya dua kali lipat dari potongan sebelumnya.


Lu Ming ingin menghindar dan membiarkan orang lain yang menerimanaya tapi Ming Yue memelototinya dan dia terpaksa menerimanya.


“Jika kalian ingin kue yang lebih besar dari Lu Ming, silahkan ambil sendiri.” Setelah mengambil bagian untuk dirinya, dia berkat.


Setelah mengakhiri tugasnya, Ming Yue segera mengandeng Lu Ming lalu mengikuti kakek Lu dan ibu Lu Ming menuju meja mereka.

__ADS_1


__ADS_2