
Ming Yue mempunyai sebuah kebiasaan, saat dirinya sedang gundah dia akan menonton film horror. Tapi, Ming Yue tidak berani menontonnya sendirian, sehingga dia mengajak Lu Ming untuk menemaninya.
Di ruang TV, semua lampu dimatikan dan hanya menyisakan cahaya dari layar televisi. Ming Yue duduk di samping Lu Ming dengan memeluk lututnya.
Saat film sudah setengah jalan dan suara musik yang menegangkan diputar sebagai tanda jika adegan berhantu akan muncul. Ming Yue menelan ludahnya, tentu saja dia takut, tapi kalau Lu Ming berharap Ming Yue akan lompat ke dalam pelukannya, maka Lu Ming harus dikecewakan.
Ming Yue tidak bereaksi berlebihan seperti itu. Walaupun takut, dia tetap memaksakan diri untuk tidak menutup matanya. Dengan bersembunyi di balik lututnya dan hanya menampakan kedua bola matanya saja, Ming Yue membuka matanya lebar-lebar dan menyaksikan adegan demi adegan tanpa berkedip.
Biasanya film horror bisa membuatnya merasakan adrenalin yang akan membuat jantungnya berpacu dan dia akan lupa jika hatinya sedang gundah. Tapi, kali ini Ming Yue tidak menikmati film itu, di dalam otaknya terus berputar pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang dia tidak tahu kepada siapa dia harus menanyakannya.
Ming Yue melirik ke samping,
Lu Ming… pria itu duduk di sampingnya dengan mata yang lurus menatap ke depan. Walaupun sedang menonton film begini, dia tetap duduk dengan tegat, tidak sedikitpun membungkuk. Dilihat dalam cahaya yang minim seperti ini, Lu Ming tetaplah tampan, malah sangat tampan. Cahaya televisi yang menyinari wajahnya semakin menonjolkan fitur wajahnya yang sempurna. Hidung yang mancung, alis yang tebal dan tatapan mata yang dalam.
Terkadang Ming Yue merasa… pria yang begitu sempurna ini, siapapun nanti yang akan memilikinya,
Ming Yue akan merasa iri.
Ming Yue termangu, dia masih menatap Lu Ming ketika tiba-tiba pria itu menoleh dan mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik waktu seperti berhenti.
Jantung Ming Yue berpacu, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Tatapan Lu Ming terasa panas dan menyengat.
Dia menjilat bibirnya yang terasa kering, dia ingin membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu agar bisa mencairkan suasanya yang canggung diantara mereka. “Aku…” Lu Ming mengehentikannya dengan meletakan jari telunjuk pada bibir Ming Yue. Membuatnya membeku dan tidak bisa bergerak. Jantungnya berdebar semakin tidak karuan.
Cara Lu Ming menatapnya, Ming merasa seakan hanya ada dirinya di mata pria itu.
__ADS_1
Lu Ming mencondongkan tubuhnya,
Ming Yue mendonggak,
Wajah mereka semakin dekat.
Nafas Ming Yue tercekat, dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dia ingin mundur, tapi… juga tidak ingin.
Sampai akhirnya hanya jari telunjuk Lu Ming yang memisahkan bibir mereka. Hidung dan dahi mereka sudah bersentuhan. Ming Yue bisa merasakan nafas Lu Ming yang panas menerpa wajahnya. kalau saat ini tidak gelap, Lu Ming pasti akan melihat wajahnya yang merona.
“Argh!!”
Suara dari televisi.
Ming Yue yang lebih dulu sadar, dia memalingkan muka dan menatap layar di depan.
Tapi karena dia adalah pemeran utamanya, tidak mungkin jika dia dikalahkan dengan mudah begitu saja. Si jurig tidak akan pernah menang melawan si protaginis. Kecuali, film itu memiliki season dua, secara misterius datang cahaya dari langit yang membuat si jurig terpukul mundur dan scene berganti menjadi keesokan harinya.
Film itu berakhir tidak lama kemudian. Ming Yue segera melarikan diri, masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Ming Yue meraba dadanya, dia bisa mendengar suara detak jantunggnya yang ingin melompat keluar. Pipinya yang terasa panas dan energi yang berlebih di dalam tubuhnya.
Dia mencoba untuk tenang tapi malah semakin tidak karuan.
Semua ini salah Lu Ming. Kenapa menatapnya seperti itu… itu membuat Ming Yue salah paham.
Ming Yue membenamkan wajahnya pada bantal.
__ADS_1
Bukan pertama kalinya Ming Yue mendapatkan illusi seperti tadi, sebuah illusi yang seolah mengatakan jika Lu Ming menyukainya. Itu sudah sejak lama dia rasakan, mungkin pada saat dia mengatakan ingin putus atau malah sejak pertama dia menginap di sini. Waktu itu Lu Ming sedang sakit, kalau benar Lu Ming membencinya, dia tidak akan menyusulnya, menggendongnya dari pos satpam sampai rumah, bahkan pria itu meberikan tempat tidurnya dan memasak untuknya. Ming Yue sudah menaruh curiga sejak saat itu.
Lu Ming bukan orang yang akan menurut jika disuruh-suruh, apa lagi jika orang yang menyuruhnya adalah orang yang dia benci. Dia tidak akan mau, tapi selama ini Lu Ming selalu menuruti kemauannya.
Kartu kredit Lu Ming juga masih ada di tangannya,
Lalu apartemen ini… seolah Ming Yue sudah pindah ke sini. Baju-baju yang tergantung di ruang ganti, meja rias yang sebelumnya tidak ada dan selimut yang beraroma lavender, seperti wangi pada tubuhnya. Belum lagi perhiasan pasangan yang tadi dia lihat, anting-anting yang kembar dengan cufflink, penjepit dasi dengan jepit rambut, cincin pasangan, baju pasangan, sepatu pasangan… Lu Ming sudah gila.
Ming Yue menggaruk kepalanya.
Dia tidak mau kepedean, tapi… semua itu, kalau bukan karena Lu Ming menyukainya…
Ming Yue berguling, dia menendang-nendang udara dengan kakinya. Hatinya sudah memberikan jawaban, tapi otaknya tidak mau menerima.
Lu Ming yang ditinggalkan oleh Ming Yue, masih duduk di sofa. Di dalam kegelapan, matanya berkilau. Sudut bibirnya perlahan-lahan tersungging ke atas. Tadi, di mata Ming Yue ada sesuatu yang berbeda, walaupun hanya sebentar, Lu Ming melihatnya.
Saat ini dia merasa lebih senang dari pada saat dia behasil memenangkan tander milyaran. Kalau ada yang melihatnya, mereka tidak akan peraya Lu Ming bisa tersenyum seperti ini. pria yang selalu memasang wajah dingin dan datar, ternyata saat sedang kasmaran dia bisa bertingkah seperti idiot juga.
Senyum Lu Ming semakin melebar.
Dia menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dia tahu jika Ming Yue menguncinya, dan dia memiliki kunci cadangannya.
Lu Ming menunggu, baru setelah satu jam dia beranjak.
Dibukanya pintu kamar menggunakan kunci cadangan. Ming Yue tidak mematikan lampu, gadis itu sudah tertidur pulas dengan satu kaki yang mencuat keluar dari selimut.
Lu Ming mendekat, dia memasukan kaki Ming Yue ke dalam selimut lalu mematikan lampu dan ikut naik ke tempat tidur. Dia mencium kening Ming Yue, “Good night baby.” kemudian menarik tubuh Ming Yue ke dalam pelukannya.
__ADS_1