
"Kau tenang saja, anak-anakku tidak akan memakan tunanganmu." Paman Fu berkata, mungkin ini adalah kesempatannya untuk menang. Lu Ming sudah dua kali melakukan bunuh diri, kalau seperti ini terus paman Fu yakin dia Lu Ming akan dia kalahkan hari ini.
Paman Fu bukan orang yang berintegritas tinggi yang harus menang dengan jujur dan secara adil, jika ada kesempatan dia akan tidak akan segan untuk menikung lawannya. Apa lagi dia hanya pernah menang satu kali dari Lu Ming, itupun saat Lu Ming baru pertama kali bermain Go dan belum tahu cara bermain, paman Fu mengakalinya. Tapi setelah itu dia tidak pernah menang lagi. Hanya saja kesempatan langka yang datang ini malah membuatnya jengkel.
Bagaimana tidak jika setiap kali dia harus mengingatkan Lu Ming setiap kali gilirannya tiba. Keponakannya itu dari awal bermain sampai sekarang, dia terus-menerus melirik ke arah pintu kamar putrinya.
Lu Ming tidak khawatir Ming Yue dibully. Dengan kemampuan Fu Yu dan Fu Qing, sekalipun dua kembar itu bekerjasama, mereka tidak akan bisa mengalahkan Ming Yue. Hanya saja Lu Ming juga ingin menghabiskan waktu bersama Ming Yue.
Sebentar lagi sudah masuk jam tidur gadis itu. Jika Ming Yue tidak kunjung keluar juga, Lu Ming harus membatalkan rencananya.
Dan benar saja, sampai dua jam kemudian Ming Yue tidak keluar juga.
Lu Ming melirik papan permainan, biduk putih miliknya tinggal lima biji sudah terkepung oleh biduk hitam. Dia mengamatinya sekilas kemudian mengerakkan biduknya. "Paman, selamat malam." Dia berkata.
"Hahh!" Paman Fu tercengang. Kemenangan yang sudah didepan mata hilang dalam sekejap mata. Dia sudah menyiapakan kalimat yang kan dia ucapkan saat Lu Ming mengaku kalah kepadanya, tapi hanya dengan satu gerakan Lu Ming berhasil membalik keadaan. Paman Fu kira dia sudah menutup semua jalan, ternyata itu hanya illusi karena dia terlalu percaya diri.
Lu Ming mengetuk pintu kamar Fu Yu, dia bisa mendengar suara gaduh dari dalam. Tidak lama kemudian kepala Fu Qing menyembul dari daun pintu yang terbuka sedikit. “Dimana Ming Yue?” Lu Ming tidak berbasa-basi dan langsung to-the-point.
Fu Qing yang mengira jika ibunya yang datang, ketika mendapati Lu Ming yang berdiri didepan pintu, membuka pintu lebih lebar dan memberinya jalan untuk masuk.
Di dalam, Ming Yue sedang bermain game online dengan Fu Yu. Tapi dia tidak seserius Fu Yu yang sampai memelototi layar LCD, Ming Yue sangatlah santai dengan kepala yang disandarkan pada sandaran sofa dan sesekali menguap.
“Yes! Thank you Yueyue.” Fu Yu berseru. Dia melompat kegirangan dan akhirnya tersandung kakinya sendiri dan tersungkur ke depan. Beruntung Lu Ming berdiri tidak jauh darinya dan berhasil menangkapnya sehingga dia tidak jadi mencium lantai.
__ADS_1
“Siapa yang mengizinkanmu memanggil Yueyue.” Lu Ming berkata.
Fu Yu tidak bisa menjawab. Walaupun mereka sepupu, Lu Ming itu seperti kepala sekolah yang suka menghukum siswa nakal untuk membersihkan toilet. Fu Yu yang merupakan preman di sekolah, langsung kehilangan nyali jika berhadapan dengan Lu Ming.
“Aku yang mengizinkannya.” Ming Yue berkata. Dia berdiri dan merenggankan badannya. “Sudah malam, aku tidur dulu.” Dia berkata kepada Fu Yu.
Lavel kebaikan Ming Yue di mata si kembar naik derastis. Setelah dibantu lavel-up Fu Yu sudah bergabung menjadi fans Ming Yue. Sekarang dia telah resmi menjadi fans fanatic Ming Yue. Dia sekarang melihat Ming Yue dengan filter blink-blink dengan lingkaran peri di atasnya. Tingkat kekaguman maksimal.
Pada awalnya dia masih sedikit skeptis Ming Yue menjadi tunangan sepupunya itu. Dia tidak berharap banyak Ming Yue bisa menaklukan sepupunya yang dingin dan kaku seperti es batu di kutub itu. Tapi sepertinya dia salah, saat makan malam tadi, dia melihat bagaimana Ming Yue dan Lu Ming berinteraksi, jelas jika sepupunya itu head over heel terhadap Ming Yue.
Sampai Ming Yue dan Lu Ming keluar dan pintu ditutup Fu Yu masih belum sembuh dari lamunannya. Hingga Fu Qing harus melempar polpen ke kepela Fu Yu. Adiknya itu cepat sekali berubah pikiran. Siapa yang bilang ingin membuat Ming Yue mengalami kesulitan, tapi setelah diberi video game dia langsung berubah menjadi anak kucing yang minta dielus.
“Ouch, Kakak Apa-apaan sih.” Fu Yu menggerutu. Dia mengerucutkan bibirnya dan menatam Fu Qing dengan sebal. Dia menendang polpen yang jatuh di dekat kakinya hingga menggelinding ke bawah tempat tidur.
“Siapa tadi yang bilang supaya kita tidak dekat-dekat dengannya.” Fu Qing menggelengkan kepalanya.
Ming Yue diantar Lu Ming kembali ke kamar “Kenapa mencariku?” Ming Yue bertanya.
“Sudah waktunya tidur.” Lu Ming menunjukan jam tangannya ke hadapan Ming Yue. Dia sebenarnya mau bilang jika dia ingin mengajak Ming Yue melihat bintang, tapi sepertinyaa Ming Yue sudah sangat mengantuk. Mungkin besok malam saja dia akan mengajaknya.
Ming Yue mengangguk setuju, dia ingin segera memejamkan matanya.
Setelah sampai ke kamar, Ming Yue langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dia berlari ke pintu dan membukanya. “Lu Ming.” Ming Yue memanggil Lu Ming yang belum jauh.
__ADS_1
Lu Ming menoleh. Dia menaikan alisnya bertanya.
“Kau bilang kita bisa melihat bintang dari sini.” Ming Yue menjawab. Besok sudah malam tahun baru, kalau ingin melihat bintang sekaranglah waktu yang tepat. Belum berisik dan tidak ada orang yang melepas kembang api ke langit.
“Mau melihat sekarang?” Lu Ming bertanya, dia tidak terlalu yakin karena ini sudah lewat jam tidur Ming Yue. Gadis itu bisa menjadi sangat grumpy kalau tidurnya kurang.
Ming Yue mengangguk.
Lu Ming mempertimbangkannya dan akhirnya setuju. “Pakai pakaian yang hangat.”
Ming Yue kembali masuk dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih tebal. Ketika dia keluar, Lu Ming sudah siap menunggunya dengan senter dan selimut kecil. Dia menyampirkannya pada pundak Ming Yue dan mereka siap berangkat.
Mereka berdua menyusuri jalan setapak menuju bukit belakang.
Mereka sampai pada lahan terbuka yang ditumbuhi oleh rumput halus. Lu Ming menggelar selimutnya dan mereka berbaring di atasnya.
“Wow.” Ming Yue berseru. Pemandangan di depannya seperti keluar dari lukisan di dalam dongeng. Langit di atas mereka gelap bersih tanpa awan, bintang-bintang terlihat sangat jelas. “Aku menyesal tidak membawa telescope.” Ming Yue bergumam.
“Apa kau bisa menemukan Orion?” Lu Ming menoleh kepada Ming Yue. Dia meletakan lengannya di bawah kepala Ming Yue, menjadikannya sebagai bantal.
Ming Yue meliriknya. “Kau meremehkanku tuan Lu.” dia menunjuk ke langit dan memperlihatkan kepada Lu Ming. “Lihat tidak?” Ming Yue bertanya.
“Hmm.” Lu Ming tidak melihat ke langit, dia melihat Ming Yue. Ming Yue terlihat lebih bersinar dari pada bintang-bintang itu. Pertanyaannya itu hanya basa-basi, dia sudah menemukan Orion sejak tadi.
__ADS_1
Lu Ming bergeser lebih dekat lagi dan menarik Ming Yue ke dalam pelukannya. “Anginnya kencang, kau bisa bisa sakit kalau sampai kedinginan.”
Ming Yue memutar matanya. Dia tahu jika Lu Ming hanya modus, tapi Ming Yue tidak suka dingin jadi dia tidak menolaknya.