
Going back to the corner, Where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I’m not gonna move
Got some word on the cupboard, Got your picture in my hand
Saying, if you see this girl… Can you tell her where I am
Some try to hand me money,
They don’t understand
I’m not broke… I’m just the broken heart man
I know it make no sense. But, what else can I do?
How can I moved on,
When I’m still in love with you?
…
Ming Yue melirik Lu Ming, lantunan lagu yang mengalun merdu dari radio, lagu itu pernah nge-hit lima belas tahun lalu tahun silam, dinyanyikan oleh grup band yang beranggotakan tiga pemuda tampan dari Irlandia.
Tapi bukannya teringat dengan Danny O’Donohue, sang pentolan yang berwajah tampan, atau Mark Sheehan, gitaris yang kepalanya plontos atau Glen Power, si drummer-nya yang berwajah alim. Yang melintas dalam benak Ming Yue adalah Lu Ming yang menyayikan lagu itu pada acara kelulusan SMA.
Ming Yue tidak tahu sejak kapan ingatannya mulai bercampur dengan ingatan karakter Ming Yue dalam novel. Ingatan Ming Yue yang asli akan dia terima saat dirinya mengalami atau bersinggungan dengan hal-hal terjadi di masa lalu, seperti orang yang mengalami amnesia, ingatan itu muncul saat ada trigger.
“Untuk siapa kau menyanyikan lagu itu?” Ming Yue penasaran, makna lagu itu sangat dalam. Tentang seseorang yang tidak bisa melepaskan cintanya, tentang seorang pria yang sangat bucin kepada pasangannya, mereka putus dan si pria tidak bisa move on, pada waktu itu untuk siapa Lu Ming menyanyikannya, apakah Lu Ming pernah pacaran saat SMA? Kalau iya, siapa gadis itu? saat dia menyanyikan lagu itu di depan umum, pasti karena Lu Ming masih menyukai gadis itu dan menginginkan gasia itu kembali kepadanya. Setiap kali mendengar lagu ini diputar apakah Lu Ming masih memikirkan gadis itu?
__ADS_1
Ming Yue mematikan radio, semakin lama didengar dia jadi kesal sendiri.
Lu Ming menghentikan mobil saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Dia menatap Ming Yue dengan lekat, lalu meneruskan lagu itu.
“I say,
There’s someone I’m waiting for if It’s a day, a month, a year
Gotta stand on the ground even it’s rain or snow”
Ming Yue bertambah kesal. Wajahnya dongkol dan bibirnya mengerucut. Dia memalingkan muka, menatap lampu jalanan di pinggir jalan.
Tapi bukannya dia bisa calm down, dia malah menjadi semakin emosi. Di trotoar, di bawah tiang lampu yang cahayanya temaram itu, sepasang kekasih sedang bertengkar. Dari seragam yang mereka pakai, sepertinya mereka masih pelajar SMA. Si gadis menampar si laki-laki kemudian lari menyebrang jalan. Bocah laki-laki itu langsung mengejar, memeluk si gadis dari belakang. Si gadis yang awalnya memberontak, matanya mulai berkaca-kaca, entah apa yang dikatakan pacarnya, dan sebelum air mata si gadis jatuh si bocah laki-laki itu menciumnya.
Tidak sadar jika saat mereka berciuman, lampu untuk penyebrang sudah tidak hijau lagi, mereka membuat macet.
Klakson mobil mulai berbunyi satu persatu, pasangan itu menyudahi ciuman mereka, lalu karena malu mereka berlari bergandengan tangan.
Ming Yue merasa serepti menonton live show drama roman picisan, dengan suara Lu Ming sebagai pengisi lagu latar belakangnya.
Ming Yue ingin tertawa, sungguh sebuah kebetulan yang tidak disengaja.
Sunguh menjengkelkan!
Lu Ming terus bernyanyi sampai lagu selesai.
Tanpa Ming Yue ketahui, Lu Ming bernyanyi agar Ming Yue tidak tahu jika mereka sedang diikuti. Sebuah mobil Jeep hitam membuntuti mereka di belakang, sudah tiga kali Lu Ming mencoba untuk mengecohnya, tapi pengendara Jeep itu tetap berhasil mengikuti.
Aksi kejar-kejaran itu terus berlangsung sampai bala bantuan yang Lu Ming hubungi datang dan mengepung Jeep hitam.
__ADS_1
“Berhenti.” Ming Yue melepas sabuk pengamannya, dia bersiap untuk membuka pintu. Kalau Lu Ming tidak segera minggir dan menghentikan mobil, dia pasti akan nekat melompat keluar dari mobil.
“Biarkan mereka yang mengurusnya, kita pulang saja.” Lu Ming berusaha untuk membujuknya, dia hopeless, dia tidak bisa mengelabuhi dari Ming Yue. Padahal dia sampai membiarkan Ming Yue salah paham kepadanya.
Lagu itu, dia nyanyikan tidak lain tidak bukan untuk Ming Yue. Saat acara kelulusan tahun itu, temannya yang seharusnya tampil di panggung, tidak bisa tampil karena diare, lalu temannya itu memohon kepada Lu Ming yang kebetulan mengantarkannya ke klinik sekolah, untuk menggantikannya.
Temannya yang diare itu mau menampilkan stand up comedy, tapi dia tidak yakin jika Lu Ming bisa membuat penonton tertawa. Mengingat Lu Ming yang selalu menjadi perwakilan siswa pada saat pembukaan tahun ajaran baru, dia menyuruhnya untuk menggantinya dengan pidato motivasi saja.
Lu Ming tidak setuju, menyampaikan pidato motivasi pada saat semua orang berharap bisa bersenang-senang, audience bisa-bisa lemparinya dengan botol dan menyeretnya turun dari panggung. Walaupun itu seratus persen tidak mungkin terjadi, karena apapun yang pangeran sekolah lakukan semua orang tetap akan bersorak gembira.
Tapi, ada satu orang yang benar-benar akan melemparinya dengan botol dan menyeretnya turun, Lu Ming memutuskan untuk bernyanyi saja. Dan mengenai lagu yang dia pilih, itu karena dia sering mendengarnya di putar di radio, jadi di hafal.
Tapi saat menyanyikannya di panggung, Lu Ming merasa lagu itu sangat cocok untuknya. Walaupun dia ditolak dan tidak diinginkan, dia tidak akan pergi, akan terus berdiri di tempat yang sama dan menunggunya, menunggu gadis yang menyiramnya dengan air, datang kepadanya.
Pengemudi mobil Jeep itu adalah seorang muda yang berpakaian serba hitam dan memakai topi baseball hitam yang diturunkan sehingga wajahnya tidak kelihatan. Saat topinya dilepas dan wajahnya kelihatan, dia tidak terlihat mencurigakan dengan senyum ramah yang dipasang pada wajahnya yang mirip dengan idol Korea. Lugu dan bodoh, tidak terlihat berbahanya sedikitpun
Terlebih dia mengaku sebagai seorang wartawan, pengawal Lu Ming percaya setelah melihat kartu lisensi yang dia tunujukan dan setuju untuk melepaskannya.
“Preman pasar, kau sudah naik pangkat menjadi penipu rupanya.” Ming Yue tersenyum sinis, hanya sebelah bibinya yang naik. Tangannya bersedekap di depan dada dan matanya menatap jijik kepada pria berparas cantik itu.
“Kau…” pria itu menaikan jari telunjuknya kepada Ming Yue, bersiap untuk memaki. Tapi menyadari jika posisinya tidak menguntungkan dia mengurungkannya. “Classmate Lu, lama tidak berjumpa.”
Lu Ming tentu tahu siapa pria itu, teman sekelasnya yang dulu menembak Ming Yue di lapangan sekolah. Zhao Yinan. Lu Ming tidak membalas salamnya, dia lebih tertarik dengan bagaimana Ming Yue menyebut Zhao Yinan sebagai preman pasar.
Dan lagi dia juga tidak percaya jika Zhao Yinan adalah seorang wartawan. Saat Zhao Yinan dikeluarkan dari sekolah, Lu Ming mencoba menghubunginya, dia mercarinya untuk memberikan kompensasi. Tapi Zhao Yinan menghilang tanpa jejak, detektif yang dia sewa juga tidak bisa menemukannya, setelah bertahun-tahun lamanya menghilang dari kota Shanghai, tiba-tiba dia muncul kembali di depan Ming Yue dan mengaku sebagai wartawan.
Alasan itu jelas tidak bisa dipercaya. Bisa saja Zhao Yinan datang dengan niat buruk, bagaimanapun Ming Yue adalah orang yang membuatnya gagal memiliki masa depan cerah.
Kemungkinan dia datang untuk balas dendam sangatlah mungkin adanya.
__ADS_1
Lu Ming patut mencurigainya, semua yang tidak jelas dan berkemungkinan menyakiti Ming Yue, dia harus menghapuskannya.