MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
76.


__ADS_3

Setelah menggiring semua orang untuk naik ke mobil militer yang terparkir tidak jauh gedung dan mengirimnya ke markas pusat untuk interogasi. Mereka kembali menyisir setiap sudut baik di dalam maupun diluar gedung.


Pada saat penyisiran ulang mereka menemukan banyak ranjau yang ditanam mengelilingi gedung.


Penemuan itu membuat mereka berterimakasih kepada komandan mereka yang telah menyusupkan robot terlebih dahulu, sehingga mereka bisa tahu trik apa yang digunakan oleh musuh. Dengan robot itu juga mereka bisa menonaktifkan ranjau-ranjau itu sehingga tidak memakan korban.


Bukan hanya lima belas orang itu yang akan berterimakasih tapi juga para hadirin pesta itu.


Nanti mereka akan tahu jika jam tangan yang dibagikan kepada mereka bukan hanya berfungsi sebagai bukti undangan. Dia dalam mesin jam tangan itu sudah dipasangi chip peledak yang bisa diledakkan secara bersamaan oleh pemegang kontrolnya. Dengan kata lain mereka digunakan sebagai bom hidup.


Misi penangkapan tikus itu berjalan terlalu lancar. Tapi mereka tidak lengah. Misi yang selesai dengan mudah biasanya mengandung banyak plot twist.


Tiga jasad yang mereka masukkan ke dalam kantong jenazah itu bisa saja bukan yang asli. Karena itulah mereka membawa tim indentifikasi bersama mereka, dengan begitu jasad itu bisa langsung di pastikan keasliannya.


Dan benar dugaan mereka. Terdengar suara propeller helikopter di udara. Saat mereka melihat keatas ada tiga helikopter yang terbang mendekat kearah mereka.


Tentu saja mereka sudah bersiap untuk keadaan darurat. Mendapatkan kode dari komandan, tiga granat di lemparkan, ketiga-tiganya membidik masing-masing satu helikopter. Meledak kemudian puing-puing helikopter itu berterbangan di udara sebelum jatuh ke tanah.


Clap, clap, clap!


Suara tepuk tangan nyaring terdengar.


Tiga helikopter itu ternyata hanyalah sebuah bidak pengalih perhatian yang diterbangkan tanpa awak. Lima meter dari mereka, puluhan orang bersenjata api muncul dari bawah tanah.


Pasukan lima belas orang itu kini tinggal dua belas orang setelah dikurangi tiga yang kembali ke markas bersama para tawanan. Tapi menghadapi musuh yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari jumlah mereka, mereka tidak gentar.


"Presiden Lu, kuakui kau sangat pintar. Sayangnya arena ini milik kita." Orang yang bertepuk tangan tadi berkata dengan sinis.


Huo An berdiri di bersama dengan Dong Chen dan Gu Anran pada masing-masing sisinya. Tiga orang yang seharusnya berada di dalam kantong jenazah itu secara simsalabim bangkit kembali.


Huo An memberikan kode kepada pasukannya untuk bergerak, mengepung pasukan Lu Ming ditengah-tengah. Moncong-moncong senjata api itu mengarah ke kepala mereka, siap membidik kapan saja. Membuat mereka tersudut.


"Bagaimana kalau kita buat penawaran?" Huo An berkata dengan angkuh. Seperti katanya, area ini adalah miliknya. Pertempuran ini sudah dia rencanakan, dari membocorkan informasi, pesta itu, tiga orang yang menyamar menjadi mereka. Semuanya sesuai dengan rencana. Dan sekarang adalah saatnya dia memanen kemenangannya. "Serahkan Lu Group beserta wanita itu dan kau tidak akan mati ditempat ini. Bagaimana? Adil bukan?" Dia lanjut berbicara.

__ADS_1


Tidak membunuhnya di tempat ini bukan berarti dia akan membiarkannya hidup. Huo An menyunggingkan senyum sinis. Merasa memiliki tangan di atas.


"Penawaran yang cukup menarik.." Lu Ming menyentuh dagunya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika sedang berpikir.


Gu Anran yang melihat gestur itu, bibirnya merekah. Lu Ming sepertinya benar-benar membuat pertimbangan. Hahaha. Dia sudah tidak sabar. Jika benar dia menyerahkan Ming Yue ke tangannya maka ruang penyiksaan yang sudah dia siapkan akan segera terpakai.


Lu Ming mengetukkan jarinya dua kali.


Sebuah suar terbang kearah mereka dan kabut putih menyelimuti. Disusul dengan suara batuk-batuk lalu banyak orang yang tumbang.


Itu adalah semprot bius yang bisa membuat seseorang mengalami lumpuh otot jika menghirupnya.


Tentu saja diantara orang-orang yang tumbang itu pasukannya masih berdiri utuh memakai masker.


Lima belas menit berlalu dan kabut itu menghilang.


Bius itu hanya melumpuhkan tapi tidak membuat hilang kesadaran.


Lu Ming menyeringai.


Lu Ming mengambil langkah mendekati Huo An. Menginjak lehernya kemudian berkata. "Arena ini boleh saja menjadi milikmu, tapi aku sudah membajaknya."


Dan tanpa basa-basi dia segera menembak kepalanya.


Huo An telah mati.


Anak buahnya yang tadi bersifat angkuh kini hanya bisa menatap Lu Ming dengan keringat dingin yang bercucuran. Tidak tahu kapan giliran kepala mereka yang akan diledakkan.


Di dalam hati mereka mengutuk bos besar yang telah mengirim mereka kepada tuan muda. Andai saja dari awal mereka menolak dan tidak terpincut dengan iming-iming bonus akhir tahun yang akan digandakan, atau kalau saja tuan muda berhenti sombong dan membuat rencana yang lebih mutakhir...


Hanya saja semua itu hanyalah angan-angan. Yang mereka hadapi adalah malaikat maut, jika sudah ditandai mana mungkin bisa menghindar. Ajal sudah pasti akan datang.


Lu Ming tidak tertarik kepada mereka.

__ADS_1


Dia mendekati Gu Anran, wanita itu sudah pucat pasi dan matanya menatap Lu Ming dengan penuh horor. "Aku tidak bersalah. Ini semua rencananya." Dia melimpahkan semua kesalahan kepada rekannya yang sudah mati. Sangat tidak terpuji, tapi apa yang bisa dia perbuat dalam keadaan seperti ini. "Asalkan kau tidak membunuhku, aku akan memberitahu semua. Dia adalah Mike putra mahkota kartel giok, aku tahu semua informasi internal organisasi mereka." Dia bernegosiasi, mencoba keperuntungan-nya.


Lu Ming mengangkat alisnya, tidak peduli dengan barter yang ditawarkan. Dia mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya.


Duar!


Satu lagi kepala diledakkan.


Membiarkan musuh hidup sama saja dengan mengacungkan senjata pada diri sendiri. Hanya dengan memangkasnya sampai akar baru bisa dia tenang.


Sekarang giliran Dong Chen.


Lu Ming sedikit kagum dengan orang ini. Dia adalah seorang yang pintar mengatur siasat. Karena adanya orang ini organisasi kecil seperti kartel giok bisa bertahan sampai sekarang. Sayangnya sikapnya yang terlalu loyal membuat pandangannya kabur.


Kalau saja dia memiliki ambisi yang sedikit lebih besar, dia bisa merebut tahta.


"Sungguh bodoh. Kau mempertaruhkan nyawa untuk orang yang tidak pantas dilindungi." Lu Ming mengarahkan pistolnya, bersiap untuk menembak. Sebenarnya sangat disayangkan untuk membunuh orang pintar. Andai saja dia belum memiliki majikan, dia akan sangat cocok untuk direkrut.


Dong Chen membalas dengan melotot, matanya merah penuh dendam. Dia telah gagal menjalankan tugasnya. Melihat kematian orang yang paling dia sayangi, dia mengumpulkan semua tenaganya."Tahu apa kau!" Dia bangkit dan merangsek maju.


Duar!


Bersamaan dengan tumbangnya Dong Chen, Lu Ming terhuyung kebelakang.


"Boss." A Tai memekik. Dia melangkah maju dan menahan tubuh bosnya. Melihat pisau yang menancap pada dada bosnya dia segera memapahnya masuk mobil dan menyalakan mesin.


Dalam perjalan menuju rumah sakit. A Tai terus menerus melirik kebelakang. "Bos jangan kehilangan kesadaran. Kita akan segera sampai." Melihat darah yang semakin banyak dan mata bosnya yang perlahan mulai menutup dia semakin khawatir.


Entah pisau jenis apa yang Dong Chen gunakan hingga bisa menembus rompi anti peluru. Tapi setelah dia perhatikan, Dong Chen menyelipkan pisau melalui celah yang terdapat pada bagian kerah rompi lalu baru menusukkan pisaunya. Pria itu sangat licik.


Lu Ming menyalakan layar ponselnya dan memandangi foto Ming Yue yang dia jadikan sebagai wallpaper.


Foto itu dia ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan orangnya. Di dalam foto Ming Yue masih mengenakan seragam SMA, duduk di bawah pohon besar di pinggir danau di sekolah. Tersenyum dengan sangat manis memandangi mata hari terbit.

__ADS_1


"I will make them pay." Lu Ming berkata, dia menyentuh wajah Ming Yue di layar dengan jari telunjuknya. Mengusapnya lembut dan penuh sayang.


A Tai yang duduk di depan kemudi meliriknya dari kaca spion. Melihat wajah bos-nya yang semakin memucat dan lemah, dia mempercepat laju mobil.


__ADS_2