
“Ok, akan saya kirimkan hasil analisisnya dalam dua hari.” Ming Yue menutup telpon.
Client pertamanya mengenalkan client baru kepadanya. Mouth to mouth advertisment seperti ini membuatnya tidak perlu mengeluarkan biaya khusus untuk mengiklankan. Selama dia menjaga hubungan yang baik dengan para client, mereka akan membantunya untuk mengundang client lain. Dengan begitu Ming Yue tidak perlu khawatir tidak mendapatkan job.
Ming Yue segera membuka e-mail yang dikirimkan oleh client barunya. Dia tidak memerlukan dua hari untuk menyelesaikannya, dia hanya butuh satu sampai dua jam saja untuk mengerjakannya. Hanya saja berdasarkan survei yang dia lakukan, orang lain biasanya membutuhkan waktu paling cepat satu hari, ada yang sampai satu minggu lebih. Karena itulah Ming Yue mengambil rata-rata tengahnya, dia akan menyerahkan jobnya dalam dua hari, kalau lebih cepat dari itu, dia takut client-nya tidak akan percaya dan mengiranya sebagai penipu.
Lu Ming keluar dari ruang ganti dan sudah berpakaian dengan rapi. Ketika dia melihat Ming Yue yang belum beranjak dari kasur dan membelakanginya, dia tersenyum jahil.
Tanpa bersuara, dia berjalan menghampirinya.
Ming Yue yang sedang sibuk, tidak menyadari kedatangan Lu Ming. Ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang, dia terlonjak kaget dan tidak sengaja melemparkan ponselnya.
Menyadari jika Lu Ming yang memeluknya, Ming Yue meyentuh tangan Lu Ming yang melingkarinya dan menoleh. “Jangan mengagetkanku seperti itu.” dia melepaskan pelukan Lu Ming dan mengambil ponselnya yang jatuh di lantai. Menyimpan pekerjaan yang baru dia kerjakan setengah dan beranjak ke kamar mandi.
Lu Ming hanya bisa tersenyum, kalah. Dia tidak bisa protes, Ming Yue memang seperti itu. Kurang peka. Tapi setidaknya ada sedikit kemajuan, Ming Yue biasanya akan membentaknya kalau dikagetkan seperti itu.
Ming Yue tidak memiliki kebiasaan mandi di pagi hari, setelah gosok gigi dan mencuci muka, dia keluar dari kamar mandi.
Lu Ming sudah tidak ada di kamar.
Di dapur, Lu Ming sedang menyiapkan sarapan.
Dia mengaduk adonan pancake dengan mixer, karena Ming Yue tidak menyukai makanan instan, Lu Ming membuat adonan itu dari awal. Dia menambahkan irisan berry dan nanas ke dalam adonan.
Ketika dia hendak membalik adonan di dalam teflon, Ming Yue muncul di belakangnya. “What we have for breakfast?” Ming Yue memeluk pinggang Lu Ming dan menempelkan dagunya pada punggung pria itu.
“Pancake.” Lu Ming berkata, dia menunduk, melihat tangan Ming Yue yang melingkar pada pinggangnya, sebuah senyum terbit.
__ADS_1
“Pancake.” Ming Yue bergumam, mengulangi perkataan Lu Ming.
Ming Yue mengeratkan pelukannya, dia lalu menggosokan kepalanya pada punggung Lu Ming.
Hampir saja Lu Ming menjatuhkan pancake-nya, dia menelan ludah lalu berbalik, menangkup pipi Ming Yue dan mencubitnya. “Bantu aku mengambiklan madu di almari sebelah kulkas.” Dia berkata.
Ming Yue mengerucutkan bibirnya, dia menggeleng, tidak mau melepaskan pelukannya. Dia belum puas.
Adegan memeluk Lu Ming dari belakng itu dia tiru dari sebuah iklan di televisi, dia kira melakukan hal seperti ini tidak berfaedah dan buang-buang waktu, tapi setelah melakukannya, ternyata rasanya… boleh juga.
Lu Ming bukannya tidak mau Ming Yue memeluknya, dia sudah sering membayangkan akan bagaimana dia menghabiskan waktu bersama dengan Ming Yue. Tapi, ketika Ming Yue menggosokan kepanya pada punggungnya, sesuatu di dalam tubuhnya terbangunkan. Kalau dia membiarkan Ming Yue melakukan itu lebih lama lagi, takutnya Lu Ming tidak bisa menahan diri.
Lu Ming menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menekan naluri binatang buas di dalam dirinya yang meronta meminta untuk dilepaskan.
Kalau sampai dia mengeluarkannya, Ming Yue pasti akan kabur.
Perjanjian simulasi pacaran mereka mencakup untuk tidak melakukan itu selama masa training. Dan Lu Ming harus mematuhinya karena menjaga keparcayaan Ming Yue sangatlah penting.
Ming Yue membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu memempekannya pada pipinya yang terasa panas. Tadi ada sesuatu yang berubah pada tubuh Lu Ming. Ming Yue tentu tahu apa itu, dia tidak membolos saat pelajaran biologi. Dia paham dengan struktur tubuh manusia dan reaksi apa yang akan terjadi jika terstimulasi.
Hal seperti itu wajar terjadi, Ming Yue juga terbuka dengan hubungan R18, hanya saja dia belum siap. Setidaknya mereka harus menunggu satu tahun lebih dulu untuk masuk ke jenjang itu.
“Jangan minum air dingin.” Lu Ming merebut botol air dari tangan Ming Yue dan memasukannya kembali ke dalam kulkas. Dia menuangkan air hangat dan memberikannya kepada Ming Yue.
“Ayo sarapan.” Dia berkata, mengambil botol madu dari almari dan menuntun Ming Yue ke meja makan.
Setelah sarapan, mereka keluar rumah dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
Mereka setuju untuk pergi ke pameran lukisan untuk kencan pertama mereka. Kemudian dilanjutkan dengan menonton di bioskop, lalu dinner.
Lu Ming sudah menyiapkan semuanya dengan teliti.
“Kakak Ming.” seseorang memanggilnya.
Mereka baru saja tiba di lokasi pameran.
Ming Yue menarik Lu Ming untuk kembali masuk ke dalam mobil. “Kenapa dia ada dimana-mana sih.” Dia menggerutu. Melihat keluar dengan sebal.
Mu Jena mengetuk kaca mobil di depannya. Dia sudah berhari-hari mencoba untuk menemui Lu Ming, tapi pria itu selalu tidak bisa dia temui. Maka ketika dia tidak sengaja melihatnya, dia tidak akan melepaskannya. “Kakak Ming ada sesuatu yang ingin Jena bicarakan.”
Lu Ming bisa membaca mood Ming Yue, dia segera memasukan kunci dan menyalakan mobil.
Ketika dia hendak menekan pedal gal gas, Ming Yue menghentikannya. “Mundur.” Katanya.
Lu Ming mengerutkan dahinya, tapi dia menuruti perkataan Ming Yue dan memundurkan mobil.
Mu Jena yang melihat mobil akan bergerak dia segera berlari ke dapan untuk menghalanginya. Dia berdiri di depan mobil itu dan merentangkan tangannya. dengan begitu mereka tidak akan bisa pergi, dia yakin jika Lu Ming tidak akan menabraknya. Tapi siapa tahu jika ternyata mobil itu malah melaju mundur. Mu Jena hanya bisa memandangi mobil itu meninggalkan area parkir dengan mulut yang ternganga.
“Haha… lihat expresinya.” Ming Yue tertawa.
Lu Ming hanya mengelengkan kepala. Dia juga sudah menduga jika Mu Jena akan mengambil langkah itu, dia berniat untuk menabraknya untuk memberikan pelajaran. Tapi ternyata itu bisa dilakukan dengan lebih simple, hanya dengan melajukan mobil ke arah yang berlawanan, dia bisa memberikan pelajaran sekaligus mendapatkan lelucon darinya.
Ming Yue menganggap pertemuan dengan Mu Jena sebagai pertanda buruk, jadinya mereka tidak melanjutkan kencan dan malah pergi ke supermarket untuk membeli daging.
Lu Ming agak kecewa kencan pertama mereka gagal. Dia mendorong troli belanja dengan wajah masam sambil menyumpahi Mu Jena sampai ke kakek dan nenek buyutnya.
__ADS_1
“Tapi Lu Ming, dia juga kandidat istrimu, kalau kakek bertemu dengannya lebih dulu, mungkin Sekaran gdia adalah tunanganmu.” Ming Yue dengan santai memasukan cherry ke dalam troli belanjaan mereka. Dia tidak memungkiri kemungkinan tersebut, bagaimanapu Mu Jena memiliki kondisi yang lebih bagus darinya, dia masih muda dan sudah menjadi pelukis terkenal. Orang seperti dia lebih cocok untuk menjadi menantu keluarga Lu dari pada dirinya yangtidak memiliki pencapaian apapun. Orang-orang juga akan lebih setuju jika Mu Jena yang menjadi tunangan Lu Ming.
“Tapi apa boleh buat, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Ming Yue.” Ming Yue mendongkak dan menatap Lu Ming, pada bibirnya tersemat senyum kepedean seperti biasanya.