MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
64.


__ADS_3

Lu Ming mengerutkan keningnya, sebuah kotak bekal berwarna biru muda tiba-tiba sudah bertengger rapi di atas meja kerjanya. Kotak bekal itu terlihat familiar.


Didekatinya kotak makan itu.


Kotak bekal biru muda dengan print domba-domba kecil itu terlihat sangat mencolok dianrata benda-benda lain di ruangan itu. Menjadi satu-satunya benda yang memiliki warna selain hitam dan putih.


Lu Ming tersenyum simpul. Kehadiran benda itu menghangatkan hatinya.


Namun, satu detik kemudian wajahnya berubah menjadi kaku, dia menatap kotak bekal itu dengan perasaan yang rumit.


Lu Ming menelan ludah…


Kemarin, ketika Ming Yue menyetujui permintaanya untuk memasak, Lu Ming senang bukan kepayang. Pasalnya dia sudah mengimpi-impikan bagaimana rasanya memakan makanan yang dibuat oleh Ming Yue. Walaupun dia tahu jika Ming Yue tidak bisa memasak, gadis itu juga memberitahunya begitu. Tapi Lu Ming tetaplah memaksa, dia orang yang tidak pernah menyentuh dapur sekalipun pasti bisa membuat telur dadar. Terlebih orang itu adalah Ming Yue, orang yang sangat pintar mengomentari masakan orang lain. Lu Ming yakin gadis itu pasti bisa lebih baik dari menggoreng telur.


Namun siapa sangka jika kepercayaan dirinya itu menjadi malapetaka untuk dirinya sendiri. Menyuruh gadis itu untuk memasak, Lu Ming bagaikan mengangkat batu untuk dijatuhkan ke kaki sendiri. Saat Ming Yue selesai memasa, satu piring nasi goreng, di-plating dengan sangat menarik seperti nasi goreng yang dihidangkan di restoran bintang lima, memiliki aroma yang begitu menggoda dan wangi, Lu Ming jadi memiliki expectasi yang tinggi akan rasanya.


Akan tetapi dia tidak tahu jika di balik semua kesempurnaan itu, tersembunyi dark cuisine disana.


Nasi goreng itu… sukses meracuninya. Makanan itu tidak hanya keasinan atau kelebihan gula, rasanya tidak bisa dijabarkan. Tapi melihat Ming Yue yang menatapnya dengan penuh harap, Lu Ming hanya bisa mengertakan giginya dan melontarkan pujian palsu.


Begitu nasi goreng itu habis, Lu Ming segera mencari alasan untuk kabur dengan perut yang melilit dan hasrat untuk pergi ke toilet. Dia mengungsi ke tempat kakeknya dan menghabiskan seharian penuh untuk bolak-balik ke toilet.


Saat dia masih merenungkan mimpi buruknya hari kemarin, asisten Yun masuk.


“Presiden Lu, makan siang anda hari ini.” Semenjak catering langganan Ming Yue tidak lagi menyediakan makan siang untuknya, asisten Yun kembali memesan makan siangnya dari Paradise hotel.


Asisten Yun hendak mengeluarkan kotak makanan dari dalam papper bag ketika dia melihat jika di depan presiden Lu ada satu, gerakan tangannya terhenti. Bertanya-tanya dari mana datangnya benda itu dan bagaimana benda itu bisa sampai kesini tanpa sepengetahuannya.


Dengan hati-hati dia melirik wajah bosnya. Raut wajah bosnya terlihat normal, tapi asisten Yun sudah berada di samping presiden Lu selama tujuh tahun, dia bisa membaca mood presiden Lu meskipun tidak ada expresi pada wajah datar itu.


Sebelumnya asisten Yun tidak pernah kecolongan seperti ini. Apapun yang masuk ke lantai teratas, baik orang atau benda, semuanya pasti melewati sensornya. Dia memilih dan memilah apa saja yang akan sampai ke hadapan presiden Lu, tapi kotak bekal itu bisa luput darinya. Asisten Yun jadi merasa ketar-ketir. Kalau sampai benda itu membuat presiden Lu marah maka tamat sudah dirinya.


Asisten Yun merasa semakin tegang. Dia melirik kotak makan siang biru muda dengan print kartun domba itu lalu melirik wajah bosnya lagi. dia menggelengkan kepalanya di dalam hati, siapa yang mengirimkan benda kekanak-kanakan itu.


“Presiden Lu itu…” dia baru akan bertanya apa yang yang harus dia lakukan terhadap kotak bekal itu. Apakah dia harus menyingkirkannya atau tidak. Dia tidak bisa diam saja dan menunggu intruksi karena pada saat itu dia jamin presiden Lu akan sangat marah.


Tiba-tiba presiden Lu menarik kotak bekal itu dan membuka tutupnya.

__ADS_1


Lu Ming membayangkan bagaimana Ming Yue membuat makanan itu, apakah dia mengiris jarinya lagi atau terciprat minyak? Berapa lama gadis itu berdiri di dapur? Ming Yue pasti membuat bekal itu dengan sepenuh hati. Dia tidak boleh menyia-nyiakannya.


Dengan tekat yang dibulatkan, Lu Ming menghirup nafas dalam-dalam dan membuka kotak bekal itu.


Tiga potong sandwich dengan isian yang sangat gendut menyambutnya. Irisan daging, tomat, mentimun dan selada saling mencuat dengan tidak beraturan.


Melihat sandwich di dalam kotak makan itu kecemasannya sedikit berkurang. Semua orang bisa membuat sandwich, itu sangat mudah, lebih sederhana dari menggoreng telur. Tingkat terjadinya eror sangat kecil, dan jika terjadi kesalahan, itu tidak akan berakibat fatal sampai membuat orang keracunan kecuali bahan yang dia gunakan sudah kadaluarsa, dan Lu Ming yakin jika semua bahan-bahan makanan yang tersimpan di dalam kulkasnya terjamin akan kesegarannya.


Sandwich itu bisa dimakan.


Menatap kotak ke dua. Hati Lu Ming kembali berdebar, mengantisipasi makanan apa yang akan ada di dalamnya.


Begitu terbuka, dia bersyukur kepada Tuhan ketika melihat potongan semangka dan anggur hijau. Sekarang giliran kotak terakhir yang untungnya di dalamny hanya berisi sebuah botol yang diisi air putih dengan potongan lemon dan mentimun. Lu Ming menghela nafas, menyandarkan bahu pada sandaran kursi, merasa sangat lega.


Asisten Yun tidak bisa berkata-kata mengetahui isi di dalam kotak bekal makan siang itu dan bagaimana reaksi presiden Lu setiap kali dia membuka bekalnya, dia langsung tahu dari mana asalnya.


“Kenapa kau di sini?” Lu Ming berkata, dia baru sadar jika ada yang masuk.


“Bukan apa-apa boss.” asisten Yun dengan bijak mengemasi kembali kotak makanan yang dia bawa. Lalu dia keluar dan menutup pintu dengan rapat.


Maybach hitam berhenti di depan gedung kantor perusahaan Ming Group. Kehadiran mobil itu menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang, bukan karena mobilnya melainkan pria yang pengendarainya.


Pria itu memutari mobil kemudian membukakan pintu penumpang.


Sebuah kaki ramping, putih, mulus dan indah memakai sepatu high heel silver berbalut berlian menapak turun. Seketika perhatian orang-orang beralih kepadanya.


Begitu wanita itu turun dari mobil, semua mata tertuju kepadanya.


Ming Yue menyibakan seuntai rambut yang jatuh menghalangi pandangannya lalu menyelipkannya kebelakang telinganya. Kemudian dia berjalan memasuki gedung tanpa tahu jika dirinya menjadi pusat perhatian.


“Woah…”


“Itu Ming Yue bukan sih…”


“Siapa dia?”


“Semakin cantik saja dia.”

__ADS_1


“Putri sulung CEO Ming.”


Baru setelah punggung Ming Yue menghilang, mata orang-orang yang tadi tidak berkedip, kembali berkedip lagi. Lalu dilanjutkan dengan bergosip.


Saat Ming Yue sampai ke lantai dimana kantor Ming Weyan berada, sekretaris ayahnya itu sudah menunggunya di luar lift.


“Nona Ming silahkan.” Sekretaris Lan mendorong pintu ruangan CEO dan mempersilahkan Ming Yue untuk masuk.


Di dalam ruangan, Ming Weyan duduk di belakang meja kerjanya, begitu melihat Ming Yue masuk. Tanpa basa-basi dia segera menyodorkan sebuah dokumen kepadanya.


Setiap anggota keluarga Ming, ketika mereka menginjak usia dua puluh lima tahun mereka akan mendapatkan dua persen saham yang akan digunakan sebagai mahar ketika menikah nanti.


Ming Yue yang cukup senang akan mendapatkan uang secara-cuma, tidak banyak berpikir. Setelah dia selesai membaca dokumen itu dan tidak menemukan adanya masalah, dia segera membubuhkan tandatangannya dan mengenbalikan dokumen itu kepada Ming Weyan. Lalu dokumen yang sudah ditandatangani itu diambil oleh sekretaris Lan untuk diserahkan ke departeman legalitas untuk divalidasi.


“Apa kau hamil?” tiba-tiba Ming Weyan berkata.


“What?” Ming Yue kira dia salah dengar, tapi mata Ming Weyan yang terus menatap perutnya membuat Ming Yue ikut melihat ke bawah dan menyentuh perutnya dengan keki.


Ya… perutnya memang sedikit, ingat, sedikit… timbul, tadi sebelum dia makan siang perutnya masih rata. Dan dia yakin seratus persen jika dirinya tidak sedang mengandung. Tidak ada bayi di dalam perutnya. “Tidak.” Ming Yue menjawab dengan sedikit ketus. Dari sisi sebalah mana dia bisa terlihat seperti orang hamil.


“Kalau kau tidak hamil, cepat hamil.”


What the f***k! Apakah Ming Weyan tidak waras atau dia sedang nge-fly? Atau mungkin dia kesurupan?


“Kau minum ini.” Ming Weyan mengeluarkan sebuah botol kecil dari laci dan memberikannya kepada Ming Yue.


Obat penyubur kandungan. Ming Yue membaca tulisan yang tertera pada label yang ditempel pada botolnya. Seketika wajahnya berkerut, dia apa yang ada dipikirkan Ming Weyan, dia ingin menggunakan bayi untuk mengikat keluarga Lu. “Kenapa tidak membuat Lu Ming meminum aphrosidiac sekalian. Dia belum pernah menyentuhku.” Ming Yue menyarankan.


“Tidak mungkin!” Ming Weyan tidak percaya. Dua orang yang tediri dari pria single dan wanita single tinggal di dalam satu rumah, bertemu setiap hari dan statusnya adalah tunangan, mana mungkin tidak timbul percikan api. Dengan fisik yang Ming Yue miliki, pasti sudah terjadi apa-apa. Ming Weyan tahu jika Lu Ming adalah pria normal dengan orientasi sexual yang tidak bermasalah.


Atau… Ming Weyan menyipitkan matanya, menatap putrinya curiga. Jangan-jangan…


“I am normal.” Ming Yue menghentikan arah pikiran Ming Weyan. “Aku hanya memutuskan untuk childfree.” Dia melanjutkan.


“Childfree?” Childfree dia bilang! Ming Weyan menggertakan giginya. Benci dengan besi yang tidak menjadi stainless steel. Dia menatap Ming Yue seakan ingin mencekiknya. Gadis itu benar-benar tidak mengerti atau sengaja ingin membuatnya naik pitam.


Bagi keluarga seperti keluarga Lu, keluarga yang memiliki history selama ratusan tahun. Betapa pentingnya seorang keturunan. Dan seorang menantu yang tidak ingin mempunyai anak, tentu itu tidak bisa diterima. Mereka membutuhkan pewaris yang merupakan darah daging mereka untuk meneruskan legacy.

__ADS_1


“Jangan pernah mengatakannya di depan siapapun.” Ming Weyan memperingati. Asalkan hal tersebut tidak samapi ketelinga orang luar, tidak akan menjadi masalah. Dan mengenai Ming Yue yang tidak mau punya anak, bukan dia yang memutuskan. Tidak peduli dengan cara apa dan bagaiman, Ming Yue akan mengandung dan melahirkan keturunan Lu.


“Aku sudah mengatakannya kepada Lu Ming.”


__ADS_2