
"I love you."
Ming Yue tertegun, dia menatap Lu Ming dengan bodoh.
"I, I..." Dia mendadak gagu, mulutnya tidak mampu untuk membalas perkataan Lu Ming.
Lu Ming tersenyum, dia meraih Ming Yue kedalam pelukannya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. "Tidurlah." Bisiknya lirih. Pernyataan cintanya tidak memerlukan jawaban.
"Lu Ming, aku..."
"You don't have to give me an answer now. Tetaplah berada di sisiku, itu sudah cukup." Lu Ming berkata sembari menatap Ming Yue lekat kemudian dia menangkup wajah Ming Yue lalu mengecup dahinya lembut.
Aku akan menunggu. Tidak peduli akan selama apapun itu. Lanjut Lu Ming di dalam hatinya.
Dia menatap Lu Ming cukup lama sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
Ming Yue sudah lama menyadari perasaannya kepada Li Ming. Dia tahu jika yang dia rasakan itu adalah cinta antara pria dan wanita, tapi entah kenapa dia tidak bisa mengatakan I love you too setiap kali Lu Ming mengatakan I love you. Selalu seperti ada kekuatan tidak terlihat yang menahan lidahnya untuk mengatakan kalimat tersebut.
Ming Yue terus memikirkannya dan tidak bisa tidur. Dia ingat pernah menonton sebuah drama dimana pemeran wanitanya mengalami keadaan yang mirip dengan keadaannya sekarang. Wanita itu terus tidak membalas pernyataan cinta pacarnya hingga suatu hari pacarnya meragukan cinta si wanita lalu memutuskannya.
Ming Yue mengigit giginya sebelum membuka matanya kembali dan menangkup wajah Lu Ming di kedua tangannya. "I love you too." Pekiknya lantang sebelum dia mengecup bibir Lu Ming lalu membenamkan wajahnya pada dada pria itu karena malu jika suara ternyata sangat keras.
Lu Ming tertawa, dia mengeratkan pelukannya dan mengecupi puncak kepala Ming Yue berkali-kali.
Dia senang!
Sangat senang.
__ADS_1
Ming Yue bisa mendengar jantungnya berdetak yang begitu keras. Setelah berhasil mengatakan kalimat itu dia merasa lega seperti beban dia pundaknya menghilang dan tubuhnya terasa ringan. Ming Yue tersenyum senang. Namun ketika dia merasakan dada Lu Ming bergetar dan mendengar pria itu tertawa, wajahnya merona karena malu. Dia membenamkan kepalanya semakin dalam ke dada Lu Ming untuk menyembunyikan wajahnya.
Lu Ming menatap telinga Ming Yue yang menyembul diantara rambut hitam gadis itu perlahan mulai memerah. Dia tersenyum kemudian meraba daun telinga Ming Yue dan menyusuri setiap lekuknya menggunakan jari telunjuknya. Dia baru tahu jika Ming Yue ternyata bisa malu juga.
Cute.
Lu Ming kembali mengecupi puncak kepalanya Ming Yue dengan gemas.
"Lu Ming, menurutmu... apa ada seseorang yang bisa melakukan perjalanan waku, time travel itu mungkin atau tidak?" Ming Yue memejamkan matanya dan berkata dengan lirih , dia mengulurkan tangannya dan melingkarkannya memeluk pinggang pria itu dengan erat. Ming Yue memilih untuk mengambil resiko, jika hasil akhirnya tidak sesuai, dia tetap tidak akan melepaskan pria ini.
"Time travel? Hmm, bagaimana ya... Tidak scientific tapi mungkin saja bisa terjadi." Lu Ming berpikir sejenak sebelum memberikan jawabannya.
"Bagaimana dengan dunia paralel. Ada dunia lain selain tempat kita hidup saat ini, di dunia itu mungkin ada aku atau kamu dalam versi berbeda. Menurut ada tidak?" Mendengar jawaban Lu Ming yang positif, Ming Yue bertanya lagi. Mungkin Lu Ming juga sama sepertinya, menyimpan rahasia yang sulit untuk dikatakan.
"Lu Ming, aku tahu jika ini bukan kehidupan pertama kita." Ming Yue berkata. Dia mendongak dan menatap mata hitam pria itu mencoba untuk mencari apakah dia marah dengan pengakuannya atau menolaknya.
Ketika mendengar pernyataan Ming Yue, Lu Ming sedikit kaget tapi ketika Ming Yue menjauh darinya dia segera menariknya kembali ke dalam pelukannya dan merengkuhnya dengan erat.
Dia memutar kembali semua kejadian setelah malam itu, Ming Yue memang sedikit berubah sejak malam itu tapi bukankan itu juga karena dia yang berubah lebih dulu dan perubahan Ming Yue hanya mengikutinya.
Lu Ming menutup matanya dengan kasar. Dia merasa marah sekaligus takut di dalam waktu yang bersamaan. Marah karena Tuhan mengingkari janjinya dan takut jika Ming Yue tidak bisa memaafkannya.
Andai saja hari itu dia tidak pergi dan tetap berada di samping Ming Yue, semua tragedi itu tidak akan pernah terjadi. Semua itu adalah salahnya. Dia yang tidak becus melindungi wanitanya.
Ketika Tuhan memberikan, bukan, menawarkan sebuah transaksi untuk mendapatkan kesempatan kedua kepadanya. Dia tahu jika harga yang harus dia bayar pasti akan lebih besar dari apa yang dia dapatkan, oleh karena itu dia sudah menekankan kepada-Nya jika menginginkan Ming Yue untuk tidak memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya
Hanya itu yang dia inginkan, tapi kenapa Tuhan begitu kejam, dari semua harga yang harus dia bayarkan kau pilih yang satu ini. Kenapa kau buat Ming Yue mengingat dan memaksanya menderita dua kali.
__ADS_1
Terkutuk lah kau!
Dari reaksi Lu Ming, Ming Yue sekarang yakin jika Lu Ming lah yang membuat kesepakatan dengan Tuhan. Tapi apa alasannya?
Di dalam novel Ming Yue hanyalah karakter figuran dan Lu Ming happy ending dengan Gu Anran.
Ming Yue menatap Lu Ming lekat. Apa mungkin dia salah paham, bisa saja novel itu misleading. Tidak seratus persen benar karena saat ini Ming Yue yakin dia melihat dengan jelas jika hanya ada dirinya di dalam mata Lu Ming. "Aku ingin tahu apa saja yang terjadi, beritahu aku semuanya," ucapnya.
Lu Ming membuka matanya kembali dan menatap Ming Yue lekat. "Ming Yue..." Tidak ada kata yang bisa Lu Ming katakan saat ini. Dia ia merasa bersalah dan sangat bersalah.
Setelah dia mendengarkan cerita dari sudut pandang Lu Ming, sekarang dia mengerti apa maksud sang Biksu yang mengatakan jika kehidupannya ada di sini.
Dia ingat, Ming Yue mengingat semuanya.
Novel yang dia baca setengah lebih dari isinya adalah kebohongan, Lu Ming tidak pernah jatuh cinta kepada orang lain, Ming Yue juga bukan wanita pemeran antagonis yang pedengki, dia tidak pernah melakukan hal jahat selain tidak kunjung menerima pernyataan cinta dari Lu Ming. Dia Semua kejadian sampai dengan hari ulang tahun kakek Lu adalah benar tapi mengenai dia yang memberikan obat perangsang kepada Gu Anran itu adalah salah.
Malam itu dia mabuk dan Lu Ming mengantarkan ke kamar hotel dan menunggu hingga pagi tapi karena ada urusan bisnis yang mendadak dia tidak menunggunya sampai bangun. Dan hal itulah uang dimanfaatkan oleh Gu Anran. Dia menjebak Ming Yue dan membuat seolah-olah dia tidur dengan pria lain. Ming Yue yang saat itu sudah jatuh cinta Lu Ming merasa jika dirinya kotor dan tidak pantas untuk Lu Ming. Hari itu juga dia lompat dari jendela kamar hotelnya.
Ketika Lu Ming kembali dan hanya bisa melihat Ming Yue yang sudah membiru di kamar mayat. Kepergian Ming Yue memukulnya terlalu keras, dia tidak bisa menjalani satu hari saja tanpa pengaruh alkohol, dia menjadi gila dan untuk menyalurkan kemarahan dia memulai misi balas dendam dengan membunuh semua orang yang terlibat. Tapi dia tidak pernah merasa puas sehingga dia mulai mengusik semua orang yang pernah menyakiti Ming Yue tidak peduli seberapa besar perbuatan mereka, signifikan atau tidak. Karena dengan begitu dia bisa sedikit bernafas lega.
Hingga akhirnya Tuhan merasa dia sudah mengganggu keseimbangan dan mendatanginya untuk menawarkan kesempatan kedua.
"Kau boleh membenciku, tapi jangan pernah tinggalkan aku. Aku akan menebusnya, apapun yang kau mau selain pergi dariku." Bisiknya lirih dengan suara yang serak, pria itu menangis dan terlihat begitu rapuh.
Lu Ming menggenggam tangan Ming Yue dan mengucapkan maaf berkali-kali.
Ming Yue menarik tangannya dari genggaman Lu Ming dan menangkup wajah pria itu. Dia menyatukan hidung mereka. "Aku tidak akan pergi."
__ADS_1