
Di dalam bus Ron masih merasa jika ada yang sedang mengawasi mereka. Tapi karena nona Ming mengatakan kepadanya untuk tidak khawatir, dia mencoba untuk sedikit rilex dan menikmati perjalanan ini.
Tidak terlalu banyak informasi yang diketahui tentang kota J. Kota penghasil karet yang terletak diperbatasan, terdapat banyak hutan pinus dan bukan merupakan destinasi wisata yang terkenal. Tidak banyak turis tidak datang ketempat ini karena orang-orang lebih memilih untuk pergi ke kota Y yang memiliki pantai atau kota H yang memiliki pemandangan indah.
Ron pikir dia akan menemani nona Ming pergi ke Paris atau Itali untuk berbelanja. Saat dia tahu nona Ming membeli tiket dengan tujuan kota J dia cukup terkejut, seingatnya memang ada sebuah kuil shaolin yang cukup terkenal, tapi setahuanya nona Ming bukan orang yang agamis. Terlebih lagi tidak ada tranportasi yang bisa mengantarkan sampai kesana kecuali dengan berjalan kaki.
Tapi semua prasangkanya terjawab ketika bus itu berhenti di sebuah halte di bawah bukit dan nona Ming turun di sana.
Di sebelah halte itu ada sebuah jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter, dipenuhi dengan semak-semak setinggi mata kaki dan terlihat jarang dilewati. Lalu ada sebuah papan penunjuk arah yang mengarah ke atas bukit dengan tuisan yang berbunyi: Kuil Tian Ji, 5 Km.
“Nona.. bagaimana kalau mampir ke toko itu sebentar.” Ron menunjuk sebuah toko kelontong kecil yang ada di sebrang jalan. Dia berniat untuk membeli beberapa botol air minum dan makanan untuk bekal perjalanan. Tapi tujuan utamanya adalah mencari tongkat pendaki atau alat yang bisa digunakan untuk memudahkan pendakian.
Tentu saja alat itu bukan untuk dia gunakan sendiri, dia sudah biasa naik turun gunung dengan tangan kosong, tapi lain halnya bagi nona Ming. Yang Ron tahu dari hasil pengamatannya selama ini, nona Ming adalah orang yang jarang berolahraga. Berjalan kaki selama dua kilometer mungkin saja bisa menguras tenaganya. Bukannya Ron keberatan jika harus menggendongnya ditengah jalan nanti, dia hanya takut kehilangan pekerjaan. Dia masih ingat dengan wajah penuh cemburu tuan muda Lu saat mengantarkan mereka ke bandara.
Mata Ming Yue menatap tubuh Ron yang dipenuhi dengan otot, dia terlihat bugar dan penuh energi. Ming Yue tidak menyangka jika akan membutuhkan alat bantu mendaki. Tapi mengingat jika semua orang punya kelebihan dan kelemahan dia mengagguk dan setuju untuk mampir ke toko kelontong lebih dulu.
__ADS_1
Dont judge book by its cover. Melihat jalan setapak yang dopenuhi dengan semak itu, Ron kira mereka akan mendaki medan yang terjal dan sulit dilewati. Tapi siapa sangka setelah berjalan kurang lebih tiga ratus meter, semak belukar itu menipis dan lantai tanah mulai terlihat. Lima menit kemudian, di depan mereka ada sebuah anak tangga dari batu yang mana pada sisi kanan dan kirinya dilengkapi dengan pagar pembatas untuk memudahkan perjalanan menuju ke kuil.
Ming Yue tidak begitu terkejut dengan perubahan yang 180 detajat itu.
Tapi Ron merasa seperti terkena jebakan batman. Renselnya yang terisi penuh oleh peralatan mendaki itu, ternyata tidak berguna sama sekali. Dia memandangi jalan di depannya dengan sedikit dongkol. Dia melirik rensel dipunggungnya dengan perasaan antara sayang dan sebal.
Apalagi nanti setelah dia membaca batu prasasti yang ada di depan kuil. Ron akan merasa jika dirinya butuh air es untuk menyiram kepalanya agar emosinya reda. Dan tentu keinginannya itu dipenuhi oleh biksu di sana.
Melihat raut muka wajah Ron, dia pikir harusnya tadi di memberitahunya. “Ehem, aku ingin minum.” Ming Yue berkata. Dia meminta air kepada Ron dengan maksud ingin mengatakan kepadanya jika… bekalnya tidak sia-sia. Tapi siapa sangka jika niat baiknya itu malah membuat mood Ron semakin drop. “Kalau turun hujan mungkin tongkat mendakinya akan berguna.” Ming Yue berusaha lagi.
Satu jam kemudian mereka sampai di kuil.
Ron benar, Ming Yue tidak datang untuk beribadah. Dia datang kemari dengan tujuan lain.
Kalau dugaanya benar, dunia memiliki kesamaan sembilan puluh persen dengan dunia di kehidupannya yang dulu dan dia ingin memastikan sesuatu.
__ADS_1
Ming Yue tidak masuk ke dalam kuil tetapi dia menanyakan sesuatu kepada biksu yang sedang menyapu di halaman lalu biksu itu menjuk suatu tempat di belakang kuil. Ming Yue mengikuti arahannya dan dia menemukan sebuah bangunan kecil yang terpisah dari kuil. Mungkin bangunan itu digunakan sebagai tempat tinggal para biksu.
Ketika dia menginjakan kaki di halaman, pintu bangunan itu terbuka. Seolah telah mengetahui kedatangannya. Ming Yue menyuruh Ron untuk menunggu di luar sedangkan dia masuk sendiri.
Di dalam, seorang bisu yang sudah sangat tua memakai pakaian biksu berwarna oranye, duduk bersila sambil memutar tasbih di tangannya. Biksu itu sibuk berkomat-kamit melafalkan bacaan sutra.
Saat Ming Yue sampai di depannya biksu itu menghentikan bacaannya. “Amithaba. Budha selalu memberkati benefactor.” Dia memberikan salam kepada Ming Yue. Ming Yue menaikan alisnya. Mirip seperti yang ada di dalam ingatannya. Biksu di hadapannya memiliki wajah dan bahkan suara yang sama dengan biksu yang dia temui pada kehidupannya yang dulu.
Kalau kemiripan itu bisa saja sebuah kebetulan, kalimat sang biksu selanjutnya membuatnya yakin jika itu bukan sebuah kebetulan. “Budha telah membawa anda kembali. Pada kehidupan yang ini semoga benefactor menemukan kebahagian.”
Waktu itu satu minggu sebelum dia pergi ke Hawai dan mengalami kecelakaan pesawat. Ming Yue menolong seorang biksu yang menjadi korban tabrak lari. Sebenarnya Ming Yue hanya berniat untuk membawanya ke rumah sakit, tapi ayahnya yang menganut Budha menganggap jika kejadian itu adalah sebuah pertanda jika dia akan mendapatkan karma baik, menyuruhnya untuk merawat biksu itu dan mengantarnya pulang.
Beruntungnya biksu itu tidak mengalami luka parah dan hanya perlu menginap di rumah sakit selama dua hari. Ming Yue tentu tidak merawatnya secara pribadi, dia menyewa jasa perawat. Dia dan biksu itu baru bertemu langsung saat mengantarnya pulang. Saat itu biksu itu mengatakan kepadanya jika dia bukan berasal dari dunia ini dan akan segera kembali pada dunia asalnya.
Ming Yue tentu tidak percaya dan menganggap biksu itu berbicara omong kosong dan menanggapinya dengan berkata jika dia adalah alien dari planet pluto.
__ADS_1
Ming Yue yang masih belum yakin bertanya. “Siapa aku? Dunia mana yang nyata?”