My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Ingin Sunset Yang Di Mandalika


__ADS_3

"Aku akan melamar dengan cara yang lebih romantis daripada ini," ujar Gerry penuh semangat.


"Aku bahkan belum menerimamu jadi temanku," sahut Wina dingin.


Geery tersenyum tipis. "Kau tidak menela'ah perkataanku dengan baik, Nona. Aku bilang, Aku akan melamar dengan cara yang lebih romantis daripada ini. Apa tadi kau mendengar aku berkata akan melamarmu?"


Wina langsung melotot kesal, karena merasa posisinya tiba-tiba menjadi terpojok. Dia langsung beranjak menjauh dari Gerry.


'Ah, sial. siatuasi macam apa ini! Dia pasti sengaja ingin mempermalukanku, awas saja kalau dia mendekatiku lagi,' batin Wina dongkol.


Setelah adegan pemberian kalung itu, Sean mengajak Rara duduk di salah satu sudut di dekat air mancur. Mata Sean sekali-sekali mencuri lirik ke arah Rara, karena istrinya itu masih banyak diam.


"Apa kau masih menyimpan dendam padaku, My Cherry?" tanya Sean pelan, meski begitu pertanyaan itu berhasil membuat Rara langsung menoleh, seolah menanyakan dari mana datangnya kesimpulan itu.


"Sekali lagi maafkan aku, saat aku datang ke kantormu. Sebenarnya aku hanya ingin mendengar ceritamu secara langsung, aku tidak berniat untuk meragukanmu sama sekali. Tapi entah mengapa aku jadi terbawa suasana, harusnya aku lebih bisa mengontrol diri saat itu. Sekarang kau tidak perlu lagi menjelaskan apa pun, karena Gerry sudah menjelaskannya." Sean menghela napas dalam-dalam.


"Saat Gerry menjelaskan itu, tiba-tiba Julie kembali mengirimku video. Vidoe penyekapanmu yang ternyata jebakan. Aku panik, hingga terjadilah apa yang kau lihat di kamar hotel itu."


"Saat aku terbangun di rumah sakit, aku langsung mencarimu ke mana-mana, dan sialnya aku tidak berhasil menemukanmu. Semua itu membuatku benar-benar kacau. Karena apa? Karena aku sudah melewatkan saat kau mengandung Rio, aku tidak ingin hal sama terjadi pada anak kedua kita. Saat aku teringat kau ada keperluan untuk ke Madrid, aku langsung menyusulmu. Karena aku ingin menemanimu melewati masa-masa kehamilanmu, aku ingin berada di sisimu saat nanti anak kita terlahir ke dunia ini," pungkas Sean.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Dan aku juga ingin meminta maaf, karena tidak seharusnya aku emosi saat kau menanyakan masa laluku," lirih Rara terharu.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa mengerti, itu adalah sifat alamimu yang sering emosian, mungkin ditambah bawaan anak kita yang juga memiliki kesamaan sifat dengan mamanya," kekeh Sean yang langsung mendapat cubitan di perutnya.


"Kau menggodaku, ya," kesal Rara memberengutkan wajah cantiknya.

__ADS_1


Sean pun tergelak, sementara tangannya langsung merangkul Rara. "Aku merindukanmu, merindukan sikapmu yang terlihat jutek, padahal sebenarnya kau sedang bahagia."


Setelah puas berkeliling di sekitar Cibele Squere, hari pun beranjak pentang. Sean mengajak Rara mengunjungi landmark lainnya, tujuan mereka kali ini hanya berjarak beberapa belas menit perjalan darat dari plaza cibele.


Kini mereka pun tiba di templo de debod, sebuah kuil Mesir kuno yang ada di kota Madrid. Kuil ini disebut sebagai tempat terbaik untuk menikmati sunset di kota Marid.


Saat sang matahari beranjak ke peraduan, warna-warna magenta, oren dan violet membuat keadaan di sekitar tempat ini sungguh luar biasa, cahaya warna-warni akan memantul mengihiasi kolam yang mengelilingi kuil.



Begini nih, ilustrasi sunset di Templo De Debod.


Indah, ya. Pasti senang banget dong kalau di ajak jalan-jalan ke sini.


Tapi Rara kira-kira senang nggak, ya? 😁😁


"Kau suka tempat ini?" tanya Sean.


"Iya, sungguh indah sekali," sahut Rara.


"Ini belum seberapa, surga sunset yang sebenarnya ada di Negara kita, di bukit Merese, orang-orang bahkan menyebut tempat itu sebagai bukit cinta," ujar Sean.


"Bukit cinta ...." Rara mengulang ucapan Sean.


"Iya, jika kau mau, aku bisa membawa ke sana saat kita pulang nanti. Ayah juga memiliki sebuah Resort di sana. Di bukit itu kita bisa menikmati salah satu sunset terindah di dunia, orang-orang menyebutnya sebagai surga sunset."

__ADS_1


"Benarkah seindah itu?" tanya Rara antusias.


Sunset yang dilihatnya sekarang sudah sangat indah baginya, lalu seperti apa pemadangan yang disebut Sean sebagai surga sunset.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita nikmati saja pemandangan yang ada saat ini, ini pun cukup indah. Apa kau senang dengan tempat ini?" ujar Sean sambil mereka mengelilingi templo de debod.


"Di sini indah sekali, Sean. Terima kasih sudah membawaku ke tempat seindah ini. Tapi aku tetap kepikiran dengan sunset yang di Mandalika itu, aku ingin ke sana." Rara memanyunkan bibirnya.


Sean menggaruk kepala. Oh, Tuhan, ibu hamil dan keinginannya. Lagi pula untuk apa dia menceritakan tentang Mandalika, sementara mereka sedang berada jauh di negri orang.


"Baiklah, aku akan membawamu ke sana. Tapi itu setelah kita menyusul ibu, untuk melihat anak kak Bastian. Dan lebih tepatnya aku baru akan membawamu ke sana setelah kehamilanmu menginjak trimester kedua," ujar Sean.


"Mengapa harus selama itu?" Rara semakin memberengut, dia penasaran seperti apa keindahan sunset yang diceritakan Sean, apalagi tempat ada di negaranya sendiri.


"Sayang, tidak baik bagimu untuk mendaki bukit saat sedang hamil muda, bersabarlah sedikit," bujuk Sean tapi tidak membuat Rara memasang wajah ceria.


Setelah sebentar berkeliling di sekitar kuil, mereka pun memutuskan untuk pulang, karena memang waktu kunjungan di sini sangat terbatas, hanya sampai jam 7-malam saja.


"Rara!" panggil seorang perempuan begitu mereka keluar dari kawasan kuil.


Rara menoleh ke belakang, dia melihat sosok wanita yang cukup dikenalnya. Rara mendekat lalu memeluk teman kuliahnya itu, meski mereka tidak terlalu akrab, tapi mereka adalah teman sekelas.


"Agatha, apa kabar? Kau ke sini dengan siapa?" Rara meelpaskan pelukan mereka.


"Dengan suamiku, kami baru menikah. Apa ini suamimu?" tanya Agatha.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2