My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Penderitaan Sean


__ADS_3

Rara membukakan pintu, dia mempersilahkan Wina masuk, karena sebelumnya Rara memang meminta Wina untuk datang, Rara ingin tahu apakah Agatha termasuk dalam daftar black list Wina.


Sementara itu Sean hanya menggaruk kepala sambil mengumpat dalam hati, kalau saja Wina itu sekretarisnya, Sean pasti akan memecatnya saat ini juga.


"Bisa-bisanya dia ingin membahas pekerjaan, di saat adikku sedang rindu-rindunya pulang ke rumah," rutuk Sean kesal, sambil menatap dongkol pada Rara dan Wina yang kini sedang duduk berdiskusi.


Rara membaca nama-nama karyawan BC grup yang ada dalam black list, tapi dia tidak menemukan nama Agatha di sana.


"Win, bagaimana keadaan Artesania Toledo cabang Barcelona?" tanya Rara.


"Menurut data yang saya dapatkan, itu adalah cabang penyumbang revenue terbesar bagi BC grup. Datanya, income dari Artesania cabang Barcelona 'lah yang menopang kerugian BC grup selama setahun terakhir, hingga mereka tidak sampai gulung tikar," jelas Wina.


"Oh, sukurlah," gumam Rara. Itu artinya Agatha dan jajarannya di sana melakukan pekerjaan dengan sangat baik, jadi Rara tidak akan malu karena harus memecat temannya sendiri.


Bahkan dengan data yang diberikan Wina, tidak ada salahnya jika Rara mempertimbangkan, untuk mengangkat Agatha jadi pemimpin BC grup di sini.


Setelah merasa tidak ada masalah dengan kekhawatirannya. Rara pun menutup berkas data yang diberikan Wina. "Bagaimana persiapan tim auditor kita?"


"Semuanya sudah siap, Nona. Setelah Bc grup Resmi berpindah tangan besok. Tim auditor kita akan langsung terjun."


"Baiklah, kau boleh kembali ke kamarmu," ujar Rara.


Wina pun pamit, Rara mengantarnya sampai ke depan pintu, sekalian untuk mengunci pintu kamarnya itu.


Rara hendak kembali ke ranjangnya, tapi langsung disambut tatapan kesal dari Sean.

__ADS_1


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Rara sambil tersenyum geli. Sebenarnya dia tahu apa yang membuat Sean menatapnya seperti itu.


"Kau tidak punya waktu lain untuk membahas pekerjaan, ya?" Sean meraih tubuh Rara lalu memangku istrinya itu.


"Iya, tapi ini benar-benar urgent," sahut Rara acuh.


"Kau sudah membuatku kesal menunggu, aku tidak akan mengampunimu malam ini ...." Sean menyeringai licik dan langsung merebahkan Rara, dia mulai menyerang apa pun yang dia sukai di tubuh istrinya itu.


"Sean, pelan-pelan. Ingat kata dokter, aku ini sedang hamil muda," desis Rara dengan suara yang mulai serak, karena bibir Sean sudah menari-nari di area sensitifnya.


Sean tidak menggubris keluhan Rara, dia terus melanjutkan apa yang harus dia lakukan dalam ritual suami istri.


***


Pagi harinya Rara merasa tubuhnya sakit semua, karena perlakuan Sean semalam. Sebenarnya Rara masih ingin melanjutkan tidurnya, tapi dia terganggu karena mendengar rintihan Sean yang sedang mabuk di wastafel.


"Baik-baik saja bagaimana? Aku setiap pagi tersiksa karena ulah anakmu itu," keluh Sean.


"Itu resikomu, karena terlalu semangat membuat adik untuk Rio ...." Rara terkekeh geli, lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi, mengabaikan Sean yang sedang tersiksa oleh morning sicknya.


"Awas kau, ya! Semoga Tuhan memberi keadilan saat kau mengandung anak ketiga nanti," geram Sean yang dongkol setengah mati.


Sean menunggu Rara selesai mandi di atas tempat tidur. Setelah Rara keluar dari kamar mandi, Sean bergegas ke kamar mandi.


Rara seperti biasa, setelah mengenakan pakaian formal untuk berangkat kerja, dia mengambil baju ganti untuk Sean. Rara meletakkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Mengapa pakaiannya seperti ini?" protes Sean, karena Rara meletakkan pakaian sehari-hari di atas tempat tidur.


"Apanya yg salah, biasanya kau juga memakai pakaian seperti itu," sahut Rara heran.


Sean hanya berdecak kesal. "Tentu saja salah, mana mungkin aku pergi ke kantor dengan pakaian seperti itu."


"Kau lupa sedang berada di mana sekarang?" Rara semakin heran.


Sean melangkah menuju lemari, lalu mengambil pakaian formal untuk dia gunakan pergi bekerja. "Tentu saja aku ingat, kita sedang berada di Madrid."


"Lalu ...." Rara hendak tertawa melihat kekonyolan suaminya.


"Aku harus menghadiri acara penyerahan kepemilikan BC grup. Lalu apanya yang salah." Sean mulai mengenakan pakaiannya.


"Tidak ada yang salah, cuma apa perlunya kau ikut menghadiri acara itu. Lagipula kau tidak akan mengerti apa yang dibicarakan nanti," cibir Rara


"Aku akan memaksa mereka bicara dalam bahasa inggris, aku akan memecat semua karyawan yang tidak bisa berbahasa inggris."


"Pppttt." Rara menutup mulut menahan Tawa.


"Memangnya apa hakmu memecat meraka, karena perusahaan itu milik istrimu," cibir Rara.


"Tidak, tentu saja aku berhak memecat mereka, karena 25% saham BC grup adalah milikku," sahut Sean yang membuat mata Rara terbelalak.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2