My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Jebakan Julie


__ADS_3

"Arrgghh ... sial!" Sean langsung mengumpat kasar saat membuka pesan masuk di layar ponselnya.


"Ada apa Sean?" tanya Gerry.


Sean tidak menjawab, wajahnya langsung berubah panik. Pesan yang dia terima adalah video penyekapan istrinya, dengan cepat Sean menelpon balik pengirim pesan yang tak lain adalah Julie itu.


"Berani sekali kau ingin mencelakai istriku! Aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup, jika istriku sampai kenapa-kenapa," ancam Sean meraung.


"Hahaha ... Sean! Kau bukan dalam posisi yang bisa mengancam, saat ini akulah yang memegang kendali. Temui aku di hitel D, jika kau masih ingin istri kesayanganmu itu selamat! Dan jangan berani-berani membawa bodyguardmu, atau tindakan itu akan menjadi penyesalan seumur hidupmu." Julie balik mengancam dengan dingin.


"Ada apa Sean?" tanya Gerry yang melihat Sean begitu panik.


"Istriku diculik!" jawab Sean cepat.


Tanpa membuang waktu Sean pergi meninggalkan apartemen Gerry, dia mencoba menghubungi Rara berkali-kali tapi tidak ada jawaban, yang membuat Sean benar-benar yakin dengan ancaman Julie, Sean kini meratap menyesali pertengkarannya tadi pagi.


Di dalam perjalanan menuju hotel yang disebutkan Julie, Sean masih mencoba menghubungi istrinya. Sungguh dia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri, andai terjadi hal buruk pada istrinya itu. Apalagi pada saat ini istrinya itu sedang mengandung.


"Arrgghh ... sial!" Sean melempar ponselnya ke atas dashboard mobil, dia benar-benar putus asa. Membayangkan wajah Rara yang sedang menangis ketakutan di dalam video tadi, sungguh membuat Sean larut dalam penyesalannya.


Sean tiba di parkiran hotel, dia langsung berlari masuk untuk mencari kamar yang di sebutkan Julie. Begitu tiba di depan kamar Sean langsung menekan bell dengan tidak sabaran.


Sejurus kemudian pintu kamar terbuka, julie menyambut Sean dengan senyum penuh kemenangan. Julie sangat mengenal pribadi Sean, pria ini terlalu mudah panik, dan sering ceroboh dalam menyelesaikan masalah.


Celah yang ada pada diri Sean dia manfaatkan sebaik mungkin. Dan benar saja, Sean begitu mudah terpancing ke dalam perangkapnya. Ini tentu mudah, daripada harus memulai rencana dengan mengusik Rara yang sangat sulit untuk disentuh, karena pengawalan yang begitu ketat.

__ADS_1


"Jika istriku sampai terluka, meski hanya secuil saja, aku tidak akan segan untuk membunuhmu!" raung Sean dengan tatapan berapi-api.


Sean langsung masuk, dengan wajah beringas dia mendekati Julie, dia ingin mencekik iblis betina itu sampai mati.


Julie menghindar, dia menjaga jarak dari Sean. Julie tidak panik melihat Sean yang begitu emosi, dia masih berdiri sambil bersedekap dengan tenang.


"Kau tahu apa yang akan terjadi, jika kau berani mengasariku, Sean?" Julie menaikkan sebelah alis matanya.


"Kau lihat cctv itu!" Julie menunjuk kamera cctv yang menempel di dinding ruangan dengan isyarat bibir. "Dengan satu perintah dari jentikan jariku, orang suruhanku akan bergerak cepat. Bukan untuk datang menyelamatkanku ke kamar ini, tapi untuk membunuh istrimu!"


"Pikirkan baik-baik! Jika kau masih ingin istrimu melihat matahari esok. Bukan cuma istrimu, kau juga akan kehilangan anak yang sedang dikandungnya," imbuh Julie mempertontonkan senyuman culasnya.


"Lalu apa maumu? Mengapa kau menjadikan istriku sandera, dia tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kita!" lirih Sean terdengar frustasi.


"Katakan apa maumu? Aku akan memberikan apa pun asal kau membebasnya," ucap Sean terdengar memohon.


"Cukup mudah! Aku hanya ingin bersamamu sebentar saja, cintai aku seperti di masa lalu. Setelah itu kau boleh pergi, aku akan melepaskanmu hidup bahagia dengan istrimu. Kemarilah, Sayang! Aku merindukan masa lalu kita ...." Julie mengulurkan tangan lalu bergelayut manja di lengan Sean.


Sean tidak berani berontak, dia menurut seperti kerbau yang dicolok hidungnya, karena ancaman Julie.


Julie membawa Sean duduk di sofa, lalu menuangkan anggur yang sudah disiapkannya. "Minumlah, aku hanya ingin menikmati kebahagiaan kita dulu, setelah itu aku berjanji akan pergi dari hidupmu."


Julie menggangkat gelas snifternya mengajak bersulang. Dengan enggan Sean terpaksa mengikuti kemauan Julie, dia melakukan ini demi istri dan juga calon anaknya, yang kini kehidupan mereka dalam keadaan terancam.


Sekitar 3-gelas wine sudah mereka habiskan. Julie langsung bertindak agresif mendekati Sean. Dia menanggalkan pakaian sendiri hingga menyisakan dalaman saja.

__ADS_1


"Kau mau ap- ...."


Pertanyaan yang hendak keluar dari mulut Sean langsung tenggelam, karena Julie langsung menyergapnya. Julie memagut bibir Sean dengan rakus. Sean awalnya tidak membalas, dia memang tidak pernah bergairah lagi oleh wanita mana pun kecuali istrinya.


Tapi kali ini berbeda, Sean merasa ciuman Julie begitu panas, mengirimkan sengatan liar yang langsung membuat belalainya on. Sean merasa gejolak gairah dalam dirinya mulai naik dengan cepat. Dan tak butuh waktu lama, Sean pun mulai mengikuti permainan lidah Julie yang memabukkan itu.


"Sean hentikan itu ...!" teriak Sandy dan Gerry hampir bersamaan.


Mereka setengah berlari menghampiri dua insan yang hendak memulai adegan panas itu, lalu menarik Sean menjauh dari Julie.


Sementara Rara yang berada di belakang mereka tak kuasa melihat kenyataan. Belum kering rasanya air mata yang membasahi pipinya tadi pagi, kini air mata itu sudah kembali mengalir deras di pipinya.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


Terima kasih


Bersambung.



Ini komenan kakak-kakak di bab sebelumnya ya😁😁.


Padahal dulu Reno udah pernah memperkenalkan diri lho🤭🤭


Masa harus perkenalan diri lagi😂😂

__ADS_1


__ADS_2