
Keadaan dapur resort keluarga Richard langsung heboh, saat Sean meminta pelayan mencarikan bahan-bahan pembuatan tinutuan untuk istrinya.
"Tuan, kami bisa mendapatkan labu kuning, tapi untuk ubi jalar, itu sulit sekali," keluh salah satu pelayan.
"Kangkung juga."
"Apalagi ikan asin," imbuh yang lainnya.
Sean langsung menggeram kesal. "Aku tidak mau tahu, cepat carikan bahan-bahannya! Aku tidak mau anakku nanti lahir ileran, karena keinginan istriku saat hamil tidak terpenuhi."
Para pelayan itu langsung menunduk takut, dan bergegas pergi meninggalkan resort, mereka harus mencari bahan-bahan yang diminta tuan mudanya dengan segala cara.
"Nona ini benar-benar, ya. Ngidamnya tidak tahu tempat, di mana kita harus membeli ikan asin jambal di sini," keluh salah satu pelayan sembari mereka berjalan keluar resort.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Lebih baik kita cari saja, memangnya kau mau dipecat dari sini, lalu tidak bisa pulang ke Indonesia karena kewarganegaraan kita dihapus."
***
Rara menyusul Sean ke dapur, dia mendapati suaminya itu masih diam dan belum melakukan apa pun.
"Kau jadi membuatkan bubur untukku, tidak?" tanya Rara dengan nada yang tidak bersahabat.
"Para pelayan sedang pergi untuk mencari bahan-bahannya," sahut Sean.
Rara mendecakkan bibirnya, dia menuju rice box lalu mengambil sekitar seperempat liter beras, kemudian dia memeriksa kulkas dan mengambil sayur-sayuran di sana.
"Ini semua sudah cukup, aku tidak meminta membuatnya dengan lengkap. Kau ini menyusahkan orang saja, di mana pelayan itu harus mencari ikan asin, kangkung dan bahan lainnya di sini," suntuk Rara.
__ADS_1
Rara menyerahkan jagung muda, bayam, dan dedaunan rempah lainnya.
"Iya, tapi kita tunggu pelayan yang tadi datang, aku sama sekali tidak tahu harus membuatnya dari mana." Sean menggaruk kepala.
Rara mendengus kesal. "Kau jangan hanya mengunakan ponselmu untuk membuka aplikasi translet saja, di sana juga banyak resep-resep membuat makanan."
Sambil mendesah berat Sean menyalakan ponselnya, lalu mencari apa yang dia butuhkan, untuk membuat tinutuan.
Rara memicingkan matanya menatap Sean. "Kau tidak ikhlas ya?"
"Aku ikhlas, nih lihat!" sahut Sean lalu tersenyum lebar, semua orang tahu itu adalah senyum yang dipaksakan.
"Baguslah, perlu kau ingat. Anakmu yang menginginkan tinutuan, bukan aku."
"Alasan saja, mana ada anak yang masih dalam rahim bisa minta ini dan itu. Kasihan sekali nasib anakku, belum lahir saja sudah difitnah mamanya," gumam Sean dengan suara pelan.
"Kau sedang mengumpatku, ya?" Rara menatap Sean penuh telisik.
"Sayang, ayo aku antar kau kembali ke meja makan. Sementara aku membuatkan bubur untukmu," bujuk Sean lalu merangkul istrinya ke ruang makan.
"Tunggulah di sini, aku membuatkannya untukmu," pinta Sean sebelum kembali ke dapur.
Sekitar 45-manit berkutat dengan peralatan memasak, dan berhasil membuat dapur resort seperti kapal pecah. Akhirnya tinutuan antah-berantah ala chef Sean pun tersaji dalam sebuah mangkok.
Sean dengan semangat membawa bubur tersebut ke ruang makan, di mana Rara sudah menunggunya di sana.
Rara pun tersenyum lebar, dia mulai menyantap bubur buatan Sean. Entah apa rasanya, tidak ada yang tahu, tapi bagi Rara bubur itu sangatlah enak.
__ADS_1
"Kau mau mencobanya, ini sangat enak!" seru Rara.
"Tidak, kau habiskan saja. Melihatmu memakannya pun sudah membuatku kenyang," tolak Sean.
"Makanlah, anakmu ingin makan bersama papanya." Rara menyodorkan satu suapan bubur ke mulut Sean.
Dengan terpaksa Sean membuka mulutnya, untuk menerima suapan Rara. Raut wajah Sean langsung masam, dia berlari menuju wastafel untuk memuntahkan bubur dalam mulutnya.
"Dia itu kenapa?" Rara keheranan melihat Sean, karena bagi Rara tidak ada masalah dengan bubur buatan suaminya ini.
Sean kembali ke meja makan dengan wajah pucat, dia tercengang karena Rara sudah menghabiskan bubur buatannya.
'Berarti dia benar-benar ngidam. Bubur yang tidak enak itu saja dia habiskan. Tapi ini kurang adil, harusnya dia juga yang mengalami morning sickness,' gumam Sean.
"Mengapa kau memuntahkan buburnya? Apa rasanya tidak enak?" tanya Rara.
"Maaf, aku tidak bisa membuatkan makanan yang enak untukmu, rasanya benar-benar aneh," ucap Sean menyesal.
"Aku tidak ada masalah, dan rasanya cukup enak. Ya, sudah. Aku duluan ke kamar untuk bersiap-siap."
Sean mengantar mangkok kotor bekas bubur tadi ke dapur, kini Sean hendak menyusul istrinya ke kamar. Namun terhenti karena pelayan yang tadi sudah kembali, mereka menghadap Sean sambil menunduk ketakutan.
"Tuan, maafkan kami. Sudah semua kedai kami jelajahi, tapi kami tidak mendapatkan bahan-bahanya," ucap Salah satu pelayan.
"Sudahlah, sana kalian bersihkan dapur yang kotor itu!" Sean mengibaskan tangannya, lalu melangkah menuju kamar.
Hari ini Sean dan Rara akan pergi ke tempat-tempat yang belum sempat mereka kunjungi kemarin. Berhubung ini adalah hari terakhir di Praha, mereka juga sekalian mencari souvenir. Untuk dibawa sebagai hadiah kepada ponakan mereka yang baru lahir.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.