My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Beri Motivasi Kehidupan


__ADS_3

Setelah menunggu hampir 3-jam, dengan perasaan cemas, keluarga Richard mulai bernapas lega. Karena melihat dokter Alya keluar dari ruang operasi, dengan seulas senyum yang mengembang dari bibirnya, tentu saja itu adalah sebuah pertanda baik.


"Selamat! Operasinya berjalan lancar. Sekarang Rio akan dipindahkan dari ruang operasi," ucap dokter Alya.


Para keluarga pun mengucap sukur, karena Rio terhindar dari kemungkinan buruk. Rio dipindahkan ke ruang ICU, keluarga sudah diizinkan untuk menjenguk, tapi dengan pengawasan ekstra ketat dari perawat. Keluarga pun hanya diizin menjenguk secara bergantian, itu juga dengan waktu yang sangat terbatas.


Semua itu dilakukan demi ketenangan Rio, agar pemulihan pasca operasinya berjalan dengan baik. Perkembangan Rio juga akan dipantau secara continue oleh dokter spesialis, begitu pun dokter jaga dan beberapa orang perawat, terus disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk.


Kini tibalah gilirian Sean untuk melihat kodisi putranya, hatinya tersayat melihat begitu banyaknya alat pembantu kehidupan, yang tertanam di tubuh anaknya yang masih kecil itu.


Sean terisak melihat Rio yang biasanya ceria, kini terbaring tidak berdaya, bahkan untuk bernapas pun, Rio harus dibantu selang Ventilator yang dimasukkan dari mulutnya.


Begitu pula dengan hidung Rio yang harus dipasang selang makanan, sebagai pemasok nutrisi selama perawatan, belum lagi selang infus yang juga tercancap di pembuluh darahnya.


Sean menitikkan air mata, anaknya itu pasti kesakitan dengan banyaknya alat medis yang tertanam di tubuh kecil itu. Hanya satu yang membuat sedikit tersenyum. Yaitu layar monitor, di sana terlihat jelas grafis kinerja organ vital anaknya sudah stabil, yang berarti Rio sudah melewati masa kritisnya.


Sean mendekati putranya, sejenak menatap Rio dengan pilu, menyesali mengapa selama ini dia tidak menyadari bahwa Rio adalah putranya. Sean meraih tangan Rio, lalu digenggamnya lembut jemari lemah anak itu.

__ADS_1


"Cepat bangun my boy, papa bangga padamu! Kau anak yang hebat. Hari ini papa janji akan melakukan segalanya menjagamu, menjaga keluarga kita, papa tidak akan membiarkan ada orang yang menyakiti kalian lagi," lirih Sean pelan, dia harus mematuhi aturan dokter agar tidak mengganggu ketenangan pasien..


Belum puas rasanya Sean menemani putranya, seorang perawat sudah meminta Sean untuk keluar, karena dokter akan melakukan cek up berkala. Dengan berat hati Sean pun kembali ke ruang tunggu.


***


Di ruang rawat lainnya.


7-jam sudah berlalu sejak dilarikan ke rumah sakit, tapi Rara masih belum sadarkan diri. Dokter sudah melakukan tes MRI, hasilnya memang ada sedikit pendarahan di kepala Rara, akibat benturan yang dialaminya.


Namun, karena pendarahannya tidak terlalu meluas, tim dokter meyakini bahwa pendarahan itu bisa terserap sendiri oleh otaknya. Sehingga tim dokter merekomendasikan bahwa tindakan operasi tidak perlu dilakukan. Sebab cedera kepala yang Rara alami, masih bisa ditangani dengan pemberian obat-obatan yang dimasukkan lewat infus.


Setelah melakukan pemeriksaan ulang, dan yakin bahwa tidak ada tindakan darurat yang perlu diambil, dokter Alya pun kembali menemui keluarga.


"Bagaimana, Al?" tanya Lidya.


"Tidak ada yang mengkhawatirkan dari benturan kepala yang dia alami, bahkan menurut perkiraan medis, seharusnya dia sudah sadar sejak beberapa jam yang lalu."

__ADS_1


"Lalu apa yang membuatnya belum sadar, Al?" desak Lidya.


"Naluri seorang ibu tidak akan tega melihat anaknya terluka, Rara melihat anaknya menjadi korban tabrakan, dan pastinya kejadian itu akan memberikan tekanan hebat bagi kondisi psikisnya. Kejadian seperti ini juga akan memaksa memori otak manusia memutar ingatan kelam di masa lalu, menguak trauma lama yang masih tersimpan dalam ingatan, apalagi jika di masa lalu dia juga pernah merasakan sakitnya kehilangan orang tersayang. Rara pasti mengalami tekanan psikis yang membuatnya tidak memiliki samangat untuk kembali ke alam sadarnya. Rara menjadi nyaman di alam bawah sadarnya, karena dia tidak sanggup menanggung sakit dan kesedihan yang ia rasakan," jelas dokter Alya.


"Apa tidak ada tindakan medis yang bisa dilakukan, Al?" lirih Lidya.


Lidya menitikkan air mata, dia tidak tahan melihat menantunya berlama-lama tidak sadarkan diri, apalagi di ruangan lain cucunya juga terluka parah, dan baru saja melewati fase kritis.


"Lid, yang Rara hadapi adalah masalah psikisnya, memang tim medis bisa membantu meringankan tekanan psikis dengan melakukan konseling, tapi itu tidak bisa dilakukan pada pasien koma," ucap dokter Alya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Al?"


Alya menghela napas sebelum kembali melanjutkan. "Obat dari orang yang mengalami depresi berat ada pada dirinya sendiri, juga dari orang-orang yang dia sayangi. Meski tidak dapat merespon orang di sekitarnya, orang yang sedang di alam bawah sadar tetap bisa mendegar pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Ajak dia bicara, beri dia semangat untuk melanjutkan hidup. Meski sebenarnya penyebab tekanan psikis yang dialami Rara sekarang adalah kecelakaan Rio. Tapi semangat dari keluarga lainnya, juga mampu mengurangi tekanan psikisnya."


Lidya mendudukkan diri di samping brankar menantunya, lalu menatap iba pada wajah cantik Rara yang mulai memucat itu.


"Ajak dia bicara, Lid. Motivasi dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan, agar dia cepat kembali dari alam komanya!" pesan dokter Alya sebelum meninggalkan ruang Rawat, dia menuju ruang ICU Rio, untuk melakukan cek up.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2