
Detik waktu yang berputar, mendatangkan malam sebagai pengganti siang. Sean tidak pulang ke mansionnya, dia tetap di rumah sakit, dia ingin menemani Rara dalam masa komanya.
Sean terpaku memandang wajah Rara yang memucat, dia tidak menyangka gadis yang dulu mengganggapnya sebagai pria bayaran itu, kini sudah menjadi istrinya.
Sayang, Sean mengetahui semua itu saat keadaan sedang seperti ini. Sean mengusap lembut wajah Rara, seraya memberikan kecupan di keningnya, lalu duduk di samping brankar istrinya itu.
"Bagunlah, Ra! Sampai kapan kamu akan tidur seperti ini? Aku tahu kamu tidak sakit, kamu sedang baik-baik aja, kan! Bangunlah dan lihat Rio. Lihat anak kebanggaanmu itu, anak kita. Dia anak yang hebat, dia sudah melindungi mamanya, dan sekarang dia sedang berjuang untuk sembuh, dia pasti butuh mamanya saat dia bangun nanti," lirih Sean.
"Aku mohon bangun Ra! Apa yang akan aku katakan pada Rio saat dia sadar Nanti? Jika mamanya belum juga bangun! Anak kita itu akan sembuh sembuh Ra, jangan biarkan Rio berjuang sendiri, Ra."
Sean tidak berhenti mengajak Rara bicara, seperti yang dianjurkan dokter. Sean tidak kehabisan kata-kata, meskipun tidak ada respon dari Rara. Dia terus melakukannya hingga larut, sampai akhirnya dia pun terlelap di samping Rara.
***
Luna tiba di rumah sakit. Saat mendapat kabar tentang kecelakaan Rara, dia memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16-jam, pesawat yang ditumpangi Luna mendarat di CGK pukul 4-dini hari waktu Indonesia.
Luna tidak sabar untuk melihat kondisi Rio, tapi dia tidak mendapat izin mendapat izin masuk ke ruang ICU. Dengan berat hati Luna beralih menuju ruang rawat Rara. Di sana Rara terlihat belum sadarkan diri, ditemani Sean yang tidur di kursi, dengan tangan bertumpu pada brankar Rara.
Tatapan Luna tak lepas dari wajah pucat Rara, ingin Rasanya dia membangunkan Sean, agar bisa duduk di kursi itu dan menemani Rara di sana, tapi dia tidak tega untuk membangunkan Sean.
Luna beralih ke sofa yang ada di ruang rawat, rasa letih dan kantuk tidak membuatnya ingin tidur. Bahkan dia terus terjaga sampai pagi. Tak lama kemudian ibu Lidya sudah kembali ke rumah sakit.
"Luna!" kaget ibu Lidya saat melihat seorang wanita yang duduk di sofa, dengan wajah kusut dan kedua tangan menopang dagu.
__ADS_1
"Mengapa kau meninggalkan fashion show itu?" tanya ibu Lidya sembari duduk di samping Luna.
Luna menggelengkan kepala. "Harusnya aku tetap di sini bersama Rara, dan tidak pergi ke fashion show sialan itu, Tante," isaknya.
"Kau tidak bisa menyesali apa yang sudah terjadi, Nak. Tidak ada yang mengingin hal buruk terjadi. Lagi pula kecelakaan ini tidak ada hubungannya dengan fashion show itu, harusnya kau menunda kepulangan sampai fashion shownya selesai, demi kebaikan karirmu juga," ucap ibu Lidya.
Luna tidak menyahuti perkataan ibu Lidya tentang karir, persetan dengan fashion show itu. Jika kepergiannya harus digantikan dengan musibah yang menimpa Rara. Teman sekaligus satu-satunya keluarga bagi Luna.
Luna berdiri dari tempat duduknya. "Tante, aku ingin melihat Rio, tadi aku sudah ke sana, tapi perawat tidak mengizinkanku masuk, karena alasan tidak boleh mengganggu jam tenangnya."
"Ayo, tante antar! Ini sudah pagi, seharusnya sudah boleh," ajak Ibu Lidya.
Mereka pun pergi menuju ruang ICU, tempat Rio dirawat intensif pasca operasinya.
"Apa pelaku tabrakan itu sudah tertangkap Tante?" tanya Luna.
Darah Luna langsung mendidih mendengar nama itu disebut, nama itu memang tak ada hentinya menghadirkan masalah bagi Rara.
"Demi tuhan, aku akan membalas semua pebuatannya," gumam Luna, dengan tangan terkepal dan mata berkilat.
Mereka tiba di depan ruang ICU, dengan perintah dari ibu Lidya, Luna pun diizinkan untuk menjenguk Rio.
"Ya ... Tuhan," isak Luna saat melihat kondisi Rio.
__ADS_1
Airmata Luna tumpah begitu saja. Melihat anak sekecil Rio harus terluka begitu parah, membuat sekujur tubuhnya langsung lemas.
"Rio, cepat sembuh Sayang! Ada onty di sini," lirih Luna parau.
Belum lama berada di samping Brankar Rio, Luna dikagetkan dengan bunyi alarm, matanya beralih ke layar monitor, yang menampilkan grafis organ vital Rio yang tiba-tiba melemah.
"Dokter, ada apa ini?" panik Luna dengan raut wajah cemasnya.
"Nona, silahkan keluar dulu! Kami akan melakukan pemeriksaan," ujar dokter jaga yang selalu stanby di ruangan tersebut.
Dokter pun bergerak cepat untuk memberikan penanganan. Luna keluar dari ruang ICU dengan dipapah oleh perawat. Syok mengatahui kondisi Rio yang kembali kritis, seketika membuat tubuhnya menjadi lemas, dan tidak mampu menahan beban tubuh sendiri.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote, dan komen.
Haii My Beloved readers, terimakasih yang sebesar-besarnya karna masih setia ngikutin kelanjutan novel ini.
Salam hangat dari author๐๐๐.
Salam kenal juga ya! Aku mau perkenalkan diri๐๐๐
Namaku Reno, kalian boleh panggil Reno atau THOREN (auTHOR_RENo)
__ADS_1
Aku author cowok ya. Karna ada beberapa pembaca di sini yang nyangka auhtornya ini cewek๐คญ๐คญ. Jadi aku mau meluruskan ya๐๐
Salam sayang dari aku buat kalian semuanya๐๐๐