My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Bebas Dari Hukuman


__ADS_3

Melihat Sean hendak memasuki mansionnya, Gerry pun menurunkan kaca jendelanya. "Hey, kau mau ke mana? Kau belum mengantarku pulang!"


"Sebentar! Aku harus memastikan istriku selamat sampai ke kamarnya," sahut Sean yang membuat Gerry geleng-geleng kepala.


Rara membulatkan matanya saat mendengar pernyataan konyol Sean. "Ini sudah di rumah, untuk apa mengantar ke kamar. Sana antar Gerry."


Sean tidak bergeming, dia malah merangakul Rara, melanjutkan niatnya untuk mengantar Rara sampai ke kamar. Rara hanya menurut saja, meski hatinya dilanda kebingungan, karena suaminya itu tiba-tiba menjadi posesif.


Setibanya di kamar Sean memerintahkan Rara duduk di pinggir ranjang. Sean memelototi istrinya itu seperti orang tua yang hendak menghukum anaknya.


"Sejak kapan kau menjadi genit seperti ini?" tanya Sean sambil bersedekap kesal.


"Genit? Genit bagaimana maksudmu? Aku tidak seperti itu!"


Sean mendecakkan bibirnya. "Bicara sambil tertawa riang dengan pria asing, apa namanya kalau bukan genit?"


Rara mengkerutkan dahinya, dia mulai mengerti arah pembicaraan Sean, lalu melapaskan tawa renyahnya. "Kau sedang mempermasalahkan obrolanku dengan Gerry tadi! Astaga, Gerry itu temanku, dan temamu juga. Jangan bilang kau cemburu pada Gerry!"


"Tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya kesal saja," bantah Sean.


"Apa bedanya?" cibir Rara. Entah mengapa dia malah merasa senang dengan sikap Sean yang seperti ini.


"Terserah kau saja, tapi yang jelas aku tidak cemburu. Aku hanya kesal, pokoknya aku tidak suka kau terlalu akrab dengan pria lain. tidak peduli dia itu temanmu, atau temanku, bahkan jika dia adalah alien dari planet sekali pun," seru Sean seraya melangkah keluar kamarnya.


Baru beberapa langkah berjalan, Sean kembali berbalik. "Aku akan menghukummu nanti malam!"


"Modus ...!" Rara memberengutkan wajahnya.


***


"Ger!" panggil Sean seraya tetap fokus pada kemudinya.


kini mereka berdua sudah berada di mobil, dalam perjalanan menuju kantor Sean, karena tadi Gerry meninggalkan mobilnya di sana.

__ADS_1


"Ehmm ...."


"Apa kau dan Rara cukup dekat?" tanya Sean sembari melirik sekilas temannya itu.


"Lumayan, mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Entahlah, aku hanya heran saja. Dia bisa tertawa lepas saat mengobrol denganmu. Anehnya, dia selalu bersikap galak saat bicara denganku, bahkan hari-hari kami selalu dilewati dengan perdebatan," keluh Sean.


"Aku bingung untuk mengambil hatinya, dia tidak seperti wanita lain. Biasanya aku dengan mudah memenangkan hati wanita, cukup dengan memberikan tas atau sepatu mewah, tapi istriku sudah tidak membutuhkan itu. Kau tahu, Ger. Rara bahkan pernah menolak black card yang aku berikan. Menolak black card, Ger, bisa kau bayangkan itu, dengan apa lagi aku harus mengambil hatinya. Yaah, meski, pada akhirnya dia tetap menerima kartu itu setelah aku memberikan sedikit ancaman," lanjut Sean sambil tersenyum geli, mengingat ancaman yang dimaksudnya.


Gerry menahan tawa karena mendengar curahan hati Sean. "Apa casanova sepertimu tidak punya cara lain untuk menaklukkan wanita?" Tidak semua wanita gila kemewahan Sean. Apalagi wanita seperti Rara."


'Rara memang wanita yang sulit ditaklukkan Sean, 2-tahun aku mengejar cintanya, tapi tidak mendapatkan apa-apa, kau beruntung bisa mendapatkannya Sean,' gumam Gerry sambil mendesah berat.


"Mengapa kau mendesah seperti itu?" tanya Sean heran.


Gerry menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa."


"Pengalaman buruk apa?" tanya Sean penasaran.


"Ehmm ... untuk detailnya lebih baik kau tanyakan langsung kepada Rara. Karena ini menyangkut masalah pribadinya," jawab Gerry.


'apa yang dimaksud Gerry? Apa itu ada hubungannya dengan mood Rara yang langsung memburuk saat bertemu Julie? Ah, sudahlah! Lebih baik aku tanyakan secara langsung pada Rara,' gumam Sean.


***


Rara baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat Sean sudah duduk Selonjoran di atas ranjang.


"Mandilah sekarang, tidak baik membiasakan diri mandi terlalu malam!" perintah Rara sambil membuka lemarinya, untuk mengambil pakaian ganti.


Sean tidak menjawab, dia malah tergoda melihat kulit mulus istrinya yang hanya berbalut handuk. Secepat kilat Sean turun dari ranjang untuk menghampiri Rara.


"Kau mau apa? Sana mandi!" perintah Rara setelah berhasil menghindari rangkulan Sean.

__ADS_1


"Ck ... cerewet sekali, baiklah aku akan mandi." Sean menggerutu kesal sembari melepaskan pakaiannya, lalu pergi menuju kamar mandi.


Sean keluar dari dalam kamar mandi sekitar 20-menit kemudian. Dia langsung menuju ranjang, di mana Rara sudah mempersiapkan baju ganti untuknya.


Rara mengkerutkan dahi, alih-alih mengenakan pakaian yang disiapkannya, Sean malah menyingkirkan pakaian tersebut.


"Kenapa, kau tidak suka modelnya?" tanya Rara sembari mendekat, dia hendak mengambil pakaian tersebut, untuk mengantinya dengan yang baru.


Tangan Sean jauh lebih Cepat daripada Rara yang hendak meraih pakaian tersebut. Sean menghempaskan tubuh Rara di atas Ranjang, lalu mengkungkung istrinya itu di bawah tubuhnya.


"Kau pikir bisa bebas begitu saja dari hukumanmu, huh?" Sean menatap istrinya dengan seringaian jahil.


"Sean kita belum makan malam," protes Rara.


"Saat ini aku hanya ingin memakanmu!"


Sean langsung memagut bibir Rara dengan panas, mengirim gelenyar-gelenyar nikmat selama ini selalu berhasil membuat Rara mabuk kepayang.


Sean melepaskan ciumannya, dia turun ke leher jenjang milik Rara dan mulai menjelajah di sana, Sean baru saja ingin melepas lilitan handuknya, ketika pintu penghubung kamar anaknya terbuka.


"Papa, Mama ... cepatlah turun, ditunggu oma di tempat makan!" seru Rio yang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang tuanya.


Sean melompat dari turun dari ranjang bersamaan dengan seruan Rio. "Sial ... besok aku harus menembok pintu itu ...."


Rara tersenyum geli melihat Sean yang mengumpat kesal sambil mengenakan pakaiannya, Rara turun dari Ranjang lalu menghampiri Rio.


"Kami duluan!" seru Rara sembari menggandeng putranya keluar kamar.


Sean hanya menggelengkan kepala sambil menatap punggung istri dan anaknya. "Anak itu, apa dia ingin menjadi anak tunggal, ya!?"


Bersambung.


Jangan lupa like, voe, dan komen.

__ADS_1


__ADS_2