My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Kecewa


__ADS_3

"Apa yang terjadi padamu?" Maya terlonjak kaget saat membukakan pintu apartemen, karena keadaan suaminya itu cukup mengenaskan.


"Anak buah Brian sialan itu yang melakukan ini padaku," jawab Dion.


Maya dengan sigap menggantikan para pengawal, untuk memapah suaminya. Maya membawa suaminya duduk di sofa.


Maya langsung duduk di samping Dion, lalu bertanya dengan tidak sabar. "Jadi kau tidak berhasil masuk ke resepsi itu?"


"Tidak, anak buah Brian bahkan sudah mencegatku begitu sampai di lobi hotel," keluh Dion sambil meringis, ia bahkan kesulitan untuk bicara, karena terdapat luka lebam di sekitar wajahnya.


"Ck ... lalu apa gunanya para pengawalmu itu?" kesal Maya lalu berjalan meninggalkan Dion.


Maya masuk ke dalam kamar putrinya, Vita langsung menyambut mamanya dengan wajah sumringah.


"Apa papa berhasil mengacaukan pesta Rara?"


Maya menggeleng pelan. "Papamu itu tidak bisa diandalkan!"


Vita mendesah berat, ia kecewa karena batal mendapat kabar buruk tentang Rara.

__ADS_1


'Baiklah sialan! Kau bisa bersenang-senang sekarang, tapi kau lupa Sean masih menjadi milikku. Dan aku juga masih punya banyak cara untuk membuat hidupmu sengsara!' batin Vita sambil mengepalkan kedua tangannya.


***


Di ballroom hotel.


"Tuan Dion sudah pergi, Tuan! Aku pastikan dia akan berpikir dua kali untuk berbuat macam-macam." Jefry menghadap Brian.


Brian menatap Jefry penuh telisik. "Kau tidak bertindak berlebihan, bukan!"


"Tidak, Tuan! Aku hanya memberinya pelajaran kecil," jawab Jefry sambil tersenyum kaku.


Brian menggelengkan kepala, ia sudah hapal betul bagaimana cara asistennya itu menyelesaikan masalah. "Sudahlah! Sana pergi, nikmati pestanya!"


"Apa yang Jefry lakukan pada Dion?" tanya Lidya.


"Entahlah! Tapi yang jelas dia memulangkan Dion, dalam keadaan masih bernyawa," jawab Brian sambil menyeringai.


Lidya berdecak. "Ck ... Rara akan membenci kita, jika tahu apa yang kita lakukan pada ayahnya," rutuk Lidya.

__ADS_1


"Tidak, dengan semua yang dilakukan Dion padanya!" sahut Brian yakin.


Resepsi pernikahan Rara dan Sean sudah memasuki acara penutup, yaitu acara lempar buket bunga pengantin. Acara ini selalu dinanti oleh para tamu undangan yang belum menikah. Dan tanpa dikomandoi, para tamu undangan segera berkumpul di depan panggung pengantin.


Rara dan Sean sudah bersiap untuk melempar bucket bunga, mereka langsung berbalik badan untuk bersiap melempar buket bunga. Raut wajah Rara dan Sean terlihat biasa saja, mereka tidak bahagia menjadi pasangan yang melempar buket bunga.


Buket bunga pengatin dilempar begitu saja, tanpa ada aba-aba dari pasangan pengantin, yang menikah karena terpaksa itu.


Rara berbalik badan, ia menatap haru saat melihat buket bunga yang ia lemparkan, berhasil dimenangkan oleh Luna.


'Semoga kamu cepat menyusul, Lun! Dan do'aku, semoga kamu menikah dengan cinta dan keinginanmu, bukan pernikahan terpaksa seperti yang aku jalani saat ini,' batin Rara.


Rara dan Sean turun dari atas panggung, para tamu bergantian memberi ucapan selamat, lalu pulang satu-persatu.


Kini hanya tinggal orang-orang terdekat, yang masih berada di dalam ballroom. Rara menghela napas berat saat Damar mulai mendekat.


Damar datang bersama putri kecilnya, Damar menghampiri Rara dengan langkah mantap, senyuman terus mengembang dari bibirnya, saat matanya bertemu tatap dengan Rara.


Tuhan tahu itu adalah senyuman untuk menutupi kekecewaan, dan patah hati yang kini ia derita. Di tengah hancurnya harapan untuk mempersunting Rara, Damar masih menyempatkan diri menghadiri resepsi ini.

__ADS_1


"Selamat, Ra! Semoga kamu bahagia dengan pernikahan ini," ucap damar sambil tersenyum, tapi tidak dapat menghilangkan kesan meratap dalam nada bicaranya.


Bersambung.


__ADS_2